
Krrringgg!!
Suara jam weker membanunkanku dari tidur tampanku, menariku dari alam mimpi ke dunia nyata. Aku mendudukan tubuhku di pinggir ranjang dan merenggangkan tubuhku yang kaku.
"Ternyata sudah pagi ya."
Pandanganku masih agak kabur, aku duduk terdiam sebentar mengumpulkan nyawaku yang tertinggal di alam mimpi. Aku kemudian bangun dari tempat tidur lalu menyambar handuk dan kemudian pergi menuju ke kamar mandi untuk memulai ritual pagku.
Setelah selesai mandi aku kemudian menggambil Sikat gigi warna merah ku dan mengoleskan Pasta pada sikatnya.
Aku kemudian menggosok gigiku dengan tatacara yang baik dan benar sesuai anjuran dokter. Aku tidak ingin gigiku berlubang karena cara menggosok gigi yang salah.
Setelah selesai aku kemudian keluar dari kamari mandi dan mengeringkan tubuhku lali memakai seragamku dan pergi menuju dapur untuk membuat sarapan.
"Hmm hari ini gue masak apa ya?"
Setelah memikirkannya selama beberapa menit, akhirnya aku memutuskan untuk membuat nasi goreng saja. Mudah, cepat, sangat cocok untukku, apalagi bahan makanan di kulkas sudah menipis.
Aku lupa mengisi kembali stok makananku, mungkin setelah pulang sekolah nanti aku akan mampir sebentar dan membeli bahan makanan. terutama Mie Instan.
Walaupun laki-laki aku ini cukup pintar dalam memasak, walaupun yang bisa ku masak hanya itu-itu saja. Tidak ada yang spesial.
menurutku laki-laki juga harus bisa memasak tidak boleh kalah dengan perempuan. Apalagi aku ini tinggal sediri, jadi aku harus bisa memasak agar pengeluarki tak terlalu membengkak.
Aku mulai memotong-motong bawang merah dan beberapa sayuran, aku langsung memasukannya ke dalam wajan yang telah di beri sedikit minyak tadi.
Sayuran tersebut ku tumis beberapa saat hingga layu, aku kemudian memasukan Nasi ke dalamnya lalu mulai mengaduk-aduknya, tak lupa memberi bumbu.
Setelah nasi gorengnya matang aku kemudian menuangkannya ke atas piring. Aku makan seperti orang yang tidak makan beberapa hari, sepiring penuh nasi goreng habis dalam beberapa menit.
"Gue haru cepat, kalau engak gue bisa telat."
Aku lalu bergegas memakai sepatuku kemudian pergi ke sekolah tak lupa mengunci pintu terlebih dahulu. Walaupun di rumahku tak ada barang yang berharga tapi itu tak menutup kemungkinan terjadinya pencurian.
Aku pergi ke sekolah mengendarai sepeda milikku, aku mengayuh sepedanya lumayan cepat. Aku menggunakan jalan pintas ke sekolah agar tidak terlambat.
Bisa gawat kalau aku terlambat. Jadi, aku langsung melewati gang gang sempit yang mengarah ke sekolah.
Bukannya kenapa-napa ketua OSIS di sekolahku itu sangat galak, dia gak akan segan-segan menghukum siapapun yang melanggar peraturan sekolah.
Sang ketua Osis sudah terkenal akan karena sering menghukum murid yang melanggar aturan tanpa pandang bulu.
Tak membutuhkan waktu lama aku akhirnya sampai di depan sekolahku, tapi sepertinya dewi keberuntungan tak memihak kepadaku.
Ah! Sialan! Gerbang sekolah sudah di tutup, tidak mungkin aku dapat masuk lewat depan. Yang ada malah ke tangkap sama penjaga sekolah lagi!.
"Sial! Sepuluh menit lagi kelas di mulai!"
Terpaksa sepertinya aku harus memanjat tembok belakang sekolah agar bisa masuk kelas. Aku terlebih dahulu menitipkan sepedaku ke pada pemilik warung yang ada di dekat sekolahku.
"Ayo kita lakukan ini."
Di depanku kini ad tembok setinggi tiga meter menunggu untuk di lewati, ini seperti tantangan Ninja Warior saja.
Aku mundur mengambil ancang-ancang lalu berlari menuju ke tembok tersebut, setelah cukup delat aku langsung melompat.
Tap!
Untungnya tanganku berhasil menggapai ujung tembok, aku lalu mulai memanjat. kemudian melompat turun dan berhasil mendarat dengan aman.
Semoga saja tidak ada yang melihatku, kalau sampai ada yang melihatku mau di taruh di mana mukakku.
"Huh! berhasil, gue harus cepat sebelum ada yang lihat."
Aku langsung berlari menuju ke kelasku, sekolah sudah sepi karena lima menit lagi kelas akan di mulai. Kelasku lumayan jauh karena berada di ruangan paling pojok membuatku harus memberikan ekstra tenaga agar bisa sampai tepat waktu.
Tap!
Setelah perjuangan panjang akhirnya aku dapat sampai kelasku sebelum guru masuk. Aku berjalan menuju kursiku yang berada di pojok dekat jendela, kursi Legend sang protagonis.
murid-murid di kelas menatapku dengan tatapan merendahkan, walau tak semuanya. Dari dulu memang sudah seperti ini keadaanya.
Dimanapun ada orang yang menyukaimu pasti akan ada orang yang tidak suka padamu, entah apapun alasannya. Itulah hidup.
Tapi bukan Tegar namanya kalau aku memikirkan hal merepotkan ini, aku berjalan tanpa memperdulikan sekitar kemudian duduk sambil mengatur nafasku.
Entah kenapa seperti ada yang memperhatikanku, sudahlah mungkin itu hanya perasaanku saja. Tak usah di perdulikan.
__ADS_1
Tak lama kemudian sang guru masuk dan memulai pelajarannya. Hanya beberapa murid yang mendengarkan beberapa dari yang lain malah mengobrol ada juga yang memainkan ponsel.
Sebenarnya mereka ini ada niatan untuk belajar tidak sih, sudah di biayain sama orang tuanya tapi mereka malah malas malasan.
***
"Hei Kev! lu yakin bisa menghabiskan itu?"
Aku kini bersama dengan temanku Kevin di kantin sekolah, Kevin adalah sahabatku sedari kecil. Saking dekatnya sampai kami terlihat seperti saudara.
Di depan Kevin terlihat tiga porsi makanan, aku tidak yakin kalau sahabatku ini bisa menghabiskan nya.
"Lu ngeremehin gue, ini belum seberapa Gue bisa menghabiskan lebih dari ini."
"Ya terserah lu saja."
Aku kemudian memakan makananku sendiri, tentunya dengan porsi yang tidak sebanyak Kevin. Aku bukan orang rakus ya!.
"Hei Tegar! tadi pagi kenapa lu bisa telat?"
"Alarmku terlambat berbunyi tadi pagi, makanya gue telat."
Kevin menyipitkan matanya menatapku dengan pandangan menyelidik. Apa dia tak percaya pada ucapanku?
"Lu harusnya tidur lebih awal, bagaimana kalau ketua Osis melihatmu memanjat tembok bisa-bisa dia akan menghukummu."
"Sst jangan keras-keras, gimana kalau dia denger."
Aku langsung menutup mulut temanku ini, bisa gawat kalau ada orang yang denger. Sudah kuduga, Kevin mulutnya emang gak bisa di jaga.
"Apa yang kalian bicarakan?"
Kami berdua mematung saat mendengar suara seorang yang terdengar familiar. Kami pun menengok ke arah sumber suara dengan gerakan patah-patah seperti robot rusak.
di sana seorang gadis berambut hitam sepundak menatap kami dengan tatapan datar dan tangan yang di lipat di dada.
Gluk!
'Sial! mati gue.'
"A-ah! ti-tidak ada kok Elena."
Kami berdua hanya bisa tertawa canggung dengan keringat yang mulai bercucuran. Elena menyipitkan matanya menatap kami dengan curiga. Sepertinya dia tidak percaya.
"Oke, kali ini gue percaya sama kalian!"
Akhirnya Elena pergo, kami berdua bisa bernapas lega karena Elena percaya dengan apa yang katakan katakan. Huuh~ itu tadi hampir saja.
"Tadi itu hampir saja, yah!"
"benar, untung saja dia percaya."
Kamj berdua kemudian melanjutkan makan yang tadi Sempat tertunda akibat kejadian barusan. Kami mengobrol seputar game yang sedang populer saat ini.
Aku juga termasuk pencinta game, walaupun tak separah Kevin yang sudah menjadi maniak game.
Setelah selesai makan kami pergi dari kantin, tujuanku saat ini adalah perpustakaan, sentara Kevin pergi menemui pacarnya di taman.
Sialan Kevin! udah punya pacar baru lagi aja! Dan Aku masih menjomblo selama 16 tahun lebih. Aku merasa terhianati olehnya.
Sad!
Ketika sedang berjalan di lorong aku di hadang oleh tiga murid, mereka adalah anak dari pengusaha kaya, mereka sering membully murid-murid lain salah satunya aku.
Hanya karena rambutku yang berwana putih. sangat aneh untuk orang indonesia yang rata-rata berambut hitam.
Karena rambut putihku ini mereka jadi selalu membullyku, meledekku. Walaupun sudah ada UUD tentang itu tapi sepertinya Bullyng sudah seperti sebiah tradisi di sekolah.
Mereka tidak pernah memikirkan perasaan orang yang mereka hina, mereka hanya memikirkan kesenangan ketika melakukannya saja.
"Bisa kalian minggir, gue mau lewat."
Mereka saling memandang lalu kemudian menoleh ke arahku dengan tatapan menghina.
"Beraniya orang miskin kayak lu meyuruh kami."
"Ya benar, orang miskin kayak lu tuh gak pantes nyuruh kita."
"Udah cari jalan lain jangan lewat sini."
__ADS_1
Leon Mengibas-ngibaskan tangannya seperti mengusir seekor kucing.
"Hanya ini jalan satu untuk ke Perpustakaan, jadi bisa kalian minggir. Udah kaya pereman aja ngalangin jalan orang, oh tunggu kalian kan emang preman sekolah."
Devin menggertakan giginya kesal karena ucapan Tegar. Berani-beraninya Tegar menyebutnya preman.
"beraninya lu menyebut kami begitu, dasar rambut aneh."
Kemarahan menguasainya, dia kemudian meraih kerah baju ku dan mengarahkan kepalan tangannya.
Tap!
Aku menangkap kepalan tangan Devin dengan mudahnya kemudian menendang perut Devin membuatnya mengerang kesakitan sambil memegang perutnya.
"Lu!! Kalian hajar dia."
Leon dan Alvin kemudian menyerangku bersamaan membuatku agak kesulitan menghadapinya. Sial bisa bonyok kalau begini!
Duak!
Leon memukul perut ku membuatku mengerang kesakitan.
"Apa yang kalian lakukan di sini?!"
Sebuah suara menghentikan tindakan mereka ketika hendak kembali menghajarku. Mereka termasuk aku menengok ke arah suara tersebut.
Glup!
Kami menelan ludah kasar ketika melihat Elena yang mebatap tajam ke arah sini. Ternyata suara tadi berasal darinya!.
"Ini sudah masuk jam pelajaran, kenapa kalian malah ribut di sini."
"Dia yang mulai duluan Elena!"
Devin menunjuk ke arahku, dia tak mau di hukum jadi dia menyalahkanku atas perbuatannya. Sungguh licik
"Kenapa lu nyalahin gue, Elu yang duluan!"
Aku tidak terima atas perkataan Devin, sudah jelas kalau Devin yang salah. Malah menyalahkanku lagi
"Sudah! Devin, Leon, Alvin..., kalian Gue hukum membersihkan lapangan sekolah karena membuat keributan!"
Elena dengan tegas memberikan hukuman kepada mereka berdua karena sering membuat masalah.
"Ta-Tapi Elena..."
"Tak ada tapi-tapian, kalian akan awasi oleh anggota Osis jadi jangan mencoba untuk kabur."
Aku tersenyum mengejek ke arah mereka membuat mereka semakin marah. Hah! Rasakann itu!
"Rasain tuh!"
"Dan Lu Tegar..., Lu di hukum membersihkan gudang sekolah."
Aku langsung melongo mendengarnya. Sekarang Devin lah yang tersenyum mengejek ke arah ku.
"Elena, kenapa Gue juga ikut di hukum?"
Mereka yang memulainya kenapa gue juga kena? tetapi protesku hanya di balas tatapan datar dari Elena.
"Lu juga ikut membuat keributan. Jadi terima saja hukuman Lu."
Setelah mengatakan hal itu Elena pergi meninggalkan kami yang masih terbengong.
"Ini gara-gara Elu!"
"Apaan! Kalian yang duluan."
""Cih""
Mereka pun pergi menuju ke kelas masing-masing. Aku terpaksa menunda rencananya untuk pergi ke perpustakaan. Sepertinya sekarang ini hari yang sial untukku.
To Be Continue
Halo semua! semoga kalian suka cerita ku ini.
aku juga minta saran dari kalian agar aku bisa meningkatkan kualitas dati novel ini
......Salam Akasia!......
__ADS_1