Smile In The Void

Smile In The Void
Chapter 10 [Mimpi atau Masa lalu?]


__ADS_3

"Kau anak tidak berguna lihat apa yang kau lakukan!! Vas mahalku pencah karena kau!!"


Anak yang memecahkan Vas tersebut hanya menunduk sambil sesekali terisak.


"M-Maaf Hiks..! A-Aku tidak Hiks..! Sengaja ayah Hiks..!"


"Kau memang pembawa sial!! Uang jajan mu ku potong sebagai ganti rugi, cepat bersihkan!!"


***


"Darimana saja kau!!!"


Anak tersebut berhenti dan mendongkak melihat wajah ayahnya dengan takut.


"A-Aku habis main Yah."


Dia terlihat ketakutan, bisa di lihat dari cara bicaranya yang gagap.


"Main! Main! Dan Main! Hanya itu yang kau lakukan! Contoh kakakmu, setiap hari dia terus belajar!"


Plak!


Sebuah tamparan mengenai wajah sang anak hingga terlihat bekas tamparannya. Anak tersebut menangis sambil memegang pipinya.


"M-Maaf~"


***


"Ayah lihat aku berhasil jadi juara dua."


Anak tersebut dengan wajah polos nan ceria memberikan lapornya ke pada ayahnya.


"Apa-apaan ini! Kau membuatku malu saja!! Kau kalah dari anak miskin itu!!"


Ayah dari anak tersebut terlihat marah dan membanting lapor anaknya.


Sang anak hanya bisa menangis tersedu-sedu dengan wajah menunduk.


***


"Sekali saja bisa tidak kau menjadi berguna hah!! Dasar anak sial!"


Sang anak hanya menunduk mendengar ayahnya terus memarahinya, dia hanya bisa terdiam tak membalas.


"Lihat kakakmu ini, sudah pintar berprestasi lagi tidak seperti dirimu."


Tes


Air mata menetes dari matanya memalui pipinya. Kenapa ayahnya terus membading-bandingkannya dengan kakaknya.


"Memalukan! Aku sangat malu punya anak sepertimu! Lebih baik kau menghilang!!"


Sang ayah mengangkat tangannya bersiap untuk membukul. Anak tersebut hanya menunduk bersiap menrima pukulan.


Duak!!


***


"AAARRRRRGGGGHHHHH!!!"


"Hah..! Hah..! Hah..! Ternyata hah..! Hanya mimpi."


Tegar terbangun dari tidurnya, nafasnya terengah-engah seperti sehabis lari maraton. Dia menunduk dengan tangan menutupi wajahnya.


Mimpi tadi terlihat sangat nyata. Sudah cukup lama dia tidak bermimpi seperti itu, mungkin ini karena dia terlalu memikirkan kejadi sore tadi.


Kepala terasa pusing karena  tiba-tiba terbangun, dia memijat kepalanya agar pusingnya mereda.


"Brengsek! Kenapa aku memimpikannya lagi!!"


Tegar menoleh ke arah jam weker yang berada di atas nakas. Dia ingin tau sekarang sudah jam berapa.


"Jam empat, pagi masih cukup lama."


Ini masih terlalu pagi untuk bangun tapi dia sudah tidak bisa tidur lagi, rasa kantuk nya seakan menghilang begitu saja.


"Lebih baik aku makan saja, perutku rasanya keroncongan."


Tegar berdiri kemudian membereskan kasurnya yang berantakan seakan perang baru saja terjadi, ketika ingin pergi keluar dia berhenti dan kembali untuk mengambil Ponsel dan Headphone nya.


Berharap saja mendengarkan musik bisa membuat hatinya menjadi lebih tenang, dia memakai Headphone nya dan memutar musik santai.


Dia memejamkan matanya menikmati musik yang mengalun dengan indah, dia sudah hafal dengan letak rumah jadi dia tidak takut tersandung atau menabrak.


Setelah sampai di dapur Tegar kemudian menngambil bahan makanan di Kulkas dan mulai memasak.

__ADS_1


***


Tegar berbaring di Sofa mendengarkan musik dari Headphone nya. Dia sudah selesai makan dan juga mandi.


Dia juga telah selesai menjalankan ibadahnya, dia tau kalau dia tak akan sukses bila dia tidak menjalankan ibadahnya. Sekarang dia hanya perlu bersantai sambil menunggu matahari terbit.


Lantunan musik terdengar merdu membuat Tegar merasa tenang, suasana hatinya menjadi lebih baik daripada tadi.


Suasana yang tenang seperti inilah yang dia suka, Tegar sangat menyukai ketenangan. Dia tidak nyaman dengan suasana yang berisik.


Drrt Drrt Drrt


Sepertinya suasana damai yang dia rasa kan tidak bisa bertahan lama. Siapa juga yang menelponnya pagi buta begini.


Wajahnya berkedut ketika melihat siapa yang menelponnya. Dengan ogah-ogahan Tegar mengangkat panggilan tersebut.


‘Hallo Tegar, kenapa kamu angkat teleponya lama sekali sih!’


Tegar menjauhkan Ponsel nya dari telinganya, dia tidak mau gendang telinganya rusak mendengar suara wanita berisik ini.


Setelah wanita yang menelponnya tenang barulah Tegar mendekatkan lagi Ponsel nya.


"Apa kau sudah tenang Editorku tercinta?"


‘yah, dan berhentilah menggodaku.’


"Ya ya, ada apa Kak Aliya menelponku Pagi-Pagi begini?"


Dia menekankan kata 'Pagi' memberitau Aliya secara tidak langsung kalau dia merasa terganggu. Siapapun pasti kesal bila pagi-pagi sudah di telepon, apalagi langsung di ceramahi.


'Oke aku minta maaf, aku juga tidak sudi menelponmu kalau tidak ada hal penting.'


Walaupun ucapannya terdengar kasar tapi Tegar tau kalau Aliya tidak mengatakan hal itu dengan serius.


"Terserah. Jadi ada apa?"


‘aku hanya ingin mengingatkanmu untuk datang membawa naskah Novelmu.’


"Oke nanti aku akan kesana sepulang sekolah."


"Awas yah, kalau kamu gak datang aku akan menyusulmu ke sekolah..."


Tuut~


Dia menoleh ke arah Jam dinding, masih ada dua jam lebih sebelum waktunya kelas dimulai. Jadi, dia masih punya waktu untuk bersantai.


Apalagi yang bisa dia lakukan sekarang, semua pekerjaan rumah sudah dia selesaikan dari tadi.


Waktu terasa berjalan lebih cepat dari biasanya, Tegar tidak sadar kalau sudah jam tujuh saja.


Tegar bangun dari sofa dan pergi ke kamarnya untuk mengganti bajunya dengan seragam sekolah.


Setelah menyiapkan semua perlengkapan dan juga memakai sepatunya Tegar langsung berangkat menuju sekolah.


 


Tegar kemudian berangkat ke sekolah menggunakan sepedanya.


Cuaca hari ini cukup cerah, tapi tidak terlalu panas juga karena ada beberapa awan yang menghalangi sinar matahari. Tubuhnya terasa segar ketika sinar matahari menerpanya.


 


“sepertinya hati ini akan lebih daripada kemarin.”


 


Tegar langsung terdiam, astaga dragon dia batu saja mengibatkan bendera. Semoga saja hal yang dia takutkan tidak menjadi kenyataan.


 


Biasanya ketika dia atau teman temannya mengayakan hal tersebut pasti suatu hal yang merepotkan akan menimpa mereka.


 


Sudah menjadi peraturan tertulis di antara dia temannya kalau mereka melakukan sesuatu yang sangat mudah mereka tidak boleh mengatakan, “ini mudah” atau yang memiliki arti sama. Kenapa? Karena hal itu akan berbalik dan keadaan menjafi merepotkan.


 


Kedengatannya memang sulit di percaya dan terlalu mirip dengan adegan klise di Anime agau Novel tapi itulah kenyataan yang sebenatnya.


 


Tegar berbelok memasuki sebuah gang agar dia bisa lebih cepat sampai ke sekolah. Bukannya dia akan terlambat atau tidak ingin di tagih hutang oleh pemilik watung di sebrang jalan, tapi dia tidak ingin sampai dengan kedaan lelah.


Ciit

__ADS_1


Tegar dengan terpaksa menghentikan laju sepedanya karena di depannya ada beberapa orang yang menaiki motor Sport, sepertinya mereka memang sengaja menunggunya disini. Entah apa maksud mereka, tapi dia kenal kenal beberapa dari mereka.


Salah satunya adalah Aldo kekasih Lily- tidak- lebih tepatnya mantan kekasih Lily, Tegar bingung kenapa mereka mencegat nya disini? Apa Aldo punya urusan dengannya? Rasanya tidak, kalau pun ada kenapa tidak menunggunya di sekolah saja.


Sepertinya dugaan dia tadi menjadi kenyataan, suatu hal yang cukup merepotkan telah menunggu di depannya. Kenapa sih tadi dia mengatakan hal itu.


Aldo turun dari motornya berjalan ke arah Tegar dan tanpa aba aba menarik kerah bajunya.


“Lu... jadi Elu yang merebut Lily dari gue, ya?!”


“A-Apa maksudnya ya kak? Gue sama sekali nggak merebut Lily dari kak Aldo, Gue dan dia Cuma teman.”


Kenapa malah jadi seperti ini? Dan kenapa juga Aldo menuduhnya kalau dia merebut Lily datinya? Jangankan mengobrol, bertemu dengan Lily saja dia sangat jarang.


“Jangan mencoba membohongiku!! Gue melihat lu sama dia di perpus!!”


Sepertinya dia salah paham, Tegar harus cepat meluruskannya kalau tidak mereka mungkin akan memukulinya.


Dia tidak memiliki kepercayaan diri untuk menang melawan mereka, jikalaupun dia menang pasti akan banyak luka di tubuhnya.


“kak Aldo salah paham kami...”


“argh! Jangan mengelak lu... Hajar dia”


Aldo kemudian mendorong Tegar. Mereka turun dari motornya lalu mengerumuni nya. Sepertinya dia akan masuk rumah sakit setelah ini.


“Sepertinya aku memang tidak punya pilihan.”


Mereka kemudian mengeroyok Tegar bersamaan, karena lanwannya ada lima orang jadi Tegar cukup kesulitan melawannya.


Berharap saja ada orang yang lewat dan membantunya, lebih bagus lagi kalau polisi yang datang.


Beberapa pukulan dan tendangan mengenai tubuhnya, segera gang yang tadinya sepi sekarang cukup ramai dengan suara pertarungan.


☆☆☆


“Tegar kampret! Kenapa dia tidak bilang kalau dia sudah berangkat!! Kalau begitu aku tidak perlu repot menjemputnya.”


“tenang Kev, lagian lu gak bilang sama Tegar kalau kita mau jemput jadinya gini.”


Kevin telah mendengar dari Manejer kafe tempat Tegar bekerja kalau ayahnya Tegar datang ke kafe kemarin.


Mengingat hubungan Tegar dan keluarganya yang kurang baik membuatnya kawatir dengan teman berambut putihnya ini.


Jadi hari ini dia dan teman-temannya berencana menjemput Tegar, takut temannya melakukan hal yang tidak diinginkan nantinya.


“jadi maksud lu ini salah gue hah!!”


“lu harus tenang Kev, Yuda gak maskud ke gitu”


Kevin mendengus kemudian diam, mereka melanjutkan perjalanan mereka dengan tenang tanpa berbicara.


Drrt Drrt


Merasakan ponselmya bergetar Kevin mengangkat tangannya membuat teman temannya menghentikan laju kendaraan mereka.


“ada apa Kev?”


“tunggu ponsel gue getar.”


Kebin mengambil posel yang berada di saku celananya, dia mengerutkan dahinya. Teman-temannya menjadi penasaran dengan pesannya.


“lu kenapa Kev? Siapa yang ngirim pesannya?”


“gini Yud, Sam. Tegar mengirim lokasinya ke gue.”


“hah? Ngapain tu anak nge Share Lok? Tumben amat!”


“nah itu dia Sam! Gue juga bingung, ngapaian coba! tapi lokasinya lumayan deket, di gang depan.”


“Pasti Tegar dalam masalah, gak mungkin dia iseng ngirim lokasinya.”


“benar kata Yuda, lebih baik kita kesana.”


Mereka mengangguk menanggapinya, mereka memakai Helm nya kemudian pergi ke gang tempat Tegar mengirim lokasinya.


Mereka pergi dengan terburu buru karena takut sesutu yang buruk sedang menimpa teman mereka.


Sesampainya di gang tersebut mereka tidak mendapati siapapun, mereka hanya menemukan sepeda tegar dan beberapa motor disana.


“itu sepeda Tegar, tapi dianya dimana?”


Mereka kemudian mulai menelusuri gang tersebut. Sampai mereka mendengar suara seperti pertarungan.


“Tegar!!/Akai!!”

__ADS_1


__ADS_2