
“Bagaimana sekolahmu?”
Tegar yang sedang melamun tersentak kemudian menatap heran ke arah Kak Aliya. Ada apa ini? Gak bisanya Kak Aliya menanyakan kabarnya di sekolah? Biasanya dia gak terlalu peduli tentang sekolahnya jadi ini agak baru baginya.
“tumben nanyain hal kayak gini! Gak ada angin gak ada ujan?!” Ucap Tegar.
“Emangnya gak boleh aku menanyakan tentang kehidupanmu di sekolah?” tanya Aliya.
“Boleh aja sih.... tapi tumben aja.” Jawab Tegar.
Apa terjadi sesuatu ya hingga Kak Aliya menanyakan hal seperti ini? Apa mungkin dia melihat teman-temannya yang berkonfoi dari sekolah? Mungkin dia mengira Tegar akan ikutan tawuran jadinya dia mengkhwatirkannya.
Tapi sepertinya bukan itu. Apa mungkin dia masih menghkwatirkannya karena luka nya? Itu juga masuk akal.
“Sekolahku biasa saja, membosankan juga merepotkan.” Ucap Tegar malas.
“merepotkan?” tanya Aliya.
Tegar menghela nafas lelah. Sebenarnya dia tidak ingin memberitaukan hal ini kepada siapapun tapi sepertinya Kak Aliya tidak akan berhenti mengganggunya sampai mendapat jawaban yang di inginkannya.
“Biasalah, cinta remaja. Kakak kelasku mengira aku merebut pacarnya dan dia.... yah, menghajarku dengan teman-temannya.” Jawab Tegar.
“A-Apa?! Jadi luka itu...”
“yah... kakak kelasku yang melakukannya.” Ucap Tegar.
Dengan sigap Tegar menenangkan Aliya supaya tidak panik, dia tidak ingin mengalami kecelakaan karena hal seperti ini. Masih banyak hal yang ingin di lakukannya jadi dia belum mau mati sekarang.
“Masalah percintaan memang rumit, kau harus segera menyelesaikannya.” Ucap Aliya.
Sepertinya Kak Aliya sudah mulai tenang sekarang, dia juga menasehati Tegar sepanjang perjalanan membuat Tegar tidak bisa berkata kata. Bagaima bisa kak Aliya terus berbicara tanpa berhenti dan tanpa minum dulu?
Apa tenggorokannya tidak kering ya?
“aku juga berpikir untuk menyelesaikan hal ini, aku berniat untuk mencari bukti kelakukan buruknya dan mengirimnya ke Kepala Sekolah dan Guru Bk. Dengan begitu semoga saja aku tidak bertemu dengannya lagi.” Jelas Tegar.
Itulah yang dia rencanakan, dia berfikir cara yang paling bagus untuk masalahnya ini adalah membuat mereka di keluarkan dari sekolah atau paling tidak di pindahkan ke sekolah lain supaya mereka jera.
“Dan bagaimana kau mencarinya?” tanya Aliya.
“Aku punya ide bagus untuk itu.”
Sesampainya mereka di perusahaan Moonligth Libary, mereka langsung pergi menuju ke ruangan pribadi milik Kak Aliya. Tegar juga sudah mengganti pakaiannya dan memakai Kacamata serta mengganti gaya rambutnya.
Penampilannya sekarang tidak seperti murid SMA, dia terlihat lebih dewasa. Tegar berpenampilan begini bukan tanpa alasan, dia hanya tak ingin orang-orang meremehkannya karena usianya yang masih muda.
Itu terjadi ketika pertama kali dia bergabung dengan Moonligth Libary, waktu itu orang-orang di perusahaan meremehkannya bahkan berkata kalau dirinya bisa bergabung karena hasil sogokan. Bahkan saat pertama kali datang dia mau di usir oleh Satpam.
Maka dari itu, ketika dia pergi ke perusahaan atau ada acara lainnya yang bersangkutan dengan pekerjaan dia selalu mengubah penampilannya. Walaupun banyak orang sudah mengakuinya tapi dia sudah terbiasa melakukan ini.
Mereka bertemu dengan beberapa pegawai serta beberapa Novelis lain yang ada di perusahaan. Tegar menyapa mereka seperti biasa, dia sudah lumayan kenal dengan beberapa Novelis disana.
Sesampainya mereka di ruangan milik Kak Aliya mereka di sambut dengan tumpukan berkas yang ada di meja dan beberapa wadah bekas makanan. Melihat hal ini Tegar hanya memasang wajah datar, dia menoleh ke arah Kak Aliya meminta penjelasan.
“apa? Aku cukup sibuk jadi lupa membersihkannya.” Ucap Aliya.
__ADS_1
“hadeh! Kalo gitu apa gunanya punya OB, Kak Aliya suruh aja mereka membersihkannya.” Balas Tegar.
“oh! Benar juga.”
Di perusahaan ini mempunyai banyak Petugas Kebersihan, tapi kenapa tidak ada satupun yang mau membersihkan ruangan ini? Apa Kak Aliya sengaja melarang mereka untuk membersikan tempat ini?
Tegar kemudian mengambil inisiatif mengumpulkan wadah bekas makanan itu ke dalam kantung sampah, dia tidak terlalu nyaman tinggal di tempat kotor seperti ini. Dia kemudian memanggil Petugas Kebersihan untuk membuangnya.
“sudahlah, gak usah bahas sampah! Mana lanjutan volume selanjutnya.” Perintah Aliya.
Tegar duduk di Sofa yang ada di sana kemudian mengambil setumpuk kertas yang berisi lanjutan dari Volume Novel miliknya. Dia kemudian menyerahkannya kepada Kak Aliya.
“ini lanjutannya, baca dulu kak siapa tahu ada yang harus di perbaiki.” Ucap Tegar.
Kak Aliya mengangguk kemudian mengambilnya dan mulai membacanya dengan teliti, mereka harus merevisi beberapa bagian yang mungkin kurang bagus atau ada adegan yang kurang cocok disana.
Setelah beberapa menit Kak Aliya akhirnya selesai membaca kelanjutan Novelnya secara menyeluruh, Kak Aliya kemudian memberitahukan kepada Tegar bagian-bagian yang harus di revisi olehnya.
Mereka akhirnya menghabiskan waktunya untuk merevisi nya, mereka butuh beberapa jam sampai menyelesaikan nya.
Setelah selesai dengan urusan revisi mereka pergi untuk memilih gambar untuk sampul Novelnya. Sebenarnya Tegar ingin membuat sampulnya sendiri tapi waktunya untuk menulis bisa terganggu jadi dia melupakannya.
“Haah~ Akhirnya selesai juga!”
Tegar merenggangkan tubuhnya, dia cukup senang karena pekerjaannya akhirnya sudah selesai, dia ingin cepat pulang. Belum sehari tapi dia sudah merindukan Tempat Tidur kesayangannya.
“setelah ini kau mau kemana?” tanya Aliya.
“aku akan langsung pulang, aku sudah merindukan Kasur-Chan ku.” Balas Tegar.
“haah~ kau ini memang tidak pernah berubah.” Ucap Aliya.
“ya iya lah, emangnya aku Kamen Rider.” Balas Tegar becanda.
Setelah semuanya selesai Tegar pun langsung pulang menggunakan Taksi, awalnya Kak Aliya memaksa untuk mengantarkannya tapi di tolak oleh Tegar karena dia tau Kak Aliya masih punya banyak pekerjaan.
Di perjalanan Tegar hanya berdiam diri sambil memainkan Ponselnya, awalnya dia ingin langsung pulang tapi di urungkannya dia ingin pergi ke gang tempatnya di keroyok.
Kalau dia tidak salah disana ada CCTV milik salah satu warga, semoga saja alat itu masih bekerja supaya dia bisa mendapatkan rekaman tentang pengeroyokannya tadi pagi.
Tegar menyuruh sopir Taksi nya untuk berhenti di tempat dia menitipkan sepedanya, dia melanjutkan jalannya dengan menggunakan sepeda lagi pula mobil itu tak bisa masuk ke dalam gang.
Sesampainya Tegar di tempat pengeroyokannya dia langsung berkeliling mencari CCTV yang dia lihat dan benar saja di tempat itu memang ada CCTV yang bertengger di sudut salah satu rumah.
“Hei! Mau ngapain lu? Mau maling, ya!”
Mendengar suara tersebut Tegar menengok mendapati seorang pemuda yang mungkin lebih tua darinya, sepertinya pemuda itu curiga padanya karena dia terlihat mencurigakan.
“Bukan bang! Gue bukan mau maling.”
“terus ngapain celingak celinguk dari tadi?”
“Itu bang mau nanya, CCTV nya masih berfungsi gak?.”
“masih! Memangnya kenapa?”
Sepertinya pemuda tersebut masih curiga padanya, bisa di lihat dari cara menatapnya yang masih sinis dan dari cara bicaranya yang lumayan ketus padanya.
__ADS_1
“Begini... apa gue bisa lihat rekaman pagi tadi?”
“Buat?”
Tegar kemudian menjelaskan kepadanya apa yang terjadi tadi pagi dan menjelaskan kenapa dia ingin melihat rekamannya, kalau bisa dia mau menyalinnya ke dalam Flasdisk.
“baiklah ayo masuk, kebetulan CCTV itu miliku.”
Pemuda tersebut masuk ke dalam rumah di ikuti oleh tegar di belakangnya, mereka masuk ke salah satu ruangan yang sepertinya kamar milik pemuda tersebut.
Pemuda itu kemudian menyalakan komputernya dan kemudian mengutak atik komputernya mencari file video yang menampilkan kejadian tadi pagi.
“nah ini bukan?”
Tegar menengok ke arah layar dan benar saja di sana terlihatlah video dirinya yang sedang di keroyok oleh Aldo dan temannya. Tegar kemudian mengeluarkan Flashdisk miliknya.
“benar itu dia! Bisa gak lu nyalin video nya ke sini.”
Pemuda tersebut mengangguk kemudian mengambil Flasdisk itu darinya, dia tak keberatan menyalin video ini untuknya, lagipula tak ada gunanya bagi dirinya.
Setelah menunggu beberapa saat penyalinan video tersebut akhirnya selesai, pemuda tersebut memberikan flasdisk nya kembali pada Tegar.
“makasih bang, gue kebantu banget.”
“ya gak masalah.”
Tegar pun di antarkan keluar oleh pemuda itu. Tegar sangat berterima kasih padanya karena mau membantunya, kalau tidak Tegar mungkin harus mencari cara yang lebih sulit.
Benar! Dia mungkin harus meng Hack SSTV nya.
“sekali lagi masih ya bang, sorry juga gue jadi ganggu lu.”
Serius! Tegar merasa cukup tidak enak mengganggu nya hanya untuk masalah seperti ini, pria itu mungkin saja merasa terganggu olehnya walaupun tak menunjukannya.
“gak masalah, gue cukup seneng bisa bantu.”
Tegar kemudian pamit padanya lalu pergi menggunakan sepedanya, dia berniat untuk langsung pulang ke rumahnya dia punya hal penting yang harus di lakukan sekarang.
Dan hal itu pasti akan memakan waktu yang cukup lama.
To Be Continue
Yo Syo disini. gimana kabarnya para Reader sekalian? semoga sehat sehat ya.
jangan lupa untuk Like dan vote serta coment ya.
jika kalian ada kritik atau saran silahkan tulis di kolom komentar. Sampai jumpa di Chapter selanjutnya.
...Salam Akasia!...
__ADS_1