
Normal Pov
“A-Aduh!! Kak! Kak! Sakit kak! Pelan-pelan donk!!” Tegar memprotes sambil meringis.
Sesampainya di rumahnya Dina langsung mengobati Tegar yang mengalami lebam di tubuhnya karena terpukul ketika melawan anak buah ayahnya.
“lebay banget iih~ baru gini doang sakit.” Ledek Dina.
“Kakak gak ngerasaain, lumayan nih sakit nya.” Balas Tegar.
“iya- iya ini juga udah pelan.” Ucap Dina.
Dia tak habis pikir dengan adiknya, waktu lagi berkelahi saja dia tidak terlihat kesakitan, nah ini lagi di obati malah sakit.
Apa waktu berkelahi dia kerasukan?
“udah nih.” Ucap Dina sambil membereskan kembali kotak P3K nya.
“makasih kak.” Tegar membalas sebelum berkata. “Sialan banget tu paman-paman, wajah tampanku pake di tonjok segala.”
Mereka bilang hanya akan menangkapnya saja tapi nyatanya mereka malah melukainya juga. Parahnya lagi mukanya yang kena.
“Itu mah salah kamu sendiri, udah tau nggak bakal menang masih aja di lawan.” Ucap Dina.
Yang di katakan Dina memang benar, Dia kalau mereka juga mungkin tidak sengaja memukulnya tapi tetap saja dia merasa kesal karenanya.
Setelah ini Tegar yakin kalau dirinya pasti akan di tanyai tentang luka itu oleh Elena, yah bukannya dia narsis atau apa tapi mereka baru berbaikan.
Hal itu sudah menjadi bukti yang cukup untuk Elena mengkhawatirkannya. Ngomong-ngomong Soal bukti, itu membuatnya ingat kalau dia belum memberitahu Lia soal Identitas Stalker itu.
Setelah ini dia harus langsung memberitahunya atau dia mungkin akan melupakannya... lagi.
“udah ah, Aku mau ganti baju dulu.” Ucap Tegar.
“Sekalian mandi, badanmu itu udah bau terasi.” Ucap Dina memgejeknya.
“Sembarangan!!” ucap Tegar sebelum mencium bau tubuhnya.
Hidungnya mengerut sebelum berkata. “Kenapa tubuhku bau?!”
** **
Setelah selesai melakukan ritual membersihkan tubuhnya, Tegar mengeringkan tubuhnya dengan handuk sebelum memakai pakaiannya.
Tapi suara Ponselnya membuatnya menghentikan aktivitasnya. Tegar mengambil ponselnya, dia terkejut karena Manajer meneleponnya.
“Halo, Manajer sudah lama anda tak menelepon, bagaimana kabarmu manajer?”
Kalau dia tak salah ingat terakhir kali Manajer menelepon dirinya adalah waktu pemecatan dirinya. Yakni sekitar sebulan lebih.
[Kabarku baik, tapi tidak dengan Cafe]
Mendengar jawabannya membuat Tegar kembali bertanya. “Ada apa dengan Cafe? Apakah ayahku membuat ulah lagi disana?”
Dia agak khawatir, takut ayahnya berbuat nekat dan menghancurkan Cafe. Dia tak punya uang untuk mengganti ruginya.
[Tidak! Tidak! Bukan itu, tapi setelah kamu pergi kami cukup kerepotan untuk menangani pelangga]
“begitu, Kukira ayahku membuat ulah. Lalu ada apa Manajer meneleponku?”
Tidak mungkin kan Manajer meneleponnya hanya untuk hal tak berguna. Dia pasti punya alasan untuk meneleponnya malam begini.
[Tegar, aku berharap kamu bisa kembali bekerja lagi, kami sangat kekurangan pegawai]
“Aku sih tidak masalah, tapi apakah ini baik-baik saja?”
[Yah, aku yakin ayahmu tak akan kembali, kalau bisa kamu bisa datang sekarang, Cafe sangat sibuk]
“Siap Pak!” ucap Tegar sebelum menutup teleponnya.
Setelah memakai pakainya Tegar langsung menyambar Jaketnya yang tergantung dan mengambil kunci motor miliknya.
__ADS_1
Dia sedang malas memakai sepedanya dan juga dia di ajak Kevin dan yang lainnya untuk mengikuti balapan.
Karena hadiahnya lumayan jadi Tegar memutuskan untuk mengikutinya, lumayan lah untuk membayar cicilan motornya yang belum dia lunasi.
“kamu mau ke mana udah rapi gitu? Jangan-jangan mau ngapelin cewek ‘ya?” Dina yang melihatnya mau tak mau bertanya sambil memggodanya.
“Apaan sih kak, siapa juga yang mau Ngapelin cewe, aku mau kerja.” Balas Tegar.
“Kerja? Lha... bukannya kamu udah di pecat dari Cafe?” tanya Dina.
“Mereka kekurangan tenaga jadi aku diminta kerja lagi disana, Aku berangkat.” Balas Tegar.
“Yah, jangan terlalu malam pulangnya.” Ucap Dina.
Tegar hanya mengangguk menanggapinya sebelum keluar dari rumah dan mengambil Motor Trail miliknya yang berada di garasi belakang rumahnya.
Yah sebenarnya bukan garasi tapi lebih tepatnya sebuah gudang kecil yang dia sulap menjadi garasi. Garasinya cukup untuk menampung satu motor dan sebuah sepeda.
Tegar menaiki motornya lalu menyalakannya, dia memanaskan mesin motornya sebentar sebelum melesat di jalanan.
Jalanan lumayan ramai oleh para pekerja yang baru pulang, yah mereka para pekerja yang tidak lembur.
Karena jalanan yang lumayan padat membuatnya harus mengambil jalan pintas melalui gang-gang rumah. Tapi yah alhasil dia terkena omelan warga karena suara motornya.
** **
“ugh! Akhirnya selesai juga, ini rekor terbaru.” Ucap Tegar sambil merenggangkan tangannya.
“yah, Pengunjung kali ini lebih banyak dari biasanya, mungkin karena ini hari minggu.” Ucap Manajer.
Sekarang waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, sudah waktunya Cafe tutup. Para pengunjung juga sudah pergi.
“Terima kasih Tegar, kamu udah mau kerja lagi disini.” Ucap Manajer.
Tegar menggelengkan kepalanya sebelum menjawab. “Harusnya Saya yang berterima kasih pada Manajer karena mau menerima saya bekerja kembali.”
“Yahaha Tidak masalah, santai saja Nak.” Balas Manajer sambil tertawa.
Percakapan mereka terhenti karena suara Telepon, Manajer mengecek ponselnya tapi sepertinya suara itu tak datang darinya.
“ponsel saya yang bunyi, Manajer.” Ucap Tegar sambil terkekeh.
Manajer tertawa sebelum pergi masuk ke dalam Cafe, sepertinya dia mau menghitung penghasilan yang di dapatkan olehnya.
“Kevin? Mau apa ngapain ni anak telepon gue? Hallo Kev! Ngapakn lu telepon gue malen-malem gini?” Tanya Tegar dengan nada kesal.
Kalo yang meneleponnya ini perempuan dia pasti akan sangat bahagia.
[yaelah! Lu gak usah ketus gitu donk! Gue Cuma mau ngingetin lu kalau hari ini kita ada balapan.]
“Kampret!! Gue hampir lupa, untung aja lu ingetin gue. Lu ada dimana? Gue langsung kesana sekarang.”
[Gue udah di lokasi, nanti gue Sharelok deh!]
“Oke.” Balas Tegar sebelum memutuskan sambungan teleponnya.
Dia pergi berpamitan dengan Manajer terlebih dahulu sebelum pergi ke tempat yang telah di beri tahu Kevin.
Tegar pov
Saat ini aku sedang berada di Sirkuit balapan, ya apa yang kalian pikirkan benar! Aku dengan Kevin akan mengikuti balapan yang di selenggarakan di jalanan yang belum di resmikan.
Yah aku tau kalau lomba yang ku jalani ini ilegal tapi mau bagaimana lagi, aku membutuhkan uang, aku tak mungkin meminta uang dari kakak.
Dia juga mempunya kebutuhan yang harus di penuhinya.
Cukup banyak orang yang berada disini, mulai dari para pria maupun wanita. Berkali kali aku harus mengingatkan Kevin agar menjaga pandangannya.
__ADS_1
Orang ini, dia sudah memiliki pacar tapi kenapa masih saja suka main mata. Dasar manusia, mereka tidak bisa mengendalikan nafsunya.
Ah! Tunggu!! Aku kan juga manusia!! Ahh sudahlah.
Sekarang aku sudah berada di garis start bersiap-siap karena balapan akan di mulai. Aku tak tau siapa lawanku karena kaca Helm nya cukup gelap sampai wajahnya tak terlihat.
Brummmm
Brummmm
Aku mulai menyalakan motorku dan memasukan giginya begitu juga dengan lawan di sampingku. Suara sorak-sorai terdengar hingga membuatku kesal.
Kemudian seorang wanita berjalan di antara kami sambil membawa bendera kotak-kotak. Yah ini hal biasa, mereka selalu menggunakan bendera itu.
Tapi terkadang ada juga yang menggunakan kain, jaket, atau baju sebagai penggantinya. Wanita itu mengibarkan bendera tersebut menandakan perlombaan dimulai.
Aku langsung melepaskan rem membuat motorku melaju dengan cepat hingga mendahului lawanku. Tapi aku kurang di untungkan disini karena jenis motorku.
Karena treknya di jalan raya membuatku agak kesulitan untuk menyalipnya karena dia lumayan hebat membawa motornya.
Kami saling kejar-kejaran dengan kecepatan tinggi mencoba mendahului satu sama lain. Orang ini cukup hebat juga mengendarai motornya.
Brummmm
Brummmm
Kami saling menyalip tapi pada akhirnya aku bisa menyalipnya saat di tikungan tadi. Garis finish pun sudah kelihatan dan aku pun keluar sebagai juaranya.
"Game Clear." Gumamku.
Sorak sorai terdengar, mereka semua bersorak untuk kemenanganku, tapi di balik itu ada juga yang mencemoohku.
Aku menghentikan motorku keyika Kevin mendekat ke arahku. Oi apa dia mau mati ya, hampir saja dia tertabrak olehku.
"Gue nyangka lu bisa menang." ucap Kevin.
Dari nadanya dia sepertinya meremehkan kemampuanku dalam mengendarai motor. Kayaknya dia minta di hajar deh.
"Tentu saja gue menang, lu pikir gue ini siapa?" ucapku bangga.
"Lu Tegar, emang siapa lagi, nama sendiri aja lupa" ucapnya sambil memutar matanya dengan malas.
Seseorang menghampiri kami, sepertinya dia adalah panitia dalam pertandingan ini. Hehehe uang datanglah kepada papah~
“Widih Bro, lu hebat juga bawa motornya.” Ucapnya.
“Thanks, bro.” Balasku.
“Ini uang lu, selamat atas kemenanganya.” Ucapnya sebelum pergi.
“gimana? Lu mau ikut lomba lagi?” tanya Kevin.
Aku menggelengkan kepalaku sebelum menjawab. “Tidak! Gue udah capek, lu aja sono.”
Tapi pada akhirnya dia tak mau mengikutinya dengan alasan kakinya mengalami keram. Alasan! Bilang saja kalau dia takut!
Kami menonton sisa pertandingan, saking serunya sampai membuat kami lupa akan waktu. Sial, aku pasti akan kena omelan dari kakak lagi.
Sepertinya aku harus bersiap-siap, semoga saja telingaku tidak berdarah karena mendengar omelan yang bisa sampai berjam-jam.
Aku pulang ke rumah dengan was-was berdoa semoga kakak sudah tidur, tapi sepertinya keberuntungan tak berpihak padaku.
Pada akhirnya aku terkena omelannya selama satu jam, dia menceramahiku tentang kehidupan dan masyarakat.
To Be Continue
Yo, Syo disini, jika kalian memiliki kritik atau saran silahkan tulis di kolom komentar.
Tetap jaga kesehatan dan lakukan 3M, Tetap sehat dan sampai jumpa.
...Salam Akasia!...
__ADS_1