
“jadi begitulah yang terjadi.” Ucap Jony
“yah, lalu apa dengan saya pak?” tanya Tegar.
Sepertinya suasana hatinya masih kurang bagus akibat makan siangnya terganggu hanya karena masalah ini.
Tegar melihat ke arah Aldo dan temannya dari ekor matanya tapi berkebalikan dari yang ia bayangkan, mereka sedang menundukan kepalanya.
Entah mereka benar-benar merenungi perbuatan mereka atau sedang mengumpat dalam hatinya. Ah entahlah lagipula wajahnya tidak terlihat jadi tidak bisa di tebak isi hatinya.
“Dalam salah satu video tersebut ada dirimu di sana. Kami hanya ingin mengkonfirmasi apa yang terjadi.” Ucap Jony.
“bisa saya lihat videonya pak?”
Pak Jony kemudian memberikan ponselnya kepada Tegar, di sana terdapat video dirinya yang di keroyok oleh Aldo dan temannya. itu video kemarin.
Setelah melihat lihat sebentar video nya ia mengembalikan ponselnya ke pak jony, kalo lama lama nanti di kira dia mau ponselnya lagi.
“i-itu... yang terjadi sebenarnya... angh~”
Tegar berusaha semaksimal mungkin agar dirinya terlihat gugup atau memang beneran gugup. Bahkan Elena pun ragu dia sedang ber akting.
“Bicara saja kamu gak perlu takut.” Ucap Jony.
‘Siapa yang takut!! Aduh napa gugup gini gue?’ batin Tegar.
“Lu gak perlu ngomong, biar gue yang jelasin!”
Tegar hampir saja melompat dari kursinya karena terkejut karena Aldo yang tiba-tiba berdiri. Kenapa sih semua orang suka sekali mengagetkannya.
“Do lu yakin?” tanya temannya.
“Gue yakin, lagian udah terlanjur juga.” Balas Aldo.
‘Dia mau menjelaskan? Apa rencananya berhasil?’ batin Tegar.
Sepertinya yang dilakukannya tidak salah, terbukti Aldo mau menjelaskan perbuatannya saja berarti dia selangkah menuju hasil yang di inginkannya.
Atau itulah yang Tegar harapkan, nyatanya masih ada kemungkinan kalau Aldo melakukan ini agar dirinya bisa membelokan fakta ke arah lain.
Tapi sepertinya ketakutannya tidak terbukti sama sekali karena Aldo menjelaskan perbuatannya tanpa ada yang ditutup-tutupi sama sekali membuat Tegar terkejut sekaligus lega.
Setelah mendengar penjelasannya pak Jony menhela nafas lelah, dia mungkin tak menyangka kalau masalah ini berawal dari kecemburuannya saja.
‘haah dasar anak muda jaman sekarang’ batin Jony.
“Kalian ini, kalian sudah dewasa seharusnya kalian berfikir dulu sebelum bertindak, cari tau lebih dulu kebenarannya...”
Pak Jony kembali menceramahi mereka, Tegar merupakan orang yang tidak suka di ceramahi tentang percintaan hanya bisa terduduk lemas.
Dia ini jomblo hal seperti ini menurutnya kurang menarik, kalau cara mendapatkan hati Cewek mungkin dia akan lebih semangat.
***
Setelah nasehat yang cukup panjang pak Jony kemudian memutuskan untuk men Skors mereka selama sebulan lebih.
Ketika keluar dari ruangan BK, tiba-tiba Aldo menghampiri dirinya. Tegar menjadi sedikit waspada, bagaimanapun dia masih belum percaya sepenuhnya pada mereka.
“Tegar, bisa kita ngomong bentar.” Ucap Aldo.
Tegar mengangguk menanggapinya, kemudian bertanya.
“Ada apa?”
“Gue minta maaf soal kemarin, gue..., gue gak gak bisa ngontrol emosi. Gue juga gak seharusnya begitu saja memukulimu tanpa mencaritau dulu..., gue... kami minta maaf.” Ucap Aldo.
“Kami juga akan minta maaf secara langsung pada temanmu.” Lanjutnya.
Tegar menggaruk pipinya, sebenarnya dia tidak punya dendam sama sekali hanya saja dia kesal karena kelakuan mereka ini.
“ah! Iyah, gue maaffin kok, gue seneng lu gak salah soal ini.” Ucap Tegar.
“Gue duluan kak, udah mau bell. Ayok Elena!” lanjutnya.
Mereka berdua kemudian pergi meninggalkan Aldo menuju ke kelas. Mereka berdua tidak berbicara sama sekali membuat suasana canggung.
__ADS_1
‘Sialan, Akward banget suasananya.’ Batin Tegar.
““Tegar/Elena””
Entah hanya kebetulan atau apa mereka berdua bisa kompak seperti itu, padahal biasanya mereka tak pernah akur.
“bisa bareng gini ya.”
Tegar terkekeh pelan, entah kenapa melihat Elena yang malu membuatnya ingin tertawa. Elena langsung mencubitnya membuat Tegar meringis kesakitan.
“Aduh-aduh! Sakit! Lepasin Elena sakit.”
Rasanya pasti sakit sekali, apalagi Elena sangat serius mencubitnya. Untung saja Elena melepaskan kalau tidak, pasti kulitnya sudah membiru.
Dengan wajah sebal Tegar menggosok bagian tubuhnya yang di cubit oleh Elena barusan.
“Sakit Elen, lu ngapa cubit gue?”
“Elu tuh, ngapain ketawa?”
“kenapa? Karena lu lucu Elen.”
Elena yang tadinya marah langsung terdiam dan terlihat malu. Sontak saja hal itu membuat Tegar kembali tertawa.
Karena kesal agau mungkin malu, Elena mempercepat jalannya meninggalkan Tegar yang masih tertawa.
“Hei, Elen tungguin gue dong.”
Tegar cepat menyusulnya sebelum terlalu jauh, Tapi Elena yak menghiraukannya sedikitpun dan malah berjalan lebih cepat. Mereka sama sekali tidak menyadari kalau ada orang yang dari tadi melihat intraksi mereka.
“kayaknya gue memang salah paham tentangnya.”
“ngapa lu bisa yakin begitu? Kemarin lu gak percaya sama itu orang.”
Cara berpikir manusia memang tidak bisa di tebak, Kemarin dia sama sekali tak percaya dengan perkatan Tegar tapi sekarang dia kelihatan sangat yakin tentang yang di katakannya.
“Lu lihat kan, Tegar memang tidak mengincar Lily tapi Elena, dia suka pada Elena.”
“Do kayaknya lu cocok deh jadi pakar cinta, lu kayaknya udah hatam sama yang kek ginian.”
Orang tersebut langsung tertawa, sepertinya dia puas mengejek Aldo. Ternyata dialah yang mengawasi Tegar dari tadi.
***
Sesampainya di kelas Tegar dan Elena langsung dj bombardir oleh pertanyaan dari teman mereka, sepertinya semua orang penasaran dengan apa yang terjadi.
Tegar mengacuhkan mereka dan duduk di kursinya. dia ingin istirahat, dia juga masih lapar, tadi dia tak sempat menghabiskan makanannya.
Tapi sepertinya Kevin dan yang lainnya tak akan membiarkannya istirahat, mereka terus mengganggunya untuk mendapatkan jawaban.
“Kalian tanya Elena saja, gue capek males gue jelasinnya.” Ucap Tegar.
Mereka langsung menatap Elena untuk mendapat jawaban tapi apa, yang mereka dapatkan hanyalah Elena yang memelototi mereka.
“Idih lu aja yng ngomong.” Ucap Elena.
“Ayolah, Elen ngomong saja, gue juga penasaran nih.” Ucap Anna.
Anna merupakan temannya Elena yang juga meruapakan Anggota OSIS. Sepertinya dia juga penasaran dengan apa yang terjadi.
Mereka yang tadinya sudah menyerah bertanya langsung kembali bersemangat setelah Anna mencoba membujuknya untuk berbicara.
Mungkin bisa di bilang Anna sudah seperti malaikat pelindung di mata mereka. Memberikan keberanian pada mereka.
“yah, baiklah. Gue jelasin nih.”
Tepat ketika Elena mengatakan hal itu Bell berbunyi dengan cukup keras, mereka dengan terpaksa kembali ke tempat duduknya.
Walaupun mereka penasaran dengan apa yang terjadi tapi mau bagaimana lagi, bell sudah berbunyi, pasti waktunya tidak cukup kalau mau di jelaskan dengan rinci.
Beberpa menit setelahnya Seorang guru pun datang, sekarang merupakan jam pelajaran Prakarya.
“Selamat siang semua.”
“”Siang Bu!!””
Para siswa menjawab sapaannya dengan semangat, pelajaran ini merupakan salah satu pelajran yang paling di minati, salah satu alasannya karena gurunya.
__ADS_1
Bu Yesti sang guru tidak kaku dan mudah di ajak ngobrol, jadi ketika berbicara mereka bisa sedikit santai tidak perlu gugup.
Alasan lainnya adalah karena penyampaian materinya juga yang mudah di pahami, dan juga pelajaran ini mungkin bisa bermanfaat bagi mereka nanti.
Jadi, sudah pasti para siswa menantikan pelajaran ini, apalagi laki laki. Yah soalnya bu Yesti juga masih muda, dia baru lulus kuliah dua tahun lalu.
“Oke, buka kembali bukunya. Karena materi pembelajarannya sudah ibu jelaskan jadi untuk kali ini kita akan melakukan prakteknya.” Ucapnya.
“praktek kayak gimana bu?” tanya Kevin.
Sepertinya dia penasaran dengan praktek kali ini, dia juga sengaja bertanya agar nanti tidak bingung waktu pelaksanaannya.
“baik akan Ibu jelaskan, sesuai materi kemarin tentang wirausaha, jadi Ibu minta kalian membuat suatu masakan untuk kalian dijual, nah kalian akan bekerja secara berkelompok. Untuk hasil penjualannya kalian bagikan secara merata.” Jelasnya.
“...ah, hapir lupa. Nanti ketika proses memasak harus kalian video kan sebagai buki. Udah jelas Kevin?” lanjutnya.
“Hehe Udah Bu.”
Melihat Kevin yang hanya cengengesan membuat bu Yesti menghela nafas, dia sudah terbiasa dengan kelakuan para muridnya yang diluar nalar.
“untuk pembagian kelompoknya bagimana bu?” tanya Samudra.
“nah kalau itu terserah kalian, mau kalian tentukan sendiri atau ibu yang menentukannya.” Jelas bu Yesti.
“ibu aja yang tentuin!”
“Benar! Ibu aja.”
“kalau kami yang tentuin suka gak adil.”
“Iyah, saya gak mau jadi kelompok sisa.”
Kelas menjadi ricuh seperti sedang di pasar, mereka tidak setuju tentang gagasan menentukan kelompok sendiri.
Itu adalah hal yang wajar, mungkin hal ini sudah menjadi rahasia umum kalau ketika para murid yang menentukan suatu kelompok pasti tidak akan adil.
Jika mereka yang menentukan kelompok pasti akan terbentuk menjadi kelompok Siswa pintar, kelompok Siswa rata-rata, dan kelompok buangan.
Mereka tidak ingin masuk ke dalam kelompok buangan, karena pasti tugasnya tidak akan selesai, kalaupun selesai pasti tidak beres alias kacau.
“Diam! Diam! Kalian ini yah, untuk kelompoknya biar ibu yang menentukannya.” Ucap bu Yesti.
Setelah itu bu Yesti mulai menentukan kelompokya. Satu kelompok akan berisi sekitar enam orang, baik itu laki-laki ataupun perempuan.
“Oke kelompok pertama...
Tegar
Kevin
Anna
Yuda
Samudra
Elena.
....dan itu kelompok terakhir.”
Bu Yesti melanjutkan mengumumkan kelompok selajutnya, tapi ada dua orang yang tidak mendengarkan yakni Tegar dan Elena.
Mereka berdua terlalu terkejut karena bisa menjadi satu kelompok, apakah ini hanya semacam kebetulan atau apa tapi yang pasti...
‘’Kenapa aku harus sekelompok dengannya!!”
Entah bagaimana mereka berdua bisa se singkron itu, sebenarnya mereka agak ennggan menjadi satu kelompok, apalagi mereka tidak bisa akur. mereka sudah seperti Tom And Jerry.
Ini pasti akan menjadi tugas yang paling merepotkan.
To Be Continue
Yo Syo disini. cuma mau ngingetin. untuk kalian yang punya Kritik ataupun saran silahkan tulis di kolom komentar. saran dari kalian akan membantuku membuat cerita ini menjadi lebih baik lagi.
jangan luoa juga untuk Like, Vote, Comment yah. Ciao
__ADS_1
...Salam Akasia!...