Smile In The Void

Smile In The Void
Chapter 38 [Hari biasa di Cafe]


__ADS_3

Bekerja di Cafe, sudah sekitar dua tahun Tegar bekerja di Cafe ini. Banyak hal yang dia dapatkan dari sini, selain uang dia juga mendapatkan banyak pengalaman berharga disini.


Tempat inilah yang membuatnya tetap bisa sekolah dan hidup tanpa kekurangan, para pekerjanya yang baik padanya bahkan dengan sukarela membimbingnya dalam bekerja.


Tapi dari mereka semua, Manajer lah yang paling di hormatinya, karena dialah Tegar bisa bekerja disini, dia juga lah yang mengajarkannya cara meracik kopi yang benar hingga dia bisa mahir melakukannya.


Yah, Selain menjadi pelayan di Cafe ini, Tegar juga sering menjadi Barista, dia bergiliran bekerja dengan Barista lainnya.


Tegar sangat bersyukur karena masih ada orang yang sayang padannya, yang melihatnya sebagai manusia dan bukannya alat.


Seorang pelanggan memasuki Cafe, dengan sigap Tegar menghampirinya. “Selamat datang Mbak, mau pesan apa?”


“Emmh, apa ya? Apa masnya punya menu bisa di rekomendasikan?” tanyanya.


Sepertinya pelanggan tersebut bingung mau memesan apa, mungkin juga dia baru pertama kali datang kemari.


Tegar tersenyum lalu membalas. “Sebenarnya sih semua menu disini Recomended banget Mbak, tapi menurut saya Mbak lebih baik pesan Kopi Latte atau Macchiato, saya jamin Mbak pasti bakal ketagihan.”


“Emh kalau gitu saya pesan Kopi Latte aja deh mas.” Ucap Pelanggan tersebut.


“Baik, Satu Kopi Latte. Ada yang lain Mbak? Mungkin kue atau apa buat pendamping Kopinya biar gak kesepian.” Ucap Tegar di selingi canda.


“Ah kalo gitu sama Chesse Cake nya 1 Mas.” Balas pelanggan.


Tegar mengangguk lalu membaca kembali pesanannya. “Jadi, Satu Kopi Latte sama Chesse Cake ya Mbak? Mohon ditunggu.”


Setelah mencatat pesanan dari Mbak tersebut, Tegar pergi langsung ke Barista nya dan memberikan catatan pesanan pelanggan tadi.


“Bang, Kopi Latte satu sama Chesse Cake satu buat meja 3.” Ucap Tegar.


Sang Barista menoleh lalu membalas. “Tegar, kamu bikin in aja pesanannya, Aku lagi bikin pesanan lain.”


Tegar menghela nafas lalu berkata. “Oke deh bang.”


Tegar lalu pergi ke mesin kopi dan mulai menyiapkan racikan Kopinya.


Sebelum membuat latte art, Tegar menyiapkan aerolatte milk frother, minipresso, termos stainless steel dan microwave.

__ADS_1


Tegar kemudian memasukkan bubuk kopi ke dalam mesin untuk membuat espresso.


Selanjutnya Tegar tinggal menyiapkan susu panas yang disebut juga steamed and foam. Foam susu ini jadi bahan utama dalam pembuatan cappuccino atau cafe latte.


Karena sudah cukup sering melakukan ini Tegar sudah tidak canggung lagi, dia dengan cekatan meracik semua bahan-bahannya dengan teliti agar mendapat hasil yang sempurna.


Tegar menuangkan susu ke dalam termos stainless steel dan tutup rapat. Dia mengocok termos dengan cepat sekitar satu menit hingga susunya berbusa lali menuangkan susu dalam cangkir dan panaskan ke dalam microwave sampai 30 detik hingga berubah menjadi Foam.


setelah itu Tegar menuangkan espresso hangat ke cangkir, dia kemudian menuangkan foam susu hangat ke dalamnya sedikit demi sedikit tak sampai memenuhi cangkirnya.


Tegar kemudian meratakan foam dengan sendok di tengah cangkir kopi, dia kemudian mulai membentuk gambar di atas Kopi tersebut.


Membuat kopi yang enak tidak hanya dari rasanya saja tapi tampilan dari kopi tersebut juga bisa menambah ***** dari sang konsumen, membuatnya bisa lebih menikmati kopi tersebut.


Tegar mulai membentuk latte art dibantu dengan tusuk gigi, dia mulai berkarya di atas Kopi menghasilkan gambar yang cantik. Dan sentuhan terakhir dia menambahkan sedikit cokelat bubuk agar kopi menjadi lebih manis.


Kopinya selesai di buat, Tegar menaruh kopi tersebut di atas nampan bersama satu porsi Chesse Cake dan membawanya langsung pada pelanggan tadi.


“Maaf menunggu, Ini pesanannya Mbak, selamat menikmati.” Ucap Tegar.


“ah, Terima kasih mas.” Balasnya.


Sial Tegar jadi iri.


*** ***


Edwin Arga Pratama. Pemilik sekaligus CEO dari Arga Corporation yang merupakan salah satu perusahaan terbesar, seorang pria yang sangat ambisius. Entah apa yang pernah di alaminya hingga membuatnya sangat tergila-gila akan kekayaan.


Demi kekayaan dia bahkan rela melakukan apa pun, salah satunya menjodohkan anak bungsunya agar dapat menjalin kerja sama dengan Gilang pemilik YN Group yang merupakan perusahaan terbesar di indonesia.


Hari ini Edwin memiliki janji temu dengan Gilang untuk membahas salah satu Proyek kerja sama mereka.


“Selamat siang Pak Gilang, maaf membuat anda menunggu.” Ucap Edwin dengan ramah.


Gilang tersenyum sebelum membalas. “Tidak masalah Pak Edwin, toh saya juga baru sampai.”


Mereka saling bersalaman sebelum kembali duduk di kursi, mereka saat ini berada di salah satu Restoran yang ada di Jakarta.

__ADS_1


“Jadi Pak Gilang bagaimana projek...”


Sebelum Edwin menyelesaikan ucapannya, Gilang lebih dulu memotongnya. “Santai Pak Edwin, tidak usah terburu. Kita nikmati dulu makanannya sambil ngobrol, masalah projek itu kita bicarakan nanti.”


Edwin terpaksa mengiyakan, lagipula dia tidak bisa mengecewakan rekan kerjanya ini. Gilang bisa melihat kalau Edwin sangat menginginkan projek ini, kalau tidak mana mungkin dia begitu terburu-buru.


Kalau bukan karena perjodohan anaknya dia sangat malas bertemu dengan Edwin yang terobsesi dengan kekayaan, tapi demi menyenangkan anaknya dia rela berbicara dengan pria ini.


“Bagaimana keadaan Tegar sekarang? Apa Pak Edwin sudah menemukannya?” tanya Gilang.


Dia cukup penasaran dengan perkembangan beritanya, dia cukup tertarik pada Tegar karena begitu berani menolak perjodohan dengan anaknya ini. Apa sebenarnya yang membuat Tegar menolak?


Olivia terbukti cantik, Pintar, dan kaya. Mereka juga sudah berteman sejak dulu jadi kenapa? Pertanyaan itu terus terngiang di pikirannya.


Edwin menghela nafas sebelum menjawab. “Saya sudah bertemu dengannya, tapi Tegar menolak untuk kembali. Tapi Pak Edwin tenang saja, Saya akan pastikan Tegar kembali dan menerima perjodohan ini.”


“...Kuharap perkataanmu itu bukan hanya omongan saja.”


*** ***


“Haah~ Cape banget dah~.” Ucap Tegar sambil mengipasi wajahnya.


Sekarang sudah malam dan Cafe akan segera di tutup, Para pegawai sekarang sedang membersihkan Cafe sebelum akan menutupnya.


“Lu lebay banget, tiap hari kan juga ramai. Lu kayak baru kerja aja.” Ucap salah seorang pegawai.


“Ah elu Bang, ganggu aja gue lagi ngeluh.” Ucap Tegar cemberut.


“Lu jangan banyak ngeluh nanti gak ada cewek yang suka sama lu.” Balasnya.


Ucapannya membuat Tegar semakin cemberut. “lu mah ngehina gue mulu, mentang-mentang udah kawin lu.”


“udah-udah, jangan ngobrol mulu, bantuin nih beres-beres.”


“”Siap Bang””


...To Be Continue...

__ADS_1


maaf bila ada kesalahan dan penjelasan pembuatan Kopinya, jujur saja, saya gak terlalu pahan jadi yah... beginilah jadinya.


...Salam Akasia!...


__ADS_2