Smile In The Void

Smile In The Void
Chapter 20 [Makan Malam Bersama]


__ADS_3

Normal Pov


“Hujannya cukup lebat, lebih baik tante antar saja biar lebih aman.” Ucap Ibu Elena.


“Aduh, gak usah Tante nanti ngerepotin lagi, gimana kalau saya pinjam jas hujan saja.” Ucap Tegar.


Dia merasa tidak enak merepotkannya apalagi dia ini hanya teman sekelas Elena, dia juga tau kalau ibu Elena masih waspada terhadap dirinya.


Kalau misalnya nanti ibu Elena mengantarnya pulang pasti dia akan di tanya-tanya tentang banyak hal, sebisa mungkin dia ingin menghindari hal itu.


Itu terlalu merepotkan!


“Tidak! Tidak boleh, kalau kamu kenapa-napa di jalan kan tante juga yang merasa bersalah.” Ucap Ibu Elena.


“Haah~ iya deh Tante.” Ucap Tegar pasrah.


Dia tidak mau memperpanjang masalah sepele seperti ini, apalagi dia tau kalau dia akan sangat sulit untuk menang adu mulut dengan seorang wanita.


Bukan berarti Tegar tidak bisa menang tapi dia hanya merasa itu sangat merepotkan dan juga dia tidak mau berdebat dengan Orang tua Elena karena dia merasa itu kurang sopan.


“nah bagus nanti Tante antar pulang, sekarang lebih baik kamu ikut makan barang di sini. Elena kamu ganti baju dulu gih.” Tanpa persetujuan Tegar, ibu Elena langsung menyeretnya ke ruang makan.


Elena yang di abaikan dan di tinggalkan hanya terbengong menatap ke arah mereka menghilang. Dia menggelengkan kepalanya kemudian pergi ke kamarnya.


Dia sudah tidak heran lagi dengan kelakuan ibunya yang tidak ingat umur. Serius, usianya sudah mencapai Kepala Empat tapi kelakuannya masih seperti seorang remaja saja.


Tegar kini berada di meja makan bersama dengan Elena dan ibunya. Ibu Elena mengajaknya untuk ikut makan bersama dengan mereka.


“Tegar. Tante mau tanya, itu rambut kamu putih di warnai atau asli?” Tanya Ibu Elena.


Dia merasa aneh saja melihat Tegar yang masih muda dengan rambut warna putih, walaupun itu cocok dengannya. Kalau rambutnya dia warnai sendiri kenapa pihak sekolah tidak menegurnya?


Sekolahnya merupakan sekolah Elit dengan peraturan yang cukup ketat jadi tidak mungkin Tegar bisa lolos dari pihak sekolah begitu saja.


Mendengar pertanyaan ibunya membuat Elena juga ikut memperhatikan, pasalnya dia juga cukup penasaran dengan warna rambut Tegar yang cukup unik.


“Ah, warna rambutku ini asli Tante. Aku terkena Sindrom Marie Antoinette.” Tegar membalas sambil menyentuh rambutnya.


“Sindrom Marie~ Apa?” tanya Elena.


“Sindrom Marie Antoinette. Singkatnya sih berkurangnya pigmen pada rambut yang membuat nya kehilangan warnanya. Penyebabnya sih kesedihan dan ketakutan, juga karena kemarahan, kadar stres yang ekstrem. Kira kira begitu tante.” Jelas Tegar.


Elena dan ibunya melongok mendengar penjelasan dari Tegar, mereka bertanya tanya apa saja yang telah di alaminya hingga membuatnya menjadi seperti ini.


Mereka berpikir mungkin Tegar terlalu keras bekerja hingga membuatnya menumpuk stres yang berlebih.


“Oh ya Tegar sudah berapa lama kamu kenal Elena?” tanya Ibu Elena.


Tegar menoleh kemudian membalas.


“eh! Ah itu kami kenal dari kelas satu sih Tan.”


Ibu Elena mengangguk kemudian bertanya lagi. “Kata Elena kamu tinggalnya sendiri ya? Apa kamu sekolah lewat jalur Beasiswa?”


Mungkin ibu Elena merasa agak aneh kalau Tegar yang tinggal sendiri tanpa orang tua bisa sekolah di sekolah Favorit.


Secara biaya untuk sekolah di sana cukup mahal, apalagi Tegar harus menghidupi diri sendiri dengan kebutuhannya yang lumayan banyak.

__ADS_1


“nggak Bu, dia gak masuk lewat jalur Beasiswa. Lagian kenapa sih ibu nanya-nanya kek gitu.” Ucap Elena yang risih dengan ibunya.


Sudah pasti dia merasa tidak enak pada Tegar karena terus di tanya-tanya oleh ibunya. Tegar sendiri juga sebenarnya agak tidak nyaman di tanya seperti ini.


“ibu Cuma pengen tau aja emang gak boleh gitu?!” ibu Elena mengalihkan pandangannya pada Tegar lagi.


“kalo gitu berarti kamu sudah kerja atau ada keluarga kamu yang biayai sekolah kamu?”


Tegar menggaruk bagian belakang kepalanya. “Aku kerja Tan, keluargaku yang lain tinggalnya cukup jauh, aku juga kurang dekat sama mereka.”


“oh gitu, memang kamu kerja dimana?” tanya Ibu Elena.


“Aku kerja Di Kafe kadang kalau libur aku di warnet, kurang nentu sih Tan.” Balas Tegar.


‘Situasi macam apa ini? Gue serasa jadi kayak mau ngelamar anaknya aja pake di tanya kerjaan.’ Batin Tegar.


Ibu Elena mengangguk, setelah itu dia tidak di tanya lagi soal latar belakangnya, pembahasan mulai merambat ke bagaimana Elena di sekolah.


Tentu saja Tegar langsung memanfaatkan hal ini untuk menceritakan hal memalukan tentang Elena di sekolah membuat Elena memerah karena malu.


Dia juga tak segan segan untuk menggoda Elena walaupun di depannya ada ibunya. Dia sungguh berani melakukan hal itu.


‘Sepertinya dia menutupi beberapa hal dari ku. Bagaimana mungkin dia bisa membiayai sekolahnya hanya dari kerja di kafe! Anak ini juga berani menggoda Elena di depanku.’ Batin Ibu Elena.


** **


Setelah selesai makan Tegar kemudian akan pulang di antar oleh Ibu Elena. Dia di antar sampai pintu depan oleh Elena.


Sepeda miliknya di masukan ke bagasi mobil milik Ibu Elena.


“Gue pamit dulu Elena, makasih nih makanan nya.” Ucap Tegar.


“mana mungkin lah, gue juga mana mau jadi bapak lu.” Ucap Tegar becanda.


Dia kemudian pergi masuk ke dalam mobil mengabaikan Elena yang memelototinya. Kalau tatapan bisa membunuh mungkin Tegar sudah mati tujuh kali.


Setelah mobil ibunya pergi Elena menutup pintunya kemudian masuk kembali ke dalam rumahnya, dia harus mengerjakan tugasnya.


Sementara itu, Tegar yang duduk di samping ibu Elena merasa canggung dengan keheningan yang melandanya.


Ibu Elena juga dari tadi diam saja sambil fokus ke jalanan, hujannya cukup lebat jadi harus berhati hati agar tidak menabrak atau tergelincir.


Tegar kemudian memutuskan untuk menengok ke luar jendela melihat hujan yang turun membasahi tanah atau bisa di bilang beton.


Untung saja jalanan nya tidak terkena banjir, jadi perjalanan mereka cukup lancar dan tidak perlu mencari jalan memutar.


Biasanya kalau hujan seperti ini dia suka mengerjakan Novelnya, karena pikirannya akan lebih tenang dan jernih kalau melihat hujan.


Tapi dengan keadaan sekarang dia memilih untuk tidak melakukannya, dia merasa tidak sopan jika memainkan ponselnya sekarang.


Setelah menempuh perjalanan yang agak lama, mereka akhirnya sampai di depan rumah Tegar.


“disini rumahnya?” tanya ibu Elena sambil melihat rumah Tegar.


“iya Tan, makasih sudah mengantarku pulang, makasih juga untuk makanannya. Masakan tante enak banget.” Ucap Tegar.


“Sama-sama, kalau mau nanti kamu main main lagi kerumah tante.” Ucap Ibu Elena.

__ADS_1


Tegar mengangguk kemudian keluar dari mobil dengan payung lalu keluar untuk mengambil sepedanya dari bagasi mobil.


Setelah itu dia pergi dulu mengambil payung lain kemudian mengembalikan payung milik ibu Elena. Dia berterima kasih lagi pada ibu Elena karena sudah mengantarnya.


“Makasih udah antar aku pulang Tan. Tante hati-hati di jalan.” Ucap Tegar sambil melambaikan tangannya.


“sama sama kamu cepat masuk, nanti kamu sakit lagi.” Balas Ibu Elena.


Tegar memandang mobil ibu Elena yang pergi menjauh sebelum pergi masuk ke dalam rumahnya. Sepeda miliknya juga ikut di bawa masuk.


** **


Rumah keluarga Agra (Orang tua Tegar).


“Kalian sangat tidak becus!! Membawa seorang remaja saja kalian selalu gagal!!” Edwin berteriak sambil menggebrak meja.


Di depannya ada orang orang yang merupakan anak buahnya yang di suruh untuk membawa pulang kembali anaknya.


Tapi walaupun begitu semua usaha yang mereka lakukan selalu gagal, mereka sudah melakukan berbagai cara mulai dari yang lembut maupun cara kasar.


Mereka mencoba dengan cara yang lembut tapi di tolak mentah mentah oleh Tegar, mereka menggunakan cara kasar, mereka malah pulang babak belur.


“Maaf bos, tapi Anak Bos jago banget berantemnya makanya kami kalah.” Salah satu anak buahnya mencoba menjelaskan.


“Hah itu mah kalian saja yang lemah, kalian berempat dan dia sendiri tapi kalian masih kalah!! DASAR TAK BERGUNA!!” Bentak Edwin.


Dia terlihat sangat marah hingga membuat urat nadinya terlihat menonjol. Anak buah Edwin hanya menundukkan kepalanya.


Sementara itu di salah satu kamar.


Seorang wanita yang masih sangat cantik walaupun usianya sudah mencapai kepala empat sedang duduk di ranjangnya sambil memegang sebuah foto.


 Wanita tersebut adalah Aliya Arga Alexia yang merupakan ibu dari Tegar. Sejak kepergiannya Tegar dari rumah, Aliya menjadi sering menangis.


Dia mungkin merasa bersalah dan menyesal karena dulu dia terlalu fokus pada pekerjaan dan anaknya yang lain hingga tak pernah memperhatikannya.


Sejak hari itu dia juga tak pernah berhenti untuk mencarinya tapi Tegar sangat sulit untuk di cari seolah menghilang di telan bumi, dia baru bisa menemukannya setelah empat tahun.


Pada awalnya dia agak curiga kalau itu orang yang berbeda karena penampilan Tegar sangat jauh berbeda dari yang dulu apalagi warna rambutnya yang memutih.


“Hiks... maafkan Ibu...Hiks... gara-gara ibu kamu harus berjuang bertahan hidup sendiri Hiks... ibu mohon, hiks... kamu pulang Hiks... ibu rindu sama kamu Hiks.” Aliya berbicara pada foto Tegar sambil menangis.


‘Kalau kamu gak mau kemari... biar ibu yang menemanimu disana.’


Aliya sudah bertekad untuk menemui anaknya secara langsung dan meminta maaf, dia berharap kalau Tegar mau memaafkannya, setidaknya dia berharap kalau Tegar mau menemuinya.


To Be Continue


Yo Syo disini.


Tegar: Oi Syo!! harusnya gue nginep aja di rumah Elen.


mana bisa gitu. elu baru ketemu mereka, masa langsung mau nginep.


Tegar: Ya gak papalah, lo fikir kek gimana caranya..


udah terima aja, protes mulu lu.

__ADS_1


Jangan lupa untuk Like, Vote, Comment, and Favorit. jika ada Kritik ataupun Saran silahkan tulis di kolom komentar. Ciao


...Salam Akasia!...


__ADS_2