
Tegar Pov.
Setelah memperhatikan tingkah Elena selama beberapa waktu membuatku yakin kalau dia memang mencoba untuk menghindariku.
Dia selalu mengabaikanku ketika mencoba mengajaknya berbicara tapi pada yang lain dia bertingkah seperti biasanya.
Dan bukan hanya aku tapi bahkan Sam yang selalu cuek dengan sekitarnya juga sepertinya curiga kalau Elena memang sedang marah padaku.
Dari tadi aku menggunakan otakku dalam keadaan overdrive untuk mencari memori di pikiranku tentang kesalahanku padanya.
Yah, tapi sebanyak apa pun aku memikirkannya aku tidak bisa menemukan apa pun, aku tak bisa mengingat apa kesalahanku.
Apa aku melanggar janji padanya? Tidak, aku tidak ingat ada janji apa pun dengannya. Sepertinya aku memang harus langsung bertanya pada orangnya.
‘Sigh! Wanita memang makhluk yang merepotkan.’ Batinku.
Ketika waktunya istirahat aku langsung menghampirinya, aku tak ingin hal ini terus berlanjut atau semua pekerjaanku akan berantakan karena aku tak bisa fokus.
“Elena, bisa kita bicara sebentar?” Tanyaku.
Dia memalingkan wajahnya dan berkata. “Maaf ada pekerjaan OSIS yang harus gue selesaikan.”
“Sebentar aja, gue janji gak akan lama.” Bujukku.
Aku sangat tidak nyaman dengan keadaan ini, kami menjadi akur belum lama ini dan aku ingin itu terus berlanjut.
“Sudah gue bilang, gue ada urusan kita bicara lain kali aja.” Ucapnya kemudian pergi meninggalkanku.
Melihatnya mengabaikanku dan menghindar dariku seperti itu membuat hatiku rasa... bagaimana aku mengatakannya ya?
Aku tak bisa mendeskripsikannya tapi yang pasti perasaan itu rasanya tidak menyenangkan. Aku benci perasaan ini.
“Gue akan kejar dia, gue bakal cari tau kenapa dia kahak gitu sama lu.” Ucap Anna.
“Thanks Anna.” Balasku.
Puk
Merasakan sebuah tangan yang menepuk pundakku membuatku langsung menoleh dan mendapati Kevin yang tersenyum ke arahku.
“Lebih baik jangan ganggu dia dulu, lu bicara ama dia nanti sepulang sekolah aja.” Ucapnya.
Aku hanya tersenyum masam kemudian menjawab. “yah, gue akan urus masalah ini nanti. Gue masih ada masalah lain yang perlu gue selesaikan.”
“lu punya masalah apa emangnya?” tanya Yuda.
Sam yang berada di sampingnya hanya diam tapi dilihat dari ekspresinya aku tau dia juga penasaran dengan hal ini.
Aku menghela nafas sebelum menjawab. “bukan aku tapi Lia yang lagi punya masalah.”
“”Hah?!””
Pertanyaan demi pertanyaan mereka lontarkan padaku, mereka terus berbicara sampai tak memberiku kesempatan untuk menjawab.
“Udah nanya nya? Gue bisa jawab sekarang gak?” tanyaku dengan kesal.
“hehe maaf kami panik soalnya.” Balas Kevin sambil tertawa kering.
Aku kemudian menjelaskan permasalahan Lia pada mereka, kebetulan kelas juga sedang sepi karena para Siswa sedang berkumpul di kantin atau taman.
Aku berani membicarakan hal ini pada mereka karena aku percaya mereka tidak akan membicarakan hal ini pada siapa pun. Tapi mungkin juga mereka yang menjadi penguntit itu.
“Susah juga kalau begitu.” Ucap Sam.
“Ini gak bisa di biarin, kita harus temuin siapa orang itu.” Ucap Yuda.
__ADS_1
“Kalau ketemu kita langsung hajar aja.” Ucap Kevin.
Kami mengangguk bersamaan, setuju dengan pendapat Kevin. Sebelum kita menjebloskannya ke penjara kita pukulin dulu.
Yah setidaknya sampai babak belur.
Kami semua kecuali Kevin pergi ke kantin, Kevin pergi untuk menjemput Nita dulu. Perutku sudah keroncongan minta di isi.
Biasanya aku akan makan siang bareng Elena tapi karena dia pergi, aku jadi terjebak dengan dua orang ini. Haah... inilah nasib orang jomblo.
** **
Normal Pov
Kevin yang meninggalkan temannya pergi menuju ke kelas Nita yang kebetulan sekelas dengan Devin yang entah bagaimana membuatnya kesal.
Tapi, dia dengan cepat melupakannya karena Devin juga sudah meminta maaf pada Tegar atas semua kesalahan yang di lakukannya.
Sesampainya dia di kelas Nita dia di sambut oleh Leon dan Alvin yang langsung menghujatinya dengan pertanyaan.
“Ngapain lu kesini hah!” ucap Leon.
“Lebih baik lu pergi aja deh, jangan bikin masalah disini!” ucap Alvin.
“Emang masalah kalau gue kesini? Gue gak mau cari ribut, gue mau cari cewek gue.” Balas Kevin sinis.
Mendengar perkataannya membuat mereka naik pitam. Tapi sebelum mereka bisa melakukan sesuatu padanya mereka di hentikan seseorang.
“Lu berdua berhenti! Jangan ribut disini, malu sama orang.” Ucap Devin.
“Tapi...”
“Udah deh. Lu berdua ngapain sih suka cari ribut, gak guna tau gak.” Ucap Nita yang baru datang.
Nita tersenyum ke arah Kevin kemudian menghampirinya dan memeluk lengannya, Kevin membalas senyumnya.
Nita mengangguk kemudian berkata. “Ayo, aku juga udah lapar.”
“Gue duluan Dev.” Ucap Kevin sebelum pergi.
Melihat kepergian mereka, Leon dan Alvin memprotes pada Devin karena menghentikan mereka.
“Dev, lu kenapa ngebiarin dia gitu aja.” Ucap Leon.
“udah lah Leon, gue Cuma udah cape aja ribut sama mereka. Lebih baik pergi aja, gue mau makan.” Balas Devin.
** **
“Terus kelanjutannya gimana?” tanya Sam.
“Gue juga lagi usaha, Bentar lagi... bentar lagi juga pasti ketemu.” Balas Tegar.
“kalau udah ketemu, lu kasih tau kita ‘oke?” ucap Yuda.
“hm! Nanti gue juga kasih tau kalau udah ketemu.” Balas Tegar.
Mereka sedang berada di salah satu bangku yang berada di kantin memakan makanan mereka.
“Si Kevin kemana sih? Jemput cewek aja lama banget.” Ucap Yuda.
Tadinya mereka ingin menunggu Kevin dulu tapi karena orangnya belum datang juga, mereka ‘terpaksa’ makan terlebih dulu.
“Halah paling dia mesra-mesraan dulu sama Nita.” Ucap Tegar.
Ini bukan pertama kalinya ini terjadi, biasanya kalau Kevin menjemput Nita dalam waktu yang lama berarti mereka sedang bermesraan.
“Dasar gak setia kawan lu semua, gue belum datang kalian udah makan.” Ucap Kevin kesal.
__ADS_1
Dia datang bersama dengan Nita dan Anna. Sepertinya mereka bertemu dengannya dalam perjalanan ke kantin.
Tegar mendengus sebelum menjawab. “Siapa suruh lu lama banget. Lu jemputnya kemana? Afrika?”
“Udah-udah kalian ini berantem mulu, kita duduk yuk.” Ucap Nita.
Mereka bertiga kemudian ikut duduk bersama Tegar dan yang lainya, kebetulan kursi yang mereka duduki cukup panjang.
Mereka kemudian memesan makanan ke penjaga kantin. Tegar yang memikirkan Elena langsung bertanya pada Anna.
“Anna gimana? Lu udah tau Elena kenapa?” Tanya Tegar.
Anna menggelengkan kepalanya sebelum menjawab. “Belum, gue udah tanya sama dia, tapi tuh anak kayaknya gak mau kasih tau gue.”
Tegar menghela nafas, dia sudah mengira hal ini akan terjadi, lagi pula Elena memang keras kepala orangnya.
Nita yang melihat hal ini mau tidak mau bertanya-tanya dengan apa yang sebenarnya terjadi.
Selama kenal dengannya dia tak pernah melihat Tegar begitu murung. Apa ini ada hubungannya dengan Elena?
“Lu kenapa Tegar? Lu emang ada masalah apa sama Elena?” tanya Nita.
“yah, gue sebenarnya juga bingung, gue gak tahu gue salah apa tapi Elena kayaknya menghindar dari gue.” Ucap Tegar dengan lesu.
“Menghindar dari lu? Lu punya salah apa sama dia?” tanya Nita.
“itu dia, Gue gak tahu gue salah apa, gue mikir dari tadi pagi tapi tetep aja gie gak tau. Kevin ama yang lain aja bingung.” Jawab Tegar.
Kevin dan yang lainnya mengangguk secara bersamaan, mereka juga tak tahu alasan Elena marah sama Tegar.
Sebagai sahabat dan teman seperjuangan nya tentu saja mereka juga ikut memikirkan cara supaya Tegar dan Elena cepat berbaikan.
“Ah gue baru ingat!” ucap Nita menggebrak meja membuat mereka terkejut.
“Kampret lu Tegar, lu pikir gue ini kesurupan pake di sembur segala.” Ucap Kevin.
Tegar tadi sedang minum dan tidak sengaja menyemburkan minumannya pada Kevin karena terkejut.
“Yaa maaf, gue tadi kaget.” Balas Tegar.
“Nita, lu emang ingat apa sih?” tanya Anna.
“kemarin gue lihat lu jalan sama cewek cantik di mall. Bisa jadi Elena lihat lu dan cemburu sama Tegar.” Jawab Nita.
“Lah, Elena ngapain cemburu sama Akai?” tanya Kevin.
Mereka menatap Kevin dengan wajah datar. Anak ini sepertinya masih tidak sadar kalau Elena suka pada Tegar.
Nita menepuk dahinya, dia tak menyangka kekasihnya sangat tidak peka sama sekali. Dia mulai berpikir kenapa dia cinta padanya.
“Lu emang gak sadar gitu kalau Elena suka sama Akai?” tanya Sam.
“enggak.” Balas Kevin dengan wajah polos.
Tegar yang melihat ekspresinya itu entah bagaimana membuatnya ingin memukul wajahnya.
“Haah... kayaknya dia salah paham deh. Lia itu bos gue, gue cuma nemenin dia beli baju doang.” Ucap Tegar.
“yah... lebih baik lu segera selesaikan masalah ini biar gak makin parah.” Ucap Nita.
“hm, rencananya gue mau kasih tau Elena abis pulang sekolah. Makasih Nit, lu udah kasih tau gue.” Balas Tegar.
“Sama-sama.”
__ADS_1
To Be Continue.