Smile In The Void

Smile In The Void
Chapter 19 [Bertemu orang tua Elena]


__ADS_3

Tegar pov


 


Haah akhirnya selesai juga, sekarang aku bisa pulang dan bertemu dengan Kasur-Chan ku tersayang. Komputer yang Eror ternyata lebih banyak dari yang dikatakan padaku.


Yeah aku baru saja selesai memperbaiki komputer sekolah yang Eror, biasanya ada guru yang biasa memperbaikinya tapi guru tersebut sedang di luar kota.


Dan lagi komputer yang rusak adalah komputer yang sering dipakai oleh kelas XI, karena itulah aku yang disuruh memperbaikinya.


Tapi, darimana mereka tau kalau aku paham tentang Komputer!!!


Total komputer yang mengalami Eror ada sekitar lima komputer. Aku penasaran bagaimana sih mereka memakai komputernya sampai bisa Eror begitu.


“Itu... Elena? Kenapa dia masih di sekolah?”


Padahal jam pelajaran terakhir sudah selesai sekitar satu jam yang lalu tapi kenapa dia masih disini, apa mungkin dia menemui pacar rahasianya?


Tidak mungkin! Siapa yang mau pacaran dengan cewek galak sepertinya. Eh dia menoleh padaku? Apa mungkin dia bisa mendengar apa yang ku pikirkan.


Ah pasti cuma kebetulan.


“Yo Elena, lu kenapa masih disini?” tanyaku.


“harusnya gue yang nanya, lu ngapain masih disini?”


bukannya menjawab dia malah bertanya kembali padaku. Inilah jadinya kalau sedang pelajaran B. Indonesia tidak memperhatikan dan malah tidur.


“Gue di suruh benerin komputer yang eror. Lu sendiri?” ucapku dengan nada monoton.


“Biasalah urusan OSIS, makanya gue pulang telat.” Balasnya.


Aku hanya mengangguk menanggapinya, aku hampir lupa kalau dia ini Ketua OSIS jadi wajar kalau dia pulangnya lebih terlambat dari yang lain.


Terkadang aku juga terkesan padanya, dia bisa mengatur waktunya dengan cukup baik. Kalau Itu aku, mungkin aku sudah keluar dari dulu karena tekanan yang ku terima.


Menjadi bagian dari OSIS tidak semudah kelihatannya, apalagi dia ketuanya. Mereka harus bisa bertanggung jawab atas tugas yang mereka dapatkan.


Aku terlalu terbawa dalam obrolan kami sampai tak sadar kalau sekarang kami sudah sampai di tempat parkir. Elena pulang dengan siapa yah? Ah pasti dia di jemput oleh sopirnya.


“Oh ya, lu pulang sama siapa? Di jemput sopir?” tanyaku.


Elena menggelengkan kepalanya.


“Hari ini aku tidak di jemput.”


“kalo gitu lu mau pulang bareng gue? Gue anter.” Ajakku.


Aku tidak tega melihatnya harus menunggu disni mencari taksi yang lewat, memang sih dia bisa memesan Taksi Online tapi itupun kalau kalau dapat.


“Gak mau ah nanti lu turunin gue di gerbang Komplek lagi.”


Ah dia pasti masih kesal karena waktu itu aku menurunkannya di depan gerbang Komplek, tapi waktu itu aku sedang terburu-buru jadi mau bagaimana lagi... aku juga terpaksa.


“Enggak, kali ini gue anterin sampek rumah lu.” Ucapku.


“lu gak takut ketemu orang tua gue? Ayahku galak lho.” Ucapnya.


“takut? Jangan bercanda, aku tidak takut hanya karena bertemu ayahmu yang galak.” Balasku.


Kau tidak tau bagaimana galaknya orang tuaku tau, jadi aku sudah terbiasa menghadapi nya. Bisa di bilang aku memiliki kekebalan cukup tinggi terhadap orang tua yang galak.


“Emh~ Oke deh. Awas yah kalau nanti lu nurunin gue di tengah jalan!”


Tapi ketika aku menaiki sepedaku aku merasakan ada suatu yang aneh dengan sepedaku, setelah di cek ternyata ban sepedaku kempes.


“Kenapa sepedanya Tegar?” tanya Elena.


“Ban sepedaku kempes. Tunggu bentar yah.” Ucapku sambil membuka tasku mencari sesuatu.

__ADS_1


Aku kemudian mengeluarkan sebuah kotak berukuran kecil dari tasku, Elena terlihat penasaran dengan apa yang ada di dalam kotak ini.


Benda yang ada di dalam kotak ini adalah sebuah pompa angin injak, ukurannya cukup kecil jadi aku sering membawanya ketika sekolah. Yah untuk berjaga-jaga.


 “lu bawa pompa ke sekolah?” tanya Elena.


Dia mungkin heran kenapa aku repot membawa pompa ke sekolah.


“hal seperti bukan sekali dua kali, jadi aku membawa pompa angin ini sebagai persiapan.”


Ban sepedaku kempes bukan terjadi sekali dua kali, hal ini sudah cukup sering terjadi, aku bahkan sudah tau siapa yang menjahili ku.


“jangan bilang ini sering terjadi.” Ucapnya.


“memang, gue bahkan udah tau siapa pelakunya.” Balasku.


“lu tau? Lalu kenapa lu gak laporin aja?” tanya Elena heran.


“itu tidak ada gunanya, aku sudah pernah melaporkannya tapi mereka membiarkannya.” Jawabku.


“sudahlah, ayo pulang.” Ucapku sambil memasukkan pompa anginnya kembali ke tas.


** **


Jika kita berada di Anime mungkin sekarang situasinya akan sangat Akward atau bisa di bilang canggung. Tapi ini dunia nyata bukan Anime.


Situasiku tidak canggung, sepanjang perjalanan kami mengobrol tentang banyak hal, tapi yang paling menarik mungkin tentang novel yang kami baca.


Aku agak terkejut karena tau Elena suka membaca novel, soalnya dia tidak terlihat suka dengan hal itu. Apalagi novel yang di sukainya adalah yang di tulis oleh Akasia, yaitu diriku sendiri.


Mendengarnya memuji Akasia membuatku merasa malu sendiri, aku ingin tau bagaimana reaksinya jika mengetahui kalau akulah penulis novel yang di sukainya.


Ah aku sudah membayangkan wajah terkejutnya. Aku tergoda untuk memberitahunya tapi aku sebisa mungkin menahannya, aku tidak ingin terjadi hal yang merepotkan.


‘langitnya cukup mendung, semoga saja tidak hujan.’


“Padahal tadi cerah, kenapa sekarang mendung? Sepertinya akan hujan.”


Bukan hanya aku, sepertinya Elena juga menyadarinya tapi mau bagaimanapun kami tidak bisa menghentikannya, itu diluar kuasa kami.


“Tegar, nanti lu turunin gue di depan Komplek aja takutnya keburu hujan.” Ucap Elena khawatir.


“Tidak, gue akan mengantar lu sampai ke rumah, gue udah janji.” Balasku.


Sebagai seorang pria sejati merupakan hal yang memalukan bila mengingkari janjinya. Lagipula kalaupun hujan aku bisa berteduh dulu sampai hujannya reda.


Perjalanan menuju ke rumah Elena lumayan lancar hanya saja kami sempat di hadang oleh satpam Komplek, dia mungkin curiga karena ada yang menaiki sepeda masuk Komplek.


Untung saja dia membiarkan kami lewat setelah melihat Elena yang aku bonceng di belakangku. Kau harus mengingat wajahku ya paman!


Kami melewati beberapa rumah, tempat tinggal Elena tidak terlalu jauh dari pos Satpam. Aku akui rumah di Komplek ini sangat besar, memang menggambarkan Komplek orang kaya.


Setelah melewati beberapa rumah kami akhirnya sampai di rumah Elena, rumah nya cukup besar dengan beberapa tanaman hias tertanam di halaman rumahnya.


Pada awalnya aku hanya ingin mengantarnya sampai ke depan gerbang rumahnya tapi dia bersikeras membuatku mampir lebih dulu sambil menawariku minum.


“gue pulang aja, lu gak perlu repot-repot ngasih gue minum.” Ucapku.


“oh ayolah lu gak usah ngerasa gak enak begitu. Ini juga sebagai rasa terima kasih gue karena lu udah ngantar gue.” Ucapnya.


Aku menatapnya dengan aneh. apa? Sejak kapan Elena menjadi begitu baik padaku? Apa jangan-jangan dia salah memakan obat ya.


“Apa-apaan tatapan lu itu.”


“tatapan apa?”


Aku buru-buru mengubah ekspresiku.


Dia akhirnya mengabaikannya dan membawaku ke rumahnya. Aku menaruh sepedaku di depan rumahnya, aku tidak perlu kawatir ada maling karena dia bilang Komplek ini aman.

__ADS_1


“gue tunggu disini aja deh.” Ucapku.


“engak lu ikut masuk! Atau jangan-jangan lu takut ketemu orang tua gue lagi.” Ucapnya dengan tatapan mengejek.


Sialan kau Elena. Dengan terpaksa akhirnya aku ikut dengannya masuk ke dalam rumahnya. Aku merasa gugup sekarang padahal aku bukan pacarnya yang ingin bertemu calon mertua.


“Ibu aku pulang!!”


“kau sudah pulang nak?! Eh! Siapa yang kau bawa?”


Serang wanita cantik yang memakai apron muncul. Rambut panjang bergelombang, dia sangat cantik bagaikan seorang model. Apa dia Kakaknya Elena?


“Apa dia pacarmu.” Ucapnya dengan nada menggoda.


“D-dia bukan pacarku.” Bantah Elena.


“aku Tegar kak, aku temannya Elena.” Ucapku.


“bukan kak tapi tante, aku ini ibunya Elena. Terima kasih telah mengantar Elena.” Ucapnya.


“Eh! Ah maaf t-tante, soalnya tante terlihat masih muda jadi aku kira tante Kakaknya Elena.” Balasku.


Serius, ibunya Elena masih terlihat sangat muda jadi jangan salahkan aku bisa aku salah mengira kalau dia Kakaknya Elena.


“Terima kasih, kau sangat pandai menggombal yah.” Ucap tante sambil tertawa.


‘memang ini termasuk menggombal ya?”


“aku tidak menggombal, tapi kenyataannya tante memang terlihat masih muda.” Balasku.


“Oi Usro berhentilah menggoda ibuku!” ucap Elena marah.


“eh? Apa kau cemburu Elena? Tenang saja ibu tidak akan mengambilnya darimu!” ucap tante.


“S-siapa yang cemburu? Lagipula dia bukan pacarku.” Ucap Elena.


Aku terkejut, aku baru baru tau Elena bisa berekspresi seperti itu. Dan ibunya, perbedaan sikap mereka sangat jauh. Sepertinya Elena mendapat sikapnya dari ayahnya.


Suara gemerisik terdengar dari luar, Ah sial sepertinya hujan sudah turun, mana hujannya cukup deras lagi.


“Hujannya cukup deras, lebih baik kamu tunggu hujan reda lebih dulu, akan berbahaya bila kamu memaksakan untuk pulang.” Ucap Tante.


“iyah, lebih baik lu tunggu hujannya reda, nanti lu kenapa-napa lagi.” Ucap Elena menambahakan.


“Ah! Apa itu tidak merepotkan Tante?” ucapku.


“tidak apa-apa, kamu tidak merepotkan kok, tante malah senang. Kamu tau kamu cowok pertama yang Elena bawa ke rumah.” Ucap tante.


“Ibuuuu!! Kenapa keu memberitahunya.” Teriak Elena malu.


Bukan hanya Elena tapi aku juga menjadi malu. Apa aku harus merasa terhormat mengetahui hal ini? Semoga hujannya cepat mereda, kalau tidak aku mungkin mati karena malu.


[Sekilas berita. Menurut BMKG hujan yang melanda kota Jakarta akan berlangsung sampai besok dan kemungkinan akan terjadi banjir jadi diharapkan kepada warga untuk tidak keluar rumah!]


Oh tidak, Kenapa aku mengibarkan bendera barusan?!! ah kenapa Televisi itu menyala sih, aku berharap aku tidak mengetahuinya. terkadang ketidaktahuan adalah kesenangan.


 


 


 


To Be Continue


Yo Syo disini, sial aku belum terbiasa menggambarkan emosi yang berbeda terutama orang tua. tapi aku akan berusaha menjadi lebih baik.


jika ada kritik atau saran silahkan tulis di kolom komentar. jangan lupa untuk Like, Vote, Comment, and Favorit.


...Salam Akasia!...

__ADS_1


__ADS_2