
Tegar Pov
Hari minggu.
Hari ini adalah hari dimana aku akan berkencan dengan Lia, sudah setengah jam aku memilih pakaian yang akan ku pakai hari ini.
Sebenarnya aku bisa memakai pakaian mana pun tapi karena aku akan jalan dengan seorang Aktris jadi setidaknya pakaianku harus sedikit lebih baik.
Masa jalan bareng Aktris aku memakai pakaian yang ku pakai setiap hari, aku akan malu sendiri kan.
Hati ini aku memakai jaket hitam di balik baju berwara biru, memakai celana Jeans di kombinasikan dengan sebuah sepatu Kets.
“yeah aku tampan!” ucapku sambil memandang pantulan diriku dicermin.
Aku mengunci rumahku dulu sebelum berangkat, aku tak akan ke rumah Lia karena kami berdua berjanji untuk bertemu di parkiran Mall.
Kali ini aku tidak menggunakan sepedaku karena cukup jauh jadi untuk hari ini aku akan berangkat menggunakan Taksi.
Kalau aku menggunakan sepeda mungkin aku akan kelelahan begitu sampai disana. Nanti bau keringatku tercium olehnya lagi.
Aku menunggu beberapa menit karena Taksi yang ku pesan belum juga sampai. Setelah Taksinya tiba aku langsung berangkat.
“mau ketemu pacarnya ya dek?” tanya Pak Supir.
“Ah! Enggak pak, Cuma mau nemenin teman.” balasku.
Aku tidak berbohong karena Lia memang bukan pacarku dan aku Cuma mau menemani dia untuk beli baju saja.
Tapi aku merasa ada yang aneh dengan Lia, bukan apa-apa tapi biasanya Lia kalau mau beli baju langsung pesan dari butik.
Aku ingin tahu apa sebenarnya yang di sembunyikan olehnya. Yah nanti aku juga kan tahu, aku hanya harus menunggu dengan sabar.
Karena bosan aku pun memutuskan untuk mengobrol dengan pak sopir tentang hal acak untuk mengurangi kebosanan.
Tak sampai setengah jam kami akhirnya sampai di depan Mall, aku turun dari Taksi setelah membayar. Pak Sopir nya ternyata cukup asik di ajak ngobtol.
Aku ingin tahu apakah Lia sudah sampai atau belum ya? Aku mengambil ponselku kemudian meneleponnya, aku ingin tahu dia sudah sampai dimanah.
“Yo Lia! Lu udah sampe belum? Gue udah ada di depan Mall nih”
[Gue masih di jalan, bentar lagi nyampe. Lu tunggu bentar disana]
“oke! Tapi jangan lama-lama.”
Aku mematikan ponselku dan menaruhnya kembali. Seperti aku terpaksa harus menunggu Lia di sini, kuharap dia segera datang.
Jika aku terlalu lama berdiri disini, aku mungkin akan di kira sebagai patung Selamat Datang lagi. Tapi itu bukan yang terburuk.
“Hai ganteng, sendirian aja.”
“daripada sendirian disini mending jalan sama tante yuk.”
Ini lah yang aku takutkan, para tante-tante genit ini pasti akan menggodaku kalau aku berdiri sendirian disini terlalu lama.
“maaf tante. Aku sedang menunggu seseorang.” Ucapku sambil tersenyum masam.
‘Kumohon. Pergi saja.’ Batinku.
__ADS_1
“huh~ sayang sekali.... ini nomor tante, kalau bosan kamu bisa hubungi tante.”
Tante memberiku nomor teleponnya sebelum akhirnya pergi dengan meninggalkan kedipan mata padaku.
Aku menggeridip ngeri, tante-tante jaman sekarang kelakuannya memang aneh-aneh. Semoga saja aku tidak bertemu orang itu lagi.
“ffttt baru tunggu bentar aja udah bisa dapat nomor cewek lu.”
Aku menoleh mendapati Lia yang batu saja sampai, dia memakai rok pendek lipat dan memakai pakaian yang kasual, dia terlihat sangat cantik memakainya.
“kalo cewek cantik sih gak masalah. Lah ini, gue malah di godain tante-tante genit.” Dengan ketus aku membalasnya.
Dia hanya tertawa melihat ekspresiku. Aku melihat ke arah mobilnya dan mendapati ada orang asing yang duduk disana. Lia juga sepertinya menyadari tatapanku.
“oh iyah, dia adalah Sopirku yang baru, dia baru bekerja denganku selama sebulan.” Ucap Lia.
“oh? Jadi dia supir barumu.” Balasku.
“Non, kalau gitu saya pergi dulu.” Ucap pak Supir.
“iyah, nanti aku telepon bapak kalau aku mau pulang.” Balas Lia.
Setelah itu pak sopir itu pergi. Ada yang aneh dengan orang itu, aku tidak suka dengan tatapan nya ketika dia melihat Lia. Aku harus hati-hati dengan orang itu.
“lu ngapain bengong, ayo kita pergi.” Ucap Lia menyadarkanku dari lamunanku.
“hah? Oh ayo.”
Aku dan Lia kemudian pergi masuk ke dalam Mall, kami mulai menelusuri semua toko yang ada di dalam. Dia bilang ingin membeli baju, kenapa sekarang malah berkeliling toko sih?
Aki sudah mulai menyesal karena aku menerima tawaran ini. Butuh begitu banyak waktu baginya untuk memilih apa yang akan dicoba dan bahkan setelah sekian lama dia terkadang memutuskan untuk tidak membelinya.
Yah, itu tidak memakan banyak waktu tapi itu sangat membosankan. Jika bukan Lia yang menyeretku berkeliling toko seperti ini maka aku pasti sudah pergi saat ini juga.
“Buruk bagaimana?" Tanyaku dengan ekspresi bingung.
Aku kira itu tidak semuanya tentang tentang mengatakan cantik ataupun imut. Aku tidak pernah menyadari bahwa memainkan 'peran' seorang pacar membuat frustrasi dan melelahkan ... yah tidak seperti Aku pacarnya tapi menurutku itulah yang biasanya dilakukan pasangan.
Hanya dengan memikirkan meluangkan waktu dengan seorang wanita saat berbelanja membuatku takut untuk menjadi pacar siapa pun. Tapi aku tidak mungkin jomblo selamanya, jadi hal ini adalah harga yang sepadan.
"Lu mungkin mengatakan hal jujur, Tapi gue masih berpikir kalau pujian lu terlalu sederhana. Sulit untuk memilih apa yang sebenarnya lu kalau lu ngomong bagus tentang semua pakaiannya." Lia menggembungkan pipinya karena frustrasi.
"Yah, pakaian pasti bisa membuatmu lebih cantik tapi gue pikir lu udah cukup cantik bahkan tanpa-" Aku menghentikan diriku untuk menyelesaikan kalimat ketika aku menyadari betapa buruknya itu terdengar tetapi sepertinya Lia bisa mengerti apa yang aku ingin katakan.
"Dasar sesat!" Dia tersipu kemudian berteriak ke telingaku.
"Tunggu, gue bermaksud begitu-" Aku ingin menjelaskannya karena kupikir dia marah.
Tapi setelah melihat senyum main-main di wajahnya, memutuskan untuk tidak menjelaskan apapun karena aku tau kalau dia sudah mengerti tapi dia hanya pura-pura tak mengerti saja.
** **
"Ini perhentian terakhir kita sebelum pergi ke Tempat Karoke!" Lia mengambil beberapa langkah dariku dan berbalik dengan senyum nakal sambil meperlihatkan toko terakhir.
Mataku berkedut hanya dari melihat pintu masuk.
Itu hanyalah surga wanita dan neraka pria. aku hanya mengintip melalui jendela dan tidak melihat apa pun selain pakaian renang, bikini, pakaian dalam wanita dan aku bahkan melihat beberapa 'pakaian dalam seksi' yang terkenal itu.
Apa-apaan, bagaimana itu diizinkan di sini ?! Kenapa juga dia menyeretku kesini? Apa kau mau mempermainkanku dengan datang je toko memalukan ink.
__ADS_1
"Lu bercanda, kan? Lu gak bisa mengharapkan gue pergi ke sana bareng lu." ucapku dengan senyum yang berkedut.
"Sudahlah, jangan seperti itu. Ini toko baju biasa saja seperti yang lain." ucapnya dengan ekspresi bingung pura-pura.
Mungkin normal bagimu, tapi bagi kami para kau adam, itu wilayah terlarang. Hanya orang mesum dan paling berani yang bisa bertahan di sana...
"Jika seseorang bertanya apa yang lu lakukan di sana, gue bakal ngomong kalau dateng sama gue." Dia berkata dengan ekspresi memohon.
Aku mengertakkan gigiku, tidak boleh! Aku tidak boleh tertipu dengan tatapan memohon itu! Sadar Tegar, dia hanya mau mempermainkanmu!!
“Pokoknya tidak!! Lia ini bayas gue! Gue gak bisa ikut lu masuk, batas gue Cuma sampai disini! Gue gak bisa ikut titik!” ucapku.
Sebagai laki-laki jantan aku tidak akan masuk ke dalam toko durjana ini, masuk ke toko pakaian wanita saja sudah cukup memalukan, apalagi ini!
Setelah perdebatan singkat dia pada akhirnya menyerah dan pergi masuk ke toko itu sendirian sementara aku menunggu di sebuah kursi yang tak jauh dari toko.
** **
Setelah beberapa menit menunggu Lia akhirnya keluar dengan pakaian yang diinginkannya kami ingin pergi tetapi ada satu benda di toko yang menarik perhatian aku. Itu adalah kalung dengan desain setengah bulan merah berdarah yang tergantung di rantai
Aku tidak yakin apakah itu akan terlihat bagus untuknya, aku juga tidak tahu apakah dia akan menghargainya tetapi aku kira aku bisa datang ke sini nanti untuk melihat lebih detail tentang kalung itu.
Kami kemudian pergi dengan banyak barang belanjaan di tangan kami, aku juga membeli beberapa pakaian ketika kami melewati toko pakaian untuk pria.
Sebelum kami pergi ke tempat karaoke kami menyempatkan diri untuk pergi ke tempat makan karena sekarang sudah waktunya makan siang.
Aku mulai yakin kalau Lia menyembunyikan sesuatu karena dari tadi dia sering ku pergoki sedang melamun. Entah apa yang dia lamunkan.
Apakah dia memiliki masalah pada pekerjaannya? Tidak, sepertinya bukan itu masalahnya karena dia selalu membicarakannya padaku kalau itu tentang pekerjaannya.
Yah apapun masalahnya kuharap dia memberitaiku, aku tidak mungkin membantunya kalau aku tidak tau apa permasalahan yang sedang di hadapinya.
Aku mungkin akan bertanya padanya nanti di tempat karaoke, mungkin dia tidak ingin ada orang lain yang tau jadi disana mungkin tempat yang tepat. Mungkin.
Setelah makan, energiku rasanya kembali lagi. Aku salut dengan para wanita yang berbelanja berjam-jam tapi mereka tidak kelihatan lelah sama sekali.
Kami pergi ke tempat karaoke dan menyewa tempat selama satu jam, aku tidak ingin terlalu lama berada disini, lagipula aku tak pandai bernyanyi.
“jadi, lu sebenarnya lagi ada masalah apa Lia?” aku langsung bertanya padanya ketika kami masuk ke dalam ruangan.
“hah!? Masalah apa maksud lu?” tanyanya.
“jangan pura pura, gue tau lu lagi ada masalah. Kita udah temenan cukup lama,, lu gak bisa sembunyiin hal ini sama gue.” Balasku.
“haah, yah sebenarnya gue memang lagi ada masalah.” Ucapnya.
Dia akhirnya mengaku juga.
“lu cerita sama gue kalau lu ada masalah, gue mungkin bisa bantu lu.” Ucap ku.
“Ada orang Stalker gue.”
“Stalker?!”
To Be Continue
Aku akhirnya bisa Update lagi.
yah, aku kurang berpengalaman dalam hal ke gini, jadi kencan mereka berdua mungkin gak seperti yang kalian bayangkan.
__ADS_1
untuk kedepannya aku akan mencoba untuk membuatnya lebih baik lagi.
...Salam Akasia...