
Tegar Pov
Beberapa hati berlalu sejak aku mengantar Elena ke rumahnya, sejak hari itu aku sudah dua kali pergi ke rumahnya untuk bekerja kelompok dengan yang lainnya.
Apa? Kalian pikir aku datang ke sana sendiri? Jangan salah paham, aku belum berani datang sendiri ke sana karena takutnya di kira aku mau menggoda anaknya lagi.
Yah lupakan dulu tentang itu. Jika aku terlalu banyak melamun nanti malah menabrak sesuatu lagi, aku sedang dalam perjalanan menuju ke sekolah dengan sepedaku.
Aku berharap hari ini anak buah Ayahku tidak menggangguku lagi. Serius! Apa mereka tidak bosan ya datang kepadaku setiap hari untuk membujukku pulang.
Aku saja sudah bosan menolak mereka.
Drrtt Drrtt
Sebuah suara dari saku celanaku membuatku harus menghentikan laju sepedaku. Siapa sih yang menelponku pagi-pagi begini, gak bisa apa nanti saja.
Haah mood ku jadi turun kan. Sial, semoga saja aku tidak terlambat ke sekokah lagi, kalau tidak mungkin Elena akan menghukumku membersihkan toilet.
“Lia? Tumben dia nelpon pagi-pagi gini?”
“Hallo Lia! Tumben Lu nelpon pagi gini, ada apa?”
‘Hallo Tegar. Ya gue lagi pengen aja. Itu...’
‘Ituu... apa?”
‘Anu... hari minggu lu ada acara gak?’
“Enggak tuh, lu tau kan gue baru aja di pecat, emang kenapa?”
Tumben dia nanyain soal hal begini, apa dia punya pekerjaan untukku ya? Yah semoga saja, kalian tau kan pemasukanku berkurang karena aku di pecat dari kafe.
Untung saja Lia mempekerjakanku sebagai Editornya, jadi aku punya penghasilan tambahan.
‘Bagus! Hari minggu nanti lu mau gak temenin gue ke Mall?’
Heeh! Ternyata bukan ya? Padahal aku sudah sangat berharap kalau dia mau memberiku pekerjaan lainnya. Yah sudah lah.
“Hm? Lu mau ajak gue kencan?”
‘Emnh gimana menurut lu?’
“Oke berarti ini kencan. Jadi hari minggu?"
‘Iyah, untuk waktunya nanti gue kasih tau’
“siap Nyonya. Udah dulu ya, gue udah telat nih, jaa”
Aku kemudian mematikan panggilannya dan memasukan kembali ponselku ke dalam saku celanaku. Yosh hari minggu nanti akan kecan.
Aku kembali melanjutkan perjalananku ke sekolah, ah aku lumayan senang karena sudah lama aku tidak bersenang senang karena biasanya aku sibuk bekerja.
Hmm? Ada apa dengan mobil itu? Kenapa jalannya goyang-goyang begitu? Oh sial jangan bilang padaku kalau rem mobil itu blong lagi.
Apa yang harus ku lakukan sekarang? Kalaupun aku mengajar mobil itu kecil kemungkinan aku bisa menyelamatkannya. Aku bukan Hulk atau Captain Amerika yang mempunyai kekuatan fisik yang di luar nalar.
Oh tidak! Apa yang di pikirkan pengemudi itu, jangan bilang padaku kalau dia mau menabrakkan mobilnya ke pohon besar itu? Apa dia tidak waras.
Duarrr
Ah sepertinya hal yang aku khawatirkan benar-benar terjadi, pengemudi mobil itu menabrakkan mobil nya ke sebuah pohon hingga bagian depannya rusak parah.
Semoga saja pengemudinya baik-baik saja. Aku langsung pergi menuju ke mobil tersebut dengan tergesa-gesa. Ku lihat kedalam mobil dan mendapati pengemudinya pingsan.
“Itu... DEVIN!! Devin lu gak apa-apa? Devin. Sial dia pingsan”
“Tolong!! Pak TOLONG ADA KECELAKAAN!!”
Dengan panik aku berteriak mencari pertolongan sambil mencoba membuka pintu mobil Devin, untung saja dia tidak mengunci pintunya.
Dahinya berdarah, mungkin karena Terpentok ke setirnya. Aku harus membawanya ke rumah sakit.
“Dek! Ada apa ini? Itu kenapa?”
Beberapa orang warga muncul dengan tergesa-gesa karena mendengar teriakanku. Apa mereka tidak lihat dia baru kecelakaan kenapa masih tanya.
“Dia kecelakaan. Pak bantuin saya angkat kita bawa ke rumah Sakit.”
__ADS_1
Unyung saja salah satu warga bergerak cepat menghentikan Taksi yang lewat. Kami kemudian menggotongnya ke dalam Taksi. Aku mengambil sepedaku dan memasukkannya ke bagasi mobil.
“Pak, Tolong atar saya ke rumah sakit terdekat.”
Aku kemudian naik ke dalam Taksi tak lupa berterima kasih kepada para warga yang telah membantuku. Sial apa tidak ada yang mau menemaniku ya?
Yah sepertinya hari ini aku terpaksa harus membolos sekolah dahulu, yah Devin untuk sekali ini saja aku menghormati dirimu kawanku.
Walaupun begitu bukan berarti aku benar-benar senang karena tidak harus sekolah, tapi hari ini perasaanku jadi kurang baik membuatku enggan pergi ke sekolah.
Entah beruntung atau bagaimana tapi kami bisa sampai ke rumah sakit dengan cepat karena jalanan cukup sepi sekarang. Kau beruntung Devin
Sesampainya di rumah sakit aku langsung memanggil perawat yang lewat mereka membantuku membawa Devin ke atas ranjang rumah sakit.
Aku juga tidak lupa mengeluarkan sepedaku dari bagasi mobil. Hei walaupun dalam keadaan seperti ini aku tak mungkin lupa dengan sepeda kesayanganku ini.
Setelah membayar Taksi aku langsung berlari mengikuti para perawat yang membawa Devin. Mereka langsung membawanya masuk ke dalam salah satu ruangan.
Tentu saja aku tidak ikut masuk, bukan karena takut atau ngeri tapi aku memang tidak di perbolehkan untuk masuk ke dalam. Mungkin agar mereka tak terganggu.
Ah ya, aku lupa. Aku harus menelepon Kevin dulu agar dia untuk memberitahukan pada wali kelasku kalau aku tak bisa masuk sekolah.
Semoga saja dia menyalakan ponselnya.
***
Normal Pov
Kevin sedang berjalan menuju ke kelasnya bersama dengan Yuda dan Samudra. Mereka tadinya sedang menunggu Tegar tapi sayang sekali dia tak kunjung datang.
Mereka memutuskan untuk pergi ke kelas karena sebentar lagi Bell sekolah akan berbunyi. Mereka agak penasaran ke mana perginya anak itu.
Kevin menghentikan langkahnya membuat Yuda dan Samudra menatapnya dengan heran.
Sam kemudian bertanya. “Kev ada apa?? Kenapa lu berhenti?”
“Tunggu bentar Tegar nelepon gue ‘nih.” Balas Kevin.
“Oi Tegar paan? Lu dimana, Kelas hampir mulai nih”
‘Gue di rumah sakit, Kev lu tolong bilangin gue hari ini izin gak masuk’
“Rumah sakit? Siapa yang sakit?'
‘Devin kecelakaan, jadi gue harus nungguin dia sampai keluarganya datang. Jadi gue gak bisa ke sekolah.’
“Oke siap, tapi nanti lu jelasin masalahnya, gue harus ke kelas.”
‘Oke, Thanks bro’
Kevin mematikan Ponselnya kemudian menatap kedua sahabatnya. Dari ekspresinya mungkin mereka penasaran dengan apa yang Kevin dan Tegar bicarakan.
“Oi Kev, emangnya siapa yang masuk rumah sakit? Tegar?.” Yuda bertanya dengan nada khawatir.
“Bukan tapi Devin.” Balas Kevin.
“Lah Devin yang masuk rumah sakit kenapa Tegar ikut ke sana?” Tanya Sam dengan heran.
“mana gue tau, orang dianya juga belum ngomong!” ucap Kevin kesal.
“udahlah kita tanya nanti aja, ayo cepat kita ke kelas.” ucap Yuda menengahi mereka.
Dia tau kalau dia membiarkan mereka begitu saja dia yakin mereka akan berakhir dengan perang saudara dan pasti dia juga ikut terbawa bawa.
** *
“Permisi apa anda keluarga dari pasien?” Seorang suster bertanya pada Tegar.
__ADS_1
Tegar berbalik kemudian membalas. “Bukan Sus, saya Cuma temannya.”
Dia tidak mau mengakui Devin sebagai keluarganya, lagipula Devin juga memang bukan keluarganya jadi kenapa dia harus mengaku-ngaku.
“Apa anda bisa menghubungi keluarga dari pasien?.” ucap Suster.
“Coba Suster cari saja di tas ini, kali aja ada ponsel milik Devin. Suster cari aja nomor keluarganya.” Ucap Tegar sambil menyerahkan tas Devin kepada Suster tersebut.
“Bisa tolong anda hubungi keluarganya, saya masih ada kerjaan lain.”
Suster tersebut tidak menerima tas itu dan malah menyuruhnya sebelum pergi menunggalkannya tanpa rasa bersalah. Pipi kanan Tegar berkedut, mungkin dia kesal pada Suster tadi yang menyuruhnya dengan seenaknya.
‘Suster kampret!!'
Tegar mulai merutuki nasibnya. Dia bertanya-tanya apakah dia pernah mencuri pakaian dalam milik Dewa di kehidupan sebelumnya hingga membuatnya selalu berada di situasi yang merepotkan.
Dia menggelengkan kepalanya mencoba menghilangkan pikiran itu dari kepalanya. Sepertinya dia harus mengurangi menonton Anime Fantasi agar kepercayaan seperti itu tak masuk ke kepalanya.
“haah~ kita cari ponselnya.”
Dia kemudian mulai menggali ke dalam isi tas Devin mencoba mencari nomor keluarganya yang bisa ia hubungi, dan dia beruntung karena di dalam tasnya ada kartu nama Ayahnya Devin.
“ku telepon Ayahnya saja.”
Tuut tuut
Nomor yang Tegar hubungi ternyata masih aktif tapi sayang sekali Ayahnya Devin tidak mengangkat nya jadi Tegar mencobanya sekali lagi.
‘Hallo ini siapa?’
“Hallo apa ini Ayahnya Devin?”
‘Iyah benar, ada apa ya?’
“Gini Om, Saya teman sekolahnya Devin, saya memberitahukan kalau Devin baru saja mengalami kecelakaan dan sekarang dia ada di rumah sakit.”
‘APAAA?!!!’
Tegar langsung menjauhkan ponselnya dari telinganya, dia tau kalau Ayahnya Devin kaget tapi kenapa dia harus berteriak se kencang itu sih? Untung saja telinganya baik-baik saja.
‘Nak, bisa kau beritahu saya lokasi rumah sakitnya?’
“Ah! Iya, nanti saya kirim lokasinya.”
Tegar kemudian menutup ponselnya setelah mengirim lokasinya, dia lalu duduk di kursi yang tak jauh darinya. Sepertinya dia sudah pegal karena berdiri disana terlalu lama.
Dia mengambil kembali ponselnya dan memilih bermain game dulu sambil menunggu kedatangan orang tuanya Devin. Dia hanya berharap itu tak terlalu lama.
Setelah menunggu cukup lama, seorang pria paru baya yang memakai jas mahal datang ke arahnya dengan tergesa gesa, dia bisa melihat keringatnya.
“Kamu yang meneleponku tadi kan? Dimana anakku?” tanya nya dengan penuh ke khawatiran.
“Tenang Om, sekarang Dokter sedang memeriksa Devin, jadi kita tunggu saja.” ucap Tegar mencoba menengkannya.
“haah! Kenapa Devin bisa kecelakaan seperti ini?” tanyanya.
Tegar kemudian menjelaskan kronologi kejadiannya tanpa ada yang di tambah atau di kurangi, dia juga memberi tau kalau Devin kecelakaan mungkin karena rem mobilnya blong.
Tepat setelah dia selesai menjelaskannya, seorang Dokter keluar dari ruangan Devin berada. Ayah Devin langsung menghampiri Dokter tersebut.
“Dokter! Dok bagaimana keadaan anak saya?”
“Anak bapa baik-baik saja, dia hanya mengalami luka ringan dan syok saja, sebentar lagi juga dia siuman.” Ucap sang Dokter.
Setelah mendengar penjelasan dari dokter Ayah Devin bisa bernafas dengan lega sekarang. Karena ayah Devin sudah ada jadi Tegar memutuskan untuk pamit.
“Karena Om sudah ada disini jadi saya pamit pergi om!” ucap Tegar.
“Ah! Tunggu nak, bisakah aku tau namamu?”
“namaku Tegar, Om.”
To Be Continue
Yo Syo disini. aku mulai mencoba menbuat scan selain Tegar karena aku merasa di cerita ini scan nya terlalu fokus pada Tegar.
jika kalian memiliki Kritik atau Saran silahkan tulis di kolom komentar. Ciao
__ADS_1
...Salam Akasia!...