Smile In The Void

Smile In The Void
Chapter 27 [Ada apa dengannya?]


__ADS_3

Tegar Pov


 


Salking atau stalker adalah sebutan yang biasa dipakai untuk orang-orang yang kepo atau ingin tahu tentang kehidupan seseorang melalui sosial media.


Mereka adalah orang-orang yang mungkin kepo dengan kehidupan seseorang, biasanya yang paling sering di kepoin adalah Artis atau orang terkenal.


Awalnya mereka melihatnya dan tertarik pada orang tersebut dan lama kelamaan mulai ingin tau semua tentangnya.


Aku memang tidak begitu tau tentang hal ini karena belum pernah terjadi sebelumnya, tapi dari apa yang Lia katakan sepertinya penguntit yang mengikutinya hannyalah pengecut.


Dia hannyalah seorang pengecut yang terobsesi dengan Lia, kalau orang itu cinta padanya dia bisa saja mencoba mendekatinya.


Tapi orang ini berbeda, ini bukan cinta melainkan Obsesi. Orang itu ingin menjadikan Lia miliknya, dengan kata lain Budaknya.


‘Haish! Ada apa dengan orang-orang jaman sekarang?’ batinku.


Serius, kenapa banyak sekali orang dengan skrup longgar di sini.


“Jadi, sudah berapa lama lu di Stalking?” tanyaku.


Jika kita ingin mengetahui sang pelakunya kita perlu mencari semua informasi yang ada. Seperti kata pepatah ‘pengetahuan adalah kekuatan’.


Kita harus mencari informasi sebanyak mungkin sebelum menghadapi orang itu, kalau kita tergesa-gesa nanti salah tangkap orang lagi.


“emh, sekitar dua bulan kalau gak salah.” Ucap Lia.


Hm jadi sudah lama ya.


“Tegar, lu mau bantu gue ‘kan?” Tanya Lia dengan wajah memohon.


Aku mengangguk kemudian berkata. “gue pasti bantu lu kok. Nah, ada gak orang yang lu curigai pelakunya?”


Aku tak akan berani menyebut diriku sebagai temannya jika di saat seperti ini aku tidak mau membantunya.


Penguntit itu bisa jadi orang yang mengenalnya, atau tinggal cukup dekat. Kalau itu orang jauh mana mungkin dia bisa tau jadwal hariannya Lia.


Lia menggelengkan kepalanya kemudian berkata. “gue gak tau, gue gak bisa memikirkannya.”


“Kalau begitu apa lu punya nomor, Sosmed atau Email dari penguntit itu?” tanyaku.


Aku mungkin bisa mengetahui identitas sang pelaku atau mungkin aku bisa melacak posisi orang tersebut.


Lia mengangguk kemudian berkata. “Yah gue punya, gue akan mengirimnya ke Lu nanti, tapi apa lu punya cara untuk menangkap orang itu?”


“Umhh untuk itu kita bisa pikirkan nanti.” Balasku.


Aku memang sudah ada beberapa rencana dalam pikiranku tapi itu agak beresiko untuk di lakukan, jadi untuk saat ini kita cari cara lain dulu.


Mana mungkin aku membiarkan Lia dalam bahaya hanya untuk menangkap penguntit itu, jadi rencana itu untuk cadangan saja.


“Sebaiknya kita pulang sekarang, kalau lu dalam masalah lu telepon gue aja. Oya ya, kalau bisa lu jangan beritau masalah ini pada siapapun.” Ucapku.


“Hm? Kenapa gua gak boleh bilang?” tanya nya.


“pokonya jangan dulu, gue takut orang itu tau dan malah nyulik elu lagi.”  Jawabku.


Pada akhirnya Lia setuju dengan permintaanku, kami kemudian keluar dari temoat karaoke dan memutuskan untuk pulang.

__ADS_1


Lia menelepon Sopir nya agar menjemputnya, dia juga menawarkan untuk mengantarkanku pulang yang langsung aku setujui.


Mana mungkin aku menolak tumpangan gratis.


** **


 


Normal Pov


 


Keesokan harinya.


 


Berjalan perlahan di jalan, Tegar tidak repot-repot memandangi orang-orang atau murid-murid di sekitarnya.


Tegar sudah merasa seperti binatang langka karena banyak sekali orang yang menatap ke arahnya.


Tapi tentu saja Tegar mengabaikan mereka, dia sudah terbiasa dengan tatapan mereka yang tertarik dengan rambut putihnya.


"Hm? ... Lu mau apa sih?" Tanya Tegar.


Tegar berhenti di tempatnya sebelum melihat orang licik di belakangnya. Ada seseorang yang mengikuti Tegar selama hampir dua menit sekarang.


"Tidak, tidak apa-apa ..." ucap Kevin.


Kevin menurunkan tangannya saat dia menggaruk bagian belakang kepalanya karena dia gagal untuk mengejutkan Tegar.


Dia penasaran bagaimana Tegar bisa mengetahui kalau dia ada di belakangnya. Apa mungkin Tegar punya indra ke enam? Tidak, itu tidak mungkin.


Kevin menggaruk kepalanya lalu menjawab. “Dia udah berangkat duluan, ada urusan Osis katanya.“


“Ah gue lupa kalau Nita juga Osis. Dia cukup sibuk, tapi gue heran kenapa Elena kayaknya senggang banget ya?” Tanya Tegar.


Sebagai ketua Osis seharusnya Elena cukup sibuk tapi entah bagaimana dia bisa berkeliaran seenaknya. Yah Tegar sering ketemu Elena.


“lu tanya gue, lah gue tanya siapa?” balas Kevin.


Sepertinya Tegar bertanya kepada orang yang salah, seharusnya dia tidak perlu bertanya padanya.


"Jadi, apa yang terjadi kemarin?" Kevin bertanya padanya karena kemarin dia menolak di ajak ke rumahnya.


"Tidak ada .... hanya saja ada hal kecil yang terjadi." kata Tegar dengan tenang.


Tegar tentu saja memilih untuk menemani Lia jalan-jalan daripada bertemu dengannya. Lagipula dia sudah janji dengan Lia duluan.


"Lu tahu ... lu bisa saja bertanya sama gua kalau lu butuh bantuan tentang sesuatu." ucap Kevin memandang Tegar.


“yah, kalau gue butuh bantuan gue pasti ngomong sama lu kok.” Balas Tegar.


Untuk saat ini dia memang belum membutuhkan bantuannya, tapi nanti dia akan membutuhkannya.


Memiliki teman seperti Kevin membuatnya sangat bersyukur. Walaupun temannya ini menyebalkan tapi sebagai teman dia bisa sangat di andalkan.


“nanti lu harus kasih tau masalahnya sama gua, awas kalau lu gak kasih tau.” Ucap Kevin.


Tegar hanya mengangguk menanggapinya. Di perjalanan menuju ke kelasnya mereka bertemu dengan Devin.

__ADS_1


Sepertinya Devin sudah sembuh benar dari cedera yang di alaminya pasca kecelakaan waktu itu.


Tapi anehnya kali ini Devin hanya sendirian tidak ditemani oleh kedua temannya. Biasa nya kemana mana mereka selalu bertiga.


‘Apa yang Devin lakukan disini? Bukannya sebenar lagi waktunya kelas dimulai?’ Batin Tegar.


“Devin lu ngapain disini? Kelas lu di sono.” Kevin berkata sambil menunjuk arah kelas Devin.


“ini bukan urusan lu, urusan gue sama Tegar.” Balas Devin.


“urusan Tegar urusan gue juga.” Bentak Kevin.


Melihat situasi yang semakin memanas Tegar memutuskan untuk ikut campur atau mereka mungkin mulai berkelahi.


“Hei sudah lah jangan bertengkar. Lu mau ngomong apaan Dev? Buruan bentar lagi masuk.” Ucap Tegar.


“Gue Cuma mau berterima kasih karena lu udah menyelamatkan gue.” Devin meminta maaf dengan tulus.


Dia merasa malu karena dulu dia sering berbuat jahat padanya dan apakah Tegar membalas dendam padanya?


Tidak. Tegar tak pernah membalas dendam dan malah menyelamatkan dirinya membuatnya merasa bersalah.


“Gue juga mau minta maaf karena sering jahat in lu... gue... gue tau lu mungkin gak akan maafin gue tapi gue bersungguh sungguh minta maaf sama lu. Gue gak gak akan gangguin lu lagi... kalau gitu gue permisi.” Ucap Devin kemudian berbalik dan pergi.


Tapi baru beberapa langkah dia langsung dihentikan oleh Tegar.


“gue udah maafin lu kok, lu gak usah merasa bersalah begitu.” Ucap Tegar.


Devin tersenyum kemudian berkata. “Makasih bro.”


Mereka berdua kemudian berpelukan, Kevin yang merasa terabaikan pun langsung ikut berpelukan.


“oi gue jangan di kacangin dong!” ucap Kecin cemberut.


“apa apaan ekspresi lu itu, jijik gue liatnya.” Ucap Tegar menatapnya dengan jijik.


“”“Ffftttt Hahahaa”””


Mereka pun tertawa bersama seolah tak memiliki beban apapun, tapi kebersamaan ini langsung hancur oleh suara Bell.


Devin pun pergi ke kelasnya karena tak ingin di beri surat cinta dari guru BK lagi, fia sudah kapok bertemu dengan guru itu.


Tegar dan Kevin berjalan masuk ke dalam kelas, mereka berdua menyapa teman mereka.


“Pagi Elen, Anna.” Ucap Tegar menyapa.


“Pagi Tegar.” Balas Anna.


Tegar mengalihkan pandangannya pada Elena yang memalingkan muka darinya, dia bahkan tak membalas sapaannya.


“Elen kenapa tuh Anna?” tanya Tegar heran.


“Gak tau tuh, dari kemarin dia udah begitu.” Jawab Anna.


‘Ada apa dengannya ya? Gue harus bicara sama dia nanti.” Batin Tegar.


To Be Continue.


Yo Syo disni. nah jika ada kesalahan dalam penulisan nama atau kalimat ataupun dalam penjelasan, tolong kasih tau aku, aku akan memperbaikinya.

__ADS_1


...Salam Akasia!...


__ADS_2