Smile In The Void

Smile In The Void
Chapter 16 [Kau Siapa?]


__ADS_3

 


Tegar Pov


 


Beberapa hari telah berlalu setelah kejadian itu, ku pikir hari-hariku akan menjadi lebih tenang setelah nya, tapi sepertinya itu hanya sebatas mimpiku saja.


Kehidupan tenangku berakhir setelah aku bertemu dengan orang ‘itu’, yah yang ku maksud itu ayahku. Dia terus menerus menggangguku dengan datang ke tempat kerjaku.


Kalaupun misalnya dia tidak mendatangiku maka para anak buahnya lah yang datang dan mencoba membujukku untuk ikut dengan mereka ke rumah ayahku.


Tentu saja aku terus menolah ajakan mereka itu, aku sudah tau alasan ayahku menyuruhku pulang dan itu sangat membuatku tak bisa berkata-kata.


Serius. Dia menganggap aku ini apa? Sebuah barang? Atau hanya alat? Aku ini manusia bukannya alat yang bisa dia gunakan ketika di butuhkan dan di buang setelah tidak berguna.


Kadang-kadang aku menjadi ragu kalau aku ini anak kandung mereka. Apa sebenarnya aku ini anak yang di pungut oleh mereka dari depan pintu?


Sepertinya aku harus berhenti menonton sinetron, pikiranku jadi kemana-mana.


Kalau hanya menemuiku saja sih aku tidak peduli tapi mereka suka memaksaku ketika masih bekerja sampai para pelangan yang ada menjadi tidak nyaman.


Karena inilah pendapatan manejer menjadi berkurang dan pada akhirnya....


‘...maaf Tegar, saya terpaksa melakukan hal ini. Saya juga sebenarnya tidak enak memecatmu tapi saya tidak mau Cafe bangkrut karena hal ini.’


“Saya mengerti Manejer, anda juga harus memikirkan karyawan lainnya.”


‘terima kasih karena kamu mau mengerti dan maaf’


“Tidak, seharusnya saya yang meminta maaf.... Manejer hampir bangkrut karena saya.”


Aku merasa sangat tidak enak dengan Manejer, kalau saja aku tidak bekerja di sana mungkin dia tidak akan mengalami hal buruk seperti ini...


Ini semua salahku.


‘jangan menyalahkan dirimu sendiri, ini bukan sepenuhnya salahmu.’


“hmm, Terima kasih atas semua yang anda lakukan, kalau bukan karena Manejer aku mungkin akan jadi gelandangan.”


Kalau bukan karena dirinya yang menberiku pekerjakan, mungkin saja sekarang aku sudah putus sekokah dan menjadi gelandangan atau kuli bangunan.


Manejer adalah orang yang baik, dia mengajariku banyak hal, mulai dari meracik kopi. Ingatan tentang mereka muncul kembari dalam ingatanku.


Orang-orang itu sangat baik padaku, mereka tidak pernah memarahiku walaupun aku membuat kesalahan, alih-alih marah mereka hanya menasehatiku agar lebih hati-hati.


Aku terlalu terbawa suasana sampai tak sadar kalau cairan bening sudah mengalir dari mataku membentuk sebuah sungai di pipiku. Air mataku tak bisa berhenti mengalir.


Aish, kenapa tak bisa berhenti?


Pada akhirnya aku tak menghapus air mataku sama sekali dan malah tertidu. Mungkin aku terlalu lelah karena menangis.


__


Tring


“Siapa sih yang Chat malam-malam begini.”


Aku langsung pergi mencari ponselku yang entah dimana letaknya, padahal suaranya sangat dekat tapi kenapa aku tak bisa menemukannya.


Selalu saja begini, kalau gak di butuhkan selalu ada kalau di butuhkan selalu menghilang, udah kayak teman saja.


Setelah menggeledah seisi kamarakhirnya aku bisa menemukan ponselku yang ternyata ada di tempat sampah.


“Sialan, kenapa bisa sampai kesana?!”


Aku membersihkan poselku terlebih dahulu menggunakan Tissu basah supaya tidak ada kuman yang menempel, walaupun laki-laki aku suka kebersihan.


Hampir setiap dua kali dalam sebulan aku membersihkan kamarku. Yeah aku cinta kebersihan.


Oke kita sudah melenceng dari topiknya.


Aku kemudian menyalakan ponselku dan membukan aplikasi WhatsApp.


“eh? Sejak kapan aku masuk grup ini?”


“Grup pengelana” itu lah yang tertulis disana. Astaga Dragon, siapa sih yang menulis nama itu, nama grupnya terdengar sangat aneh.


 


...[Anda Telah Ditambahkan]...


^^^Anda^^^


^^^Aku diamana?^^^


Kevin_Gila


Akhirnya lu muncul juga Tegar!


 


^^^Anda^^^


^^^Ini grup apaan?^^^


 


Elena


Grup anggota memasak


 


^^^Anda^^^


^^^Sorry gak minat, gue keluar!^^^


Syam


Jangan becanda Akai!!


 


Anna


Jangan keluar dong Akai,


nanti Elenanya ikutan keluar

__ADS_1


kalau lu gak ada


 


Elena


jangan asal ngomong lu!


 


Anna


Maaf🙏


^^^Anda^^^


^^^Udah, serius dong.^^^


^^^Kalau enggak gua mau off^^^


 


Yuda


Ada apa? Kok rame gini?


 


Kevin_Gila


Dahlah, telat lu datangnya-_-


 


Elena


Serius dong pelajaran PKWU


tinggal dua hari lagi


 


Anna


Iya nih kalau gitu kita


mau masak apa nanti


 


^^^Anda^^^


^^^Masak sayur koll aja^^^


Elena


Usro lu yang serius dong


^^^Anda^^^


^^^Gue serius Maemunah.^^^


Kevin_Gila


Mudah dan simpel.


 


Elena


Kalian suka banget bencada


padahal lagi serius juga.


^^^Anda^^^


^^^Bahas itu jangan di sini^^^


^^^Lebih baik kita cari tempat buat kumpul.^^^


^^^Biar lebih nyaman.^^^


Anna


Bener juga, ngomong di sini


rasanya kurang nyaman.


Tapi dimana?


Yuda


Di rumah Akai aja.


Gimana setuju gak?!.


Kevin_Gila


Setuju+1


Syam


Setuju+1


Anna


Setuju+1


Elena


Setuju+1


^^^Anda^^^


^^^Oi, kalian belum dengar pendapat gue^^^


Kevin_Gila


Oke, sepakat kita kumpul di rumah Tegar!

__ADS_1


^^^Anda^^^


^^^Sialan! Kampret lu pada!!^^^


Aku langsung memarikan ponselku dan melemparkannya ke sembarang tempat. Kmpret, mereka semua mengabaikanku.


Dasar teman gak punya akhlak!!


Mereka mau datang kesini lagi, ugh mana gue belum sempa bersih-bersih rumah lagi. Jangan sampai mereka melihat isi rumahku yang berantakan.


Kalau Elena melihatnya bisa-bisa kesannya padaku menurun lagi. Tunggu!! Kenapa aku peduli tentang kesannya padaku? Jangan-jangan.... ah sudahlah.


Lebih baik aku membersihkannya sebelum mereka sampai kemari. Aku langsung bangkit dari tempat tidurku fan berjalan menuju ruang tamu dengan langkah gontai.


__


Tok tok tok


Berteparan dengan ku yang selesai membersihkan ruang tamu, seseorang mengetuk pintuku. Sepertinya mereka sudah sampai, untung saja aku sudah selesai bersih-bersih.


“Sebentar.”


Aku menepuk nepuk baju dan celanaku yang terdapat debu, aku tak mau terlihat kotor bisa-bisa mereka akan terus meledekku lagi.


Aku kemudian membuka pintuku dan melihat wajah wajah yang ku kenali disana, ternyata benar itu mereka. Aku sempat kepikiran kalau itu orang tuaku.


Tapi kemungkinan mereka datang kesini cukup kecil karena sangat sedikit orang yang mengetahui dimana tempat tinggalku.


“Akhirnya dibuka juga! Lu abis ngapain sih? Buka pintu aja lama.” Ucap Kevin.


“Kampret lu Kevin baru datang udah marah-marah, gue abis ngerjain tugas.” Balasku.


“tugas apaan? Perasaan gak ada PR deh.” Ucap Kevin.


Tugas ku banyak bukan Cuma dari sekolah tapi juga dari kantor di tambah tugas mengedit video dari Lia, aku sangat sibuk tidak seperti kau yang hanya main game saja.


“tugas yang lain. Ayo masuk jangan berdiri disana, kalian udah kayak patung Selamat Datang aja.” Jawabku.


“lah ini juga salah lu.”


“ya ya ya terserah deh!”


“Eh! Tunggu-tunggu!! Dia siapa? Dia saudara nya Tegar ya?” tanya Elena.


Saudara Tegar? Oi Elena kau pikir aku ini siapa? Aku ini Tegar, apa kepalamu terbentur atau bagaimana sampai kau lupa denganku.


“iyah, Tegarnya dimana?” tanya Anna.


Apa? Seriusan! Anna kau juga tidak mengenaliku?


“kalian becanda? Dia ini Tegar oi!” ucapku.


“”APAA!!”’


“kenapa kalian begitu terkejut begitu? Apa gara-gara penampilan gue ini sampai kalian gak ngenalian gue?” tanyaku.


Yah penampilanku sekarang memang sedikit berbeda dari yang biasa ku perlihatkan di sekolah, rambutku yang biasanya tersisir rapi sekarang di biarkan berantakan hingga dahiku tertutupi.


Aku juga memakai kacamata dan memakai baju kaos yang cukup longgar dan celana pendek, sudah pasti penampilanku ini berbeda dengan yang biasa mereka lihat di sekolah.


Tapi aku cukup heran kenapa mereka sampai tidak mengenaliku? Apa memang sejauh itu perbedaannya? Atau mereka memang tidak begitu ingat wajahku saja?


Sudahlah tidak ada gunanya aku memikirkan itu.


“y-yah jangan salahin gue, lagian lu beda banget tau pake pakaian ke gini.” Ucap Anna.


“iyah, lu juga kenapa pake kacamata? Perasan lu gak rabun deh?” ucap Elena membenarkan.


“gue biasa pakai kacamata kalau lagi maen Laptop.” Jawabku.


Kacamata yang ku gunakan ini bukan hanya untuk bergaya saja tapi untuk melindungi mataku dari radiasi sinar biru yang di pancarkan Laptop atau ponsel.


“udahlah, ayo duduk. Gue mau ambil minum dulu.” Ucapku.


“Sekalian sama cemilannya Tegar.” Ucap Kevin.


Aku hanya mendengus menanggapinya, aku kemudian pergi ke dapur menyiapkan minuman untuk mereka tak lupa juga mengambil beberapa cemilan untuk mereka.


aku kembali sambil membawa minuman serta cemilan di atas nampan, aku mendapati mereka sedang mengobrol sambil melihat-lihat isi rumahku.


Aku tak punya barang mewah tau, kalian tidak perlu sampai celingak-celinguk kayak mau maling saja.


“Sorry gue Cuma punya ini doang.”


“gak apa-apa!”


Aku kemudian menaruh nampannya di atas meja kemudian duduk di sebelah Yuda yang langsung menyambar cemilannya.


Walaupun tubuhnya kecil tapi dia termasuk orang yang makannya banyak, tapi tubuhnya tetap kurus aku heran kemana semua makanan itu pergi. Apa ada miniatur lubang hitam di perutnya.


“jadi gimana nih? Nanti kita mau buat apaan?” tanya Sam.


“apa aja deh yang penting jangan yang susah.” Ucap Anna.


“gimana kalau masak telur rebus aja, simpelkan?” ucap Kevin.


Orang ini... iya sih simpel tapi gak telur rebus juga kali! Itu mah terlalu simpel.


“pisang goreng aja.” Ucap Yuda.


“jangan deh! Gue gak suka pisang.” ucap Sam.


Kami terus berdiskusi tentang makanan apa yang kami buat, kebanyakan kami Cuma becanda doang. Pada akhirnya kami memilih membuat Ayam Suir.


Kami juga harus menentukan berapa biaya yang di perlukannya, harus patungannya berapa. Kami terus berdebat tentang biyayanya.


Pada akhirnya kami para cowok menyerahkan masalah keuangan pada para cewek lagipula mereka kecuali aku tidak tau harga bahan makanan nya.


 


 


 


To Be Continue


jangan lupa untuk tekan, Like, Comment, Vote, and Favorit.


jika ada kritik atau saran silahkan tulis di kolom komentar. Ciao

__ADS_1


...Salam Akasia!...


__ADS_2