
Sepanjang perjalanan menuju UKS Tegar menggendong Elena tanpa mengeluh sedikitpun. Dia hanya sedikit berkeringat karena harus menaiki tangga.
Tegar beruntung karena memiliki fisik yang cukup kuat, Terima kasih untuknya yang selalu bersepeda setiap hari.
Olahraga yang dia lakukan selama ini terbayar.
Sesampainya mereka di ruang UKS mereka mendapati ruangan tersebut kosong, mereka tidak melihat perawat yang berjaga.
Tegar yang merasa tangannya mulai pegal memutuskan untuk menurunkan Elena di atas ranjang yang tersedia disana.
“sepertinya perawatnya sedang keluar.” Ucap Elena menunjuk sebuah papan.
Di papan tersebut terdapat tulisan “Perawat keluar” yang di taruh di atas meja. Dasar, ketika di butuhkan malah menghilang.
“dasar perawat tak bertanggung jawab.” Ucap Tegar.
“lu gak boleh ngomong gitu. Dia mungkin punya urusan mendadak.” Ucap Elena menegurnya.
“halah paling juga lagi pacaran ama guru sejarah.” Ucap Tegar asal.
Tegar kemudian mengambil kotak P3K dan mengobrak-abriknya mencari sesuatu.
“lu lagi nyari apaan?” tanya Elena.
“minyak urut...ah! Ketemu.” Ucap Tegar sambil memperlihatkan botol di tangannya.
“lu mau ngapain ngambil minyak urut?” tanya Elena.
“kaki lu kan keseleo, gue mau pijat kaki lu biar sembuh, sini kaki lu.” Jawab Tegar.
Tegar mengambil kaki Elena dan mulai melepaskan sepatunya membuat Elena terkejut dan mencoba menghentikannya melakukan itu.
“t-tidak usah biar aku yang lepaskan.” Ucap Elena gugup.
“diam deh, bar aku yang melakukannya.” Ucap Tegar bersikeras.
Elena merasa tidak enak membuatnya melakukan ini, dia juga bingung karena ketika sedang bersama Tegar selalu membuatnya keluar dari karakternya.
Sosok ketua OSIS yang tegas dalam menangani para siswa hancur begitu saja. Dia menjadi gugup ketika dia terlalu dekat dengannya.
Setelah melepaskan sepatu dan kaus kakinya Tegar kemudian mengoleskan minyak itu ke kaki Elena lalu mulai memijatnya.
“A-arghh! Sakit! Pelan-pelan dong.” Ucap Elena.
“ini udah pelan, lu tahan ya Elen.” Balas Tegar.
Elena terus meringis kesakitan ketika Tegar memijit kakinya. Elena harus mengakui kalau Tegar lumayan hebat dalam memijat.
“udah nih. Gimana masih sakit?” tanya Tegar sambil menatapnya.
Elena kemudian menggerak-gerakan kakinya.
“um~ udah mendingan, sekarang gak sakit lagi waktu di gerakin.” Jawab Elena.
Tegar menghela nafas lega, dia kemudian merapikan kembali kotak P3K lalu mencuci tangannya karena tertutup minyak.
Dia mengambil botol air mineral dari dalam kotak kemudian menyerahkannya pada Elena karena dia kalau Elena sedang haus.
Suasananya menjadi canggung.
“lu ini sebenarnya siapa?” tanya Elena memecah keheningan.
Tegar menatap Elena dengan heran kemudian bertanya. “Lu Amnesia atau bagaimana? Gue Tegar.”
“Bukan itu. Maksudku siapa lu sebenarnya, Kenapa lu berpura-pura selama ini. Kenapa lu berbohong tentang identitas lu?” tanya Elena.
“Gue? Bohong? Fffttt Hahaha.”
Tegar tertawa sambil menatap geli ke arah Elena hingga membuatnya memerah, dia merasa kesal karena Tegar malah menertawakannya.
“lu kenapa malah tertawa, ini gue serius.” Ucap Elena sambil mengembungkan pipinya.
“fftt maaf habis lucu. Haah~ Elena dengar, kapan aku menyembunyikan identitasku?” tanya Tegar.
__ADS_1
“Eh?! Tidak? Yang di katakan orang tentangmu, semuanya bohong kan? Kau sebenarnya tidak miskin kan?” tanya Elena.
“itu hanya kesalahpahaman mereka. Semua hal tentangku memang kebanyakan bohong.” Jawab Tegar.
“Lalu kenapa lu gak meluruskan masalahnya?” tanya Elena bingung.
“untuk apa? Aku tidak peduli tentang hal itu. Kenapa, apa kau penasaran tentang hidupku?.” Dengan senyum menggoda Tegar membalas.
“Apa? Aku hanya penasaran, kalau lu ngak mau jawab juga gak masalah.” Ucap Elena.
“hehe ya baiklah, lagipula ini bukan rahasia. Lu ingin tau siapa gue ‘kan” Ucap Tegar dan di balas anggukan Elena.
“nama asli gue Tegar Arga Pratama. Dari nama itu lu pasti tau siapa gue kan.” Ucap Tegar.
Mendengar ucapannya membuat Elena terbelak, kemudian dengan suara yang tergagap dia berkata.
“Lu-Lu. Jangan bilang lu anaknya Edwin Arga Pratama.” Elena menebak.
“Lebih tepatnya mantan keluarganya.” Ucap Tegar.
Mendengar ucapannya membuat Elena semakin bingung, dia juga penasaran kenapa Tegar berbicara seperti itu.
“Apa maksudmu?” tanya Elena.
“gue sudah di keluarkan dari daftar keluarganya. Jadi gue bukan lagi bagian dari keluarga Agra.” Ucap Tegar menjelaskan.
“Jadi, itu sebabnya lu tinggal sendiri?” tanya Elena.
Tegar mengangguk kemudian berkata. “yah, ada beberapa masalah yang terjadi dengan ayahku. Jadi, saat SMP gue kabur dari rumah ke kota ini.”
“dan orang tua lu gak nyariin lu?”
“Tidak mereka tidak melakukannya, lagipula menurut mereka aku hanya beban, aku hanyalah parasit di keluarga itu. Tapi baru baru ini mereka mulai mencariku agar bisa menjodohkanku ke salah satu Kolega nya.” Jelas Tegar.
“maaf, lu pasti gak nyaman ceritain ini sama gue.” Ucap Elena.
Sekarang dia mulai menyesal karena membuat Tegar harus menceritakan kisah kelamnya padanya.
Dia juga tidak menyangka kalau keluarga Agra bisa bersikap seperti itu. Dia mulai bertanya tanya apa yang mereka pikirkan sampai menganggap anak sendiri parasit.
Tegar kemudian menceritakan kisah hidupnya selama dia melarikan diri dari rumahnya, tentu saja ada beberapa hal yang tidak dia ceritakan.
** **
“Ah akhirnya selesai juga.” Ucap Tegar dengan semangat.
“lu dari tadi hanya rebahan doang gak ikut olahraga, tapi lu kayak orang yang lari paling jauh.” Elena menggelengkan kepalanya.
Setelah pelajaran olahraga selesai mereka terpaksa harus kembali lagi ke kelas. Kaki Elena juga telah membaik, sekarang dia bisa berjalan.
Tegar menghela nafas kemudian berkata. “yah memang enggak tapi batinku lebih lelah tau.”
“yah serah lu aja deh.” Balas Elena.
Dia agak kesal karena Tegar sama sekali tidak ada niatan untuk membantunya, padahal jalannya masih agak sulit.
“Tegar!”
“Apa?”
“gak ada.” Ucap Elena.
Tegar terkekeh kemudian berkata. “lu mau gue bantu jalannya? Sini gue gendong lagi.”
“ih siapa juga yang mau di bantu sama lu! Gue bisa jalan sendiri.” Ucap Elena sambil memalingkan mukanya.
Dia agak kesal karena Tegar selalu menggodanya tapi entah kenapa dia tidak membencinya dan malah mengharapkannya.
‘Tidak! Tidak! Gue mikir apaan ‘sih.’ Batin Elena.
** **
“Hallo mah ada apa?”
[Tidak ada, ibu hanya ingin bertemu denganmu.]
__ADS_1
“ibu ingin bertemu denganku? Ibu ingin ketemu dimana?”
[Bagaimana kalau di rumahmu saja? Ibu juga ingin melihat rumahmu]
“ah! Yah baiklah, kalau begitu nanti aku akan menyiapkan makanan agar kita bisa makan bersama.”
[ibu akan sangat menantikan masakanmu, dan buat agak banyak karena ibu membawa seseorang yang ingin bertemu denganmu]
“Hah?! Sia---“
Tut Tut Tut
‘haah dia menutup nya. Siapa yang ingin bertemu denganku ya?’ batin Tegar.
Tegar mengangkat bahunya tak peduli, sepertinya dia harus mampir dulu ke Toserba untuk membeli beberapa bahan makanan.
Bahan makanan di rumahnya tidak akan cukup jika untuk tiga orang. tak butuh waktu lama baginya untuk bisa sampai di Toserba.
Dia membeli beberapa bahan makanan untuk keperluan sehari-hari. Pemuda itu juga membeli beberapa roti untuk mengganjal perutnya yang sudah minta diisi.
Serelah mendapatkan semua bahan makanan yang di butuh kan Tegar langsung pulang ke rumahnya. Dia harus menyiapkan makanan sebelum ibunya datang.
Yah Tegar memang sudah memberitahu ibunya tentang dimana tempat tinggalnya sekarang dengan catatan ibunya tak boleh memberitahukan kepada ayahnya.
Sesampainya di rumah dia menaruh bahan makanannya di atas meja makan kemudian pergi ke kamarnya untuk mengganti bajunya dulu.
“Apa yang harus ku masak ya?” Gumam Tegar sambil memgeluarkan bahan masakannya dari kantong belanjaan.
“Baiklah masak itu saja. Yosh ayo mulai.”
Tegar mulai mencuci semua sayuran nya terlebih dahulu, dia tidak tau apakah sayurannya itu telah bersih atau tidak jadi dia harus mencucinya.
Dengan cekatan Tegar mulai memotong motong bahan makannya, dia juga mulai membuat bumbu halusnya.
Ini pertama kalinya bagi dirinya memasak banyak masakan sendiri karena biasanya dia hanya memasak untuk dirinya sendiri.
Kalaupun ada temannya yang menginap mereka pasti membantunya, yah walaupun lebih banyak membuat berantakan.
“Tunggu! Di mana aku menaruh garam ‘ya.” Gumamnya.
Tegar mulai mencari cari garam ke semua tempat sampai ke kolong meja juga di carinya.
“haish dimana aku menaruhnya?”
Perasaan sia sudah mencari hampir ke semua tempat di dapur tapi dia sama sekali tidak bisa menemukannya.
“masa aku harus membelinya... sial ternyata ada disana.” gumam Tegar ketika melihat garam yang di carinya ada di dekat kompor.
Setelah perjuangannya yang ternyata sia sia, Tegar dapat kembali mulai memasak. Setelah beberapa jam menghabiskan waktu di dapur masakannya akhirnya selesai.
Tegar kemudian mulai menata semua masakannya di atas meja makan kemudian dia menutupnya dengan tudung saji agar tidak di hinggapi lalat.
“Ugh~ sepertinya aku harus mandi.” Tegar mencium tubuhnya yang bau keringat.
Dia kemudian pergi ke kamar mandi dan membersihkan tubuhnya yang di penuhi dengan keringat.
Terakhir kali dia mandi adalah tadi pagi jadi tidak heran jika tubuhnya sudah bau dengan keringat.
Setelah selesai mandi dan berganti pakaian dia mendengar suara mobil yang berhenti di depan rumahnya.
Dengan tergesa gesa Tegar pergi untuk membukakan pintu sepertinya ibunya sudah sampai.
Tegar membuka pintu rumahnya dan mendapati Ibunya ada di sana sedang tersenyum menatapnya.
Tapi Irene tidak sendiri, di sampingnya ada seorang Perempuan yang tersenyum ke arahnya dan Tegar sangat mengenalnya.
Tegar membelakan matanya ketika melihatnya, perempuan tersebut kemudian melompat ke arahnya dan langsung memeluknya.
“Tegar~”
“K-Kakak...”
...To Be Continue...
__ADS_1