Smile In The Void

Smile In The Void
Chapter 22 [Masalah dengan ibu selesai]


__ADS_3

Tegar Pov


 


Setelah berpamitan pada Ayahnya Devin aku tidak langsung keluar tapi pergi dulu ke toilet dan mengganti seragamku dengan baju lain.


Untung saja aku membawa baju ganti di dalam tasku untuk keadaan darurat dan sepertinya itu berguna sekarang.


Tidak mungkin kan aku keluar dengan memakai seragamku, aku tak mau mendapatkan masalah lain karena jalan-jalan dengan seragam sekolah.


Aku lebih suka menghindari masalah yang tidak perlu. Aku tidak suka hal merepotkan jadi kalau ada masalah aku lebih suka cepat di selesaikan.


Kalaupun masalah tersebut sulit di selesaikan aku sebisa mungkin tidak membuat masalah lainnya.


Ketika aku mempunyai masalah dengan orang lain aku akan langsung mencari cara untuk menyelesaikannya.


Seperti kata pepatah Pengetahuan adalah kekuatan, itu sebabnya aku dengan serius belajar komputer agar aku bisa mencari informasi orang yang bermasalah denganku.


Informasi adalah kunci kemenangan dalam perang.


Aku menggelengkan kepalaku mencoba menghilangkan pikiran itu dari kepalaku. Setelah berganti pakaian aku langsung pergi menuju tempat parkir.


Untung saja aku datang tepat waktu kalau tidak sepedaku mungkin sudah di singkirkan oleh satpam yang berjaga.


Yah aku tidak tau kalau dilarang memarkirkan sepeda di sini jadi aku meminta maaf pada Satpam itu kemudian melenggok pergi.


Sekarang kemana aku pergi? Sekarang aku sama sekali tidak punya tujuan dan jalan-jalan tanpa tujuan hanya membuang tenaga saja.


mau ke kantor pun aku mau apa, lagi pula kerjaanku dimulai nanti sepulang sekolah jadi aku pergi ke sana juga tidak ada gunanya.


“apa aku pergi ke taman saja ya?”


Sepertinya pergi ke sana lebih baik daripada jalan-jalan tanpa tujuan dan malah bertemu dengan masalah lainnya.


Karena itulah aku pergi menuju ke taman. Tidak butuh waktu yang lama agar aku bisa sampai di taman. Aku memarkirkan sepedaku di tempat parkir khusus sepeda.


“Gue mau ngapain disini ya?”


Setelah sampai di taman aku malah jadi bingung sendiri mau ngapain disini. Jadi aku duduk di salah satu bangku sambil memikirkan apa yang mau kulakukan.


Tamannya tidak ramai karena ini bukan hari libur, di tambah sekarang masih jamnya sekolah jadi sangat sedikit orang yang ada di taman.


Ketika sedang melamun seorang pedagang Es krim datang melewatiku menyadarkanku dari lamunan.


‘Es krim itu sepertinya enak’


“bang! Sini bang! Saya mau beli Es krim!”


Mendengar panggilanku membuat penjual Es krim itu berhenti kemudian mendatangiku dengan semangat, mungkin karena baru sedikit yang beli.


“Es krim dek?! Mau yang mana?” penjual Es krim bertanya sambil membuka Boks Es krimnya.


“Yang itu bang, yang rasa Vanila.” Aku menunjuk ke arah Es krim yang ingin kubeli.


Penjualnya kemudian mengambilkan Es ktim yang tadi ku tunjuk kemudian memberikannya padaku.


Aku lalu bertanya padanya.“Berapa harganya bang?!”


“25 ribu aja dek.” Jawabnya.


“ah ini uangnya bang.” Ucapku.


Aku membayar Es krim tersebut lalu kembali duduk di kursi taman yang tadi aku duduki. Aku membuka bungkus Es Krim lalu memakannya.


“Haah~ sekali-kali aku memang harus bersantai, sudah cukup lama aku tidak sesantai ini.”


Ah aku baru sadar kalau belakangan ini aku sering berkata ‘Sudah cukup lama aku tak melakukan ini’.

__ADS_1


Karena terlalu sibuk urusan sekolah dan pekerjaan membuatku jarang, sangat jarang bisa melakukan hal yang kusuka.


Aku memakan Es krimku sambil memandangi langit biru yang di tutupi beberapa awan. Aku sekarang mengerti kenapa Shikamaru suka menatap awan.


Menatap awan membuatku menjadi tenang.


Walaupun menatap awan membuatku tenang tapi aku tidak boleh menatap terlalu lama karena cukup buruk untuk mataku.


“yah habis.” Sisa bungkus Es krim itu ku lempar ke tempat sampah.


Haah sial, harusnya aku membeli lebih banyak tadi. Aku menggaruk bagian belakangku yang tidak gatal.


Aku berdiri dari kursi kemudian menepuk-nepuk bagian belakang celanaku untuk menghilangkan debu yang mungkin menempel.


Yah lebih baik sekarang aku pulang saja lagi pula jika terlalu lama di sini kulitku yang tidak putih ini menjadi hitam.


Aku pergi mengambil sepedaku, tapi sebelum aku bisa pergi ada sebuah mobil berwarna putih muncul di depanku.


‘Entah kenapa mobilnya terasa familiar.’


Entah kenapa perasanku menjadi tidak enak, aku penasaran siapa yang ada di mobil ini dan kenapa dia mencegatku?


Pintu mobil itu terbuka, seorang atau lebih tepatnya wanita keluar dari mobil. Mataku membelak tapi aku dengan cepat kembali tenang.


Wanita itu adalah Ibuku. Aliya Arga Alexia.


Aku memang tau kalau cepat atau lambat aku akan bertemu mereka tapi aku terkejut kalau kita bertemu secepat ini.


Apalagi yang ku temui adalah Ibuku. Ini cukup tak terduga. Ibuku menoleh ke arahku, Ekspresinya penuh kerinduan sampai ada air mata di sudut matanya.


“Tegar? Kamu Tegar ‘.”


Dari banyaknya pertanyaan kenapa dia malah bertanya apakah aku Tegar atau bukan, kau seorang ibu tapi tak bisa mengenali anakmu sendiri.


Yah seolah aku masih di anggap anak.


“Yah, Saya Tegar.” Jawabku.


“aku yakin orang sibuk seperti Anda tidak mungkin datang hanya untuk menanyakan hal itu.” Lanjutku.


Sebenarnya aku tidak nyaman berbicara seperti ini, berbicara dengan nada formal membuat lidahku geli sendiri. Lagipula apa yang di ingunkannya hingga menemuiku disini.


Jangan bilang padaku kalau dia juga mau memaksaku pulang agar mereka bisa menjualku dengan kedok perjodohan itu. Kalau benar itu sia-sia saja lagipula aku tidak berniat untuk menikah dengannya.


“A-apa? Tegar kenapa kamu berbicara seperti itu nak? Aku ini Ibumu.”


“Ibu?! Sejak kapan?! Apa aku masih di anggap anak oleh anda?!”


Hatiku terasa panas sekarang, aku berusaha sebaik mungkin untuk tidak berteriak padanya, bagaimanapun aku masih menghormatinya karena sudah rela melahirkanku.


“Apa maksudmu?! Kamu anakku, dari dulu sampai kapanpun kamu akan menjadi anakku.”


“Benarkah begitu? Kenapa aku merasa tidak yakin.”


Apakah begitu? Sejak dulu? Apa memang dulu kau menganggapku sebagai anakmu dan bukannya hanya sebuah makhluk yang merepotkan bagimu?


Air mata mulai menetes dari sudut matanya. Aku tidak tau apakah dia benaran serius menangis atau itu hanya air mata palsu. Tapi dari Ekspresinya terlihat sangat realistis.


Sial, kau sangat curang. Apapun yang di lakukannya dulu padaku tapi tetap saja aku tidak akan tega jika melihatnya menangis seperti itu, hatiku tak tahan melihatnya seperti itu.


“Hiks... Tegar maafkan ibu nak.... Hiks.... ibu minta maaf.... Hiks..... ibu menyesal karena duku mengabaikanmu... Hiks...maafkan ibu.” Ucap ibuku sambil menangis.


“Apakah menurut Anda aku bisa memaafkannya begitu saja?” balasku dengan kepala tertunduk.


“Ibu mohon...Hiks... maafkan ibu, Ibu menyesal...Hiks.... Ibu mau melakukan apapun asalkan kamu mau memaafkan ibu...Hiks... kalau bisa ibu akan membantumu membatalkan perjodohan itu.” Ucap ibuku.


 

__ADS_1


Kalau suasananya bukan seperti sekarang aku mungkin akan berkata ‘kau ini serang wanita kau tidak boleh dengan mudah mengatakan hal itu kepada seorang pria’ tapi ini bukan waktunya.


“Ibu tau ibu salah..Maaf.. Hiks..”


Aku sangat terkejut ketika dirinya mau berlutut di depanku, dengan tergesa-gesa aku langsung memegahnya melakukan itu. Aku tak mungkin membuatnya berlutut apalagi dia ibuku.


 


“Bu, kumohon jangan lakukan itu... Aku akan memaafkanmu asalkan Ibu tidak berlutut.” Ucapku padanya.


Aku membantunya berdiri kemudian membawanya ke kursi yang tadi ku duduki. Rasanya tidak enak membicarakan hal ini sambil berdiri di sana.


“B-Benarkah?! Kamu mau memaafkan ibu?.”


Kenapa rasanya kau terlihat seperti seorang pacar yang ketahuan selingkuh! Astaga kenapa aku malah memikirkan hal itu di saat seperti ini sih.


“Haah~ yah aku akan memaafkanmu tapi tolong jangan menangis... aku tidak tega melihat ibu menangis.” Ucapku sambil mengusap air matanya.


Melihatnya menangis seperti ini membuat hatiku terasa perih. Sekesal apapun padanya tetap saja aku tidak akan tega melihatnya menangis seperti ini.


Mendengar ucapanku membuat tangisan ibuku tidak mau berhenti dan malah lebih deras, dia kemudian memelukku dengan erat membuatku terkejut.


“Terima kasih... Hiks...Terima kasih kamu mau memberikan ibu kesempatan untuk menebus kesalahan ibu.... Hiks...”


Aku hanya terdiam membisu, aku bingung apakah harus membalasnya atau tidak. Tapi aku sudah membuat keputusan untuk memaafkannya, dengan ragu-ragu aku menggerakkan tanganku dan membalas pelukannya.


Aku tak tau kapan tapi air mataku sudah mengalir melewati pipiku, aku menguburkan kepalaku ke pundaknya. Aku sangat merindukan pelukan ini, pelukannya yang hangat ini membuatku merasa nyaman.


Beberapa detik kami tetap dalam posisi seperti ini, di saat seperti inilah aku ingin waktu berhenti untuk sesaat saja. Aku ingin menikmati momen ini lebih lama.


Sayang sekali aku tidak memiliki kekuatan itu. Setelah beberapa saat aku melepaskan pelukannya, lagipula dia juga sudah tenang sekarang. Aku merasa canggung sekarang.


“Terima kasih kamu mau memaafkan ibu.” Dia tersenyum sambil mengelus pipiku.


“Bu, ini sudah ke sekian kalinya kau berterjma kasih padaku.” Ucapku.


“aku tau, tapi aku sangat senang kau memaafkanku.” Ucapnya sambil tersenyum.


“Walaupun aku memaafkan ibu tapi aku masih belum bisa percaya sepenuhnya padamu.” Ucapku sambil melempaskan tangannya dati pipiku.


“Aku tau itu, kamu mau memaafkan ibu saja sudah cukup. Sekarang tugas Ibu agar kamu mempercayaiku.” Balas ibu.


Ibuku sepertinya tidak keberatan dengan ucapanku dan sepertinya dia malah sudah memprediksi kalau aku memang akan mengagakan hal ini.


“Tapi... bisakah Ibu tau dimana kamu tinggal... ibu ingin lebih sering mengunjungimu.” Pita ibuku.


Nah sekarang aku bingung apakah aku harus memberikan alamat rumahku padanya atau tidak. Aku masih takut ayah akan tau di mana rumahku berada.


“kalau itu masih berat untukmu, bisakah ibu tau nomor teleponmu. Jika ibu ingin ketemu kamu kan ibu bisa telepon dulu.” Pita ibuku.


“yah baiklah, tapi... aku mohon ibu berjanji, berjanji untuk tidak memberikan nomorku pada siapapun.” Ucapku.


Aku... aku tidak mau ada orang di keluargaku yang tau tentang nomor teleponku karena mereka mungkin bisa melacakku. Aku tau ini mungkin berlebihan tapi aku tidak ingin mengambil reaiko.


“baiklah. Ibu janji tidak akan memberikannya pada siapapun terutama Ayahmu. Lagipula ibu sudah bilang ibu akan mencari cara untuk membatalkan pertunanganmu.”


Sepertinya aku memang harus mencoba untuk mulai mempercayainya. Aku lalu memberikan nomor teleponku padanya kemudian pamit untuk pergi.


 


Aku ada rapat yang harus aku lakukan jadi aku tidak bisa mengobrol dengan ibuku lebih lama lagi. Ibuku dengan enggan berpisah denganku karena dia juga ada hal yang perlu di lakukan.


Yah sepertinya hari ini tidak seburuk itu. Sekarang satu masalahku terselesaikan, sedikit demi sedikit masalah utamaku akan ku selesaikan.


 


To Be Continue

__ADS_1


jika ada kritik atau saran silahkan tulis di kolom komentar.


...Salam Akasia!...


__ADS_2