
“Terima kasih, atas kerja sama kalian. Kami bisa menangkap mereka berkat kalian. Orang-orang ini sebenarnya sedang kami cari karena sering melakukan kejahatan.” Ucap Polisi.
“Sama-sama pak, saya berharap mereka bisa di penjara cukup lama. Ah! Hampir lupa, ini beberapa bukti yang saya temukan, mungkin bisa membantu di persidangan nanti.” Tegar menyerahkan Flasdisk nya.
Polisi tersebut mengambil Flasdisk tersebut kemudian berterima kasih lagi pada mereka sebelum pergi membawa Toni dan temannya pergi.
Mereka juga meminta Lia, Tegar dan Temannya untuk bisa hadir jika di butuhkan kesaksiannya. Tentu saja mereka menyanggupinya, lagian mereka juga ini kedua ofang itu mendekam lama di penjara.
Kalau kedua orang itu hanya mendapatkan beberapa tahun penjara, mungkin mereka akan kembali melakukan kejahatan yang meresahkan warga lagi.
Tegar berharap setidaknya kedua orang itu mendapat hukuman penjara setidaknya paling ringan 10 tahun. Tapi yah... dia hanya bisa menyerahkannya pada pihak berwajib. Dia tidak bisa melakukan apa-apa.
Tegar menoleh ke arah Lia yang ada di pelukannya lalu berkata. “lebih baik kita pulang, lu biar gue yang antar.”
“Terima kasih telah menyelamatkanku... kalau kau tidak ada... aku mungkin-“ Ucapan Lia terhenti karena Tegar menaruh jarinya di bibir Lia.
“lu gak usah ingat hal itu lagi, anggap saja itu hanya mimpi. Lu udah bangun sekarang.” Ucap Tegar.
‘njir gue ngomong apaan sih? Rasanya kurang nyambung.’ Batin Tegar.
Dia mengatakan hal itu untuk menghibur Lia sekaligus ingin meniru karakter utama yang pernah ia lihat di suatu Anime, tapi sepertinya gagal total.
Lia terkekeh sebelum membalas. “Hehe lu ya... tapi serius. Terima kasih.”
“Sama-sama.” Balas Tegar.
Yang di lakukannya tidak seberapa di bandingkan dengan yang Lia lakukan. Lia sudah sering membantunya dulu, jadi dia hanya membalas hutangnya saja.
“ehem! ehem! masa cuma Tegar doang, kami juga ikut membantu loh.” Ucap Kevin sambil tersenyum jail.
Lia tertawa sebelum membalasnya. “iya... Iya... makasih juga buat kalian. Nanti gue kasih kalian tiket konser gratis deh.”
Sontak saja hal tersebut membuat mereka bertiga kegirangan, soalnya konser yang akan Lia hadiri berikutnya akan menampilkan banyak Artis-arts terkenal dan jangan lupa, akan ada gadis cantik juga disana.
Melihat mereka bertiga yang berjoget-joget gak jelas membuat Tegar menggelengkan kepala sebelum menghela nafas lelah. Sepertinya teman-temannya memang gak ada yang waras satu pun.
Mereka kemudian pergi dari gang tersebut karena sudah tak ada lagi urusan disana. Tegar berpamitan dengan ketiga temannya karena dia harus mengantarkan Lia pulang.
“Hati-hati di jalan.” Ucap Samudra.
“Awas lu, itu anak orang jangan lu apa-apaain.” Ucap Yuda.
“Lia, kalau Tegar macem-macem, tendang aja ayamnya.” Ucap Kevin.
Tegar hanya membalas ledakan mereka dengan tatapan datar, dia sudah terbiasa di ledek oleh mereka jadi dia tak terlalu menanggapinya.
“kalian jangan sembarangan ngomong, nanti gue kasih tau emak kalian, habis sudah.” Balas Tegar.
Dia kemudian pergi dengan Lia yang duduk di belakangnya mengabaikan teriakan-teriakan temannya. Kalau sudah jauh nanti juga gak akan kedengaran.
Tegar mengendarai motornya dengan perlahan, dia tau kalau Lia masih agak syok jadi dia mungkin akan memperburuk keadaannya jika dia memacu motornya terlalu cepat.
“Tegar.” panggil Lia.
Dia memeluk Tegar dengan erat kemudian menyandarkan kepalanya di atas bahu Tegar.
Tegar menoleh sebelum membalas. “Ada apa.”
“lu ingat gak gimana awal kita bertemu?” tanya Lia.
“Gue ingat, waktu itu gue ngira lu copet.” Jawab Tegar sambil terkekeh.
Lia ikut tertawa sebelum berkata. “Iyah, waktu itu gue cukup kaget karena lu gak kenal sama gue.”
Flashback
Liana Alvia atau lebih sering di panggil Lia adalah seorang Aktris muda yang cukup berbakat. Walaupun dia masih merupakan pendatang baru tapi dia sudah menjadi cukup terkenal.
__ADS_1
Beberapa Film yang di bintangi olehnya selalu sukses dan mendapat Rating yang tinggi. Lia bahkan mendapatkan piala penghargaan dengan nominasi Aktris pendatang baru terpopuler.
Banyak orang yang telah mengenalnya, setiap dia pergi pasti akan ada saja orang yang ingin meminta tanda tangan dan berfoto atau hanya sekedar bersalaman dengannya.
Ketenarannya ini membuat ayahnya agak khawatir dan memperkerjakan seorang Bodyguard untuk mengawalnya. Tapi hal ini malah membuat Lia merasa tidak nyaman.
Dia tahu kalau ayahnya itu hanya mengkhawatirkannya saja tapi, Lia tetap merasa kalau hal yang di lakukannya itu masih terlalu berlebihan.
“Aah~ Papa terlalu parno-an, padahal aku juga bisa menjaga diriku sendiri.” Gerutu Lia.
Dia sekarang berada di luar sendirian, dia berhasil kabur dari pengawalnya ketika pengawalnya sedang sibuk menahan para Fans nya. Lia tertawa bahagia, sudah cukup lama dia tidak jalan-jalan sendirian.
“jalan kaki ternyata cukup melelahkan juga.” Gumam Lia.
Kebetulan sekali ada Minimarket berada tak jauh darinya. Lia menyeberangi jalan sebelum sampai di Minimarket. Lia membeli minuman dan beberapa camilan.
Dalam Minimarket tersebut tidak terlalu ramai, hanya ada beberapa pembeli disana. Lia mencoba sebisa mungkin agar wajahnya tak di lihat pembeli lainnya.
Bukannya dia narsis atau apa tapi dia hanya tak ingin di kejar-kejar oleh Fansnya lagi, dia sudah beberapa kali mengalami kejadian seperti itu.
Tapi dia lupa kalau dia akan bertatap muka dengan sang Kasir.
“Eh! Ini Nona Lia kan? Aktris pendatang baru itu? Saya penggemar nona loh! Saya suka banget sama Nona Lia. Saya sama keluarga saya sering nonton bareng Film nona.” Ucap Sang Kasir.
Orang itu terus berbicara tak peduli keadaan sekitarnya. Lia sendiri sudah panik, dia tak menyangka kalau kasir di depannya ini memiliki mulut yang cukup ember. Sepertinya tak memiliki rem untuk berhenti.
“Itu beneran Liana Alviana?”
“Iyah, kayaknya itu memang dia.”
“Ayo samperin yuk”
Para pembeli berbondong-bondong pergi ke arahnya setelah mengetahui kalau itu memang benar Lia dan bukan orang lain. Lia yang melihat itu langsung pucat.
Dia mengambil belanjaannya kemudian menaruh uang di Meja kasir sebelum pergi meninggalkan para Fans nya yang sudah menggila.
“Lia aku cinta padamu!!”
“Nona Lia aku ingin memelukmu!!”
“Nona Lia.”
Lia berlari menghindari gerombolan orang yang mengejarnya, kalau ada pengawal nya dia mungkin akan senang hati untuk berfoto dan memberi mereka tanda tangan.
Tapi sekarang ini pengawalnya tidak ada disini dan jika dia memaksakan diri menemui mereka mungkin dia akan tergencet oleh gerombolan orang itu. Memikirkannya saja membuatnya merinding.
‘kenapa hari ini sial banget sih?! Aku hanya ingin jalan-jalan santai saja.’ Batin Lia.
Sepertinya dia harus mempertimbangkan kembali tentang memakai penyamaran ketika ingin berjalan jalan lagi.
‘bagus ada gang, lebih baik aku ke sana.’ Batin Lia.
Lia pun berlari memasuki gang tersebut, dia menoleh ke arah belakang dan mendapati orang-orang itu masih mengejarnya.
‘Kalau seperti ini terus aku mungkin tertangkap.’ Batin Lia.
Tak jauh darinya ada seorang pria berambut putih yang memakai Jaket Hoddie hitam dan celana Jeans abu-abu. Lia berlari menghampirinya.
“Mas! Mas tolongin saya. Saya pinjam jaket mas sebentar!” ucap Lia.
Pemuda tersebut terkejut akan kedatangannya yang tiba-tiba ingin meminjam Hoddie miliknya. Dia agak linglung sebentar.
“Eh?! Embak mau ngapain pinjam Jaket saya? Mbak mau maling jaket saya?” tanya pemuda tersebut curiga.
“Kamu? Kamu gak mengenalku?” tanya Lia.
“memangnya harus ya, saya mengenal Embak?” tanya pemuda itu.
__ADS_1
Mendengar ucapan pemuda tersebut membuat Lia tercengang. Serius? Pemuda ini tak mengenalnya? Apa pemuda ini tidak memiliki Tv di rumahnya?
Yah sebenarnya pemuda tersebut. Tegar. Memiliki Tv hanya saja dia tidak memiliki waktu untuk menontonnya karena harus bekerja.
“Oke, kita kenalan nati tapi bisa tolong pinjami saya jaketnya mas?” ucap Lia memelas.
Pada akhirnya Tegar meminjamkan jaketnya pada Lia dan dengan terburu-buru di pakai olehnya. Tepat setelah ini banyak orang yang datang melewatinya.
“mas-mas, tadi lihat Cewet lari kesini gak?” tanya seseorang.
“Lihat, tadi lari kesana.” Ucap Tegar sambil menunjuk ke arah belokan.
“Makasih mas!” balas Orang itu sebelum pergi dan di ikuti oleh orang-orang yang lainnya.
Lia yang berada di sampingnya menghela nafas lega. Tapi kemudian tangannya di genggam oleh Tegar, genggaman tersebut cukup erat seolah Tegar tak ingin kehilangannya.
“Sekarang lu jawab gue. Lu habis mencuri apaan?” ucap Tegar.
Cara bicaranya tidak sesopan sebelumnya, lagian kalau orang di depannya ini memang seorang pencuri, kenapa dia harus sopan padanya.
“Lu jangan seenaknya ya! Lu gak punya Tv ya? Masa lu gak kenal gue? Gue Liana Alviana!” Ucap Lia geram.
Seenaknya saja orang ini menuduhnya mencuri. Untuk apa dia mencuri, penghasilannya sendiri cukup banyak dan keluarganya cukup kaya, dia tidak kekurangan uang.
“Gak pernah denger tuh! Lagian gue gak suka nonton sinetron.” Ucap Tegar.
“terserah, asal lu tau aja gue ini bukan maling atau copet.” Balas Lia.
“ya-ya percaya deh.” Ucap Tegar acuh.
“Kenapa nada suara lu kayak orang gak percaya gitu?” tanya Lia.
“Perasaan lu aja kali.” Balas Tegar.
“Emh~ ngomong-ngomong makasih karena lu udah Mengalihkan para Fans gue.” Ucap Lia.
“Sama-Sama”
Tegar kemudian mengantar Lia pulang atas paksaannya. Lia melakukan hal ini agar Tegar percaya kalau dia bukan pencuri. Lagi pula gang ini cukup rawan akan pencuri maupun begal dan juga Tegar akan merasa tidak enak kalau membiarkannya pergi sendiri.
Flashback end.
Kembali ke waktu sekarang, Tegar akhirnya sampai di rumah Lia. Ayahnya yang melihat Lia di antar olehnya langsung menanyakan padanya kemana Sopirnya.
Tegar kemudian menjelaskan pada Ayah Lia tentang apa yang terjadi tadi, sontak saja Ayah Lia terkejut dan marah. Berani sekali Sopir itu menyentuh putri kesayangannya.
“Lia, kenapa kamu gak pernah cerita sama papa kalau ada yang Stalker kamu?” tanya Ayah Lia khawatir.
Dia merasa gagal menjadi seorang ayah karena tidak bisa melindungi putrinya satu-satunya.
“Maaf, ayah.” Ucap Lia menyesal.
Ayah Lia menghela nafas sebelum menoleh ke arah tegar dan berkata. “Tegar! Terima kasih karena telah menyelamatkan anak Om.”
“Sama-sama Om. Lagi pula Lia dan Om juga udah banyak bantu saya, jadi sudah sepatutnya saja menolong Lia.” Balas Tegar.
“Kalau gitu saya pulang deh Om.” Lanjutnya.
“eh tunggu dulu Tegar, lebih baik kamu masuk biar kita makan sama-sama. Kebetulan istri Om lagi masak.” Ucap Ayah Lia.
Tegar pada akhirnya hanya mengangguk sebagai balasan, lagi pula dia cukup lapar karena belum sempat makan. Dia mengikuti ayah dan anak itu masuk ke rumahnya.
To Be Continue.
Jangan lupa untuk Like, Vote dan komentarnya ya!
jika kalian memiliki kritik atau saran, silahkan tulis di kolom komentar.
__ADS_1
...Salam Akasia!...