
Tegar terkejut.
Tegar tidak menyangka kalau orang yang di bawa oleh ibu ternyata adalah kakak perempuannya. Dina Arga Alexia.
Dari semua orang di keluarga Tegar hanya dia saja yang menyayanginya, dialah yang satu-satunya yang membela Tegar ketika ayahnya memarahinya.
Tegar sangat menyayanginya sampai Tegar hampir menyesal ketika kabur dulu. Tegar cukup senang bisa bertemu dengan nya lagi.
Tapi ini agak canggung. Sudah cukup lama Tegar tidak bertemu dengan nya jadi Tegar merasa agak gimana gitu.
“Tegar, kenapa kamu dia saja? Bilang apa kek! Kamu gak kangen apa sama kakakmu ini?” Dina bertanya sambil cemberut.
Dengan panik Tegar berkata. “B-Bukan begitu, aku juga kangen sama Kakak. Aku hanya terkejut, ternyata orang yang di bawa ibu adalah Kakak.”
“Bicaranya di dalam aja, gak enak bicara di depan pintu.” Ucap Aliya.
Karena terlalu senang bisa bertemu dengan kakaknya membuat Tegar lupa mengajak mereka masuk ke dalam rumah.
“ah iyah, ayo masuk, aku juga sudah menyiapkan makanan, ibu dan kakak pasti lapar ‘kan.” Ucap Tegar.
“aku tidak sabar untuk mencicipi masakan buatan mu.” Ucap Dina.
Dina tak menyangka kalau Tegar sudah menyiapkan makanan untuk mereka, dia tak sabar untuk mencicipi masakan adiknya ini.
Sepertinya adiknya sekarang sudah sangat mandiri, pasalnya sejak dulu dia tak pernah sekalipun melihat nya memasak.
“kamu gak meledakkan dapur kan?” tanya Aliya.
“ibu, bagaimana ibu bisa begitu kejam padaku, gini gini aku bisa masak lho.” Ucap Tegar dengan air mata palsu.
Apa karena dia laki-laki sampai membuat ibunya tidak percaya kalau dirinya ini memang bisa memasak.
“haha jangan seperti itu, Ibu hanya bercanda.” Ucap Aliya.
Dina menghela nafas melihat kelakuan ibunya, tapi dia juga senang karena sekarang hubungan Tegar dengan ibunya sudah membaik.
Sekarang dia hanya bisa berharap kalau ayahnya mau berubah menjadi lebih baik dan meminta maaf pada Tegar.
Mereka pergi menuju ke ruang makan, mereka terkejut melihat banyak makanan di meja makan.
Mereka tak percaya kalau Tegar yang memasak makanan ini. Dan lagi, makanan yang ada fi meja makan itu adalah makanan kesukaan mereka.
“T-Tegar! Ini semuanya kamu yang masak?” tanya Dina tidak percaya.
“ya iyalah aku yang masak. Lihat aja peralatan di dapur masih belum di cuci.” Jawab Tegar.
Entah bagaimana Dina sekarang menjadi depresi, dia sendiri masih belum bisa memasak dan sekarang adiknya sudah bisa memasak semua ini.
Dina merasa gagal sebagai wanita.
“kak gak usah depresi gitu, nanti kakak juga pasti bisa masak kok. Nah sekarang ibu dan kakak cicipi dulu donk “ Ucap Tegar.
Ketika ibu dan kakaknya mencoba masakannya, Tegar menatap mereka dengan was-was takutnya mereka tidak suka masakannya.
Yah Tegar tau kalau Mereka lebih sering makan makanan mewah daripada makanan yang fi buatnya.
“Bagaimana?” tanya Tegar.
__ADS_1
“Emh?! Ini sangat enak!” komentar Dina.
“iyah, masakanmu lebih enak dari buatan ibu.” Ucap Aliya.
Baru-baru ini Aliya mulai belajar memasak, dia baru sadar kalau selama ini dia sama sekali belum pernah memasak untuk keluarganya.
Masakan yang di buat olehnya memang bisa di bilang enak tapi masakan yang di buat anaknya ini lebih enak.
“Sukurlah kalau kalian menyukainya.” Ucap Tegar.
Sepertinya masakan nya kali ini akan langsung habis, apalagi kakaknya kelihatannya sudah siap untuk menghabiskannya.
Apa dia lupa dengan dietnya ya
Mereka mulai makan bersama-sama sambil mengobrol, yah kebanyakan Tegar hanya menjawab pertanyaan dari Kakak nya.
Mereka juga menanyakan tentang rambutnya yang sekarang menjadi putih, Tegar menjelaskannya dengan ekspresi tabah.
Dia sudah lelah menjelaskan tentang rambutnya. Lagipula kenapa semua orang selalu menanyakan tentang warna rambutnya.
Walaupun Tegar tau kalau remaja dengan rambut putih cukup jarang ada di Jakarta, atau mungkin di negara ini.
Tapi tetap saja dia merasa tidak nyaman ketika orang menanyakan hal itu.
“Bagaimana dengan sekolahmu? Kakak dengar kamu sekolah di sekolah yang sama dengan Kevin.” Tanya Dina.
Tegar sudah kabur dari rumahnya sejak SMP dan hanya membawa uang tabungan serta beberapa barang saja.
Sebagai kakak nya, tentu saja Dina khawatir akan pendidikan nya, dia khawatir kalau Tegar memiliki masalah di sekolahnya.
Memang sih ada kejadian yang cukup merepotkan, tapi mana mungkin dia mengatakan hal itu pada mereka.
“apa kami udah punya pacar? Atau ada gadis yang kamu suka?” tanya Aliya dengan senyum menggoda.
‘Astaga Dragon. Ibu kenapa kau menanyakan hal seperti itu?’ batin Tegar lelah.
“tidak ada. Lagian aku ingin fokus pada kerjaan ku dulu.” Jawab Tegar dengan nada lelah.
“Eh~ jangan bohong. Pasti ada cewek yang kamu suka kan?!” ucap Aliya.
“dengan wajah itu, pasti ada cewek yang naksir padamu.” Ucap Dina menambahkan.
Mendapatkan serangan dari dua arah membuat Tegar tak bisa berkutik, sepertinya dia hanya bisa jujur.
Yah ternyata benar kalau laki-laki memang tidak bisa menang melawan wanita dalam hal adu mulut.
Kalaupun ada keajaiban dimana laki-laki menang, para wanita pasti akan memiliki seribu satu cara untuk memutarbalikkan keadaan.
“yah kalau cewek sih ada tapi belum jadian. Masih tahap pendekatan.” Jelas Tegar.
Wanita yang di sukainya memang ada tapi untuk saat ini Tegar belum mau memberitahukan namanya pada mereka.
“”benarkah? Siapa namanya?””
Tegar ternganga melihat ke kompakkan mereka berdua. Kenapa mereka begitu bersemangat ingin mengetahui nama cewek hang disukainya.
“Rahasia~ ntar kalau aku kasih tau nanti kalian langsung nyari dia di sosmed lagi.” Ucap Tegar membuat mereka kecewa.
__ADS_1
“ah lupakan dulu tentang itu. Keadaan kantor ayah gimana?.” Tanya Tegar.
Ibunya menghela nafas lelah kemudian menjawab. “Yah sebenarnya masalah kantor yang mau bangkrut itu sudah selesai.”
“kalau begitu pertunanganku dibatalkan donk.” Ucap Tegar bahagia.
“Tidak. Pertunanganmu di lanjutkan. Kamu sendiri tau bagaimana ayahmu kan? Dia sangat ingin perusahaannya berkembang menjadi nomor satu.” Balas Dina.
Senyuman di wajah Tegar luntur seketika, dia ikut menghela nafas lelah. Dia sudah mengira hal ini akan terjadi.
Alasan Ayahnya ingin menjodohkannya bukan hanya untuk menyelamatkan perusahaan tapi juga untuk mengembangkannya.
Sebenarnya perusahaan itu bisa selamat tanpa bantuan dari keluarga Olivia. Penghasilan ibunya juga tinggi jadi cukup untuk membayar kerugiannya.
Hanya saja, ayahnya Tegar ini terlalu terobsesi untuk menjadikan perusahaannya sebagai perusahaan nomor satu di Indonesia.
“sudah ah, jangan ngomong in itu.” Ucap Dina.
** **
Liana Alvia
Seorang Aktris yang kini tengah naik daun. Di umurnya yang masih muda dia sudah bermain di beberapa Film terkenal.
Katirnya cukup mulus dan bisa di pastikan kalau masa depannya akan cerah untuknya sebagai seorang Aktris.
Tapi walaupun begitu, sekarang ini dia sedang dalam kekawatiran sampai kadang membuat kesalahan ketika proses Suting.
Baru-baru ini Liana sering di teror oleh seorang Stalker. Awalnya itu hanya berupa pesan-pesan biasa saja.
Tapi baru-baru ini orang itu mulai menyeramkan, orang itu tau apa yang di lakukannya, dan sekarang bahkan orang itu mengirimi foto dirinya.
Orang sepertinya mengikutinya dan memotret semua yang di lakukannya, mulai dari sekolah ataupun saat bekerja.
“Hiks... kenapa? Hiks... Tolong hentikan ini Hiks... jangan ganggu aku Hiks..”
Liana menangis sendirian di kamarnya. Dia memang telah memberi tau sekretarisnya yang merupakan ayahnya.
Tapi masalah ini masih belum terselesaikan.
“Apa yang harus ku lakukan?”
Dia bingung dan ketakutan. Dia tak mengerti kenapa orang ini menguntitnya? Dia tau dia Aktris tapi tak seharusnya orang itu melakukan ini.
Hidupnya sekarang kurang tenang karena dia tau ada orang yang menguntitnya. Fia tidak nyaman dengan itu.
Sebenarnya Liana ingin meminta bantuan dari Tegar untuk menyelesaikan masalah ini tapi dia tak mau merepotkannya.
Tapi di sisi lain dia juga takut dengan stalker itu. Maka dari itu dia memantapkan hatinya dan memutuskan untuk meminta bantuan dari Tegar nanti ketika mereka Berkencan.
To Be Continue
aku berusaha untuk membuat percakapan keluarga itu tidak kaku, tapi hanya ini kemampuanku.
__ADS_1