
Sekolah
Tegar Pov
Hari yang telah ditunggu para murid kelas XI-1 akhirnya telah tiba. Sekarang waktunya kelas bu Yesti, semua orang cukup bersemangat. Mereka semua bersemangat dengan berbagai alasan yang cukup beragam, ada yang semangat memasak ada juga yang semangat untuk makan.
Yah walaupun kebanyakan dari mereka semangat untuk makan tapi yang terpenting mereka sudah bersemangat untuk memulai pelajaran kali ini.
Karena ruangan kelas kami kurang cocok untuk di jadikan tempat memasak kami harus pindah ke ruangan yang telah di siapkan khusus untuk pelajaran ini.
‘gue jadi serasa ikutan Master Chef aja.’
Memang praktek di pelajaran kali ini cukup mirip dengan pertandingan memasak di acara televisi dan kelihatannya bukan hanya aku saja yang berfikir begitu.
Orang itu tidak lain adalah Kevin, dia sudah berlagak menjadi seorang Chef. Sepertinya terlalu banyak berkhayal sampai jadi seperti ini, ingatkan aku membawanya ke psikiater.
Kami langsung berkumpul menuju ke meja kelompok kami masing-masing, semua bahan yang kemarin kami beli sudah tertata rapi di atas meja.
“Yah baiklah karena waktu kita tidak banyak kita mulai saja, waktu yang ibu berikan hanya 1 jam.”
“jadi, kalian harus bekerja sama sebaik mungkin agar masakan kalian bisa selesai tepat waktu.”
Setelah itu tanpa banyak bicara lagi Bu Yesti langsung memulai praktek memasak ini. Kelompok kami kemudian membagi tugas masing masing.
Aku dan Yuda di tugaskan untuk memotong atau mengiris bahan bahannya sementara Elena dan Anna bertugas membuat bumbu halusnya.
Untuk Sam sendiri di diberi tugas untuk mengurus ayamnya. Aku tidak tau dia bisa atau tidak tapi yang bisa ku lakukan kali ini hanyalah mempercayainya.
Kelompok lainnya juga sepertinya sudah mulai memasak. Ada beberapa kelompok yang bisa bekerja sama dengan baik tapi ada juga yang sebaliknya.
Entah karena dendam pribadi atau apapun tapi aku bisa melihat salah satu kelompok yang malah ribut sendiri hingga Bu Yesti harus turun tangan untuk menghentikannya.
Yah aku tidak terlalu peduli tentang urusan pribadi mereka, toh tak ada hubungannya dengaku ini jadi buat apa aku repot. Sekarang aku hanya perlu fokus pada tugasku saja.
“Oi Sam, ayamnya udah mateng belum?” tanyaku.
“udah nih baru aja.”
“oke kalo gitu langsung gprek aja sama suir-suirin.”
Sam kemudian pergi mengurus ayamnya di bantu oleh kevin. Aku sendiri membantu Elena menumis bumbu halusnya.
“Usro lu ambilin serai, daun jeruk nya gih.” Suruhnya.
“Eh Maemunah, nama gue bukan Usro.” Ucapku.
“iya iya cepat lu ambilin aja.” Ucapnya cuek.
Cewek sialan. Aku menghela nafas sebelum mengambil Serai dan daun jeruk kemudian menyerahkannya kepada Elena.
Semua bahan itu di masukan ke dalam wajan, setelah di tumis beberapa saat bau yang cukup harum mulai tercium olehku- bukan tapi oleh kami.
Bumbu lain seperti gula aren, lada hitam, garam ikut di masukan kemudian di aduh hingga merata. Ah~ aku tidak sabar untuk makan.
Rasanya perutku menjadi kosong kembali, aku ingin makan.
Terakhir dimasukkanlah ayam yang telah di suwir, tomat, dan daun bawangnya. Elena kembali mengaduk-aduknya hingga bumbu meresap dengan sempurna.
Waktu berlalu cukup cepat atau mungkin karena akunya yang terlalu semangat untuk memasak sampai tak sadar waktu berlalu begitu saja.
Ayam suir yang telah selesai di masak kemudian di taruh ke dalam mangkuk yang telah di siapkan. Kami kemudian menghiasnya untuk menambah nilai Estetika(?) nya.
Kami memisahkan makanannya ke dalam dua mangkuk, satu untuk kami kasih kepada guru dan yang satunya lagi untuk kami makan sendiri.
Setiap kelompok yang telah selesai kemudian pergi menaruh masakannya ke meja yang telah di siapkan. Aku ingin bertukar posisi dengan Guru.
Penjurian pun kemudian dimulai.
__ADS_1
** **
Waktu istirahat
Ketika waktunya istirahat tiba aku tidak pergi ke kantin atau warjng belakang sekolah tapi pergi menuju ke perpustakaan.
Aku ingin meminjam buku lagi dari sana sebagai bahan referensi. Semoga saja aku bisa menemukan buku yang menarik.
Kevin dan yang lainnya mereka pergi entah kemana, mereka juga tidak ke kantin karena kami telah makan tadi ketika kelas Bu Yesti.
Sayang sekali kami tidak mendapatkan posisi pertama dalam praktek memasak tadi, walaupun cuma praktek tapi tetap ada juaranya.
Tapi walaupun tidak mendapatkan posisi pertama tapi kami berhasil menduduki posisi ketiga. Tada satu hal yang membuatku kesal pada guru lainnya. Hanya karena dia tidak suka pada bawang nilai kami malah di kurangi.
Mana kami tau apa yang disukainya. Emang kami orang tuanya!!
Ketika mendekati tangga aku melihat Lily yang sedang menuruni tangga sambil membawa setumpuk kertas di tangannya.
Tatapanku berhenti pada kulit pisang yang berada di bawah tangga. Sial kalau dia sampai menginjaknya dia pasti akan terjatuh.
Tapi serius... BAGAIMANA ADA KULIT PISANG DISANA!!!!
“Lily hati-hati ada...”
Sebelum aku bisa menyelesaikan ucapanku Lily sudah Lebih dulu menginjak kulit pisang itu. Entah bagaimana tubuhku bergerak sendiri ke arahnya.
Sebelum Lily menyentuh lantai aku sudah terlebuh dahulu menangkap tubuhnya membuatnya tak jadi jatuh ke lantai.
Oh shit! Bagaimana aku bisa terjebak dalam situasi klise seperti ini?
“Lu gak apa-apa, Llily?” tanyaku.
Aku menatap wajahnya, dia sepertinya masih syok dengan apa yang menimpanya barusan. Aku kemudian membantunya untuk berdiri.
“sama-sama, Lain kali lu hafus hati-hati. Lagian siapa sih buang kulit pisang disini?” gerutuku.
Serius tadi itu bahaya sekali, telat sedikit saja mungkin dia sudah terluka parah. Aku langsung mengambil sisa kulit pisang lalu membuangnya ke tempat sampah agar tidak memakan korban lainnya.
Aku melihat Lily sedang memunguti kertas yang berserakan di lantai. Aku kasihan melihatnya jadi aku pergi membantunya.
“Terima kasih Tegar.”
“gak masalah, nih kertasnya. Emang itu kertas apaan?” tanyaku.
“gue juga gak tau, gue cuma di suruh ngasih semua ini ke penjaga perpus. Sekalian minjem buku” Jawabnya.
“oh, kalo gitu biar gue aja yang bawa, gue juga mau ke perpus.” ucapku.
“gak usah nanti ngerepotin lagi.” Ucapnya.
“lu kayak ke siapa aja, lagian Cuma kertas ini.” Ucapku.
Dia dengan enggan memberikan tumpukan kertas itu padaku, kami berdua lalu pergi ke perpustakan bersama.
Tak perlu waktu lama kamipun sampai di perpustakaan, kami di sambut oleh penjaga perpus yang selalu dusuk di kursinya. Serius apa dia tidak pegal duduk disana seharian?
Aku kemudian memberikan tumpukan kertas yang aku tak tau isinya padanya. Kami kemudian mencari buku yang akan kami pinjam.
“Oh ya Tegar.”
"Apa?"
Aku menjawab panggilannya tanpa menoleh dari buku, kami sedang duduk sambil membaca-baca buku, kalau ada yang menarik mungkin aku akan meminjamnya.
“kemarin orang tua lu datang kerumah gue.”
Deg
__ADS_1
Tubuhku langsung kaku sejenak, aku kemudian menoleh ke arah Lily. Apa aku tidak salah dengar? Aku tidak percaya mereka sampai menemui Lily.
“Orang tua gue?.” Tanyaku.
“kemarin om Edwin datang ke rumah gue dia menanyakan tentang keberadaan lu.” Jelasnya.
“lalu Lu jawab apa?” tanyaku.
Semoga saja Lily tidak ember dan memberitahukan pada ayah kalau aku sekolah di sekolah yang sama dengannya, bisa bisa dia malah menyusul kemari.
Lebih parah lagi kalau dia menemui pihak sekolah dan menanyakan alamatku. Mana aku memberikan alamat asliku ke pihak sekolah lagi.
“gue bilang gue gak tau.” Jawabnya.
Syukurlah dia tidak memberitaunya
“Lily gue mohon sama lu kalau ayah gue nanyain keberadaan gue lagi, jangan lu kasih tau.” Ucapku.
“Oke. Tapi..., lu emang lagi ada masalah apa sih sama om Edwin sampai lu kabur segala?” tanyanya.
“gue gak kabur tapi minggat.” Candaku.
“suka suka lu aja.”
Aku terkekeh melihat ekspresinya. Wajahnya ketika sedang kesal seperti itu terlihat sangat imut walaupun masih lebih imut kalau dia tersenyum.
mungkin hal ini yang membuatku dulu suka padanya.
yah dulu...
“Ceritanya panjang, nanti gue ceritain.” Ucapku.
“yaudah kalau lu belum siap cerita, gue gak maksa.” Ucapnya sebal.
“bukan gitu tapi udah mau bell, kalau cerita sekarang mana sempat. Lebih baik kita segera pergi kalau tidak mau tertangkap OSIS.” Jelasku.
Kami kemidian pergi dari perpustakaan dengan buku yang kami pinjam. Sepertinya mulai hari ini aku harus menyiapkan mental untuk bertemu dengan mereka.
Mereka mungkin sudah curiga kalau aku tinggal di dekat sini. Aku yakin cepat atau lambat aku akan bertemu salah satu dari keluargaku.
Aku hanya berharap kalau pertemuan itu masih lama. jujur saja, aku belum siap bertemu mereka. Bertemu ayah saja aku hampir lepas kendali.
To Be Continue
yo. Syo disini, chapter kali ini rasanya agak garing yah. semoga dia chapter berikutnya bisa menjadi lebih baik lagi. oh ya untuk kalian yang penasaran dengan Tegar nih aku kasih ilustrasinya.
ilustrasinya dalam bentuk animasi. maaf kalo kurang bagus ini aku sendiri yang buat.
jika kalian merasa kurang puas kalian bayangin aja karakter berambut putih.
...Salam Akasia!...
__ADS_1