
Tegar Pov
Akhirnya aku bisa pulang juga. Sekolah baru saja selesai beberapa menit lalu, orang-orang tampak bahagia. Aneh sekali, apa yang mereka miliki di rumahnya sampai ingin sekali cepat pulang?
Mereka sepertinya memang tidak terlalu niat dalam belajar, di kelas tadi saja banyak siswa yang tidak memperhatikan guru yang mengajar.
Anak jaman sekarang. Sudah di beri kemudahan malah bermalas-malasan. Tunggu!! Bukannya aku juga sama, ya?
Sudahlah.
Aku berjalan menuju tempat parkir bersama dengan Kevin. Tidak sepertiku, Kevin pulang menggunakan mobilnya.
Umur kami sudah cukup untuk dapat menggunakan kendaraan bermotor, jadi kebanyakan siswa disini membawa kendaraan sendiri.
Yah beberapa dari mereka di antarkan oleh supir atau orang tuanya. Kevin tidak pulang sendiri, dia akan pulang bersama dengan pacarnya. Sial!! Aku iri tau.
Aku pulang menaiki sepedaku dengan wajah masam. Hari ini aku harus kerja di kafe lagi, begitu sampai di rumah nanti aku akan langsung istirahat.
Setelah bermain Bola tadi tubuhku jadi tidak nyaman. Aku benar-benar harus istirahat. Masih ada sekitar tiga jam sebelum kerja, jadi aku harus istirahat atau nanti pekerjaanku akan berantakan
Kalau gaji ku di potong bagaiana?
Sesampainya di rumah aku langsung mandi lalu mengganti pakaianku dan tidur di sofa. Aku sudah menyetel alarm di Ponsel ku agar aku bisa bangun 40 menit sebelum jam kerjaku dimulai.
Rasa kantuk mulai menghampiriku membuatku sulit untuk membuka mata dan akhirnya aku berteleportasi menuju alam mimpi.
***
Aku bangun dari tidurku kemudian pergi ke kamar madi dengan linglung, aku masih mengantuk. Semoga saja setelah cuci muka aku bisa sedikit lebih segar. Dan sepertinya itu berhasil, aku sedikit lebih segar sekarang.
Merenggangkan tubuhku yang kaku, aku kemudian pergi ke dapur untuk mendapatkan makanan. Setelah tidur tadi aku jadi kelaparan. Aku lelu mengambil se bungkus Mie Instan dan sebutir telur ayam.
Makan mie tanpa telur itu terasa sangat kurang. Setelah airnya mendidih aku lalu memasukan mie nya terlebih dahulu sebelum memaskukan telurnya.
Sambil menunggunya matang, aku membuka bumbunya dan memasukannya ke dalam mangkuk.
Setelah mie nya matang aku langsung memasukannya ke dalam mangkuk dan mengaduknya agar bumbumya tercampur rata.
Aku berjalan menuju sofa dengan semangkuk mie yang masih panas di tanganku lalu menarunya di meja depan sofa. Sudah meenjadi sebuah kebiasaan kalau aku sering makan sambil menonton Tv. Aku tau ini bukan kebiasan yang baik.
Tapi mau bagaimana lagi. Sudah menjadi kebiasaan, jadi sangat sulit untuk menghilangkan kebiasan ini. Aku mulai makan sambil menonton salah satu saluran di Tv. Jam-jam segini biasanya hanya ada sinetron jadi mau bagaimana lagi.
Sebenarnya aku tidak terlalu suka menonton sinetron. Kenapa? Karena kebanyakan sinetron menayangkan tentang perselingkuhan dan perceraian.
Memang sih ada manfaatnya, yaitu agar para suami atau istri tidak berselingkuh tapi kalau keseringan orang juga bisa bosan menontonnya.
Aku tidak punya hak sih untuk berkomentar, membuat sebuah Film yang bagus memang tak semudah merebus Mie Instan.
Sudahlah kenapa aku malah memikirkan hal itu.
Aku kemudian menaruh mangkok bekas mie tadi bersama dengan beberapa piring dan gelasnya. Renacananya aku akan membersihkan mereka nanti, itupun jika aku tidak kecapean ataupun kelupaan.
Aku kemudian memakai sandalku dan tidak lupa mengunci pintu rumahku. Memang sih barang di rumahku kebanyakan tidak berharga. Tapi aku masih punya Laptop dan beberapa alat elektronik lainya, aku tidak ingin barang-barang itu kemalingan.
Di dalam Laptop itu terdapat data-data penting seperti cerita Novel, bisa rugi banyak aku kalau sampai Laptop nya hilang. Ah itu mengingatkanku, besok aku harus pergi ke perusahan untuk mengantarkan naskah dari Novel ku.
Dari kemarin Editor ku terus terusan menggangguku. Aku sudah menyelsaikan pekerjaanku tapi dia sama sekali tidak percaya padaku.
Apa aku sebegitu tidak bisa di percayai?
Ketika memikirkan hal itu aku ternyata sudah sampai di depan kafe. Aku masuk ke dalam lewat pintu belakang.
"Yo, Tegar akhirnya lu sampai juga, cepet pake seragam kita kekurangan pegawai." ucap Koki.
"Kekurangan? Emang ada yang gak masuk Bang?"
Perasaan hari ini seharunya pegawai yang masuk cukup banyak untuk mengurusi pelanggan segini.
"Iyah, beberapa pegawai tidak masuk karena sakit dan ada yang punya urusan keluarga." jawab Koki.
"Oh gitu, gue ganti seragam dulu ya."
Aku langsung pergi ke ruang ganti dan mengganti pakaianku dengan seragam waiter berwana hitam dengan celemek coklat.
Aku kemudian mulai membantu pegawai yang lainnya membersihkan meja yang sudah tidak di tempati oleh pelanggan.
Ternyata benar, hari ini yang bekerja lebih kurang dari yang seharusnya. Sebenarnya pelanggannya tidak sebanyak akhir pekan, tapi cukup untuk membuat kami kerepotan.
__ADS_1
Jam kerja di kafe ini terbagi menjadi dua yaitu pagi dan malam hari. Kafe ini buka dari jam 09.00 sampai jam 21.30 ketika hari biasa.
Ketika akhir pekan kami buka lebih lama dari biasanya karena banyak muda-mudi yang berkencan datang ke kafe ini.
Kling
Sepertinya ada pelanggan yang datang lagi. Aku langsung menggambil Menu dan pergi menghampirinya.
"Selamat datang…ada yang bisa saya…, bantu."
Tubuhku mematung, buku Menu yang ada di tanganku terjatuh. Aku tersadar langsung mengambilnya kembali.
Ke-kenapa? Kenapa dia ada di sini?
"Tegar…, akhirnya aku menemukanmu nak!"
Ayahku! Kenapa dia bisa ada disini? Setelah sekian lama, kenapa dia menemuiku? Bagaimana dia tau aku ada disini?
"Aku ingin beres bicara denganmu nak."
"Maaf tuan, anda mau pesan apa? Jika anda tidak mau memesan apapun silahkan anda pergi darisini, anda menghalagi pengunjung."
Aku tau kalau nada bicaraku ini memang terdengar tidak sopan tapi aku tidak peduli…, aku sangat tidak ingin bertemu dengannya.
"Oke aku akan memesan tapi kita harus bicara setelah itu."
Jangan seenaknya memerintahku…, memang siapa yang ingin berbicara denganmu hah!!
Tanganku menggenggam buku Menu dengan lebih erat sampai tanganku agak memutih.
Sial, aku hampir saja kehilangan ketenanganku, kalau saja ini bukan di kafe aku mungkin tak akan bisa menahannya.
"Maaf saya tidak bisa berbicara dengan anda, saya harus melayani pelanggan lain."
"Ada apa ini.".
Aku langsung berbalik begitu mendengar suara tersebut.
M-Manajer!
"Aku ingin berbicara dengan Tegar anakku. Bisakah kau mengijinkannya"
Anakmu? Heh apa aku salah dengar, sejak kapan kau mengakuiku sebagai anakmu?
"Eh!? Dia adalah ayahmu?"
"Yah…, dia adalah ayahku."
Aku tidak ingin mengakuinya tapi itu tidak bisa di pungkiri kalau orang ini adalah ayahku.
"Oh, kalau begitu silahkan tapi tolong jangan buat keributan."
Manajer kemudian pergi meninggalkan kami disini. Serius. Aku sangat tidak ingin berbicara dengannya. Lagipula apa yang sebenarnya apa yang ingin dia bicarakan dengan? Tidak mungkin dia datang hanya untuk menyapaku saja.
"Duduk nak."
"Jangan panggil saya begitu, saya bukan anak anda!."
Aku kemudian duduk di hadapannya tanpa melihat ke arahnya. Aku tak ingin menatapnya!
"Kau anakku. Dan sampai kapanpun akan seperti itu."
Seringai terbentuk di bibirku.
"Hmph! Sejak kapan anda menganggap saya anakmu? Sudahlah! Apa yang ingin anda bicarakan, jelas anda tidak datang hanya untuk menyapa."
Kalau dia tidak menginginkan sesuatu dariku tidak mungkin dia mau mencariku sampai sejauh ini.
Mana mungkin dia mau mencari anak yang tidak bisa berbuat apapun, anak yang tidak bisa memenuhi keinginannya.
"Aku ingin kau pulang kerumah dan berhenti bekerja di tempat ini"
A-Apa!? Tidak mungkin! Sebenaranya apa yang dia rencanakan? Pasti ada alasan dia menginginkanku untuk pulang!
"Sebenarnya apa yang anda inginkan hah!? Anda tidak mungkin begitu saja memintaku pulang tanpa alasan!!"
"Yah memang benar, ayah ingin menjodohkanmu dengan anak sahabat ayah."
__ADS_1
Mataku melebar. Menjodohkanku? Setelah sekian lama kau tiba-tiba mendatangiku dan menjodohkanku!!! tanganku mengepal tanpa ku sadari.
"Kenapa!? Kenapa anda melakukan ini!? Kenapa anda tidak menjodohkan nya dengan Dio saja!!"
Aku tidak mau di jodohkan! Memangnya dia pikir ini jaman Siti Nurbaya apa!! Apalagi aku ini laki-laki, aku ingin mencari jodohku sendiri.
"Tadinya aku berfikir begitu tapi Olivia tidak menginginkan nya dia hanya ingin di jodohkan denganmu. Sedang ada masalah di perusahaan dan hanya mereka yang bisa membantu"
Olivia? Jadi dia yang di jodohkan denganku.
"Kau…, kau berniat menjualku pada mereka agar perusahanmu bisa bangkit hah!!"
"Aku ingin menjodohkan mu bukan menjualmu."
BRAK
"JANGAN BERCANDA!! ITU SAMA SAJA!! KAU INGIN MENJUALKU PADA MEREKA…, Kau…, setelah apa yang kau lakukan padaku selama ini, membuatku menjadi menjadi pionmu…, setelah sekian lama, kau tiba-tiba datang dan menyuruhku seenaknya…, JANGAN BERCANDA!!! AKU TAK MAU MELAKUKAN ITU!!"
Aku sudah tidak tahan lagi dengan semua ini. Aku langsing berlari keluar kafe mengabaikannya yang memanggilku
Aku pergi meninggalkan Kafe dengan sepedaku menyusuri jalanan. Air mataku mengalir tak terbendung hingga sedikit menghalangi pandanganku.
Kenapa? Kenapa? KENAPA?!!!
Kenapa semua ini harus terjadi padaku? Kenapa harus aku? Kenapa aku harus mengalami hal ini
"KENAPA!!!"
Hujan tiba-tiba turun, entah memang awan ikut bersedih melihat kejadianku atau memang hanya sebuah kebetulan.
Aku tidak punya waktu memikirkan hal itu, pikiranku kacau karena kejadian yang barusan terjadi.
"SIALAN!!"
aku menjatuhkan sepedaku di pinggiran jembatan. Aku berdiri dengan tanganku menyangga ke pinggiran pengaman jembatan.
"AARRRGGHHHHH!!!"
"SIALAN!! BAJINGAN!! GUE BENCI SAMA LUUU!!"
Aku tidak peduli orang yang melihatku akan mengganggapku gila atau apa, aku hanya ingin mengeluarkan rasa amarahku.
"Kenapa? Hiks…, kenapa aku harus mengalami hal ini Hiks…, aku hanya Hiks…, ingin bahagia saja Hiks…, apa itu begitu sulit untuk terjadi."
Tubuhku merosot, aku menyandarkan tubuhku di pengaman jembatan sambil memeluk lututku.
Aku menangis dalam derasnya hujan. Apa salahku hingga aku mengalami hal seperti ini.
Kenapa? Kenapa dia harus datang ke kehidupanku lagi. Aku sudah mulai nyaman dengan kehidupanku ini.
"AARRRGGGGHHH!!"
Setelah sekian lama dia tidak memperdulikanku, setelah apa yang dia lakukan padaku. Dia tiba-tiba muncul dan menghancurkan hidupku.
Aku membencinya!! Aku sangat membencinta!! Kenapa dia harus datang ke kehidupanku.
Dia tidak pernah menganggapku, apapun yang ku lakukan selalu kurang di matanya. Dia selalu saja membanggakan kakakku, prestasi apapun yang ku capai tidak ada harganya di matanya.
Tidak seperti kakakku yang selalu di puji oleh mereka di bangga-banggakan. Aku juga anaknya, kenapa aku seperti orang asing di mata mereka.
Kenapa tubuhku tidak kebasahan? Padahal hujan masih belum surut.
Aku mendongkakkan kepalaku. Seseorang berada di hadapanku dengan payung di tangannya. Pantas tidak terkena hujan!.
"Lu…? ngapain lu kesini?!"
To Be Continue
Yo Tegar disni. hus selesai juga nih, di bagian ini gue nulis sampe kesel sendiri haha.
yah semoga kalian suka ceritanya.
jangan lupa Untuk Vote serta Like dan tekan favorit.
jika ada Kritik dan Saran langsung aja tulis di kolom komentar atau langsung beritau gue. jaa
...Salam Akasia!...
__ADS_1