Smile In The Void

Smile In The Void
Chapter 29 [apa Pak tua ini ingin menculikku?]


__ADS_3

Tegar Pov


 


 


Sepulang sekolah Aku langsung membawa Elena pergi ke belakang sekokah, Awalnya Elena memang menolaknya tapi aku memaksanya dengan menggendongnya pergi.


Jika aku terus menunda-nunda masalah ini lebih lama lagi nanti malah terjadi hal yang merepotkan lagi.


Contohnya sudah banyak terjadi di Sinetron dan Novel.


“Lu mau ngapain sih bawa gue kesini?”


Suara Elena membuatku tersadar dari lamunanku. Nada bicaranya masih ketus, aku tahu dia masih marah padaku.


Aku melihat ke arahnya dan berkata. “Elena, kenapa sih lu terus menghindar dari gue? Lu marah sama gue?”


“Apaan sih lu, siapa juga yang marah sama lu?” balasnya sinis.


“Kalau lu gak marah sama gue, lalu kenapa lu terus menghindar dari gue?” tanyaku.


“gue udah bilang kalau gue sibuk. Udah ah gue pulang.” Ucapnya.


Elena berbalik dan pergi. Sepertinya aku memang harus mengatakan itu padanya, mungkin benar dia cemburu.


“Apa ini karena lu lihat gue jalan bareng cewek kemarin?” tanyaku.


Mendengar ucapanku barusan membuat Elena menghentikan langkahnya, aku bisa melihat kalau bahunya bergetar.


Sekarang aku sudah yakin kalau dia marah padaku karena alasan itu, aish ternyata dia salah paham.


“ngapain gue marah sama lu. Toh itu juga bukan urusan gue.” Balasnya.


“Lu emang gak marah, lalu kenapa lu memghindar terus dari geu?” Ucapku.


“Gue gak marah sama lu. Gue juga gak menghindar, itu perasaan lu aja kali.” Balasnya sambil berbalik ke arahku.


Aku semakin yakin kalau dia cemburu melihatku jalan dengan Lia. Bukan nya aku narsis atau gimana tapi aku tau kalau dia memang cemburu.


 “Elena, gue gak punya hubungan apapun sama dia, dia itu Cuma teman sekaligus bos gue. Gue Cuma diminta temenin belanja doang, dia juga mau meminta gue buat lacak seseorang. lagian gue Cuma anggap dia sahabat doang gak lebih.” Ucapku.


Aku sudah menjelaskan padanya tentang kesalahpahaman ini, aku memang tidak ada perasaan sama sekali pada Lia.


Lagi pula aku hanya menganggapnya sebagai sahabat tidak lebih dan lagi aku sudah jatuh cinta pada seseorang.


“Jadi, lu sama cewek itu gak pacaran?” tanyanya.


“enggak mungkin, lagian pekerjaannya membuatnya tak boleh untuk menjalin hubungan.” Ucapku.


Seringai muncul di wajahku, aku kemudian berbicara padanya dengan nada menggoda. “Hmm? Jangan bilang lu cemburu ya?”


“Hah?! Cemburu? Jangan ngimpi!! Gak mungkin gue cemburu pada playboy sepertimu!!” Elena menyangkal ucapanku, rona merah bisa terlihat di wajahnya.


Melihatnya seperti itu membuatku tersenyum “lu gak perlu cemburu, lagi pula gue Cuma cinta sama lu.”


Elena tiba-tiba mematung, dia melihatku dengan tatapan tidak percaya dan aku bisa melihat rona merah yang muncul di kulit putihnya.


“Fffttt-Haha lihat wajahmu sudah merah tuh.” Ucapku sambil menahan tawa.


Wajahnya semakin memerah, dia menatapku dengan tatapan marah dan memukulku dengan ranting yang dia dapat entah darimana.


“Aduh! Aduh! Sakit! Elena.. Akh sakit... Ampun!!”


“Nyebelin!! Nebelin!! Tegar sialan! Lu suka banget ya godain gue!!” teriaknya.


“Hmph! Dasar cowok nyebelin!!” ucapnya, dia akhirnya berhenti memukilku.


“maaf-maaf aku hanya bercanda, melihat wajahmu yang imut membuatku tak tahan untuk menggodamu.” ucapku.


Sebenarnya aku serius ketika aku mengatakan kalau aku cinta padanya, sayang sekali aku tidak punya keberanian untuk mengatakan nya.

__ADS_1


“Jadi, kita baikan nih?” aku tak melupakan niat awalku menemuinya, niatku membawanya kesini agar kami bisa berbaikan.


“Hm? Emang sejak kapan kita berantem?” tanyanya.


Kami berdua kemudian tertawa bersama. Senyumnya itu... tawa itu... aku ingin melindunginya... aku ingin bisa tetap melihat senyumnya.


** **


 


Setelah menyelesaikan semua masalah dengan Elena, hubungan kami kembali seperti semula, dia tak menghindar dariku lagi.


Kehidupanku kembali seperti semula, semua berjalan seperti biasanya, aku juga tidak lupa terus mengecek akun dari Penguntit itu.


Akun orang itu ternyata memiliki perlindungan, pada awalnya aku agak sulit untuk membobol akun tersebut.


Tapi aku pada akhirnya aku berhasil melakukannya tanpa meninggalkan jejak, lagian orang itu masih pemula dalam pemrograman.


Aku berhasil menemukan identitas dari penguntit yang mengancam Lia, aku juga menemukan beberapa bukti yang bisa memberatkan nya nanti.


Tapi itu untuk nanti saja, sekarang aku harus pulang dan menyelesaikan pembuatan Novelku yang lain.


Novelku yang sebelumnya akan segera di terbitkan dan mereka tetap membuat karakter utamanya berambut putih.


Heh, mereka akhirnya mengalah juga.


Tapi walaupun begitu, di novel selanjutnya aku di minta membuat karakter utamanya sedikit berbeda dari yang lain.


Aku tersadar dari lamunanku ketika aku melihat beberapa orang berbaju hitam menghalangi jalanku.


'Pak tua ini ingun menculikku?'


Ah! tidak! bukan!


Mereka pasti orang suruhan ayahku. Sialan, Tidak bisakah kau memberiku istirahat? Aku lelah kau tau.


“sigh! Bisakah kalian minggir? Kalian menghalangi jalan.” Ucapku dengan nada lelah.


Mungkin dia adalah pemimpinnya? Oke, kita panggil saja orang ini Pak Tua.


“Aku tidak mau, sudah kubilang aku tak mau ikut jika dia tidak membatalkan pertunangannya.” Balasku.


Memangnya ini jaman Siti Nurbaya apa? Orang tua itu seenaknya saja menjodohkanku.


“Tuan muda tolong jangan menolak atau kami mungkin akan melakukannya dengan cara yang kasar.” Ucap Pak Tua.


Oh? Sekarang mereka mengancamku, ayo kita layani mereka. Kebetulan sekali aku perlu seseorang untuk pelampiasan kekesalanku.


“Heh! Sayang sekali jawabanku tetap sama.” Ucapku sinis.


“begitu, sepertinya kami terpaksa harus memaksamu.” Balas Pak Tua.


Orang-orang yang berada di belakangnya mulai bergerak ke arahku. Sebenarnya aku kurang yakin bisa menang melawan mereka.


 


Normal Pov


 


 


Mereka mencoba menangkapnya, tapi Tegar terlebih dulu menahan tangannya dan memberikan tendangan Lokomotif padanya.


Dia memutar tubuhnya dan memberikan pukulan pada orang yang di belakangnya hingga membuatnya meringis kesakitan.


Salah satunya mencoba memukulnya tapi sekali lagi serangan itu di hindari olehnya dengan mudah.


Tegar menggerakkan tubuhnya seminimal mungkin, dia mungkin akan kehabisan tenaga kalau dia menyerang secara brutal.


Orang-orang yang di kirim oleh ayahnya juga sudah terlatih, jadi cukup sulit untuk melawannya. Apa lagi kalau mereka melawan bersamaan.

__ADS_1


Beruntung baginya, karena orang-orang itu hanya ingin menangkapnya. Mereka tidak mengeluarkan semua kekuatannya.


Dia mungkin sudah babak belur jika mereka serius.


Nafas Tegar sudah mulai terengah-engah, dia masih harus melawan mereka dan lagi masih ada Pak Tua itu di sana.


Sedari awal Pak Tua itu hanya diam dan memperhatikan saja, dia membiarkan para bahannya yang melakukan tugasnya.


‘Sial, kalau terus seperti ini guu pasti akan tertangkap.’ Batinya.


Sejak tadi dia terus mencari cara agar bisa meloloskan diri dari mereka, tapi ternyata itu sangat sulit untuk di lakukan.


‘Bodo amat lah, lebih baik gue kabur aja.’ Batinya.


Kadang ada saatnya untuk melarikan diri, bukan karena dia pengecut tapi lebih baik mundur daripada babak belur.


Taktik seperti ini sering di lakukan dalam perang. Mereka mengalah untuk menang!


Tegar menjauhkan mereka darinya, dia sudah tak memiliki keinginan untuk melawan mereka lagi.


Dengan tergesa gesa dia mengambil sepedanya dan pergi memasuki sebuah gang, orang-orang itu juga ikut mengejarnya.


Aksi kejar-kejaran pun terjadi, kadang kala Tegar menendang tong sampah atau kardus agar bisa memperlambat orang orang di belakangnya.


Tegar pergi berputar-putar menjauh dari arah rumahnya, dia tak mau kalau orang itu tau tempatnya tinggal.


Setelah aksi kejar-kejaran yang cukup menegangkan, orang-orang itu berhenti mengejarnya.


Tegar turun dari sepedanya dan dudu menyender ke tembok, nafasnya terengah engah, adrenalin yang sempat meningkat kini berangsur-angsur mereda.


“Akhirnya... Haah...Gue... Haah...Selamat.” ucap Tegar.


 


TIN TIN


 


“HUAHH!! Aduh!! Kampret pala gue!!” Teriak Tegar kaget.


Suara klakson tersebut mengagetkannya hingga membuatnya terbentok ke dinding yang berada di belakangnya.


Dia menoleh ke arah mobil tersebut ingin memprotes, tapi ketika melihat mobil tersebut membuatnya mengurungkan niatnya.


Itu mobil milik kakaknya.


Dina keluar dari mobil sambil tertawa. “hehe kamu lagi duduk disana?”


“ih Kakak! Mengagetkanku saja. Aku baru di kejar pak tua gila.” Balas Tegar.


“Maaf-maaf. Tapi, pak tua mana yang kau bicarakan?” tanya Dina.


“Pak Tua yang di suruh ayah buat menangkapku.” Tegar berdiri menepuk debu yang ada di pakaiannya.


“Aish dasar Ayah! Dia masih saja kekeh ingin menjodohkanmu.” Ucap Dina lelah.


“haah! Kakak kayak gak watak ayah aja, dari jaman Jurassic udah gitu.” Balas Tegar.


“Yah benar, lebih baik kita pulang, aku akan mengantarmu.” Ucap Dina.


Tegar mengangguk, dia kemudian memasukkan sepedanya ke dalam mobil. Mereka pergi ke rumah Tegar lewat jalan memutar.


Dia tak mau bertemu dengan pak tua tadi, dia yakin kalau dia melawan pak tua itu pasti dia akan kalah.


Setelah ini Tegar mungkin harus lebih berhati-hati lagi ketika ingin pulang, atau lokasinya akan segera di temukan.


To Be Continue.


A/N: aku minta maaf karena update nya lama, ada pekerjaan yang harus ku selesaikan hingga membuat waktuku menulis jadi berkurang. aku akan mencoba sebaik mungkin agar bisa sering Update.


...Salam Akasia!!...

__ADS_1


__ADS_2