
Rumah Kevin.
“Hei Kev, apa gak sebaiknya kita ajak Tegar kemari. Dengan begiku akan pas ‘kan.” Yuda berbicara sambil rebahan di ranjang Kevin.
Dia dengan iri menatap kevin dan Sam yang sedang bermain PS, dia ingin bermain tapi sayang sekali dia harus menunggu gilirannya.
“gue juga udah ajak dia tadi, tapi dia sedang ada kerjaan.” Balas Kevin tanpa menoleh.
“Kalian kayak gak tau dia aja. Tegar itu orang yang sibuk gak kayak kita.” Ucap Sam.
Mereka bertiga sekarang berada di kamar Kevin. Mereka di ajak oleh kevin untuk bermain PS di rumahnya.
Mereka memang sering berkumpul di rumah Kevin untuk bermain, tapi alasan utamanya karena di rumah Kevin mereka sering di suguhi cemilan.
“entah kenapa cara lu ngomong itu terasa ngehina kita bertiga yang gak ada kerjaan.” Ucap Yuda datar.
yang di katakannya memang benar tapi entah kenapa Yuda maaih merasa terhina mendengar ucapannya itu.
“”Oh ya, Tadi pagi Tegar kenapa bisa ada di rumah sakit? Emang Si Devin sakit apa?” tanya Sam.
Dia masih penasaran tentang itu, apalagi Tegar ke rumah sakit dengan Devin membuatnya semakin penasaran, secara Devin sangat benci pada Tegar.
Tapi walaupun Devin selalu menjahilinya, Tegar tetap mau membantunya membuat Sam menaruh rasa hormat padanya.
Jika itu orang lain mereka mungkin akan enggan membantu orang seperti itu.
“tadi dia udah bilang sama gue. Katanya Devin kecelakan karena rem mobilnya blong, dia sampai nabrak pohon, nah waktu itu Tegar kebetulan ada di sana jadi dia yang nolongin Devin.” Jelas Kevin.
Mereka mengangguk menanggapinya. Mungkin itu karma untuk Devin karena sangat suka Membully orang.
“Rasain dah, dia gak tau apa kalau Karma itu nyata.” Ucap Yuda sinis.
Kevin yang mendengarnya langsung menegurnya. “Eh lu gak boleh ngomong gitu tau.”
“iya iya deh, gue Cuma becanda kali.” Ucap Yuda dengan cemberut.
** **
“Apa-apaan dia itu, seenaknya saja mau mengubah tokoh miliku.”
Sepanjang lorong menuju lift Tegar terus mengerutu, Lia yang berada di sampinya hanya bisa tersenyum masam mendengarkannya.
“Sudahlah Tegar, kamu gak usah marah lagipula Cuma warna rambut.” Ucap Lia mencoba menenangkannya.
Tapi Tegar yang mendengarnya bukan menjadi tenang malah menjadi semakin kesal. Walaupun hanya diubah warna rambut tapi itu sangat berpengaruh baginya.
Sedikit perubahan tersebut dapat mengubah alur dari cerita yang di buat olehnya. Sebenarnya dia tidak masalah jika ini di bicarakan dulu. Tapi mereka ingin mengubahnya ketika Novel nya akan segera di cetak, tentu saja dia menjadi marah.
“walaupun hanya rambut tapi pengaruhnya cukup besar kak.” Balas Tegar.
Sesampainya di ruangan kerja mereka langsung mendudukan tubuh mereka di Sofa sambil merelakskan tubuhnya.
“Rambut putih itu merupakan ciri khas dari tokoh utamanya.” Ucap Tegar menjelaskan.
“baiklah tenang, nanti aku akan mencoba mencari cara agar tokoh utamanya tidak dirubah.” Ucap Lia.
Sebenarnya dia juga kesal pada mereka karena berbuat seenaknya tapi dia harus tetap tenang karena kalau dia ikut marah nanti malah lebih repot.
Sebagai serang yang lebih tua dan juga merupakan Editornya, dia harus memberikan contoh yang baik pada Tegar.
“haah~ maaf karena aku marah-marah.” Ucap Tegar merasa bersalah.
Dia terbawa emosi hingga tidak bisa mengendalikan dirinya, dia bahkan marah kepada Lia membuatnya merasa tidak enak.
“yah tidak apa, aku mengerti. Tapi, Tegar kamu harus bisa mengendalikan emosimu itu jangan sampai seperti tadi.” Balas Lia sambil menasihatinya.
Tegar mengangguk menanggapinya, yah sepertinya dia harus pergi ke psikiater untuk berkonsultasi.
*** **
Keesokan harinya.
__ADS_1
Hari ini Tegar bisa masuk ke Sekolah dengan selamat tanpa ada hambatan, dia tidak ingin absen lagi seperti kemarin.
Kalau dia terlalu sering absen takutnya nilainya akan terancam, kalau sampai itu terjadi dia harus mengulang setahun lagi.
Memang dia tidak punya masalah dengan itu, lagipula dia sudah bekerja tapi dia merasa membuang uang saja jika sampai tidak lulus.
“Woi Tegar, akhirnya lu masuk juga, lu tau gak gue udah kangen sama lu tau.” Ucap Kevin sambil merangkulnya.
Tegar langsung melepas rangkulannya dan berkata.
“menjijikan, gue gak mengayun ke arah sana sepertimu.”
“oi oi apaan itu, siapa juga yang mengayun ke sana, gue masih normal.” Balas Kevin memelototi Tegar.
Dia sudah punya pacar yang cantik jadi mana mungkin dia mengayun ke arah sana seperti yang di katakannya.
“Ya ya percaya deh.” Ucap Tegar.
Mereka berdua berjalan bersama melewati kotidor sekolah yang di penuhi para sisa yang berlalu lalang.
“Oh ya Kev, hubungan lu sama Nita gimana? Gue liat lu sekarang jarang bareng dia?” tanya Tegar.
Kevin menghela nafas kemudian menjawab. “yah hubungan kami baik-baik saja, Cuma sekarang ini Nita lagi sibuk bantuin orang tuanya.”
“oh gitu, gue kira lu udah putus sama dia.” Ucap Tegar dengan polos.
“SEMBARANGAN!! Jangan asal ngomong lu.” Teriak Kevin.
“fftt maaf, gue Cuma bercanda.” Ucap Tegar.
“bercanda lu gak lucu tau gak.”
Mereka berdua mengobrol sepanjang perjalanan ke kelasnya. Sesampainya di kelas mereka langsung duduk dan menaruh tasnya.
Kelas masih agak sepi, bukan karena siswanya belum datang tapi mereka semua kebanyakan masih berada di luar.
Tegar mengalihkan pandangannya ke arah depan, matanya secara kebetulan bertatapan dengan Elena.
Pandangannya beralih ke jendela, Tegar mencoba mengalihkan perhatiannya kepada pemandangan langit.
Salah satu hal yang paling di sukainya setelah tidur di atap adalah menatap langit. Pikirannya menjadi tenang ketika menatap langit.
Pelajaran pun dimulai, tapi Tegar tidak bisa untuk fokus karena di pikirannya selalu ada yang membuatnya tak bisa fokus.
Setelah jam pelajaran ketiga selesai waktunya pelajaran Olahraga di mulai, sekarang mereka akan melakukan praktek lari jarak jauh.
Mereka mengganti seragam mereka terlebih dulu dengan pakaian olahraga, mereka berkumpul di lapangan.
Sebelum melakukan praktik mereka terlebih dahulu melakukan serangkaian pemanasan agar tidak cedera ketika berolahraga nanti.
Olahraga kali ini dimulai dari para Siswi terlebih dulu. Para Siswa terlihat bersemangat mengamatinya.
Entah mereka bersemangat karena hal apa.
“Hebat, mereka larinya lumayan juga ya.” Ucap Tegar.
“iyah, memang hebat.” Balas Kevin.
Duak
Tegar memukul pundak Kevin dengan keras membuat Kevin berteriak kesakitan. Bukan tanpa alasan dia melakukan hal tersebut.
Dia melakukannya karena Kevin selalu menatap ke dada para Siswi.
“Oi Kampret! Ngapain lu mukul gue?” Teriak Kevin kesakitan.
“Lu juga ngapain lu dada mereka, dasar Mesum. Gue kasih tau Nita mati lu.” Balas Tegar mengancam.
“Biasa aja kali gak usah ngancam-ngancam gitu. Gue kan laki-laki jadi ini normal kalau gue suka lihat ‘itu’.” Ucapnya disertai seringai.
__ADS_1
“yah serah lu deh, kalau lu di tangkap FBI jangan salahin gue.” Ucap Tegar.
“Emangnya lu pikir gue pedofil apa!!?” Bentak Kevin.
Kevin melotot ke arah Tegar, dia merasa terhina dengan ucapannya. Yang di pelototi malah cengegesan.
BRUKKK
“Aarhhh.”
Mereka berhenti bercanda dan mengalihkan tatapan mereka ke lapangan, mereka melihat seorang Siswi yang terjatuh.
“””Elena.”””
Dengan tergesa-gesa mereka berlari ke arahnya. Elena yang terjatuh meringis kesakitan sambil memegangi kakinya.
“lu gak apa-apa, Elena?” tanya Anna kawatir.
“iyah gue gak apa-apa, Cuma keseleo doang.” Ucap Elena sambil tersenyum menahan sakit.
“lu kenapa Elena?” tanya Kevin.
“lu kenapa bisa jatuh kayak gini?” tanya Tegar.
“Dia keseleo kayaknya tadi ada yang nyenggol dia deh.” Ucap Anna.
Dia tadi berlari tepat di belakang Elena jadi dia tau penyebab Elena bisa sampai jatuh, tapi dia tidak tau siapa yang melakukannya.
“Lebih baik lu ke UKS aja, gak usah di lanjutin.” Ucap Tegar.
Elena menggangguk. Kakinya cukup sakit dan kalau dia memaksakan untukmelajutkan dia yakin sakit di kakinya akan parah.
“ini kenapa kalian malah duduk-duduk disini? Ini juga cowoknya ngapain disini?” tanya pak Erwin.
“ini pak Elena tadi jatuh Kakinya keseleo.” Jawab Anna.
“kamu masih bisa jalan, Elena?” tanya pak Erwin.
Elena mengangguk, dia mencoba berdiri dengan bantuan Anna tapi sepertinya kakinya masih sakit membuatnya meringis.
“udah udah gak usah di paksakan, lebih baik kamu ke UKS aja biar di obatin. Tegar kamu bawa Elena ke UKS.” Ucap pak Erwin.
“lah kok saya pak.” Ucap Tegar protes.
“udah kamu jangan protes lakukan aja.” Ucap pak Erwin.
Tegar menghela nafas, kemudian tanpa permisi dia langsung menggendong Elena ala tuan putri membuat Elena terkejut.
“wa-wah Tegar lu ngapain?! Turunin gue! Gue bisa jalan sendiri.” Teriak Elena protes.
Sepertinya dia malu karena Tegar menggendongnya di tambah banyak orang yang melihat ke arah mereka.
“udah lu diam aja. Berdiri aja udah kayak kambing baru lahir, sok sokan mau jalan sendiri.” sindir Tegar.
Elena mengangguk patuh. Tegar kemudian berjalan menuju ke UKS sambil mencoba untuk mengabaikan teman nya yang menyorakinya.
Sebenarnya dia juga agak malu melakukan ini tapi mau bagaimana lagi. Elena yang merasa malu menyembunyikan wajahnya di dada Tegar.
Untung saja murid-murid dari kelas lain sedang ada pelajaran, kalau tidak mungkin dia akan mati karena malu.
“Tegar lu turunin gue aja, lu paati capek gendong gue.” Ucap Elena.
“gue gak capek kok. Lagian lu gak berat.” Balas Tegar.
Mendengar ucapan Tegar entah kenapa membuat Elena senang. Sebagai seorang wanita di tentu memperhatikan tubuhnya.
__ADS_1
Dan ketika Tegar menyebutnya tidak berat membuat Elena senang. Tanpa dia sadari bibirnya sudah membentuk senyuman.