
“Tegar~ Tegar~ bukannya ngerjain tugas, lu malah asik main game.” Elena menggelengkan kepalanya melihat kelakuan cowok berambut putih ini.
“gimana gue ngerjainnya coba, temen gue di suruh ngambil buku aja belum balik.” Balas Tegar malas.
Entah pergi ke mana ketiga temannya itu, katanya ingin mengambil buku di perpustakaan tapi sampai sekarang masih belum kembali juga. Kayaknya mereka ngambil bukunya di perpustakaan kota ya?
Elena memutar matanya malas dan berkata. “paling mereka lagi mesra-mesraan sama pacarnya.”
“iya kali, gini nih nasib jadi jomblo, selalu sendiri tak ada yang menemani.” Tegar meletakan ponselnya, dia tak ada keinginan lagi untuk memainkannya.
Di depannya sekarang ada gadis cantik yang sedang mengobrol dengannya jadi, akan sangat rugi jika dirinya mengabaikannya dan memilih memainkan ponselnya. Hah itu sangat tidak Manly.
“lu pikir gue apa, hantu? Gue ini lagi nemenin lu Usro.” Ucap Elena kesal.
Apa Tegar tidak menganggapnya manusia? Dia di sini menemaninya dan malah tidak di anggap, sungguh miris sekali.
Tegar terkekeh lalu membalas. “eh Maemunah, lu biasa aja gak usah ngegas. Gue bercanda, gue tau kok lu selalu ada nemenin gue yang Jomblo ini.”
Elena memalingkan wajahnya, sepertinya gadis ini ngambek lagi padanya. Tegar mengangkat tangannya dan mengacak-acak rambut Elena membuatnya panik.
“ah! Tegar! Lu ngapain ngacak-acak rambut gue, uuh kan berantakan jadinya.” Ucap Elena sambil cemberut.
Sementara itu Tegar hanya dia sambil tersenyum melihat Elena yang terus mengumpat padanya hanya karena masalah rambut. Yah wanita memang makhluk yang sulit di mengerti.
Tapi walau begitu Tegar tetap menyukainya, hal yang sulit di mengerti kadang menjadi lebih menarik. Karena terus di tatap oleh Tegar membuat Elena tidak nyaman.
“ngapain lu natap gue kayak gitu? Ada yang aneh sama wajah gue?” tanya Elena menatap tajam ke arahnya.
“Tidak, hanya saja aku bingung.” Balas Tegar.
“bingung kenapa?” tanya Elena.
Tegar menatap Elena dan membalas. “Gue bingung, kenapa makin hari lu makin cantik aja. Lu sengaja ya, biar gue suka sama lu?”
“jangan kegeeran lu, gue cantik itu dari lahir tau.” Ucap Elena ketus.
Tapi walaupun begitu rona merah di wajahnya tak bisa di tutupi. Mendengar ucapan Tegar barusan membuat Elena bahagia, rasanya seperti banyak kupu-kupu berterangan di perutnya.
Ngeri tapi dia menyukainya.
** **
Sementara itu di balik pintu menuju atap ada lima orang yang sedang mengintip kedua sejoli yang sedang duduk berduaan tersebut.
Mereka adalah Kevin dan yang lainnya di tambah teman Elena. Mereka sengaja diam di sana karena tidak ingin merusak ‘momen’ kedua orang itu. Sepertinya mereka ingin menjodohkannya.
Sam menatap mereka dan bertanya. “hei, kenapa sih kita malah diam disini? Pegel tau.”
“Lu gak peka banget jadi orang, udah lu diam aja jangan banyak omong.” Ucap Kevin kesal.
Kalau saja dia bukan temannya mungkin sudah ia tampol sejak dulu, Sam walaupun pintar tapi kadang ada saatnya di mana dia terlihat seperti orang bodoh membuat mereka kesal.
Melihat mereka cekcok membuat Nana kesal. “Kalian bisa diam gak sih? Kalau mereka denger bagaimana?”
Kevin dan Sam langsung diam sambil menutup mulutnya, mereka lebih baik melawan gerombolan preman daripada di marahi oleh perempuan. Bisa hilang harga dirinya kalau mereka di marahi oleh perempuan.
“Sudahlah, lebih baik kita pergi sebelum ketahuan. Kita biarin mereka berduaan dulu.” Ucap Nita.
Berdiri di tangga terlalu lama membuatnya pegal, sepertinya setelah ini dia harus pergi ke tukang urut untuk memijat kakinya.
“Eh! Tunggu dulu, ini tugas gue gimana? Kalo gak beres sekarang tu si botak bisa ngamuk-ngamuk tuh.” Kevin menggidik ngeri minggat betapa galaknya gurunya yang satu itu.
“Lu gak boleh gitu, walau botak dia juga guru lu tahu.” Ucap Yuda mengingatkan.
ini orang mulutnya memang tidak bisa di saring dulu apa, kalau ngomong suka asal. Bagaimana kalau ada yang dengar? Bisa gawat kalau gurunya tau mereka mengatainya botak.
__ADS_1
Kevin menghela nafas sebelum membalas. “iya gue tahu, lu biasa aja kali. Masalahnya tugas kita gimana?”
“Tenang aja, masalah tugas biar kita bantu lu mengerjakannya.” Ucap Nita.
“Benaran Nit? Thanks udah mau bantuin, makin sayang deh gue.” Ucap Yuda.
Hal tersebut tentu saja membuat Kevin kesal dan langsung memukul kepala Yuda dengan buku yang di pegangnya. Seenaknya saja dia berkata seperti itu pada pacarnya.
“Kampret lu, jangan seenaknya ya lu! Dia pacar gue!” ucap Kevin kesal.
“ya maaf, gue Cuma bercanda, lu gak usah terlalu serius gitu.” Ucap Yuda sambil memegangi kepalanya.
“udahlah, yok cabut. Pegal gue lama-lama di sini.” Ucap Kevin.
Mereka mengangguk setuju kemudian pergi dari sana menuju kantin meninggalkan Tegar dan Elena yang masih mengobrol berdua.
** **
“Thanks ya Elena, lu udah bantuin gue. Kalau gak ada lu mungkin ini gak akan selesai.” Ucap Tegar.
“Sama-sama.”
Tegar beruntung Elena mau membantunya mengerjakan PR nya ini, jika dia tidak membantunya mungkin setelah ini Tegar harus menyiapkan mentalnya untuk mendengar omelan dari sang guru tercinta.
Dia masih agak kesal karena teman-temannya sampai sekarang masih belum datang juga, tapi dia juga bersyukur karena mereka juga dia bisa berduaan dengan Elena.
“oh ya, Lu setelah pulang sekolah ada acara gak?” tanya Tegar.
Elena menyentuh dagunya dengan telunjuknya lalu membalas. “Enggak tuh, memang kenapa?”
“Bagus, setelah pulang sekolah lu ikut gue.” Ucap Tegar.
“Ke mana?” tanya Elena.
“E-enggak usah, lu gak perlu repot.” Ucap Elena. Rona merah terlihat di wajahnya.
Tegar mengacungkan jarinya dan berkata. “Gue gak terima penolakan.”
Elena memalingkan wajahnya lalu membalas. “Oke gue ikut, ini karena lu yang memaksa.”
Mendengar ucapannya membuat Tegar senang, tanpa sadar sebuah senyuman terbentuk di bibirnya. Dia berterima kasih pada tuhan karena mempertemukannya dengan Elena.
Hidupnya agak lebih berwarna setelah bertemu Elena. Yah walaupun hidupnya memang menyenangkan tapi kalau dia tidak bertemu Elena mungkin hidupnya masih terasa kurang berarti.
Bell sekolah kembali berbunyi menandakan waktu istirahat atau sering di sebut waktu kebebasan oleh para murid telah berakhir. Tegar mendecih kesal, dia masih ingin lebih lama lagi bersama Elena.
“Bell udah bunyi tuh, kita ke kelas yuk?” ajak Elena.
Tegar mengangguk kemudian berdiri dan membereskan bukunya sebelum pergi ke kelas bersama Elena, yah setidaknya dia masih memiliki kesempatan untuk berduaan dengan Elena nanti.
Kelas di mulai.
Tegar menatap malas ke arah guru sejarah yang sedang menjelaskan kisah sejarah tentang kerajaan-kerajaan yang pernah berdiri di nusantara.
Demi apa pun, rasa kantuk sudah menyerangnya sejak tadi menyuruhnya untuk tidur, guru di depan menjelaskan dengan semangat berbanding terbalik dengan para murid yang terlihat lesu.
Menghela nafas lelah, Tegar menopang dagunya dan melihat ke luar jendela, mungkin saja melihat pemandangan di luar akan menghilangkan rasa kantuknya. Lebih baik lagi kalau ada gadis cantik yang lewat.
“Haah, berapa lama lagi pelajaran ini berakhir.” Gumam Tegar.
“Cuma lima belas menit lagi, sabar aja.” Balas Kevin.
Tegar menatapnya malas dan berkata. “Gue gak nanya sama lu.”
Tegar mengabaikan Kevin yang mengumpat dan memilih untuk melihat ke depan memandang Elena yang kini tengah serius mendengar penjelasan dari sang guru.
__ADS_1
Jujur saja, Dirinya sangat penasaran dengan motivasi Elena untuk belajar, gadis itu sangat rajin dalam hal pelajaran. Walaupun pelajaran tersebut agak membosankan dia masih akan mendengarkan dengan serius.
Sebenarnya apa yang ingin dia capai?
Pertanyaan itu sering melintas di kepalanya, kalau saja dirinya memiliki motivasi yang kuat seperti yang dimiliki Elena mungkin saja dia akan berusaha sangat keras, tidak seperti sekarang.
Motivasi yang di milikinya terbilang agak kecil, jadi dia agak kurang bersemangat dalam menjalani hidup. Sepertinya setelah ini dia harus mencari motivasi lain yang bisa membuatnya semangat untuk belajar.
** **
“Akhirnya bebas!!”
Setelah sang guru pergi Kevin langsung berteriak girang membuat semua orang menatap aneh ke arahnya. Dia sudah seperti Napi yang baru keluar penjara saja.
“lebay amat lu, kita pulang sekolah bukan keluar dari Lapas.” Ucap Tegar.
“Yee biarin aja. Yang teriak gue! Mulut-mulut gue! Kenapa lu yang repot?!” balas Kevin.
Tegar menatapnya kesal dan berkata. “Itu mulut emang punya lu, tapi ngeganggu pendengaran gue tau.”
“Kalo gitu gak usah di dengar, gitu aja repot.” Balas Kevin.
“lu aja yang diem kampret.” Tegar mendengus lalu berjalan menghampiri Elena.
Tegar tersenyum lembut dan bertanya. “Elena, lu jadi kan pulang bareng gue?”
“Jadi lah, tapi gue harus ke ruang Osis dulu bentar, lu tunggu aja gue di parkiran.” Ucap Elena.
“Gimana kalau gue ikut lu aja.”
“gak usah, kalau lu ikut nanti malah repot.”
“ya udah, gue tunggu di parkiran, awas lu kalau lama nanti gue tingalin.”
Setelah ‘ancaman’ kecil tersebut, Tegar kemudian pergi dari kelasnya menuju parkiran. Langkahnya terasa ringan, sepertinya ini adalah hari keberuntungannya karena bisa makan bareng Elena.
Sesampainya di parkiran Tegar langsung menuju motornya dan duduk menunggu Elena. Beberapa orang menyapanya ketika melewatinya, Tegar hanya tersenyum dan menyapa balik.
“Elena ke mana sih? Lama banget.” Padahal dia baru menunggu beberapa menit tapi sudah mengeluh.
Tak berapa lama kemudian Elena datang dengan wajah yang agak murung, Tegar merasakan firasat tidak enak ketika melihat ekspresinya.
“Tegar, kayaknya gue hari ini gak bisa deh.” Ucap Elena menyesal.
“Kenapa?” tanya Tegar.
“Gue ada rapat dadakan sama guru, gue harus hadir. Maaf ya..” ucap Elena.
Tegar tersenyum dan menepuk kepala Elena pelan lalu berkata. “ya gak masalah, kita bisa melakukannya lain kali.”
Walaupun dia tersenyum tapi itu tak bisa menutupi kekecewaannya karena tak bisa makan bareng dengan Elena. Tapi, mau bagaimana lagi, hal ini sudah terjadi, dia tidak bisa menyesalinya.
“kalau begitu aku pulang duluan ya. Lu semangat ya.” Ucap Tegar.
“iyah, lu hati-hati di jalan, jangan ngebut.” Balas Elena.
Tegar tersenyum sebelum mengendarai motornya pergi meninggalkan gerbang sekolah.
......*To Be Continue......
Halo semia Syo disini! maaf karena up nya lama, aku ke canduan baca novel orang dan main game jadinya terhambat nulisnya.
semoga kalian suka ceritanya.
...Salam Akasia*!...
__ADS_1