
Tegar Pov
"ngapain lu kesini?"
Di depanku ada orang yang sering membuat hidupku di minggu ini merepotkan, Elena sang Ketua Osis.
Kenapa dia bisa berada di sini? Apa yang sedang dia lakukan? Aku sangat tidak ingin bertemu siapapun apalagi dia.
Saat ini aku benar-benar tidak ingin bertemu atau berbicara dengan siapapun, aku ingin sendiri dulu.
Pikiranku agak kacau, aku mungkin melakukan sesuatu yang tak terduga. Saat ini aku tidak bisa mengendalikan emosiku.
"Seharusnya gue yang ngomong gitu. kenapa lu di sini? Pas hujan lagi, udah kayak anak kecil aja."
"Pergi…, gak usah lu urusin gue."
Aku sangat tidak ingin berbicara dengan siapapun, kumohon kau cepat pergi dari sini.
"Haah sepertinya lu punya masalah, lebih baik lu pulang jangan disini nanti lu sakit lagi."
"Apa pedulimu tentangku, apa urusanmu mau aku mati pun itu bukan urusanmu."
Heh sakit? Apa aku peduli tentang itu? Tidak. Aku tidak peduli, mau sakit mau mati pun gak peduli.
Kalau aku bisa mendapatkan suatu ketenangan dengan hal itu mungkin aku lebih baik sakit.
Astagfirullah
Kenapa aku jadi kepikiran ke sana sih. aku menarik ucapan ku lagi, aku masih ingin hidup, masih banyak hal yang harus ku perbaiki.
"Lu gak boleh ngomong gitu, pamali tau. Lebih baik lu ikut gue, biar gue antar lu pulang."
Apa dia masih belum mengerti juga?! Aku ingin sendiri, Kenapa sih dia kekeh ingin mengantarkan aku pulang.
"Gue bisa pulang sendiri, lebih baik lu pergi aja deh."
"Gak gue gak akan pulang kalo lu gak ikut sama gua."
Sebenarnya maunya apa sih!? Apa dia tidak mengerti dengan apa yang ku ucapnkan!!!? Perlu aku pakai bahasa Sunda! Jepang! Atau bahasa Alien biar dia paham!!
"Lu ini saudara gue bukan, orang tua gue juga bukan! Kenapa lu peduli sama gue!!?"
"Karena lu murid dari sekolah yang sama dengan gue, jadi sudah tugas gue memastikan para siswa aman."
Haah mulai deh! Mulai! Dia mulai ceramah lagi!
Ketua Osis memang beda ya. Dia bisa berbicara sepanjang itu tanpa berhenti bahkan tanpa minum.
Air hujan tuh minum!
"Oke Oke gue ikut lu, puas?!"
"Puas banget."
"Tapi nanti mobil lu kotor lagi, lu gak lihat tubuh gue basah kuyup gini. Nanti gue di suruh nyuci mobil lagi"
Aku tidak mau nanti di suruh mencuci mobilnya. Memangnya aku ini babu apa?
"Ya nggak lah, lu tenang aja gue gak akan nyuruh lu cuci mobil kok."
Bagus lah kalau begitu. Tapi bagaimana dengan sepedaku, aku tidak munggkin meninggalkannya di sini.
__ADS_1
Walaupun sepeda itu harganya tidak mahal tapi itu di beli dengan gaji pertamaku, sebuah saksi dari perjuanganku.
"Lalu sepedaku?"
"Taruh saja di bagasi! Cepetan yuk nih hujannya makin deras!"
Dia kemudian masuk ke dalam mobil sementara aku pergi menaruh sepedaku di bagasi mobilnya.
Aku masuk ke dalam mobil dan duduk di sebelahnya, ternyata dia di antar supirnya. Aku kira dia bawa mobil sendiri.
Pak sopir nya sangat hebat. Dia bisa bertahan menjadi supir Elena cukup lama, aku jadi salut sama dia.
Selama perjalanan menuju rumah hanya keheninggan yang mendampingi. Tidak ada satupun dari kami yang memulai pembicaraan.
Aku juga tidak tau harus mulai berbicara dari mana, aku hanya diam sambil menatap keluar lewat jendela mobilnya.
Pembicaraan dengan ayahku tadi masih terngiang-ngiang di kepalaku. Kenapa aku harus memikirkan itu lagi!?
Sepertinya aku harus memikirkan kegiatan lain untuk mengalihkan pikiranku untuk sebentar saja.
Kami akhirnya telah sampai di depan rumahku. Aku langsung keluar dari mobil dan membawa sepedaku.
Hujan telah reda jadi aku tidak kebasahan lagi, sial aku mulai menggigil sebaiknya aku mandi air hangat setelah ini.
"Terima kasih telah mengantarku, terima kasih pak hati-hati di jalan."
Setelah mereka menghilang dari pandanganku, aku menaruh sepedaku sebelum masuk ke rumah.
Drrrt Drrrt
Haah siapa sih yang menelponku? Astaga Dragon aku lupa dengan Manejer! Ugh dia pasti marah karena aku pergi begitu saja.
Ugh aku seperti akan berperang melawan Anos Voldigoad saja.
'Hallo Tegar…'
"Hallo Manejer. Saya…, Saya minta maaf atas kejadian tadi, maaf karena saya membuat keributan, maaf juga karena pergi sebelum jam kerja selesai anda boleh memotong gajiku."
'Tidak…, aku tidak akan memotong gajimu, aku juga tidak mempermasalahkan kejadian tadi...'
"Terima Kasih Manejer…, sekali lagi saya minta maaf."
'Kau baik-baik saja 'kan?'
"Ya…, saya baik-baik saja."
'Dengar…, aku tidak tau apa masalah yang kau hadapi tapi ku harap kau tidak melakukan hal yang akan kau sesali nanti..'
"Tenang saja Manejer, aku tidak cukup gila untuk melakukan hal berbahaya."
'Bagus lah, hanya itu yang ku bicarakan. Kau bisa kembali bekerja ketika kau merasa baikan'
Setelah pembicaraan nya selesai aku lalu menutup teleponku lalu pergi ke kamar mandi untuk mandi air hangat.
Rasanya sangat nyaman, rasanya seperti masalahku turun bersama keringat dan daki di tubuhku.
Aku ingin menikmati saat saat ini lebih lama lagi, tapi sayang aku tidak bisa melakukannya.
Tagihan listrik rumah ini akan meninggkat jika aku terlalu lama mandi air hangat.
Aku keluar dari kamar mandi dengan selembar kain handuk yang melilit di pinggangku.
__ADS_1
Kalian yang berfikiran mesum hentikan itu, cerita ini tidak akan berganti menjadi cerita mesum. Ini school, romance.
Aku kemudian berganti pakaian dan kemudian terjun ke ranjangku. Kasur, bantal, guling aku merindukan kalian semua.
Mungkin dengan tidur aku bisa melupakan masalahku walaupun hanya untuk sementara saja.
Aku tidak peduli ini masih sore atau aku belum makan sekali pun, yang ku inginkan sekarang ini hanya melupakan kejadian tadi.
Mungkin ini terlihat seperti pengecut atau melarikan diri dari kenyataan tapi…, memang itu kebenarannya.
Aku belum siap untuk menghadapinya, aku juga harus menenangkan diriku terlebih dahulu.
Sebagai seorang remaja tentu emosiku masih cukup labil, aku masih kesulitan mengendalikan emosiku.
Hei mengendalikan emosi itu tidak semudah membalikan telapak tangan. Kalau kalian menjadi diriku kalian akan tau bagaimana rasanya.
"Sialan!! Aku tidak bisa tidur!"
Beberapa kalipun aku mencoba menutup mataku tapi aku tidak bisa pergi menuju alam mimpi.
Apa yang harus ku lakukan sekarang, kegabutan ini membunuhku secara perlahan.
Mungkinkah aku harus menulis Novel lagi? Melanjutkan volume ke tiga dari buku milikku.
"Tidak! Dengan keadaanku sekarang aku tidak bisa fokus menulis."
Aku menghela nafas lelah. Aku tidak tau harus berbuat apa sekarang ini, sekarang ini aku ingin sekali menghajar seseorang.
Tapi aku tidak bisa melakukan hal itu, aku mungkin akan di tangkap Polisi jika aku tiba-tiba menghajar orang secara acak.
Aku beranjak bangun dari tempat tidurku dan pergi menuju meja belajarku, yang sudah terdapat komputer di atasnya.
Aku kemudian menyalakan komputer sesuai dengan standar memyalakan komputer yang telah ku pelajari.
Menyalakan komputer merupakan pelajaran paling dasar jika ingin bisa menggunakan nya.
Sekarang aku tidak tau harus berbuat apa tapi kupikir akan bagus jika aku bermain game online saja.
Daripada mengamuk tidak jelas di luar sana, lebih baik aku mengamuk di dalam permainan saja. Ini lebih posistif.
Tangan ku yang memegang Mouse mulai menggesernya mengarahkan tanda panah di layar monitor ke sebuah logo game yang sedang populer.
Game ini cukup populer di kalangan remaja seumuranku, bahkan hampir semua siswa di sekolahku memainkannya.
Si Kevin juga memainkannya bahkan dia mungkin bisa terbilang terobsesi untuk menyelesaikan game RPG ini.
Gambar di layar mulai berubah, menampakan tulisan "Wellcome" lalu muncul nama game serta beberapa Karakter.
Setelah meng-klik icon "Tap To Start" gambar berubah kembali menampakan beberapa Karakter yang harus ku pilih.
Aku lalu memilih salah satu Karakter yang ku sukai dan kemudian mulai mengamuk di dalam game.
Semua rasa kekesalan, amarah, frustasi ku curahkan ke dalam game ini. Matilah kalian para Monster!!! presetan dengan tugas!! aku butuh pelampiasan!!
To Be Continue
__ADS_1