Smile In The Void

Smile In The Void
Chapter 17 [Berbelanja]


__ADS_3

Rumah Elena


Elena saat ini sedang duduk di ranjangnya sambil membaca Novel favoritnya, tapi dia sama sama sekali tidak bisa fokus untuk membaca.


Pikirannya kini berada di tempat lain, entah kenapa beberapa hari ini dia terus memikirkan Tegar. Dia bukannya menyukainya tapi ini lebih ke keingintahuan murni.


Dia penasaran dengan Tegar, karena menurutnya orang tersebut cukup misterius. Dia merasa Tegar bukan orang yang seperti dirumorkan.


Rumor tentangnya yang merupakan anak yatim dan miskin, dia merasa rumor tersebut kurang benar.


Kalau memang Tegar itu miskin bagaimana dia bisa sekolah di sekolah elit padahal dia tidak mendapatkan beasiswa.


Ditambah lagi Tegar bisa kenal dengan seorang Artis yang sedang naik daun. Darimana dia tau? Tentu saja dari beberapa poto yang ada di rumahnya.


Tegar kelihatan cukup dekat dengan artis tersebut, membuatnya semakin penasaran dengan siapa dirinya yang sebenarnya.


Kalau memang Tegar orang miskin kenapa dia bisa begitu kenal dengan orang orang yang cukup kaya, seperti wanita yang menjemputnya tempo hari.


Elena penasaran bagaimana Tegar bisa mengenalnya. Pikaran-pikiran liar bermunculan di kepalanya. Tapi ada satu hal yang menurutnya paling masuk akal.


Apa mungkin Tegar memiliki hubungan dengan Akasia yang merupakan penulis novel kesukannya, bukan tanpa alasan dia memikirkan hal tersebut.


Pasalnya Tegar cukup mirip dengan Akasia dari segi perawakannya, Cuma Akasia kelihatan lebih dewasa daripada Tegar.


Apa mungkin Akasia adalah kakaknya Tegar? Kalau memang iya kenapa mereka tidak tinggal bersama? Kenapa Tegar malah tinggal sendiri?


Semua ini membuatnya bingung.


“Siapa kau sebenarnya... Tegar pratama?”


** **


 


Tegar Pov


Hari ini sepertinya hari keberuntunganku atau mungkin hari yang sial bagiku. Aku dan Elena pergi berduaan saja.


Kami bukan mau kencan atau apa, jangan salah paham dulu yah. Kami pergi untuk mencari bahan-bahan untuk membuat masakan yang akan kami masak nanti.


Aku bisa bersama dengan Elena karena kemarin kami kalah bermain Hom-Pim-pa. Alhasil kamilah yang harus pergi membeli bahannya.


Kami pergi menggunakan motor milik Kevin, tidak mungkin kan aku menggunakan sepedaku kesana. Apalagi nanti harus membawa banyak barang.


Yah tidak terlalu banyak sih.


Kami berdua akhirnya sampai di dekat pasar, aku kemudian memarkirkan motor di tempat parkir yang telah di sediakan.


“udah sampe, turun.”


“iya gue turun, sabar dong.”


Setelah Elena turun kami berdua langsung masuk ke dalam pasar, disana cukup ramai seperti pasar pada umumnya dimana para pembeli dan pedagang.


Kita juga harus hati-hati disini pasalnya sering terjadi pencopetan. Aku juga dulu waktu pertama kali ke sini pernah kecopetan.


Beruntung waktu itu ada orang baik yang menghadang pencopet tersebut. Kejadian itu terukir dengan jelas di ingatanku, aku tak akan pernah melupakan hal itu.


“Elena, jaga tasmu dengan baik takutnya nanti kecopetan lagi.”


Bisa repot kalo kecopetan, nanti kami bayar bahan makanannya pake apa? Masa pake daun kan gak lucu.


“udah tenang aja, gak akan kecopetan kok.”

__ADS_1


Sial, Elena apa kau tidak sadar kalau kau baru saja mengibarkan bendera? Aku harus lebih waspada, takutnya terjadi hal yang gak diinginkan.


Pedagang pertama yang kita datangi adalah pedagang daging ayam, yang merupakan bahan makanan utama dalam masakan yang akan kami buat.


“Bu, ayamnya sekilo berapa?” tanya Elena.


“Sekilonya 35 ribu neng.”


“oh kalo gitu sekilo ya bu, dada ayamnya 500 gram—“


“Harganya kemahalan bu, 25 ribu aja.” Sela ku.


Aduh ini apa gak pernah ke pasar ya? Mau-mau aja beli ayam harganya mahal gitu, kalau mau beli sebisa mungkin di tawar dulu biar ada sisanya buat beli yang lain.


“Tegar lu apaan sih.”


“ssst diem deh.” Ucapku.


Lebih baik kau diam dan biarkan aku yang menangani ini, akan ku kerahkan semua kemampuanku untuk mendapatkan potongan harga yang sesuai.


“aduh, kalo segitu masih belum bisa.”


“buletin aja bu jadi 30 ribu.”


“belum bisa, harga ayam lagi tinggi soalnya.”


“yaudah deh, Ayo Elena kita ke kios lain aja.”


Aku kemudian menarik tangan Elena mencoba untuk pergi mengabaikan protesnya, kita lihat apa ibu itu masih bersikeras atau akan memberikan potongan harga.


“baik dek, saya jual 30 ribu aja deh.”


Akhirnya ibu itu menyerah juga, nah dari tadi kek. Sudah kuduga strategiku ini selalu berhasil.


** **


Setelah cukup lama berdesakan di dalam pasar kami akhirnya selesai membeli semua bahan yang di perlukan. Sekarang waktunya untuk pulang.


“Apa ini pertama kalinya lu ke pasar?” tanyaku.


Sejak tadi aku memperhatikannya, bukan apa apa ya tapi takutnya ada copet apalagi dia telah mengibarkan bendera. dia kelihatan sekali seperti baru pertama kali kesini.


Yah tidak heran sih, dia orang kaya pastinya kalo beli sesuatu paling sama pembantunya, kalaupun dia yang beli pasti belinya dari Supermarket.


“ah?! Iyah gue baru pertama kali kesini, lagian biasanya bibi yang suka belanjain.”


Tuh kan, aku benar.


“gue merasa terhormat menjadi orang pertama yang bawa lu kesini.” Candaku.


“iih lu apa-apaan sih?! Geli tau gak.” Ucapnya.


“Tapi lu hebat banget nawarnya, kita bisa dapat semua bahannya dengan harga murah.” Lanjutnya.


“biasa aja kok. Lagian gue udah sering kesini makanya gue bisa jago nawarnya.” Ucapku.


“oh ya, orang tua lu pada kemana, kok gak pernah kelihatan?” tanyanya.


Elena pasti penasaran karena dari kemarin hanya aku sendiri saja yang berada di rumah.


“mereka tidak ada.”


“maaf gue gak tau...”

__ADS_1


“gak usah minta maaf, gue gak peduli juga.”


Aku tidak perlu repot-repot meluruskan kesalahpahamannya lagipula aku tidak punya kewajiban untuk menjelaskan semua itu padanya.


Lebih baik sekarang langsung pulang saja lagipula semua urusannya juga sudah selesai. Juga aku takut rumahku hancur oleh mereka lagi.


Tapi dari kegiatan berbelanja tadi aku dapat menyimpulkan kalau kekuatan wanita memang diluar nalar, Walaupun dia udah mengibarkan bendera tapi gak ada kejadian apapun yang terjadi.


** **


Sesampainya di rumah kami menaruh belanjaannya di atas meja di dapur kemudian mengeluarkan semua bahan yang berada di dalam tas belanjaannya.


Untuk sekarang kami tidak akan langsung memasak karena makanannya akan menjadi kurang enak bila dimasak sekarang.


Apalagi Bu Yesti sudah menginformasikan kalau kita semua akan masak bersama di sekolah supaya kelihatan kalau itu memang masakan mereka.


Tapi karena bahan yang kami beli lebih banyak dari yang di butuhkan, jadi yang lebihnya akan kami masak sekarang. Intinya sekarang kami mau Ngaliwet.


“gimana Tegar?”


“Gimana apanya Kev?”


Ada apa dengan ekspresimu itu, aku jijik melihatnya. Lagipula apa yang kau bicarakan, aku sama sekali tidak mengerti.


“Gimana tadi kencanya?”


“jalan-jalan gundulmu, gue sama dia baru abis belanja bukan pacaran.”


“apa bedanya, ketika dua orang beda gender berjalan bersama bukanya itu udah pasti kencan!”


“oh jadi kalo lu sama nenek lu jalan berdua berarti kalian lagi kencan?”


Kami semua langsung menertawakannya, lagian dia juga sih kalo ngomong gak di saring dulu main asal ngomong aja.


Kevin beruntung karena Elena sedang di dapur kalau dia mendengarnya mungkin dia sudah memukul Kevin sampai benjol.


“gak gitu juga kampret!!”


Biarkan saja dia marah-marah nanti juga kalau udah lelah pasti diam, kami mengabaikannya dan pergi membantu para gadis.


“oi jangan abaikan gue sialan!”


Kami mengabaikamnya kemudian pergi membantu para Cewek memasak nasi Liwet untuk kami makan bersama.


Kapan yah terakhir kali aku makan nasi liwet? Ini sudah terlalu lama sampai aku sudah lupa tentang hal ini.


Sudah lama juga setelah aku terakhir kali makan bersama seperti ini, ah aku ingat itu ketika aku menginap di rumah Kevin. Bagi orang lain mungkin hal ini hal cukup sepele, tapi bagiku yang tidak pernah merasakan kehangatan keluarga ini cukup berarti.


Yah walaupun hal ini tidak akan berlangsung lama tapi aku menikmatinya.


 


 


 


To Be Continue


jangan lupa untuk Like, Vote, Coment, And Favorit.


bila ada kritik atau saran silahkan tulis di kolom komentar. saran kalian akan sangat membantuku membuat cerita ini menjadi lebih baik lagi.


sampai jumpa di Chapter berikutnya. See You Bye

__ADS_1


...Salam Akasia!...


__ADS_2