Smile In The Void

Smile In The Void
Chapter 31 [Lia dalam bahaya]


__ADS_3

Tegar Pov


 


 


“Hoamm.”


“Oi kalau menguap tutup mulutmu.” Ucap Kevin.


“Iya nih, baunya sampai kecium kesini tau.” Tambah Yuda.


Aku sangat lelah, aku masih mengantuk karena kejadian semalam. Kakakku menceramahiku selama satu jam dan berhenti karena sudah malam.


Tapi pagi tadi ternyata dia melanjutkan ceramahnya lagi padaku selama satu jam lebih dan dia bahkan tidak berhenti untuk minum. Apa dia tidak haus ya, padahal dia berbicara tanpa jeda.


Yah mungkinkah ini yang Kevin maksud dengan kekuatan wanita?


“Maaf, Gue masih ngantuk gara-gara semalam.” Balasku.


“Lebay amat lu, nih gue biasa aja, gak ngantuk tuh.” Ucap Kevin.


“Asal lu tau aja, gue kemarin malam di ceramahin sama kak Dina.” Ucapku lesu.


Dan mereka hanya menjawabku dengan ‘Oh’ saja, aku mengabaikan mereka dan menyandarkan tubuhku di kursi.


Ngomong-ngomong Kami sekarang berada di sebuah Cafe yang berada di dekat taman yang biasa ku kunjungi ketika berolahraga.


Sekarang hari libur Nasional jadi kami tidak pergi ke sekolah dan nongkrong disini, Cafe tempatku bekerja juga sedang tutup jadi aku bisa ikut ke sini.


“Jadi, Kemarin malam bagaimana? Apa kalian menang?” tanya Sam.


“Halah, mereka pasti kalah tuh.” Ejek Yuda.


“Kalau bukan temen udah gue sleding tu muka lu.” Ucap Kevin datar.


Aku tau dia hanya bercanda tapi ekspresinya membuat bulu kudukku berdiri, kalian pasti akan merasakannya juga jika melihat orang yang suka bercanda membuat wajah seperti itu.


“Oi Oi santai dung, Gue cuma bercanda tau. Gu yakin kalian pasti menang.” Ucap Yuda sambil tertawa garing.


Kevin mendengus kemudian berkata dengan bangga. “Heh, tentu saja kami menang.”


“Nah lu sekarang banyak uang kan? Bisa dong traktir kita makan~” ucap Sam membuat senyum di wajah Kevin memudar.


“Dasar temen kampret, udah pesen aja sana, biar gue yang bayarin.” Ucap Kevin cemberut.


Kami bersorak pelan kemudian memanggil Pelayan. Aku yakin kalau kedua orang ini akan memesan banyak makanan, sepertinya Kevin akan bangkrut hari ini.


Yah, dan aku juga lebih baik memesan banyak makanan, karena cukup jarang bagi Kevin untuk menraktir kami makan. Yahh... aku juga jarang sih.


Kami kembali mengobrol tentang beberapa hal acak, kami juga membuat rencana untuk melakukan kegiatan belajar bersama karena dua minggu lagi kami akan menghadapi Ujian.


Sebentar lagi kami akan menjadi Siswa kelas tiga, hanya setahun lagi sebelum kelulusan. Ujian ini yang akan menentukan apakah kami akan naik kelas atau tidak.


Aku berharap agar kami bisa lulus dalam ujian kali ini, yah kalau aku sih Optimis kalau aku akan lulus ujian, tapi aku agak khawatir dengan Kevin.


Cowok Bucin ini mungkin akan menghabiskan waktunya dengan pacaran dan bermain game daripada belajar. Jadi, belajar bareng adalah cara paling ampuh agar dia bisa fokus.


Pembicaraan kami tentang pembelajaran entah bagaimana bisa berbelok ke arah yang salah, mereka bertiga mulai membicarakan tentang wanita.


Tentu saja, aku juga ikut nimbrung.


“lu udah pernah lihat cewek XI-2 gak? Cewek kelas meraka hampir semuanya Cakep-cakep.” Ucap Kevin.


“iyah, apalagi yang rambutnya suka di kuncir kuda, cewek itu yang paling cantik.” Ucapku.


“Yang rambut keriting lebih cantik.” Ucap Yuda.


“yang suka pake topi lebih imut tau.” Ucap Sam.


Mendengar ucapan Sam membuat kami memandangnya aneh, soalnya cewek itu memiliki tubuh yang cukup mungil untuk anak kelas sebelas.


“Oi!! Apa-apaan tatapan kalian itu?” tanya Sam.


“Sam.... apa lu itu Lolicon?” ucapku.


“Kampret!! Gue masih normal!! Gue belum punya Fetish kek gitu.” Sanggah Sam.


“Heeh~ belum? Berarti nanti lu bakal jadi Lolicon dong?!” Ucap Kevin dengan seringai jail.


Sontak saja hal itu membuat kami tertawa, Sam yang menjadi korban ejekan Kevin hanya cemberut sambil makan kentang goreng dengan ganas seolah dia punya dendam pada kentang itu.


Kami bertiga hanya tertawa melihatnya, yah semoga saja kami tidak di usir karena mengganggu kenyamanan pembeli yang lain..


 


Drrrtt Drrrtt Drrrtt

__ADS_1


 


“Diam dulu ada yang nelpon nih.” Ucapku.


Aku mengambil ponselku, tanpa sadar aku mengernyitkan dahiku. Lia? Ada apa dia meneleponku?


“Hallo Lia! Ada apa lu telepon gue? Ada kerjaan lagi?”


[Tegar!! Hah!! Tolong in gue!! Hah!!]


“Lu kenapa Lia?! Tolongin apaan?”


Perasaanku mulai tidak enak, apalagi dari suaranya Lia sepertinya sedang berlari. Siapa yang sedang mengejarnya? Jangan bilang dia di kejar perampok lagi.


[Tolongin Gue!! Hah!! Sopir!! Gue lagi dikejar ama sopir gue!! Hah!! Ternyata benar... Hah!! Stalker itu dia!]


“Oke! Oke! Lu tenang dulu... sekarang lu bilang kegue di mana lokasi lu, gue langsung ke sana sekarang!”


[Lokasi gue, ada di gang!! Yang itu... tempat pertama kita ketemu dulu... lu masih inget.]


“Gue inget, sekarang gue kesana. Lu sembunyi di tempat yang aman, kalau bisa yang ada CCTV nya.”


[Oke!! Tapi buruan!! Gue takut... orang itu... dia... ingin tubuhku..]


“Tunggu aku!! Aku akan segera pergi kesana!!”


Aku mematikan Teleponnya, mereka bertiga menatapku dengan cemas dan penuh tanda tanya.


“Lia sedang dalam masalah, aku harus pergi menolongnya!.” Ucapku.


“Kami ikut, tidak mungkin aku diam saja sementara sahabatku dalam bahaya.” Ucap Kevin serius.


Sam dan Yuda mengangguk menyetujuinya, sepertinya mereka berdua juga ingin ikut. Mereka ini... Aku beruntung memiliki mereka.


“Oke, Tapi salah satu dari kalian harus pergi ke menghubungi polisi.” Ucapku.


Aku tak mungkin mencegah mereka, lagian kalau lebih banyak yang membantu itu akan lebih baik. Akan lebih mudah menyelesaikan masalah ini jika mereka ikut.


“Biar aku dan Yuda yang memanggil polisi, jangan kirim lokasinya.” Ucap Sam.


Aku mengangguk kemudian membalas. “iyah... dan pastikan mereka mematikan Sirene sialan itu.”


Kami kemudian langsung pergi dari Cafe menuju ke lokasi. Aku harus cepat, aku tidak ingin sesuatu yang tak di inginkan terjadi pada Lia.


Aku tak akan memaafkan diriku sendiri jika dia terluka. Lagipula kenapa dia begitu ceroboh sih? Kenapa dia harus pergi ke gang itu dan bukanya ke tempat ramai?!


Rasa khawatir dalam diriku tidak bisa hilang. aku mengendarai motor seperti orang kesurupan, aku bahkan tak mendengarkan teriakan Kevin yang menyuruhku melambat.


 


Normal Pov


 


Tempat Lia.


“Lia kenapa kau menghindariku? Kemarilah! Dewiku~ Keluar dari persembunyianmu.” Ucap Sopir dengan seringai di wajahnya.


Lia yang kini tengah bersembunyi di balik tumpukan barang bekas terus bergetar ketakutan, tangannya menutup mulutnya agar tidak mengeluarkan suara.


Air mata mulai mengalir melalui pipinya yang seputih susu. Dia takut. Dia tak pernah setakut ini sebelumnya. Dia sadar kalau dia terlalu ceroboh.


Pada awalnya dia hanya ingin tau apakah benar pak Toni sang Sopirnya adalah Stalker yang terus menerornya seperti yang Tegar katakan.


Lia tak menyangka kalau  orang yang sudah dia percayai ternyata adalah orang yang begitu terobsesi padanya sampai separah ini.


Sekarang dia mulai menyesali keputusannya, dia hanya berharap kalau Tegar bisa datang tepat waktu dan menyelamatkannya.


“Nona Lia... aku sangat mencintai mu, kenapa? Kenapa kau tak menyadarinya?!” ucap Toni.


Dia mulai berjalan menelusuri gang, mencari Lia. Toni sudah cukup dekat dengan tempat Lia bersembunyi.


“Aku mencintaimu dari awal aku melihatmu... kau adalah Dewiku!! Aku selalu mendukungmu!! Tapi kenapa!! Kenapa kau menghindariku?” Sebuah pernyataan cinta meluncur dari mulutnya.


Bukannya bahagia, pernyataan itu malah membuat Lia semakin ketakutan. Takut akan Obsesi yang di miliki Toni padanya.


Sebuah tangan tiba-tiba menggenggam tangan Lia. Hal itu sontak membuat Lia menoleh. Dia sana ada Toni yang memegang tangannya.


Seringai mengerikan terbentuk di wajahnya membuat Lia semakin ketakutan, dia langsung memberontak mencoba melepaskan tangan Toni.


“lepas!! Lepasin aku!! Pak Toni... Tolong lepaskan!!” ucap Lia.


“Nona Lia... jangan bersembunyi lagi... ikut denganku!! Aku mencintaimu Nona Lia... akh pasti akan membahagiakanmu!!” ucap Toni.


“Tidak!! Tidak mau!! Lepasin!! Hiks! Aku gak mau ikut bapak!! Hiks! Aku gak suka!” ucap Lia sambil menangis.


Lia terus memberontak mencoba melepaskan diri tapi cengkeraman Toni padanya cukup kuat membuatnya kesulitan.

__ADS_1


Tubuhnya di tahan ke tembok, Toni menatapnya dengan seringai mesum membuat Lia semakin takut, dia takut Toni mengambil kesuciannya.


“Nona Lia... kau... akan menjadi milikku!! Kau hanya miliku!! Tak ada siapa pun yang bisa memilikimu kecuali aku!! Aku akan membuatmu menjadi milikku seutuhnya.” Ucap Toni.


Tangannya memegang kedua pergelangan tangan Lia dengan tangan yang satunya mencoba membuka baju Lia.


“Tidak! Tidak!! Tidak!!! Tolong! Hiks! Tolong! Lepaskan!! Lepaskan Aku!!” ucap Lia sambil meronta ronta.


Toni semakin berani, dia mencoba untuk mencium Lia. Tapi tentu saja hal itu sulit untuk di lakukan karena Lia terus menggelengkan kepalanya.


“Kita ditakdirkan bersama!! Kau akan menjadi milik—GUARH!!“


DUAK!!


Bukan sebuah ciuman yang di dapatkannya tapi sebuah tendangan yang cukup kuat menghantamnya sampai dia terlempar hingga tangannya yang memegang Lia terlepas.


“Jangan berani menyentuhnya dengan tangan kotormu itu.” Ucap Tegar yang baru sampai.


Dia dengan terburu-buru menghampiri Lia, mengecek keadaannya. Lia menangis dan langsung memeluknya.


“Tenanglah... gue disini. Lu aman sekarang.” Ucap Tegar.


“Kenapa?! Hiks! Kenapa Lu lama banget?!! Hiks! Gue... gue hampir..” Ucap Lia dengan suara serak.


“Maaf, gue lama, harusnya gue bisa datang lebih cepat.” Balas Tegar.


Melihat keadaannya yang seperti ini membuat Tegar merasa bersalah, seharusnya dia datang lebih awal. Dengan begitu Lia tak akan mengalami kejadian mengerikan ini.


“Kau!! BERANINYA KAU MENYENTUH DEWIKU!!” Teriak Yoni yang baru sadar.


Tegar menoleh ke arahnya, Tatapan cukup dingin hingga membuat merinding, tapi Toni mengabaikannya karena terbakar amarah.


“Lia... lepasin gue... gue mau urus orang ini dulu. Lu pergi agak jauhan.” Ucap Tegar dengan lembut.


Lia hanya menuruti perkataannya dan menyuruhnya untuk berhati-hati sebelum pergi menjauh.


Tegar berdiri dan menatap datar ke arah Toni. Toni berlari ke arahnya dan bersiap untuk memukulnya.


Tap!


Kepalan tangan Toni di tangkap dengan mudah oleh Tegar. Dia kemudian memutar lengan Toni dan menendang perut Toni dengan Lututnya.


Toni meringis kesakitan, tapi hal itu di hiraukan oleh Tegar. Dia kemudian memukul wajah Toni.


Tak sampai di situ saja, dia juga melayangkan tendangan Lokomotif padanya membuatnya terpental menabrak tong sampah.


“Lu kakek tua! Jangan berani meletakan tangan kotormu pada Lia.” Ucap Tegar dingin.


“Kau bajingan!! Kau tak akan bisa memisahkan Lia dariku!! Kami sudah di takditkan bersama!!” balas Toni.


Dia berdiri dari tumpukan sampah kemudian berlari menuju Tegar dan memerangnya kembali.


Pertarungan antar keduanya tak terelakkan, Toni memerangnya dengan di sertai emosi, hal itu tentu saja di manfaatkan oleh Tegar.


Tegar terus menyulut kemarahan Toni. Gerakan Toni menjadi kacau dan mudah di baca oleh Tegar. Setamina Toni juga mudah terkuras, terbukti dari nafasnya yang mulai terengah-engah.


Dengan wajah datar Tegar terus menyerang Toni tanpa ampun, sudah cukup banyak memar di wajah Toni akibat pukulannya.


Tegar mengakhiri pertarungan mereka dengan melakukan tendangan berputar hingga mengenai wajah Toni membuatnya langsung pingsan seketika.


“Dasar sampah!! Orang sepertimu tak pantas untuk Lia.” Ucap Tegar.


Dia berbalik dan melihat Lia yang sudah bersama Kevin. Tak jauh darinya ada orang yang sudah terkapar disana.


Orang itu adalah teman Toni yang tadi bersembunyi, orang itu juga adalah penggemar Lia.


Tegar menggelengkan kepalanya dan tersenyum sebelum mendekati mereka.


“Lia, lu gak apa-apa kan? Lu belum dia apa-apain kan?” tanya Tegar.


Lia menggelengkan kepalanya. “Aku baik-baik saja. Terima kasih telah menyelamatkanku, kau juga Kevin.”


Mereka berdua hanya mengangguk menanggapinya. Secara kebetulan Yuda dan Samudra datang membawa polisi.


Para polisi itu kemudian menangkap Toni dan temannya lalu meminta keterangan dari mereka, polisi juga meminta bukti dari mereka dan mengambil rekaman CCTV yang ada di sana. Tegar juga menyerahkan semua bukti kejahatan Toni yang dia temukan.


‘Akhirnya masalah yang satu ini selesai juga.’ Batin Tegar.


Salah satu bebannya terasa terangkat dari pundaknya. Sekarang hanya tinggal masalah utamanya saja.


Dia berharap itu segera terselesaikan.


To Be Continue.


info: Sekolah tegar memiliki dua jurusan, IPS dan IPA. setiap jurusan juga memiliki beberapa kelas pada tiap tingkatannya. misalnya Kelas XI.... mereka memiliki Kelas XI-1, XI-2, XI-3, dan XI-4.


maaf kalau gak jelas.🙏

__ADS_1


jangan lupa untuk Like, Vote, dan komen ya... kalau bisa sekalian kasih saran nya🙂


...Salam Akasia!...


__ADS_2