Smile In The Void

Smile In The Void
Chapter 7 [Apa Ini Kebetulan?]


__ADS_3

Tegar Pov


Aku mulai mengantuk, mataku sangat sulit untuk terbuka. Aku tidak bisa fokus memperhatikan guruku mengajar. Semoga saja bell segera berbunyi. Ku lihat ke arah jam dan ternyata masih cukup lama untuk waktu istirahat kedua di mulai.


Murid yang lain juga sudah mulai tidak fokus sama sepertiku, bahkan ada yang sudah tertidur.


Kalau misalnya aku memberitahu guru mereka pasti sudah di ceramahi habis-habisan. Tapi aku terlalu mengantuk untuk melakukan itu. Ku taruh kepalaku di atas lipatan tanganku dan menutup mataku. Walaupun mataku sudah ku tutup tapi aku tidak bisa tidur.


Ini menyebalkan.


Sudahlah, lebih baik begini karena aku masih bisa mendengar ucapan pak guru. Aku bisa bangun kalau dia tau muridnya tidur. Beberapa menit berlalu sejak aku memejamkan mataku tapi sepertinya guru ku masih belum menyadarinya.


Rasa kantukku tadi sudah mulai berkurang sekarang. Aku mengangkat kepalaku dan mengusap mataku agar penglihatanlu lebih jelas.


Aku masih agak pusing karena menundukan kepala dari tadi. Aku menopang wajahku dengan tangan sambil memperhatikan guruku mengajar.


Kring kring


Akhirnya suara yang dari kutunggu-tunggu terdengar juga. Semua murid langsung ter bangun dari tidur mereka. Sangat ajaib mereka bisa langsung terbangun dengan muka segar tidak seperti orang yang baru bangun tidur.


Suara bell itu seperti pertanda kemerdekaan bagi mereka semua. Mereka terlihat sangat bahagia ketika guru pergi dari kelas. Entah apa yang mereka pikirkan, terkadang aku bingung pada mereka semua. Sebenarnya apa tujuan mereka ke sekolah?


Belajar?


Bermain?


Nyari pacar?


Entahlah, tapi aku kira kebanyakan orang yang datang ke sekolah hanya untuk bermain atau cari pacar saja. Keinginan mereka untuk belajar masih kurang tinggi, yah beberapa orang mungkin bersemangat untuk belajar tapi tidak semuanya begitu.


Mereka mungkin bisa se santai ini sekarang tapi aku yakin pada saat ujian nanti mereka akan kalang kabut karena tidak bisa mengerjakan soal. Jalan yang terbaik untuk mendapat nilai tinggi adalah mencontek tapi itu merupakan tindakan tidak terpuji dan memiliki resiko tinggi.


Jika mereka mencontek akan ada kemungkin mereka ketahuan dan di blacklist oleh guru atau tidak di beri nilai.


Paling buruk mereka akan di keluarkan.


Tapi, itu semua urusan mereka untuk memilih belajar atau tidaknya, aku tidak akan menceramahi mereka atau apapun itu.


Daripada melakukan hal itu lebih baik aku belajar lebih giat untuk ujian nanti. Untuk apa aku memikirkan mereka ketika mereka bahkan tidak terlalu akrab denganku.


Aku bukan keluarganya apalagi ayahnya, jadi aku tidak punya kewajiban untuk menyuruh mereka belajar.


"Oi Tegar mau kemana lu?"


Suara Kevin menghentikan langkahku. Aku berbalik menghadapnya dan memperlihatkan buku yang sedang ku pegang.


"Mau ke perpustakaan, gue lupa mengembalikan buku ini. Lu mau ikut?"


"Oh gitu ya, lu sendiri aja dah gue ada urusan sama Nita."

__ADS_1


Mendengar jawabannya aku hanya berdehem sambil mengangguk lalu pergi menuju perpustakaan.


Oh dan sedikit info, Nita adalah nama kekasih Kevin. Dia berada di kelas XI- 2, kelas kami tetanggaan jadi mereka cukup sering bertemu.


Sial aku cemburu!!


Sudahlah untuk apa aku memikirkan nya, itu tak akan membuatku mendapatkan seorang pacar. Sebenarnya aku gak ngebet amat buat punya pacar tapi setidaknya aku ingin merasakan yang namanya pacaran ketika SMA sekali saja.


Masa SMA tidak akan terulang dua kali jadi aku ingin membuat sebuah kenangan yang bisa membekas dihatiku. Sebuah kenangan yang sulit untuk ter lupakan walaupun aku sudah tua dan menjadi seorang kakek.


Tapi sayangnya sangat sulit untukku memiliki nya, memang aku punya kenangan indah tapi aku ingin sesuatu yang berbeda. Aku masih punya satu tahun untuk bisa menggapainya, aku punya filing kalau itu tidak akan terlali lama.


Aku percaya intuisi ku.


Tak terasa aku sudah sampai di depan perpustakaan, aku terlalu asik memikirkannya sampai tak sadar sudah sampai disini.


Aku langsung masuk ke dalam dan menuju ke tempat penjaga perpustakaan berada. Dia sedang duduk di kursinya dengan sebuah buku tebal di tangannya.


Setiap kali aku datang kesini buku itulah yang selalu di pegang olehnya, entah dari berapa lama dia membaca buku itu dan kapan selesainya. Walaupun aku memikirkan nya aku tidak akan menemukan jawabannya. Aku kemudian menghampirinya.


"Bu, saya mau mengembalikan buku ini. Belum lewat tanggal kan?" tanyaku.


Semoga saja belum lewat tanggal, aku bisa kena denda kalau terlewat tapi perasanku belym deh. Yah semoga saja. Bu perpus -panggilan yang kugunakan- menoleh ke arahku dan kemudian mengambil buku besar di sampingnya.


"Tunggu saya lihat dulu, saya lihat judul bukunya." ucapnya.


Aku lalu memberikan buku yang ada di tanganku padanya. Bu perpus sudah tau namaku karena aku sering datang kesini jadi dia tak menanyakannya.


"Sukurlah." ucapku sambil mengelus dadaku.


"Kalau begitu saya mau pinjam buku lain, permisi." ucapku.


Aku kemudian pergi menuju rak buku bagian novel. Perpustakan ini cukup luas dengan banyak buku.


Untuk jumlah pastinya aku tidak tau berapa banyak yang pasti ada ratusan buku disini, di mulai dari buku pelajaran sampai novel yang sedang ku cari ini.


Bruk


"Aanh~!"


"Aduh!"


Bokongku rasanya sakit sekali! Siapa sih yang menabrakku!? Jalan gak lihat-luhat.


Aku tidak tau ini keberuntungan atau kesialan karena yang menabraku adalah Lily. Kami saling menatap beberapa saat.


Suasananya menjadi Awkard. Aku langsung berdiri lalu mengulurkan tangannku padanya.


"Lu gak apa-apa?"

__ADS_1


Aku kemudian membantunya berdiri, kami lalu menepuk-nepuk pakaianku yang terkena debu.


"Gue gak apa-apa..., eh! Tegar!"


"Yah…, Sorry gue gak lihat jadi nabrak lu tadi."


Minta maaf bukan berarti karena kau yang salah, ada kalanya kau harus minta maaf duluan jika tidak ingin memanjang masalah.


"Tidak, gue salah. Lu lagi nyari buku apaan?"


"Lagi nyari Novel, biasa Genre Action."


Situasi ini membuatku sangat tidak nyaman. Aku sangat gugup ketika berbicara dengannya. Tapi aku tidak boleh menujukannya, dia pasti akan menganggap ku aneh lagi.


"Oh, lu juga suka baca Novel?!"


Kenapa kau terlihat sangat terkejut? Apa begitu mengejutkan kalau aku suka baca Novel.


Lagipula tidak ada salahnya kalau laki-laki suka membaca Novel, semua orang punya hak untuk melakukan apa yang mereka inginkan.


"Begitu, gue juga suka baca Novel. Novel apa aja lu suka?"


Aku kemudian menyebutkan beberapa novel yang sering ku baca ketika waktu luang. Dan sebuah kebetulan ternyata Lily juga suka membacanya.


Entah bagaimana kamipun jadi membicarakan tentang Novel sambil mencari-cari buku. Aku sangat senang bisa mengobrol dengannya tentang hal yang kami sukai. Sangat jarang bagiku bisa berbicara dengannya.


Ini merupakan sebuah kesenangan tersendiri bagiku, walaupyn hanya berbicara tentang hal sepele tapi aku tetap senang. Setidaknya Lily bisa melupakan tentang kesedihannya, walaupun hanya untuk sementara.


Aku lebih suka melihatnya tersenyum daripada melihatnya bersedih. Melohatnya sedih membuat hatiku sakit. Mungkin jika orang lain mendengarnya mereka akan mengatakan aku ini Bucin atau Lebay tapi itulah kenyataannya.


Senyumannya membuat dirinya terlihat manis, aku sangat ingin melindungi senyuman itu. Tak akan aku biarkan seorangpun membuatnya bersedih walaupun aku harus mengorbankan perasaanku.


Jika ada seseorang yang bisa membuatnya bahagia, aku akan mindur dan mencoba merelakannya. Menurutku cinta itu tidak harus memiliki, melihatnya bahagia saja sudah membuatku senang.


Aku mungkin memang tidak berpengalaman dalam hal percintaan, mungki bisa di bilang aku masih anak-anak dalam hal ini. Tapi aku mengerti beberapa hal, aku mengerti kalau cinta itu tidak bisa di paksakan.


Jika aku memaksanya untuk membuatnya jatuh cinta padaku itu mungkin hanya akan berakhir dengan buruk. Jadi lebih baik jalani saja dulu. soal jodoh hanya tuhan yang tau, kita sebagai manusia hanya bisa berusaha.


"Tegar, gue duluan ya, gue masih ada tugas yang belum beres."


"Yah silahkan."


Dia kemudian pergi meninggalkanku sendirian disini, dalam keheningan dan kesendirian.


Hmm kenapa aku jadi melankolis gini ya?


Kebih baik aku pergi ke kelas sekarang, lagian buku yang sedang ku cari juga sudah ku temukan.


Aku lalu pergi ke tempat penjaga perpustakaan untuk memberitaunya kalau aku meminjam buku, lagi. Setelah urusan di perpustakaan selesai aku langsung pegi menuju kelasku.

__ADS_1


To Be Continue


semoga cerita ini bisa menghibur kalian di waktu senggang ya. bila ada kritik ataupun saran yang ingin di sampaikan langsung saja tulis di kolom komentar


__ADS_2