
Tegar Pov
“Haha Kita menang!”
Kami berempat berteriak kegirangan. Kami baru selesai memenangkan permainan barusan, aku sangat senang bisa mengalahkan mereka.
Sepertinya lawan kami tadi hanya sekelompok bocah SMP saja, dari cara bicara mereka saja aku...bahkan yang lainnya juga sudah bisa tau.
Para bocah itu harus tau sedikit sopan santun, kalau berbicara itu fikir dulu, saring dulu jangan asal bicara saja.
Hah! Kalah telak kalian semua hahaha...
“Dasar bocah, Cuma bisa ngomong doang!” ucap Kevin.
Kevin kemudian menaruh ponselnya dan bersandar di kursinya sambil memijat jarinya yang pegal.
“Walau peralatan mereka cukup bagus tapi yang mainnya cuma Noob.” Yuda juga ikut menaruh ponselnya dan memijat tangannya yang agak pegal.
“yah kalian benar, mereka cuma menghabiskan uang saja, cara bermain mereka masih seperti pemula.” Ucap Samudra.
Aku dan Sam ikut menaruh ponsel kami, lagian kami juga tidak akan main lagi untuk sementara waktu.
Ah tanganku pegal.
“Akhirnya kalian selesai juga.”
Are? Suaranya cewek Ini sepertinya familiar, oh tidak aku punya firasat orang ini akan membuatku repot, lagi.
Aku berbalik dan mendapati Elena yang berdiri dengan tangan di pinggang sambil menatap datar ke arah kami.
Kenapa aku selalu benar kalau menyangkut hal begini.
“ah? Hai Elena... hari yang cerah ya.” Sapaku.
“ya hari ini memang cukup cerah...tunggu! Bukan itu yang ingin kubicarakan!” ucap Elena.
Fffftt aku tidak percaya dia bisa seperti itu juga...
“biasa kalian jelaskan kenapa kalian bisa luka luka begini?” tanyanya.
“”””lu baru sadar sekarang?””””
Wah aku baru tau kami bisa sekompak ini, juga kenapa dia baru sadar kalau kami luka begini? Daritadi kemana saja kau Ketua Osis?!
Wajahnya memerah, sepertinya dia malu atau dia marah?. Aku tidak bisa memastikannya, lagipula aku tidak bisa membaca ekspresi.
“haah, biar ku jelaskan...”
Aku kemudian menjelaskan kepadanya apa yang telah terjadi pada kami, lagipula tidak ada gunanya untuk berbohong padanya. Aku percaya dia bisa mendeteksi kebohongan.
Lagipula dari awal aku juga memang ingin memberitaukan hal ini kepada Guru BK nanti, aku tidak ingin hal ini terjadi lagi.
“...jadi begitulah bagaimana kami mendapat tato keren ini.”
Selera humorku buru sekali ya-_-
“mereka berulah lagi!! Aku harus melaporkan ini.” Geram Elena.
“jangan!”
Aku langsung berdiri dan menghentikannya, aku tidak ingin rencanaku gagal karena nya.
“cieee ada yang pegangan tangan nih.”
“cinta remaja sungguh indah.”
“cinta akan menemukan jalannya.”
Aku langsung sadar kemudian melepaskan tangannya, ah aku refleks memegang tangannya barusan. Aku tidak bermaksud loh! Aku bersungguh-sungguh.
“napa dilepas Akai?”
“Udahlah pepet terus Tegar.”
“iyah jangan kasih kendor.”
Dasar teman tidak punya akhlak, mereka sengaja ya melemparku ke ladang ranjau ya? Teman kampret!
“”Diam”””
Aku dan Elena saling menatap, sungguh aku tidak merencanakan untuk mengagakan hal yang sama dengannya.
“wih kompak banget!”
__ADS_1
“oh ayolah serius sedikit!”
Huh mereka ini masih saja suka mengolok-oloku kalau aku dekat dengan seorang gadis, aku risih kalian tau?!!
“kenapa? Tegar aku harus melaporkan ini agar mereka tidak melakukannya lagi.” Ucap Elena.
“dan setelah itu apa? Mereka di hukum lalu kembali berulah?”
Aku tau orang seperti apa mereka, jika hanya hukuman ringan mereka akan kembali untuk membalasku nanti.
Orang seperti mereka harus di beri pelajaran agar mereka bisa sadar kalau yang mereka lakukan itu salah.
Dan hanya ada sagu cara yang bisa ku pikirkan.
“tunggu dua hari baru kita laporkan...bersama dan jangan lakukan hal bodoh.” Ucapku.
“apa rencana lu?” tanya Elena.
“gue mau nyari bukti.” Balasku.
Hah!
Normal Pov
Tegar dan yang lainnya pergi menuju ke Warung yang berada di belakang sekolah, serang sudah istrirahat jadi mereka tidak akan dihukum.
Warung yang mereka datangi ini adalah tempat yang biasanya di gunakan oleh anak anak yang ingin merokok atau tidak ingin ke kantin.
Di sana sudah cukup banyak orang yang datang, bukan Cuma dari kelas mereka saja tapi dari berbagai kelas juga ada mulai dari kelas satu sampai tiga.
Tegar dan yang lainnya kemudian memesan seporsi nasi uduk dengan ditambah minumnya teh tawar, mereka lalu duduk di kursi yang kosong.
Mereka tidak datang ke sini untuk merokok, yah mereka kesini hanya karena kangen dengan suasananya. Sudah lebih dari seminggu mereka tidak kesini.
Akhir-akhir ini mereka mendapat banyak tugas dari guru jadi mereka memanfaatkan waktu istirahat untuk mengerjakannya di perpustakaan.
Kevin langsung mengambil Bakwan yang ada di meja dan memakannya dengan sambel, dia memang paling doyan dengan Bakwan.
“ini makananya.” Ucap bibi.
“wih makasih bi, udah lama rasanya gak makan nasi uduk buatan bibi.” Ucap Tegar
“itumah Tegarnya aja jarang kesini, jadinya udah lama gak makan nasi uduk buatan bibi.” Sindir bibi.
“haha iyah bi, kemarin-kemarin banyak tugas soalnya.” Balasku.
Tegar dan yang lainnya makan dengan lahap sambil mendengarkan percakapan murid yang lainnya. Mereka penasaran dengan apa yang mereka bicarakan sampai ngumpul begitu.
“kita gak bisa biarin mereka seenaknya aja!”
“yah, mereka gak sopan banget, mesti di kasih pelajaran!”
“benar! Yoga udah jadi korban mereka harus membayarnya!!”
“Oi! Kalian lagi ngeributin apa sih?.” Tanya Yuda.
Mereka kemudian menjelaskan apa yang terjadi pada Tegar, dan dari yang Tegar simpulkan adalah seperti ini.
Kemarin sekolah lain datang melintasi sekolah ini dan membuat kebisingan waktu itu dan bukan hanya itu saja, mereka juga memukuli Yoga tanpa alasan yang jelas.
Dan sekarang mereka sedang merencanakan untuk membalas dendam atas apa yang di lakukan pada Yoga, yang artinya mereka akan memulai tawuran antar Sekolah.
Tawuran memang sudah menjadi hal yang tidak asing lagi di kalangan para pelajar, hampir setiap tahun pasti akan terjadi tawuran antar sekolah yang menimbulkan korban.
Kalaupun tidak ada korban jiwa tapi orang yang luka pasti banyak atau tidak mereka akan tertangkap oleh kepolisian dan di masukan ke penjara sampai orang tua mereka menjemput.
“emh! Begitu, kalian ingin tawuran lagi?” tanya Kevin.
“mereka gak boleh di biarin begitu aja, nanti ngelunjak lagi.” Ucap Tirta.
Dia merupakan para pemimpin dari kumpulan itu, kalau ada tawuran ataupun jalan jalan dialah yang akan berdiri paling depan, dia tak pernah absen kalau dalam hal begini.
Kadang Tegar bingung dengan mereka, sebenarnya apa sih yang mereka pikirkan? Apa mereka tidak sadar kalau perbuatan mereka itu hanya merugikan diri mereka sendiri saja!
“kalian gak takut ketahuan polisi lagi?” tanya Tegar.
“halah masalah polisi mah nanti aja!”
“ngapain takut polisi, mereka juga manusia!”
“yang penting serang dulu masalah polisi belakangan.”
‘dasar orang gila!’ batin tegar.
__ADS_1
Mereka pasti sudah tidak waras! Inilah yang Tegar tidak suka dari mereka, suka bertindak gegabah. Kalau ngelakuin sesuatu gak di pikir dulu konsekuensinya.
“yah kalau itu terserah kalian, yang penting gue udah ngingetin dan sorry gue gak bisa ikut.” Ucap Tegar.
“lah kenapa? Lu gak setia kawan banget sih Akai! Temen lu masuk rumah sakit lu diem aja!” bentak Tirta.
“bukan gitu, hari ini gue ada urusan di perusahan jadi sorry banget gue gak ikut.” Ucap Tegar.
“yah mau gimana lagi Tir, lu juga tau gimana kondisi tegar. Maklumin aja.”
“lagian kita gak boleh maksain orang.”
“gak masalah, lu Kevin, Yuda, Samudra? Kalian ikut?”
Kevin yang sedang minum menaruh gelasnya dan menoleh ke arah mereka sebelum menggelengkan kepalanya.
“gue enggak bisa ikut, gue ada urusan” ucap Kevin.
“”Kami Ikut””
Yuda dan Samudra memang selalu kompak dalam segala hal, mentang-mentang mereka ini saudara. Tegar bangkit dari kursinya dan pergi membayar makanannya tadi.
“Gue duluan ya, gue mau ke perpus.”
“iya iya sana pergi, paling lu mau godain cewek disana” sindir Kevin.
“Sembarangan aja lu!” balas Tegar.
** **
Drrrt Drrrt
Tegar berhenti ketika ponselnya bergetar, dia kemudian mengambilnya dan melihat siapa yang menelfonnya.
“Akai gue duluan yah.”
“iya iyah.”
‘kak Aliya? Mau ngapain dia?’ batin Tegar.
“hallo Kak! Ada apa?”
‘aku tunggu kau di depan sekolah, cepat datang!’
“Apa?! Ngapain Kak Aliya datang udah ku bilang akh akan pergi sendiri!”
‘udah jangan banyak omong! Cepetan kesini!’
Tuut~ Tuut~
Tegar hampir saja membantingkan ponselnya tapi dia berhenti mengingat ponselnya di beli menggunakan uang bukan dengan daun. Dia memasukan kembali ponselnya ke saku celananya.
“sabar sabar.”
Jika berhubungan dengan kak Aliya memang harus banyak bersabar. Lagipula kenapa sih kak Aliya itu suka seenaknya senditi? Bukannya dia sudah bilang untuk menunggu di perusahaan saja, kenapa kekeh mau datang ke menjemputnya.
Dengan wajah cemberut Tegar pergi menuju ke gerbang sekolah sambil menengok kesana kemari mencari sosok menyebalkan yang sering mengganggunya itu.
Sesosok manusia yang di kenal sebagai Aliya sedang menunggunya sambil bersandar di mobil kesayangannya. Aliya menjadi pusat perhatian karena wajahnya yang cantik dan pakaiannya yang lumayan mahal.
“akhirnya kamu datang juga Tegar!” ucap Aliya.
“ngapain sih datang kesisni? Kan udah di bilang tunggu aja.” Gerutu Tegar.
“kalau aku tunggu disana pasti lama datangnya, lagian- Tegar itu muka kamu kenapa?!” teriak Aliya.
Aliya langsung menghampirinya dan memegangi wajahnya untuk melihat luka luka di wajahnya. Dati ekspresinya sepertinya Aliya terlihat kawatir melihat luka di wajahnya.
Bukan hanya dia yang kawatir tapi juga Tegar, tapi dia kawatir dengan hal lain. Tegar khawatir kalau nanti orang-orang curiga dan membuat gosip yang engak-engak tentangnya.
“udah kak aku gak apa apa.”
Tegar kemudian menyingkirkan tangan Aliya yang memegangi wajahnya. Lagipula dia baik-baik saja, kalau luka seperti ini dia sudah sering mengalaminya waktu sebelum pindah sekolah.
“lebih baik kita segera pergi, orang orang melihat ke arah kita.” Ucap Tegar.
“baikalah tapi kau harus menjelaskan apa yang terjadi.” Balas Aliya.
Tegar mengangguk tanda setuju, mereka kemudian masuk ke Mobil dan pergi meninggalkan sekolah.
__ADS_1
To Be Continue