Smile In The Void

Smile In The Void
Chapter 35 [Keseharian di sekolah]


__ADS_3

Pagi hari.


Dengan langkah gontai, Tegar berjalan menuju ke kamar mandi sambil membawa handuknya. Sesekali dia menguap karena rasa kantuk yang masih tersisa.


Inilah yang terjadi jika seseorang bergadang terlalu lama, tenaganya berkurang karena tidak cukup istirahat. Sepertinya dia harus mengurangi kebiasaannya bergadang.


“Haah~ semoga saja aku tak telat hari ini.”


Tegar kemudian masuk ke kamar mandi dan melakukan rutinitas hariannya, memulai pagi dengan membuang protein adalah hal yang perlu dia lakukan.


Setelah selesai mandi Tegar langsung mengeringkan tubuhnya dan memakai seragamnya, hari ini dia tak memakai Blazernya tapi dia menggantinya dengan jaket hitam.


Tegar berjalan menuju dapur dan di kejutkan dengan Dina yang sudah berada di dapurnya. Kenapa Dina bisa ada di dapur? Bagaimana dia bisa masuk ke rumahnya?


Dina menyadari keberadaan Tegar berbalik dan memberikan senyum menawan sebelum menyapanya. “Selamat Pagi, adikku yang tampan.”


Tegar membalas senyumnya sebelum berkata. “Selamat pagi juga, kakakku yang paling cantik dan imut.”


Tegar kemudian menghampiri kakaknya dan melihat apa yang sedang di masak olehnya. Apa Dina memang bisa memasak? Tegar agak kurang yakin dengan masakannya.


“kenapa wajahmu kayak kurang yakin gitu? Kamu gak percaya kakak bisa masak?” ucap Dina pura-pura kesal.


“Yah, itu wajar saja... lagi pula aku gak pernah lihat kakak masak sekali pun. Aku takut keracunan.” Balas Tegar dengan wajah polos.


Dina cemberut lalu memukuli Tegar dan berkata. “ugh! Dasar adik jahat!! Kurang akhlak!”


“Aduh! Aduh! Sakit! Kak sakit! Itu! Masakannya gosong tuh! Aduh!”


“Ah?! Makanannya!!”


Dengan tergesa-gesa Dina mematikan kompornya, masakannya hampir saja gosong kalau Tegar tidak mengingatkannya.


Tegar menggelengkan kepalanya sebelum duduk di kursi tempat meja makannya, dia tersenyum melihat Dina yang panik mencoba menyelamatkan masakannya.


“oh ya kak. Kakak gimana bisa masuk ke rumah? Perasaan pintunya masih di kunci deh?” tanya Tegar.


Tidak mungkin dia lupa mengunci pintunya, rasanya dia sudah mengunci pintunya tadi malam. Apa mungkin pintunya di dobrak ya?


Dina berbalik kemudian memperlihatkan sebuah kunci padanya lalu memberikan senyum jahilnya dan berkata. “Aku punya Duplikatnya disini. Tentu saja aku bisa keluar masuk dengan mudah.”


“Kapan kakak membuatnya?” Tegar cukup tercengang, dia tak menyangka kakaknya membuat kunci duplikat rumahnya.


“Udah lama.”


Tegar mengangkat bahunya tak peduli, lagi pula dia tak keberatan kalau Kakaknya memilikinya. Toh kakaknya tak mungkin membawa laki-laki ke rumah ini.


** **


Tegar berangkat mengendarai motornya ke sekolah dengan malas, setelah pasti orang-orang akan heboh karena dirinya membawa motor ke sekolah.

__ADS_1


Bukannya narsis atau apa tapi selama dia bersekolah di sana Tegar belum pernah membawa motor dan lagi orang-orang tau kalau dia hidup pas-pasan.


Sepeda miliknya di pinjam oleh kakaknya yang ingin mengikuti kegiatan acara bersepeda bersama teman-temannya. Dia kan kaya, kenapa harus sepedanya juga yang di pakai.


“Dasar, mau ikut komunitas tapi sepeda hasil minjem.” Gerutu Tegar.


Sesampainya di sekolah, Tegar langsung memarkirkan Motornya di tempat parkir. Dia menghela nafas sebelum melepaskan Helmnya.


Hal yang di takutkan olehnya terjadi. Banyak murid yang menatapnya seolah dia adalah hewan langka di kebun binatang, hal ini membuatnya tak nyaman.


Orang-orang yang berada di parkiran mulai bergosip tentangnya, kebanyakan dari mereka adalah para cewek yang memujinya. Hanya karena dia membawa motor mereka langsung suka padanya.


Heh dasar cewek matre!


“gue udah kayak artis dadakan aja.” Gumam Tegar.


Tegar berjalan dengan malas menuju ke kelasnya, langkahnya terhenti ketika melihat Elena yang duduk di bangku sambil mengipasi wajahnya dengan tangannya. Sepertinya dia sedang kelelahan.


Mungkin pekerjaannya di OSIS cukup sibuk ditambah Elena harus belajar untuk ujian yang akan datang. Bukan hanya OSIS tapi Elena juga merupakan ketua dari Klub Ekstrakurikuler Voli.


Tegar cukup salut padanya karena bisa membagi waktu untuk semua kegiatannya tersebut. Tegar tersenyum tipis sebelum pergi ke mesin minuman lalu membeli air mineral dan Cola.


Setelah itu Tegar mendekati Elena dan menyodorkan Air mineral padanya. “Nih minum, lu pasti cape kan?”


“Ah?! Eh Makasih.” Elena terlihat terkejut tapi dia akhirnya mengambil air mineral tersebut.


“Sama-sama.”


“kerjaan lu di OSIS memang banyak ya? Lu kayaknya capek banget?” tanya Tegar.


“ya gitu deh. Apalagi kami saat ini sedang siap-siap untuk acara ulang tahun sekolah.” Elena menjawabnya tanpa menoleh ke arahnya.


“Eh! Bukannya Ultah sekolah kita masih lama ya?”


“Memang masih lama, tapi kan harus di siapkan dari sekarang.”


“Oh, biar nanti gak ribet ya?”


“iyah!”


Percakapan mereka berhenti disana. keheningan menyelimuti mereka berdua, ini bukan keheningan yang membuat canggung tapi mereka merasa nyaman dengan keheningan ini.


Tegar menyentuh kepala Elena dan membuatnya menyandarkan kepalanya di bahunya, Elena sepertinya juga tak keberatan dengan yang di lakukannya.


“Ke kelas yuk, udah hampir Bell nih!” ucap Elena mengakhiri keheningan tersebut.


“Ayok.” Balas Tegar.


Mereka berdiri dari duduknya lalu pergi bersama menuju kelas. Sepanjang jalan Tegar kadang mengayakan sebuah lelucon hingga membuat Elena tertawa.

__ADS_1


Tegar tersenyum melihatnya, dia lebih suka ini. Dia lebih suka melihat Elena yang tertawa seperti ini daripada ketika dirinya yang terlihat sedih atau kelelahan.


Mereka sampai di kelasnya, Tegar menggerutu dalam hatinya, kenapa mereka harus sampai secepat ini sih, padahal dirinya masih ingin mengobrol dengannya.


“Oi Akai, akhirnya lu sampai juga.”


“Iya nih, kami udah tunggu in lu dari tadi!”


“Buruan lu kesini.”


“Kalian ini.... pagi-pagi udah ribut aja, ada apaan?” Tegar duduk di kursinya dan menyimpan tasnya.


“asal lu tau, ini masalahnya penting banget.” Ucap Yuda.


“Masalah ini menyangkut masa depan kita.” Ucap Kevin.


Tegar menatap datar mereka dan mengalihkan pandangannya pada Samudra lalu bertanya. “Sebenarnya ada apa sih?”


“Haah~ mereka Cuma mau lihat tugas lu doang.” Balas Sam.


“Tugas? Tugas yang mana?”


“Tugas Fisika. Jangan bilang lu lupa?”


Wajah Tegar langsung pucat. “Kampret! Gue lupa.”


** **


Tegar kini sedang bersantai di Atap, sebenarnya bukan bersantai tapi lebih tepatnya dia sedang mengerjakan tugas fisikanya yang belum selesai.


Teman-temannya sedang berada di perpustakaan mencari buku fisika dan Novel untuk mereka baca. Tapi sepertinya mereka mampir ke toilet atau kantin dulu karena sampai sekarang mereka belum kembali.


“Kebiasaan nih, mereka kalau di suruh pasti kemana-mana dulu.” Gerutu Tegar.


Tegar mengambil ponselnya dan memilih untuk bermain game sebentar sambil menunggu mereka datang. Setelah istirahat ini adalah jamkos jadi dia bisa sedikit santai.


Sepertinya memang sudah menjadi kebiasaan kalau para murid lebih sering bersantai daripada belajar ketika ada jam pelajaran yang kosong.


“Serius amat main gamenya, gue ikutan dong.”


Mendengar suara di belakangnya membuat Tegar refleks menoleh ke arahnya.


“Elena!”


To Be Continue


inilah jadinya jika keseringan main game, semua tugas jadi terlantar.


jangan lupa tekan Like, favorit, and coment ya.

__ADS_1


...Salam Akasia!...


__ADS_2