Smile In The Void

Smile In The Void
Chapter 37 [Deja Vu]


__ADS_3

Tegar Pov


Setelah berpamitan dengan Elena, aku langsung pulang ke rumahku. Tadinya aku ingin langsung pergi ke Kafe tapi karena Elena harus ikut rapat Osis jadi aku memilih kembali ke rumah dulu.


Aku agak kecewa karena rencanaku untuk PDKT dengannya gagal, tapi mau bagaimana lagi hal ini sudah terjadi aku terjadi, aku tak bisa memaksanya.


Dia memiliki tanggung jawab yang cukup besar sebagai ketua Osis, dia harus melakukan tugasnya. Yah lagian kenapa juga sih acara tahunan sekolah harus bertepatan dengan Ujian sekolah?!


Kalau tidak bentrok begini mungkin dia tak harus menyiapkannya dari jauh hari seperti ini. Lebih baik aku tidak memikirkan hal itu dulu, aku harus fokus pada pekerjaanku nanti.


Mengendarai motorku dengan santai, aku terus fokus ke jalan yang lumayan ramai. Hidup rasanya cukup membosankan, entah kenapa aku berharap sesuatu terjadi.


Entah kebetulan atau apa tapi sepertinya Tuhan mendengarkan ucapanku barusan dan mengabulkannya. Sebuah motor melesat dengan cepat melewatiku.


“Sialan!! Siapa sih dia!! Apa dia pikir ini jalanan milik nenek moyangnya apa!!”


Pengendara yang kebut-kebutan seperti ini membuatku kesal, perbuatannya ini merugikan banyak orang. Akan aku kejar kau manusia sialan.


Aku langsung menarik gas motor, membuat motorku melaju cepat membelah jalanan mencoba menyusul pengendara motor tadi. Jangan remehkan aku, begini-begini aku juga pembalap ulung.


Pembalap liar lebih tepatnya.


“Woi sialan!! BERHENTI LO!!”


Bukannya berhenti, orang itu malah semakin mempercepat laju motornya membuat diriku geram. Sialan! Orang ini lumayan juga, aku tak akan kalah darimu!


Aku mempercepat laju motorku sambil menghindari pengendara motor lain yang berlalu-lalang, aku tahu kalau yang aku lakukan ini cukup berbahaya tapi saat ini aku tak memedulikannya.


Amarah yang menggerogotiku membuatku melupakan hal tersebut.


Sial, tidak boleh! Tidak boleh seperti ini!


Sebisa mungkin aku harus menahan diri agar tidak di kuasai oleh amarahku, aku harus tenang, aku tidak boleh menyelesaikan hal seperti ini dengan amarah.


Aku berfokus pada jalanan sambil menenangkan diriku! Setelah beberapa menit mengendara aku akhirnya bisa menyusul pengendara motor tadi. Mau ke mana kau sekarang!


Tunggu! Ada yang aneh... postur tubuhnya... jangan bilang dia...


“Wow lu cukup hebat! Baru kali ini ada yang berhasil menyusulku.”


Sebuah suara lembut nan merdu terdengar olehku. Dia melepaskan Helmnya dan membenarkan rambutnya, untuk beberapa saat aku terpesona oleh kecantikannya.


“Terima kasih, lu juga lumayan... Tidak! Bukan itu tujuan gue ngejar lu!!"Oh aku hampir melupakan tujuanku sekarang.


Gadis itu memiringkan kepalanya dan bertanya. “hm, bukannya lu ngejar gue karena mau balapan?"


Aku menggelengkan kepalaku dan berkata. “Tidak! Aku mengejar lu karena lu bawa motor kebut-kebutan, lu tahu kan kalau perbuatan lu ini Merugikan orang lain?!”


“Santai aja kali, gak usah ngegas gitu. Lagian gak ada yang luka kan?”


Orang ini... dia dengan entengnya mengatakan hal tersebut. Apa dia tak tak kalau yang di lakukannya cukup berbahaya dan melanggar peraturan?! Yah, aku tau aku tak berhak mengatakan hal ini karena aku juga sering melanggar.


“Gak luka, lu gak lihat tadi ada ibu-ibu mau nabrak gergara lu!!” ucapku.


“tapi gak nabrak kan? Gitu aja kok di permasalahkan. Lu bilang aja kalau mau tanda tangan gue, gak usah bertele-tele.” Ucapnya santai.


Sial, kalau bukan karena dia perempuan, aku mungkin sudah menghajarnya sejak tadi. Aku ingin menghajar wajah sombongnya itu.

__ADS_1


Aku mendengus sebelum membalas. “hah?! Tanda tangan?! Emang lu siapa? Gue gak butuh tanda tangan lu.”


“lu... lu gak tau siapa gue?”


“enggak! Emang lu siapa? Anak Camat?"


“Astaga! Lu hidup di gue ya? Lu gak punya Tv ya?”


Oi! Lama-lama ngelunjak. Seenaknya saja dia mengataiku tak punya Tv, aku memilikinya walaupun ukurannya kecil. Anak siapa sih orang ini, kalau bicara sepertinya tidak di saring dulu.


Tapi... entah bagaimana rasanya Deja vu.


“Gue hidup di kota lah! Lu kira gue kelelawar apa hidup di Gua!”


“Kalau gitu lu pasti kenal gue kan? Yuuna!”


“Enggak.”


Yah situasinya sangat familier, rasanya kejadian seperti ini pernah terjadi tapi entah kapan itu aku sudah lupa. Apa aku sudah tua ya sampai melupakan hal seperti itu?


“Gue Aktris! Penyanyi! Lu tau lagu “The Heart” kan?”


“Aku tidak tau dan tidak peduli, yang pasti, lain kali lu kalau bawa motor jangan ngebut sama ugal-ugalan.”


Aku langsung berbalik menaiki motorku dan memakai Helmku kembali sebelum pergi meninggalkannya yang masih tercengang dengan wajah bodoh.


Yah sekarang aku sudah ingat, kejadian seperti ini memang pernah terjadi padaku dulu. Kejadian ini mirip ketika pertama kali aku bertemu dengan Nita.


Berharap saja aku tak bertemu dengannya lagi, aku tidak ingin berurusan dengan hal yang merepotkan. Berurusan dengan orang sepertinya lebih merepotkan dari melawan preman.


Yuuna yang masih berdiri di dekat motornya hanya terdiam sambil menatap kepergian Tegar. Dirinya tak menyangka kalau ada orang yang tidak kenal dengannya.


Laki-laki tersebut sangat berbeda dengan laki-laki yang pernah di temui olehnya, yang hanya mendekatinya karena kecantikannya dan kekayaan yang di miliki olehnya.


Seorang sepertinya mungkin hanya ada satu di dunia. Orang yang memandangnya sebagai dirinya, bukan sebagai Yuuna sang penyanyi. Tanpa sadar bibirnya membentuk lengkungan.


“Dia cowok yang sangat menarik. Sayang sekali aku lupa menanyakan namanya.”


'aku harap bisa bertemu demgannya lagi.'


Yuuna menghela nafas sebelum menaiki motornya dan memakai kembali Helmnya lalu mengendarai motornya menuju rumah dan kali ini dia tidak kebut-kebutan seperti sebelumnya.


** **


“Aku pulang!”


Aku tahu kalau tidak ada orang yang akan membalasku lagi pula Bunda tidak mungkin kesini sekarang, dia harus mengurus butiknya yang ramai.


Sementara kakak? Yah aku yakin dia sedang sibuk dengan urusan Kuliahnya. Setelah membuka pintu, seperti kuduga tidak ada siapa pun di rumah, rumah ini cukup sepi sekarang.


“Selamat datang!”


Eh!! Suara itu....


“Bunda?!”


Setelah beberapa bulan, hubunganku dengan Bunda semakin membaik, kami jadi semakin dekat bahkan sekarang aku memanggilnya ‘Bunda’ bukan ‘ibu’ lagi.

__ADS_1


“Tegar, udah pulang nak? Kamu pasti lapar, Bunda siapin kesukaan kamu.”


“Eh! Ah yah kebetulan aku lapar. Tapi Bunda ngapain ada disini?”


Bukannya seharusnya buda itu ada di Butiknya sekarang? Aku tau kalau Butik milik bunda itu cukup terkenal dan memiliki banyak pelanggan, jadi aku lumayan terkejut dia ada disini.


Jangan bilang padaku kalau dia melalaikan tugasnya dan memilih pergi kesini?!


Bunda memeberiku tatapan sedih dan bertanya. “Hm kenapa? Memangnya Bunda gak boleh gitu datang ke rumah anaknya sendiri?”


Ah sial, lagi-lagi Bunda menggunakan kelemahanku, dia tau aku paling tidak tahan melihat wanita menangis dan lagi memang tidak salah bagi seroang ibu untuk datang ke rumah anaknya.


“Y-yah tentu boleh, tapi apa bunda gak sibuk?”


Dengan senyum lembut dia berjata. “Sayang, sesibuk apapun Bunda pasti akan menyempatkan waktu buat kamu.”


“Terima kasih, kalau gitu kita makan bareng yuk Bun, aku udah lapar nih.” Ucapku sambil menggandeng Bunda ke meja makan.


Aku sangat senang... aku senang Bunda akhirnya bisa meluangkan waktu untukku di sela-sela kesibukan nya, aku tau sangat sulit untuk membagi waktunya apalagi dengan jarak yang cukup jauh.


Saking senangnya bisa makan bersama Bunda membuatku lupa menanyakan dari mana dia bisa masuk ke rumah.


“Bun, setelah makan aku akan langsung pergi ke Kafe, maaf aku tidak bisa menemani bunda disini.”


Sebagai seorang pegawai yang baik, aku tidak boleh terlalu sering bolos bekerja, bukan hanya karena kemungkinan Gaji di potong tapi aku mungkin bisa di pecat kalau terlalu sering bolos.


“Tegar, Kalau kamu butuh uang kamu bisa minta sama Bunda, kamu gak usah kerja kayak gini.” Ucap Bunda serius.


Aku tau dia sangat tulus mengatakan itu, tapi mau bagaimana lagi, setelah beberapa tahun hidup sendiri membuatku agak sulit untuk meminta bantuan orang lain, bahkan jika itu keluargaku.


“Aku tau. tapi Bun, Bunda juga tau kalau aku tidak terlalu suka terlalu bergantung pada orang lain.”


“Tapi Tegar, kita ini keluarga.”


“Aku tau, Bun aku mohon... biarkan aku terus bekerja di sana... bukan hanya karena uang tapi... aku suka bekerja disana.” Ucapku sambil menundukkan kepala.


Bunda menghela nafas lalu berkata. “kalau itu mau kamu, bunda gak bisa Melarangnya. Tapi ingat, kamu harus tetap fokus pada sekolah.”


“Pasti. Makasih Bun, aku sayang banget sama bunda.” Ucapku.


“Bunda juga sayang sama kamu.”


*To Be Continue


yo, kita ketemu lagi. kali ini ada tokoh baru yang muncul, kira kira dia bakal muncul lagi gak ya?


Lalu apakah Tegar bisa mengajak Elena untuk makan bersama?


jika kalian penasaran, tunggu aja kelanjutannya.


makasih buat kalian yang masih setia membaca dan sabar menunggu cerita ini berlanjut.


sampai jumpa di Chap berikutnya*.


...Salam Akasia!!


...

__ADS_1


__ADS_2