Smile In The Void

Smile In The Void
Chapter 2 [Dibalik kesulitan ada keberuntungan]


__ADS_3

"Ini gudang sudah kayak kapal pecah, berantakan gak ketulungan!!"


Aku terus menggerutu ketika membersihkan gudang yang sangat berantakan. Entah kapan terakhir kali gudang ini di bersihkan!


Tahun lalu mungkin?


"Sudah cepat bersihkan, jangan banyak mengeluh."


"Lu enak cuma liatin aja, ini gudang kotor banget kapan sih terakhir kali di bersihkan? Lagian kenapa harus Lu sih yang mengawasi gue."


Aku menatap malas ke arah Elena yang kini sedang duduk dengan kaki di lipat. Entah kenapa harus Elena yang mengasiku di sini.


"Gue juga males mengawasimu tapi, yang lain sedang ada urusan jadi mau gak mau gue yang harus mengawasimu."


Elena menjawab dengan acuh tak acuh. Kalau saja dia bukan perembuan dan bukan ketua Osis, mungkin aku sudah menghajarnya. Cewek sialan!


'Ya tuhan cobaan apa lagi yang akan kau berikan pada hambamu yang paling tampan ini.' batinku narsis.


Aku kembali membersihkan gudang, dia mulai memindahkan beberapa kotak yang berserakan. Sebuah tangan memegang kotak di depannya, sontak aku mengalihkan pandangannya pada pemilik tangan tersebut.


Apa yang ingin di lakukan gadis ini? Aku menatap heran ke arah Elena. Apa dia mau membantuku?


"Apa?"


Sepertinya dia risih karena di tatap seperti itu olehku. Maaf saja aku tidak akan jatuh cinta padamu


"Apa yang mau lu lakuin?"


Aku bertanya dengan nada heran. ada angin apa sampai gadis jutek ini mau membantuku? Ini sangat tidak bisa di percaya, kalau ini sungguhan sepertinya aku harus memasukannya ke Book's Of Rekor deh.


"Bantuin Lu lah, masa jualan Somai."


Kenapa dia malah menatap heran ke arahku? itu pasti yang dia pikirkan! tentu saja aku terkejut mendengarnya mau membantuku. Kevin pasti tak akan percaya kalau tidak melihatnya langsung.


"Kenapa malah bengong, ayo cepetan masih banyak yang harus di bersihkan."


Elena menegur ku yang malah bengong sendiri. Memangnya aneh kalau Elena membantunya? Kalau orang lain mungkin aku akan biasa saja, tapi yang membantunya ini adalah ketua Osis yang terkenal galak. Tentu saja aku heran.


"Iya iya, dasar bawel."


"Lu ngomong apa tadi, hah?"


Mendapatkan tatapan tajam dari Elena membuatku berkeringat dingin, aku mengayunkan tanganku di depan wajahku dengan panik.


"Ti-Tidak gue engak bilang apa-apa, lu salah dengar kali"


'gila! ni cewek gak ada manis-manisnya' batinku.


"Jadi Lu pikir gue tuli gitu?"


Bukannya membaik, Elena malah kelihatan semakin kesal padaku. Kenapa kuga dia malah kepikiran ke sana, aku tidak menyebutnya tuli dia sendiri yang bilang begitu.


"Sudah lah berdebat sama lu engak ada gunanya. Cepat bereskan!"


Setelah perdebatan itu Kami mulai membersihkan gudang bersamaan, kami bekerja sama supaya gudang bisa lebih cepat bersih. Walaupun keliahatannya Elena tidak tulus membantuku.


Gudangnya lumayan besar, kalau di kerjakan seorang mungkin tak akan selesai hari ini. Kenapa juga dia harus menyuruhku membersihkan gudang?! Membersihkan yang lain kan bisa.


Waktu berlalu dengan cepat kami akhirnya selesai membersihkan gudang, gudang yang tadinya berantakan sudah menjadi bersih dan rapih.


"Huuh akhirnya selesai juga."


Aku merenggangkan tubuhku yang pegal akibat mengangkat barang-barang di gudang. aku tidak memyangka kalau membersihkan gudang akan semelelahkan ini.


"Nih minum, akan merepotkan jika lu pingsan disini."


Sebuah tangan menyondorkan sebotol air mineral, tentu saja Elena yang memberikannya. Tanpa pikir panjang aku menggambil air mineral tersebrut dan meneguknya.


Aku sangat haus tau!


"Makasih, lu engak minum?"


Aku menanyakan hal itu karena Elena hanya membawa sebotol air saja. Apa dia tidak kehausan setelah membersihkan gudang yang begitu kotor, aku tidak ingin menggendongnya kalau dia pingsan.


"Tidak, gue engak haus."


Itu pasti bohong. Aku memberikan botol air mineral tersebut kepada Elena. Sebagai lelaki sejatitak mungkin aku membiarkan seorang gadis kehausan sementara aku minum sendiri.


"Nih minum, gue engak mau menggendongmu jika Lu pingsan."


Elena menatap ke arahku dan air mineral tersebut bergantian.


Kenapa malah bengong? Bukannya di ambil minumannya, tanganku sudah pegal

__ADS_1


Wajahnya memerah sudah kuduga kalau dia kehausan, pake malu-malu segala. atau apa dia kesal karena aku memberinya air minum bekasku atau karena hal lain?.


"kenapa diam, ayo minum gue tau lu haus setelah membersihkan gudang tadi."


Elena mengambil air mineral tersebut. Aku tersenyum melihat Elena menerima air mineral tersebut.


"Makasih."


"Kenapa berterima kasih? itu minuman dari elu.".


Aku terkekeh karenanya, air mineral itu dia yang memberikannya kenapa dia yang berterima kasih padaku.


Drrrt Drrrt


Ponsel miliku tiba-tiba bergetar, sontak aku pun kemudian mengambil ponsel yang ada di saku celanaku. Hmm ternyata Lisa, mau apa dia menelponku? Aku kemudian menggeser lambang telepon berwarna hijau.


"Hallo Lis ada apa?"


[Ya Tegar gini, gue ada kerjaan buat Lu!]


"Kerja apaan?"


[Gue pengen lu bantuin gue ngedit video sama Foto, lu kan jago dalam hal itu]


"Kenapa gak orang lain saja?"


[Gue gak tau orang lain yang bisa ngedit, jadi gue mohon Lu mau ya~]


"Oke, nanti mau lu kirim bahannya atau lu yang ke rumah gue?"


[Gue ke rumah lu aja, sekalian gue juga pengen lihat gimana cara ngeditnya]


"Hmm oke, kapan?"


[Besok siang gue langsung ke rumah lu]


"Ya baiklah, mumpung besok libur."


[Makasih ya Tegar, Bye]


"Hmn Bye."


Tut Tut


Setelah memutuskan obrolan dengan Lis, aku lalu menaruh Ponsel ku ke dalam saku celana, aku kemudian berdiri dari tempat duduknya dan menatap Elena.


"Karena ini sudah selesai lebih baik kita pergi ini sudah sore."


Elenamengangguk menanggapi nya dia kemudian berdiri dan mengikuti ku keluar dari gudang. Koridor sekolah sudah sepi karena semua murid sudah pulang sedari tadi.


Hari ini juga tidak ada kegiatan club sama sekali, sekolah ini terlihat agak menyeramkan kalau di lihat saat pencahayaan nya kurang.


Aku pergi menuju parkiran dimana sepedaku terparkir rapi tapi ketika dia hendak pergi Elena menarik narik bajunya.


"Apa?"


"Gue ikut."


"Hah! memang lu ngak di jemput supir?"


Bukannya aku tidak mau menolongnya tapi, apa kata tetangga kalau mereka melihatku membonceng seorang gadis. Bisa-bisa nanti beredar gosip tentangku lagi.


tetanggaku memang gemar sekali bergosip. Mungkin sudah menjadi hobi untuk para emak-emak.


"Gue ngak di jemput hari ini, lagipula rumah kita searah."


"Memang rumah lu di mana?"


Baru tau aku kalau ternyata rumah Elena searah dengan rumahku. Aku kok gak pernah melihatnya? kenapa juga Elena bisa tau rumahnya?.


"Rumah gue di komplek melati.".


Pantas saja aku ngak pernah melihatnya, ternyata rumahnya berada di komplek ya.


"Haah~ terserah lah, ayo."


Mana tega aku membiarkan seorang gadis pulang sendirian, bisa-bisa dia di rampok di jalan. Aku sebenarnya tidak peduli tapi itu akan meninggalkan rasa tidak enak di mulutku.


Setelah Elena naik ke atas sepeda aku kemudian mengayuh sepedanya, aku melajukan spedanya lumayan cepat membuat Elena mau tak mau memeluk ku.


Jangan salah kira, aku bukan mau modus atau apa tapi aku harus pergi ke Kafe hari ini.


"Kyaaa jangan terlalu cepat!, kita bisa jatuh!"

__ADS_1


"Diamlah, gue udah pro jadi tenang saja."


Sudah cukup lama aku mengendarai sepeda jadi mana mungkin aku terjatuh hanya karena mengebut dengan kecepatan seperti ini.


Bahkan biasanya aku mengendarai nya lebih cepat dari ini.


Tak membutuhkan waktu lama kamo pun sampai di depan gerbang komplek Melati, aku menghentikan sepedanya di dekat gerbang.


"Turun!"


"Antar gue sampai di rumah!"


"Tidak mau minta antar satpam komplek aja."


Aku menunjuk ke arah seorang satpam yang sedang berjaga di posnya. Bukan berjaga juga sih, satpamnya sepertinya sedang tidur?!


"Hmph~ dasar menyebalkan."


Seenaknya saja dia menurunkannya di sini, Elena kemudian pergi menuju pos Satpam meninggalkanku yang menatapnya dengan malas.


"Bodo amat!"


Ketika melihat jam tangan aku terkejut karena waktu telah menunjukan pukul 15:04. 26 menit lagi waktunya aku untuk bekerja, sial gara gara Ketua Osis aku bisa terlambat.


Karena waktunya sedikit aku mengayuh pedal sepedaku dengan cepat menuju rumahku. Setelah mengganti pakaian aku lalu pergi menuju kafe tempatku bekerja.


Semua halangan aku lewati, aku memilih melewati gang agar dapat sampai lebih cepat, tong sampah ku tabrak hingga terpental jauh tapi aku tidak memperdulikannya.


Meong~!


Tak membutuhkan waktu lama aku akhinya sampai di pintu belakang kafe. Aku kemudian memarkirkan sepedanya terlebih dahulu kemudian dia masuk ke dalam kafe.


"Tegar akhirnya lu datang juga!"


Para pegawai yang lain terlihat bersyukur karena mereka akan terbantu, soalnya kafe saat ini sedang ramai pengunjung jadi mereka sangat kerepotan.


"Maaf gua telat, tadi gue harus mengantarkan teman gue dulu."


Aku merasa tidak enak karena datang terlambat, mereka jadi kerepotan karenanya.


"Tak apa, lu segera ganti baju dan bantu antar pesanan itu."


"Siap!"


Aku segera pergi ke ruangan ganti dan mengganti bajuku dengan seragam waiter. Setlah berganti pakaian aku kemudian membantu yang lainnya mengantarkan pesanan.


"Bang, yang ini antar Ke meja berapa?"


"Antar ke meja nomor 5."


Tanpa berkata lagi aku langsung mengantarkan pesanan tersebut, aku tak mau membuat pelanggan menunggu. Nanti gajiku di potong lagi


"Maaf menunggu, ini dia pesanannya."


Ketika selesai menaruh pesanannya aku lalu kembali untuk mengambil pesanan yang lain.


"Tegar, ini untuk meja nomor 2, awas jangan tumpah."


Pesanan nya adalah sebuah jus jadi, aku harus hati hati membawanya agar tidak tumpah.


Aku mengangguk kemudian membawa pesanannya ke meja 2 yang berada di dekat jendela.


Cling?


Para pelanggan berjalan keluar masuk melewati pintu, waktu terasa berlalu dengan lambat untukku dan para pegawai lainnya.


Sepertinya ini akan menjadi hari yang panjang, aku sudah lumayan lelah karena harus membersihkan gudang sekolah.


Jam menunjukan pukul 9 malam, sekarang sudah waktunya untuk kafe tutup. Akhirnya aku bisa pulang dan rebahan di rumah.


"Huft~ hari ini kafe ramai sekali."


"Yah tubuhku sapai terasa pegal semua."


Yang lainnya mengangguk setuju, jarang-jarang pelanggan kafe bisa seramai tadi. Tegar sudah mengganti pakaian waiternya.


"Gue pulang duluan bang."


"Ya sudah kalo gitu, hati-hati di jalan."


Aku mengangguk, aku kemudian pergi keluar dari Cafe menuju tempat sepedaku terparkir. Aku menaiki sepedanya kemudian pergi menuju rumah.


Kasur-Chan aku datang.

__ADS_1


__ADS_2