Story With 100 Genres

Story With 100 Genres
Eps 19


__ADS_3

Bunyi Ting! pelan menandakan lift telah sampai di lantai teratas, tempat hiburan orang-orang kaya. Berpuluh-puluh wanita dengan dandanan rapi dan elegan terlihat memenuhi setiap ruangan.


Suara denting gelas, wine, obrolan ringan, wanita, tempat perjudian. Semua ada disini. Karena selain untuk tempat hiburan, tempat ini juga sering dipakai untuk mencari koneksi atau kesepakatan.


Di samping kanan Wan Sheng, ada seorang laki-laki yang sangat mabuk, tanpa pikir panjang laki-laki itu menarik wanita di dekatnya, lalu menyuruhnya memimpin jalan ke kamar hotel. Niatnya sejelas matahari di siang hari.


Di sisi lain, teriakan semangat dan kecewa memenuhi udara. Itu adalah ruang tersendiri yang berisi tempat perjudian, setiap orang yang bermain merupakan orang berpengaruh di tempatnya.


Kadang-kadang, ada orang biasa yang menabung beberapa juta yuan hanya untuk mengikuti perjudian disini. Selain mengundi nasib, mereka juga ingin mencari koneksi pada kalangan atas.


Seperti saat ini, di tengah ruangan, seorang pria berjas rapi dan berdasi dikerumuni oleh pria dan wanita lainnya. Mungkin ada sekitar sepuluh orang yang mendekatinya. Itu adalah Gong Ye Xiao, atau Presdir Gong.


Tidak ada yang biasa di antara orang-orang itu. Ada yang merupakan gubernur provinsi, pemimpin dari keluarga besar, dan ada juga seseorang yang mirip Hao Ren!


Wan Sheng segera mengenalinya sebagai ayah Hao Ren, Steven Hao. Merupakan pemilik asli dari perusahaan Hao yang berada di dua puluh besar negara, tapi sekarang dia berusaha menjilat pada Presdir Gong untuk berinvestasi pada proyeknya.


Wan Sheng yakin, ayah Hao Ren, Steven Hao telah mengetahui tentang dua pengawal pribadi anaknya yang terbunuh. Tapi Wan Sheng belum yakin apakah Steven Hao tahu dia yang membunuhnya atau tidak.


Kling! Wan Sheng mengambil anggur wine yang dibawakan pelayan. Anggur disini adalah anggur kualitas tinggi, dan termasuk salah satu alat skema yang sering dipakai, seperti menaruh obat tidur di dalam anggur.


“Saudara, ingin bersulang denganku?” Seorang pria berkacamata mendatangi Wan Sheng.


“Tentu!” Wan Sheng mengangkat gelasnya, lalu meminumnya dalam satu tegukan. Di Kerajaan Biora, Wan Sheng telah meminum ratusan jenis anggur, jadi anggur seperti ini tidak akan membuatnya mabuk.


Pria berkacamata tersenyum senang. “Saudara terlihat sangat muda!” Selintas ia memikirkan perbuatan buruk, namun segera dipadamkan. “Apa saudara sedang mencari seseorang disini?” Pria itu berkata hati-hati.


“Aku hanya ingin mencari hiburan.” Jawab Wan Sheng.


“Haahh… Saudara, kau sangat beruntung, kesini hanya untuk mencari hiburan. Sedangkan aku, Haahh… mungkin ini terakhir kalinya aku bisa datang kesini.” Pria itu menghela nafas. Wajahnya tampak sedih.


“Mungkin adalah keberuntungan aku bertemu saudara disini. Ngomong-ngomong, siapa nama saudara ini?” Tanya Pria itu.


Wan Sheng tanpa pikir panjang menjawab, “Li Tuning.” Nama yang selalu membuatnya sedikit tertawa saat mengingatnya. Orang tua itu! Kenapa aku harus terus mengingatnya!?


“Jadi saudara Li…


Pria itu melepaskan kacamatanya dan mengeluarkan kain kecil, membersihkannya.


“Saudara Li, untuk mengingat pertemuan kita, bagaimana dengan sedikit permainan!” Pria itu mengulurkan tangannya, “Namaku James Qin.”


Wan Sheng segera menyambut uluran tangannya, bisa dibilang ini adalah titik awal ia memasuki dunia gelap yang berisi para penguasa dunia.


Waktu terus berjalan, satu menit… dua menit… tiga menit…

__ADS_1


“Jadi ini yang kamu maksud dengan permainan?” Wan Sheng tidak bisa menutupi rasa jengkelnya. Matanya melihat papan dengan kotak-kotak kecil di depannya. Sebelumnya ia mengira permainan itu merupakan dadu, kartu atau yang lain.


Tapi, Catur? Kau bermain catur disini!? Ayolah, apakah ini masih disebut permainan?


“Bagaimana? Apa saudara ingin bermain satu ronde denganku?” James Qin bertanya. Namun saat ia melihat raut wajah Wan Sheng, ia meneruskan sambil tersenyum canggung.


“Baiklah-baiklah Saudara Li, mungkin ini tidak semenegangkan permainan dadu atau kartu. Jadi bagaimana kalau kita ubah peratura…


"Aku yang akan menentukan taruhannya." Wan Sheng memotongnya, lalu melanjutkan dengan acuh tak acuh. "Taruhannya adalah kepalaku dan kepalamu."


"Ap… k-kepala? Saudara Li tahu cara bercanda rupanya, hahaha." James Qin berusaha tertawa, namun langsung terhenti saat Wan Sheng berbicara.


"Aku serius."


"Saudara Li, aku masih sayang nyawaku."


"Bukankah kamu yang mengajak aku untuk bermain? Aku hanya bermain dengan taruhan tinggi. Kepalamu sebenarnya tidak bisa dibandingkan dengan kepalaku, tapi demi permainan yang seru, aku bisa menerimanya." Wan Sheng telah duduk di kursi. Di depannya meja catur terbentang dengan bidak catur diatasnya.


"Ayolah, kamu mengajak aku bermain, sekarang kamu ingin menolaknya?" Wan Sheng telah memajukan pionnya, dia mendapat giliran putih.


Catur yang dimainkan adalah versi catur internasional, dengan bidak hitam dan putih yang saling berhadapan.


James Qin disisi lain belum menduduki kursinya. Dia masih ragu-ragu dengan taruhan tingkat tinggi ini.


Sebenarnya apa yang spesial dari Wan Sheng? Wajahnya biasa saja dan penampilan layaknya gelandangan jika dibandingkan orang lain yang berdandan menor. Kaos putih dengan noda tinta.


Tapi justru itu yang membuat takut semua orang. Dikabarkan orang yang sangat berpengaruh tidak akan memperdulikan penampilannya, karena mereka sendiri telah berada di atas hukum.


Dan situasi ini adalah situasi yang Wan Sheng inginkan, jika James Qin mengajaknya bermain dadu atau kartu, Wan Sheng tetap akan mempertaruhkan kepalanya.


"Aku yang akan menggantikannya." Seseorang menawarkan dirinya. Pria tampan dengan jas hitam dan dasi merah.


"Oh! Sebenarnya ada orang yang tidak pengecut. Baiklah, silahkan duduk." Wan Sheng menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Kau ingat apa taruhannya."


Pria itu tidak lain merupakan Presdir Gong, Gong Ye Xiao.


Gong Ye Xiao duduk, ia segera memajukan pionnya juga. "Atur waktu ke lima menit, mulai."


Tak, tak, tak. Suara bidak catur terdengar keras. Setiap satu langkah, helaan nafas yang tak terhitung jumlahnya terhembus ke udara.


Mungkin orang-orang disini tidak mengenal Wan Sheng, tapi Presdir Gong, hampir semua orang mengenalnya, dia adalah orang paling berpengaruh nomor lima di negara.


Permainan telah masuk ke middle game, yaitu tahap penyusunan strategi. Namun…

__ADS_1


"Ah! Sepertinya aku salah." Wan Sheng memangku kepalanya. Ia Kehilangan ratu putihnya. Bidak paling berpengaruh sebagai penentu arus permainan.


Banyak orang berkata, 'saat kamu kehilangan ratumu, berarti kamu kalah.'


Anggapan seperti itu memang benar. Ratu dalam dunia catur memiliki peran yang sangat besar. Karena memiliki gerakan paling luas.


Tapi sebenarnya Wan Sheng mengorbankannya dengan sengaja. Ia hanya ingin menambah ketegangan permainan.


"Presdir Gong telah unggul satu ratu. Sepertinya pemenangnya telah ditentukan."


"Ya, Presdir Gong dikabarkan pernah melawan pecatur dunia magnus carlsen di ruangan tersembunyi dan menang."


"Bukankah itu berarti Presdir Gong setingkat dengan grandmaster?"


"Tidak, dia lebih tinggi lagi."


Temannya lanjut bertanya, "jadi siapa yang akan menang?"


Dia menjawab, "kita tidak tahu, Li Tuning ini namanya belum pernah terdengar dimanapun, jadi bisa dipastikan dia menyembunyikan identitasnya. Tapi Presdir Gong telah unggul satu ratu, dan sepertinya dia hanya berpura-pura hebat."


Wan Sheng saat ini telah kehilangan lima pion dan satu ratu, sementara Gong Ye Xiao baru kehilangan satu pion dan gajah.


Pemain catur top dunia pun akan kesulitan saat menemui situasi ini. Kecuali lawannya benar-benar bodoh, hampir mustahil memenangkan permainan tersebut.


Wan Sheng mulai menjalankan gajahnya, dan dibalas Gong Ye Xiao dengan mengeluarkan ratunya. Skak!


Wan Sheng menghalanginya dengan kuda. Sekaligus persiapan rokade pendek, pertukaran posisi antara benteng dengan raja.


Tak, tak, tak, permainan terus berlanjut. Semenjak permainan dimulai, Wan Sheng telah kehilangan tujuh pion, satu kuda dan satu gajah serta ratu. Posisi hitam pun terlihat lebih unggul di atas papan, karena ratu telah memasuki pertahanan lawan.


Presdir Gong diam-diam senang dalam hatinya, karena beberapa langkah lagi ia akan mendapatkan skak mat!


Tapi dalam sekejap, Wan Sheng membombardir raja hitam dengan skak. Gong Ye Xiao hanya memindahkan rajanya, namun lagi-lagi mendapat skak dari gajah. Saat ia menahan menggunakan gajah lainnya, skak datang dari benteng.


Sebenarnya dari mana datangnya benteng itu! Presdir Gong tidak bisa tidak bertanya dalam hatinya. Semua bidak putih seperti telah siap di posisinya sejak awal, seperti rencana serangan balik yang dahsyat.


Wajah Gong Ye Xiao berubah dari sombong menjadi sangat putih pucat, tangannya mulai bergetar. Ia dikenal sebagai orang yang tidak pernah menarik ucapannya, namun saat ini...


Wan Sheng terus menyudutkan raja hingga ke posisi yang Wan Sheng inginkan.


“Hm… kamu ingat taruhan kita bukan?” Wan Sheng menyeringai pelan. Tangannya mengambil benteng dan…


“Skak mat!” Raja hitam telah diserang dari berbagai sisi tanpa bisa menghindar lagi, skak mat! skak mat sempurna! Sisi hitam telah kalah dengan cantik.

__ADS_1


__ADS_2