Story With 100 Genres

Story With 100 Genres
Eps 29


__ADS_3

Wush!


Sebuah pesawat kecil meluncur dengan cepat, melewati jutaan bebatuan angkasa dengan lincah. Sesekali mengaktifkan laser untuk memotong batu-batu besar yang menghalanginya.


Cahaya kekuningan keluar dari pendorong pesawat tersebut, membentuk bekas ekor layaknya bintang jatuh.


Wan sheng berada di dalam pesawat itu. Dia mengerjakan misi ini dengan seorang partner pembunuh yang memiliki Rank C, satu Rank lebih rendah darinya. Namun itu sudah menjelaskan kemampuannya.


Partner Wan Sheng bernama Jasmine, salah satu pembunuh wanita di organisasi. Jika dibandingkan, keahlian Yuyu dan Jasmine mungkin tidak akan jauh berbeda, jadi Wan Sheng sama saja seperti membawa Yuyu saat ini.


Namun bedanya, tubuhnya telah pulih seratus persen!


Gerakannya akan lebih halus serta keterampilannya akan lebih mematikan. Wan Sheng membawa semua peralatannya yang hanya terdiri dari dagger, helm, serta baju pelindung sederhana.


Saat ia melihat Jasmine, gadis itu bahkan membawa satu koper peralatan tambahan di bagasi pesawat selain yang ada di tubuhnya. Jelas dia membawa lebih banyak peralatan dibanding Wan Sheng.


Saat Jasmine pertama kali melihat Wan Sheng masuk, ia mengira Wan Sheng akan membawa banyak peralatan, jadi ia menyediakan beberapa tempat juga di bagasinya, namun tebakannya salah, pria itu sebenarnya hanya membawa tiga alat yang bahkan tidak bisa dipakai untuk bertarung selain daggernya itu.


"Kamu hanya membawa alat seperti itu?" Jasmine bertanya dengan heran setelah beberapa saat.


"Ya," jawab Wan Sheng singkat. Ia menyalakan musik santai. Membuat suasana lebih rileks.


Gadis itu pernah berpartner dengan pembunuh Rank B beberapa kali dan mereka semua membawa lebih banyak peralatan daripada dia, tapi pria ini…


Apakah dia bertarung hanya memakai tubuh?


Pesawat telah mendekati jarak lima kilometer dari Nintaligen Group. Tempat itu sama seperti tempat pelelangan, terbuat dari berbagai bahan yang kemudian dijadikan sebagai planet perusahaan.


Tempat itu berbentuk acak, datar namun menanjak. Bangunan-bangunan tinggi serta berbagai peralatan pengolah mineral bertebaran di sana.


Melihatnya, Wan Sheng segera menyadari dimana posisi Hiora, yaitu dibangunan tertiinggi yang terletak di tengah planet. Pesawat-pesawat serta kapal tempur bersembunyi di berbagai sisi. Persenjataan berat seperti tembakan radiasi juga disembunyikan di setiap sudut planet.


Pesawat tempur yang dinaiki Wan Sheng mengaktifkan mode samarannya. Bergerak tenang tanpa terlihat.


"Kamu tetap di pesawat, biar aku yang keluar lebih dulu." Wan Sheng memakai helmnya dan tanpa banyak bicara terjun dari ketinggian tiga ribu kaki di luar angkasa. Jet kakinya segera menyala, menstabilkan gerakannya.


Jasmine yang mendengarnya hanya tersenyum tipis, lalu mengemudikan pesawatnya semakin dekat ke arah tujuan.


Sebagai junior, dia hanya bisa menuruti perintah seniornya. Hirarki di organisasi sangat ketat. Beberapa pembunuh Rank A bisa memerintahkan pembunuh Rank D sesuka hati mereka, bahkan jika itu mengantar pada kematian mereka.

__ADS_1


Biasanya, gadis itulah yang diperintahkan keluar dari pesawat dan mengamati Medan secara langsung. Namun kali ini sepertinya ia mendapat partner yang tidak terlalu buruk.


Wan Sheng turun dengan tenang. Jet kakinya hanya mendengung pelan sebelum berhenti saat ia mendarat.


Di depannya, sebuah bangunan tinggi yang terlihat berbeda dari bangunan lainnya berdiri gagah. Bangunan itu terbuat dari mineral yang diproduksi di sini, Nintaligen, jadi kekokohannya tidak perlu ditanyakan.


Sekelompok penjaga yang merupakan tentara terlatih menjaga gedung itu dari berbagai sisi. Jika dibandingkan, mungkin para tentara ini setingkat dengan tentara yang disewa Li Tuning. Itu bisa dilihat dari kecerobohan mereka, Wan Sheng turun sepuluh meter dari mereka dan mereka tidak menyadarinya.


Entah mereka yang terlalu buruk atau Wan Sheng yang terlalu bagus dalam menyamar.


Dengan perlahan, Wan Sheng mendekati salah satu tentara. Mengiris lehernya dengan cepat, yang membuat tentara itu mati seketika, lalu dengan gerakan kilat, Wan Sheng mengganti pakaiannya.


Kini ia sempurna terlihat sebagai bagian tentara itu!


Menunggu lima menit, akhirnya shift jaga berganti. Wan Sheng masuk ke dalam gedung bersama tentara yang bertugas menjaga di dalam gedung.


Hologram-hologram yang menampilkan pemandangan tiga dimensi tersebar di seluruh tempat.


Sekelompok orang meneliti suatu kandungan dari batu, menggeser-geser layar hologram ke berbagai sisi.


Di lain tempat, para kimiawan dengan jubah putihnya meneliti pembuatan suatu senyawa baru dengan bahan dasar Nintaligen.


Namun Wan Sheng mengabaikan itu semua, ia dengan tenang mengikuti para tentara itu masuk ke dalam. Diam-diam berkomunikasi dengan Jasmine tentang kondisi diluar.


Bahkan nyawanya belum tentu selamat jika dia ketahuan sekarang. Di pusat penelitian ini, ada ribuan tentara dan puluhan penjaga pilihan setingkat pembunuh Rank D yang menjaga, jadi Wan Sheng tidak berani gegabah.


Belum lagi, jutaan senjata api, ratusan tembakan radiasi-yang saat itu menyebabkannya hampir mati juga terpasang, tersembunyi di berbagai sudut gedung.


Wan Sheng ditugaskan menjaga salah satu ruangan rancangan baju tempur bersama tiga penjaga lainnya. Wajah mereka serius, tanpa banyak bicara.


Seorang peneliti masuk ke dalam ruangan. Wan Sheng segara memasang alat penyadap di tubuhnya, mungkin dia tahu dimana pimpinan berada.


"Beritahu Presiden Hiora, rancangan baju tempur kita telah selesai." Peneliti tadi berbicara, yang segera terkirim ke telinga Wan Sheng.


"Apakah telah dilakukan pengujian final?"


"Sudah."


"Baiklah."

__ADS_1


Wan Sheng segera bersiap-siap, ia harus menyamar menjadi orang yang membawa rancangan itu. Tangannya bergerak cepat mengiris tiga leher tentara yang terkejut. Mati seketika tanpa perlawanan.


"Ah!" Wan Sheng menutup mulut pria yang baru keluar dari pintu dan membunuhnya.


Ia mengambil pakaiannya, meniru wajahnya, serta menurunkan suaranya beberapa oktaf, mengikuti suara percakapan yang tadi ia dengar.


Dari pakaian yang ia ambil. Akhirnya ia tahu dimana tempat Presiden Hiora tinggal. Itu adalah lantai ke lima puluh bangunan ini.


"Sekretaris Jun." Para penjaga yang berpapasan dengannya semua membungkuk dengan hormat. Mempersilahkan dirinya menaiki lift yang menghubungkan semua lantai.


Lift disini tentu jutaan kali lebih canggih dibanding lift di hotel bintang lima itu. Pemandangan luar angkasa terasa menyejukkan dari sini. Cahaya hangat dari bintang timur lebih dekat dari sini.


Berbagai batuan, asteroid, dan kabut kabut angkasa bertebaran di langit. Lusinan pesawat pembawa barang ikut meramaikan suasana.


Ting!


"Silahkan Sekretaris Jun." Lift itu berbunyi pelan. Wan Sheng turun dari sana. Wajahnya telah sepenuhnya berubah, kini ia menjadi orang berkacamata yang terlihat dingin dan berpengetahuan.


"Jasmine, bersiaplah!" Wan Sheng memberi instruksi pada gadis itu. Agar jika Wan Sheng telah membunuh Presiden Nintaligen Group itu, ia bisa segera kabur dari sana.


"Ya, senior Sheng." Balas gadis itu sopan.


Sebuah pintu besar yang terbuat dari berbagai mineral indah terbuka. Menampilkan sebuah ruangan super luas yang dipenuhi alat-alat canggih berkualitas tinggi.


Jika alat-alat canggih di bawah dipakai untuk keperluan ilmu pengetahuan. Di dalam sini, alat-alat itu berupa komputer kuantum, kasur layang, mesin pembuat makanan yang lebih bagus dibanding mikik Wan Sheng, dan lainnya.


Jelas ruangan ini adalah ruangan pribadi presiden itu.


"Ah, Sekretaris Jun. Kamu datang." Hiora berkata senang tanpa membalikkan tubuhnya.


Wan Sheng hanya menunduk sebentar dan tidak menjawab.


"Kemarilah, jangan terlalu memaksakan dirimu. Aku selalu merasa kasihan melihatmu bekerja keras setiap waktu. Setidaknya, luangkanlah waktu sejenak untuk beristirahat." Hiora menyodorkan secangkir teh.


"Aku kesini bukan untuk mengobrol tuan Hiora, aku kesini untuk membicarakan rancangan baju tempur kita." Wan Sheng masih mempertahankan sifat dingin khas orang-orang yang mempunyai banyak pengetahuan.


Hiora tampak tidak menyukainya, "sudah kubilang setidaknya minumlah teh ini. Semakin lama, kamu semakin tidak sopan ya."


Wan Sheng bergeming sesaat, firasatnya mengatakan sedikit bahaya, namun ia segera menpisnya. Tangannya terulur, mengambil secangkir teh itu dan meminumnya.

__ADS_1


__ADS_2