Story With 100 Genres

Story With 100 Genres
Eps 35


__ADS_3

"Kakak Wan Sheng…


Wajah Jasmine memerah, "Ehm, terimakasih."


"Cough, Cough." Jasmine berpura-pura batuk.


"Apapun!" Balas Wan Sheng kesal saat kapal sebesar planet itu melaju cepat melewati angkasa luas.


Bintang timur bersinar terang, bagai sebuah cahaya abadi yang tiada habisnya. Diskeliling bintang itu, ratusan planet besar maupun kecil mengorbit dengan jalurnya masing-masing.


Kabut, bebatuan kecil, bahkan emas serta kristal adalah hal yang biasa di angkasa luar. Mereka semua menampilkan kemilau cahaya ditemani warna-warni dari berbagai bintang.


Wan Sheng mengemudikan kapal dengan tenang. Menikmati semua pesona luar angkasa itu. Sesekali sebuah komet lewat, menunjukkan ekornya yang bergelimang warna.


Sebenarnya keberuntungan macam apa yang didapatkannya?


Bahkan kali ini semua awak kapal, pilot, dan seluruh jajaran anggota dari Nintaligen Group menghormatinya setengah mati.


Padahal baru beberapa jam lalu dirinya hampir hancur dibawah sinar radiasi, tapi sekarang keadaannya berubah seratus delapan puluh derajat. Ia yang diatas.


Tadi, sepersekian detik sebelum sinar radiasi itu menyala, tiba-tiba seluruh energi kapal mati total. Sinar yang awalnya siap diluncurkan segera meredup dan kembali ke moncongnya.


Hyoshi berteriak marah, namun apa yang bisa diperbuatnya tanpa senjata-senjata itu?


Hanya butuh beberapa detik singkat bagi Wan Sheng untuk mengalahkan seorang tua bangka sepertinya. Tapi kejadian setelah itulah yang membuat wajahnya tak sedap dipandang.


"Kak Wan…


"Sekarang kamu memanggil aku kakak?" Wan Sheng mendelikkan matanya.


"Eh." Jasmine tersentak, "aku… aku hanya ingin… emm…" Jasmine menyentuhkan dua telunjuknya.


"Maaf Senior Sheng!" Mendadak gadis itu kabur setelah meminta maaf pada Wan Sheng. Dihatinya, ia merasakan sesuatu yang kurang menjadi lengkap saat ia bertemu Wan Sheng.


Ya, dari dulu gadis itu menginginkan seorang kakak laki-laki yang bisa melindunginya dari segala bahaya.

__ADS_1


Dan Wan Sheng…


"Ah! Kakak Wan Sheng." Jasmine melihat kembali coretan masa kecilnya. Coretan saat dirinya baru bergabung di organisasi pembunuh. Coretan yang ia buat saat semua anak perempuan seusianya menjatuhkannya. Coretan yang saat diharapkannya menjadi kenyataan.


Sekarang kenyataan itu terjadi.


Mata Jasmine kembali menatap ke depan. Hatinya berdebar keras. Di sebuah kamar besar dengan nuansa feminin. Jasmine memeluk gulingngnya kencang, tidak bisa berhenti memikirkan pria itu.


Ayahnya lah yang membuatkan kamar ini untuk putrinya yang akan lahir. Namun sayangnya dia tidak pernah melihatnya lagi, jadi kamar di kapal utama ini dibiarkan kosong untuk mengenang istri dan putrinya yang menghilang.


Kamar itu besarnya dua kali besar ruangan para tamu lelang yang Wan Sheng hadiri dulu. Berbagai boneka berwarna cerah bertebaran. Seprai wangi berbentuk bunga dan meja belajar besar yang didesain untuk seorang gadis terhampar di kamar itu. Menunjukkan betapa sayang ayahnya padanya.


Di dinding kamar, bermacam lukisan serta foto-foto bergantungan. Salah satunya adalah foto liontin itu. Seorang pria dan wanita yang mirip sekali dengan Jasmine bergandengan tangan. Foto lain menunjukkan Hyoshi dan Hiora yang tertawa lepas.


Klik!


Jasmine memasang satu foto lagi disana. Tidak, tepatnya dua, karena satu lagi adalah coretan yang dibuatnya semasa kecil.


Di coretan itu. Gambar seorang laki-laki gagah yang melindungi perempuan kecil dibelakangnya dari anak-anak lain yang ingin melukai gadis itu. Coretan itu sangat jelek karena Jasmine sendiri membuatnya saat berumur enam tahun.


Kini ia berusia enam belas. Sepuluh tahun telah terlewati sejak saat itu.


Jasmine kembali meluncur di kasurnya. Guling itu dipeluknya erat-erat, bagai seorang adik yang tidak ingin kakak lelakinya pergi. Pergi ke tempat antah berantah dan tidak akan pernah kembali…


__{}__{}__{}__{}__


Pagi hari di kapal utama memang sangat berbeda. Tepatnya bukan pagi, karena tidak ada siklus siang malam di luar angkasa tapi bagi Wan Sheng itu tetaplah pagi.


Wan Sheng meminum coklat hangat yang dibuat Jasmine. Tentu saja itu terasa enak. Pria itu tidak bisa tidak menjadi bingung, bahkan sebuah coklat bisa menjadi berbeda di tangan gadis itu.


Hari ini gadis itu terlihat ceria, bahkan sangat ceria malahan. Setiap menit dia habiskan mengobrol dengan Wan Sheng. Sesekali tertawa hingga memperlihatkan deretan gigi putihnya yang indah.


Seperti saat ini, gadis itu sedang menggoda Wan Sheng tentang Yuyu. Beberapa menit lalu, Wan Sheng dengan bodohnya menceritakan Yuyu di depan Jasmine dan kini ia mendapatkan akibatnya.


Dia mengira Jasmine akan menjadi sedih atau cemburu, namun reaksinya berbeda. Gadis itu malah tersenyum mengejek.

__ADS_1


Dan juga, entah sejak kapan Wan Sheng menjadi terbuka pada orang lain selain Yuyu. Padahal mereka jarang sekali berbicara saat di Planet Haujans.


"Apa kak Wan Sheng sudah melakukannya?" Jasmine mendekatkan wajahnya.


"Melakukan apa?" Wan Sheng membalasnya dengan lirikan kecil.


"Kak Wan Sheng bertanya lagi! Melakukan hal yang harus dilakukan seorang pasangan!" Jasmine memberi tatapan tajam.


"Aku tidak tahu apa yang kamu bicarakan." Wan Sheng meminum lagi coklat hangatnya. Kenapa gadis enam belas tahun ini sekarang menjadi seperti gadis kecil?


Tapi Wan Sheng menerimanya. Dirinya juga butuh hiburan setelah kehilangan Yuyu.


"Hmph, kak Wan Sheng memang suka berbohong. Ngomong-ngomong, memang bagaimana penampilan kak Yuyu itu?" Jasmine menaruh jarinya di pipi. " Apa dia cantik?"


Mendadak gadget di tangan Wan Sheng menyala. Hologram muncul, namun kali ini dua dimensi.


Seorang wanita dengan mata bagai langit berbintang dan tanda lotus di dahi terlihat berada dalam pelukan Wan Sheng. Wanita di foto itu tampak sedikit kesal berkat pelukan Wan Sheng yang terlalu keras.


"Apa! Siapa dia! Bagaimana ada wanita secantik itu di Kerajaan Biora?" Mulut Jasmine ternganga lebar. Ia bisa dibilang kecantikan kelas atas di organisasi, bahkan beberapa pembunuh Rank B rendah pernah terang-terangan memberi surat padanya. Tapi kali ini…


Walaupun foto bisa di rekayasa, tapi wajah gadis itu pasti tidak!


"Hmm." Wan Sheng tersenyum bangga. Setiap kali seseorang iri dengan pacarnya, ia akan menjadi bangga dengan dirinya sendiri.


"Bagaimana bisa kak Wan Sheng yang jelek berpasangan dengan Kak Yuyu…


Kata jelek membuat Wan Sheng sedikit kesal, satu karena itu kenyataan (walaupun dirinya biasa saja), dua karena jika dilihat dari sisi manapun, Wan Sheng tidak akan pas berada di samping wanita yang ada di foto itu.


"Dan kau harus tahu, gadis itulah yang mengejar aku. Bukan aku yang mengejarnya." Wan Sheng membalasnya lagi dengan bangga, seolah-olah dirinya adalah seorang lelaki tampan yang berhak dikejar oleh wanita cantik manapun.


"Tidak mungkin!" Jasmine berteriak kecil.


"Tidak ada yang namanya seorang wanita cantik mengejar seorang pria jelek." Ejek Jasmine lagi.


Gadis itu ingin mengejek Wan Sheng lagi, namun perkataan Wan Sheng membuatnya berhenti.

__ADS_1


"Cukup, sekarang dia menghilang dan kali ini aku yang mengejarnya." Mata bersahabat Wan Sheng menjadi sedikit sendu, namun dibalik kesenduan itu, terdapat semangat berapi-api dari sebuah tekad kuat.


"Maaf." Jasmine menutup mulutnya. Ia menyadari kata menghilang pasti sangat sakit bagi pria itu jadi Jasmine hanya bisa membayangkannya.


__ADS_2