Story With 100 Genres

Story With 100 Genres
Eps 37


__ADS_3

Batu beberapa menit dan mereka sudah seperti sahabat satu sama lain!


Wan Sheng sedikit kesal. Ia merasa terabaikan sebagai orang yang berada di dekat gadis itu selama seminggu terakhir.


Melihat wajah Wan Sheng yang seperti itu, Jasmine menjadi sedikit nakal, menggodanya dengan berbagai pertanyaan menjebak.


"Baiklah, cukup! Aku ingin tidur!" Wan Sheng menutup telinganya. Berjalan ke arah penginapan yang disewanya. Tepatnya disewakan oleh rombongan Rei dan Lily dan Wan Sheng hanya menumpang.


"Kakak Wan Sheng, jangan marah seerti itu. Aku hanya bercanda." Jasmine tertawa kecil.


"Apa dia selalu seperti ini di depan perempuan?" Lily menatap Wan Sheng dari balik tubuhnya. Pria ini tidak peduli padanya sedikitpun?


Dibanding Jasmine, kecantikan Lily jauh diatasnya. Biasanya orang-orang akan terpesona saat melihat penampilan gadis itu tapi saat ini dia melihat seorang yang hanya menatapnya biasa saja.


"Aku hanya akan memberitahumu sekali. Pacarnya lebih cantik dari seluruh alam semesta." Jasmine sedikit menggebu-gebu. Seperti kebanggaan Wan Sheng adalah kebanggaannya juga.


Lily sedikit terkejut awalnya, namun segera diredam. Orang sepertinya saja hanya bisa dihitung ratusan di seluruh Galaksi Anatares yang sangat luas. Bisa dikatakan kecantikan seperti Lily dengan seluruh penghuni galaksi adalah satu banding satu triliun. Jumlah yang sangat tidak masuk akal.


Jadi saat Jasmine mengatakan bahwa pacar pria yang terlihat biasa saja itu adalah wanita yang lebih cantik dari dirinya. Lily hanya menerimanya sebagai candaan semata, dan sepertinya Jasmine juga tidak berniat menunjukkannya.


"Baiklah, aku akan menemani kakak Wan Sheng. Sepertinya dia sedang marah… Kakak Wan Sheng, tunggu!" Jasmine berlari mengejar Wan Sheng sementara Lily hanya tersenyum melihatnya.


Hubungan kakak adik yang manis!


Tidak seperti hubungannya dengan Rei…


Jasmine memasuki kamar tempat Wan Sheng berada. Semangat gadis itu membara, ingin menggoda lagi pria itu. Ia membuka pintu saat mulutnya ingin berteriak keras.


"Kakak Wa…


Teriakannya terhenti seketika. Belasan gambar dua dimensi muncul dari gadget di tangan Wan Sheng, berserakan, memenuhi ruangan kamar itu.


Yang membuatnya berhenti adalah seseorang yang ada di foto itu. Dialah Yuyu, pasangan Wan Sheng yang sekarang dia akui sebagai kakak laki-lakinya.


Wan Sheng terduduk sedih. Tidak berdaya sementara tangannya memeluk sebuah hologram dua dimensi.

__ADS_1


"Yuyu… sudah sebulan sejak kamu pergi…" Wan Sheng menatap kesepian.


"Kapan kamu akan kembali? Seratus tahun? Dua ratus tahun? Aku akan tetap setia menunggu." Wan Sheng memejamkan matanya sedih. Entah kenapa saat ia memasuki kamar sendirian, ia teringat oleh foto yang dirinya pamerkan di depan Jasmine. "Aku akan selalu menunggu."


Seketika rasa rindunya membuncah. Perasaan sesak memenuhi hatinya. Gambar-gambar itu kembali bermunculan, ketika gadisnya yang manis berubah menjadi seorang yang dingin serta acuh tak acuh. Ingatan itu membuatnya sesak.


Jasmine menunduk. Ia baru menyadari sisi Wan Sheng yang seperti ini. Dia sendiri hanya bisa membayangkan betapa sedihnya pria itu. Jasmine berjalan maju, merangkul bahu Wan Sheng, namun segera ditepis pria itu.


"Biarkan aku sendiri." Wan Sheng berkata tanpa menoleh.


"Ah! Ba.. baik." Jasmine perlahan mundur. Berusaha menilai situasi. Ia tidak akan dengan bodoh menggodanya saat ini.


Ini persis seperti dirinya dulu!


Saat ia merindukan seorang kakak lelaki yang bisa melindunginya, ia selalu menatap coretan itu, berandai bahwa gambar laki-laki itu muncul di depannya dan melindunginya dari segala bahaya.


Kini kakak laki-lakinya juga merindukan seorang gadis lain. Bukankah seharusnya dia cemburu? Ya, dia memang cemburu karena perhatiannya diambil oleh gadis itu.


Jasmine menutup pintu yang sebenarnya bisa menutup sendiri itu dengan pelan. Berusaha tidak menimbulkan sedikitpun suara.


Keluar dari pintu, gadis itu mengangkat wajahnya ke atas. Membayangkan rasa rindu Wan Sheng sebelum memasuki kamar lain yang berada tepat di sebelah kamar Wan Sheng.


"Kakak Yuyu. Aku mohon kembalilah… aku tidak tahan melihat kakak Wan Sheng menderita seperti ini." Jasmine memohon dalam hatinya. Bantal besar yang ia bawa kembali dipeluknya erat-erat. Berusaha meredam rasa sedih itu.


Gadis itu berfikir sebentar. Mungkin Lily mengetahui sesuatu jika dia menunjukkan fotonya. Bukankah gadis itu berasal dari luar tiga kerajaan?


Tapi sekali lagi dia membantah pikirannya sendiri. Gadis seperti Yuyu dari penampilan dan proporsi tubuhnya saja sudah berbeda jauh dari semua orang di rombongan Lily, jadi Jasmine sedikit yakin Yuyu sendiri tidak berasal dari Galaksi Anatares. Padahal Galaksi Anatares sendiri sangat luas.


Jadi kemana dia harus mencari?


Dia hanya seorang gadis kecil dengan tangan penuh darah. Yang sekarang berpura-pura memainkan permainan adik kakak dengan pria yang baru dikenalnya. Jasmine berfikir lagi. Siapa aku?


__{}__{}__{}__{}__


Udara pagi terasa sejuk saat awan-awan bernaungan di atas langit. Teratai raksasa yang menopang kota terasa lebih lembab, mengembun, sedikit-sedikit meneteskan air.

__ADS_1


Hewan mirip katak berloncatan dengan riang. Gigi mereka meruncing dengan taring yang menembus kedua bibirnya. Bermain-main dibawah sinar bintang yang hangat.


"Kakak Rei! Kakak Rei! Lihatlah!" Lily berseru riang saat Rei datang tidak kalah semangat.


"Kau menemukan sesuatu Lily?" Rei bertanya. Kebiasaannya saat hanya berdua dengan Lily, dia akan langsung menyebut namanya.


"Lihat hewan-hewan ini. Bukankah mereka termasuk hewan baru?" Balas Lily. Semangat pelajarnya menggebu-gebu.


Rei mengambil salah satu binatang itu. Mengamatinya dengan teliti. "Ah… ini memang hewan baru. Temuan yang bagus Lily." Rei mengusap rambut Lily lembut, yang membuat gadis itu tersenyum senang.


"Ah! Kak Rei! Tanganmu?"


"Tanganku? Ah!"


Darah menetes dari tangan Rei. Gigi-gigi runcing binatang itu menembus telapak tangan hingga punggung tangannya tanpa Rei sadari sama sekali. Bahkan pria itu tidak merasakan rasa sakit sedikitpun.


Wajah Rei membiru seketika. Tubuhnya mendadak kaku. Lily segera menarik katak itu keras, mengeluarkan gigi runcingnya dari tangan Rei.


"Kakak Rei!" Gadis itu panik. Segera mengirim perintah pada alat canggih di telinganya.


Guru! Kakak Rei! Tolong kakak Rei! Dia keracunan!


Tidak ada balasan. Lily menjadi semakin panik. Dia tidak tahu bagaimana cara memberikan pertolongan pertama. Tapi dia harus menolong Rei bagaimanapun caranya.


Baru setelah beberapa detik, ada balasan dari alat di telinganya itu.


Bagaimana keadaannya Lily? Dia harus kamu selamatkan bagaimanapun caranya! ingat dia adalah tulang punggung akademi kita! Aku akan menuju kesana dalam lima menit.


Lily menggigit bibirnya. Menatap Rei yang semakin membiru. Saat tangannya mengecek denyut nadi, itu semakin lemah dan lemah, bahkan hampir menghilang.


"Kakak Rei…


Tanpa basa-basi, Lily yang awam cara menolong orang mencium bibir Rei. Mencoba memberinya nafas buatan dengan pikiran sederhana, nadi yang hilang akan kembali berdenyut.


Tangan mungil gadis itu mengangkat tubuh Rei yang membiru. Buru-buru membawanya ke penginapan. Tanpa sadar tangannya ikut membiru.

__ADS_1


__ADS_2