Story With 100 Genres

Story With 100 Genres
Eps 26


__ADS_3

"Peraturannya sederhana, siapa yang paling cepat sampai ke pulau itu adalah pemenangnya." Wan Sheng menjelaskan secara singkat.


"Dan kalian tahu sendiri apa hadiahnya?" Wan Sheng tersenyum tipis.


Dan aku juga tahu apa hadiahku! Teriak Wan Sheng dalam hatinya.


Kapal pribadi Ye Xiao telah dipindahkan dari laut menjadi dekat pulau agar Yuyu dan Risa Na bisa melihat mereka berenang.


Para pilot jet, Ye Xiao dan juga Wan Sheng telah membentuk barisan panjang. Mereka semua tampak bersiap-siap, sangat bersemangat dengan lomba sederhana ini.


"Oke, ikuti aba-abaku." Tangan Wan Sheng terangkat.


"Satu… Dua… Tiga!"


Persis hitungan ketiga, semua peserta segera meluncur dengan kecepatan terbaik mereka.


Memang benar Wan Sheng tidak pernah berenang di kota phenomenon, namun ia pernah sesekali berenang di kolam renang universitas laut dalam, dan sebenarnya kecepatan renangnya tidak secepat yang dibayangkan orang-orang.


Ia hanya ingin mencoba berenang dengan tubuh barunya, mungkin saja tubuh yang berotot membuat kecepatannya makin cepat.


Namun, pada akhirnya itu terbukti salah. Dari dua belas peserta, Wan Sheng hanya mencapai urutan ke dua dari terakhir, yaitu urutan kesebelas.


Pilot pesawat pribadi Ye Xiao, Lian lah yang menempati urutan kedua belas. Itu bisa dilihat karena dirinya yang bukan merupakan seorang tentara.


Wan Sheng mencoba yang terbaik, mengayunkan tangan dan kakinya secepat yang ia bisa. Namun sekeras apapun ia berusaha, ia sama sekali tidak bisa mendekati orang-orang di depannya.


Apalagi kepalanya tiba-tiba terasa sakit di tengah jalan, menyebabkan kecepatannya menurun drastis.


Pria itu tidak tahu apa penyebabnya, tapi setelah beberapa menit, sakit itu mereda dengan sendirinya.


"Jadi namamu… Yuyu?" Tanya Risa Na, yang berada di kapal.


"Sebenarnya itu bukan nama asliku, hanya panggilan yang dibuat oleh Wan Sheng." Yuyu menjawabnya dengan santai. Gadis itu bersandar di pagar kapal, angin laut yang kencang membuat rambutnya berterbangan.


"Ah… jadi begitu! Aku kira namamu benar-benar Yuyu." Risa Na tertawa kecil sebelum mengingat sesuatu. "Aku baru ingat! Ngomong-ngomong, kepulauan ini bernama kepulauan Yuyu, apa mungkin nama panggilan kamu diambil dari nama kepulauan ini?" Tanya Risa Na bersemangat.

__ADS_1


"Eh, siapa yang memberi nama seperti itu?" Yuyu membenarkan letak rambutnya sambil berfikir. "Apakah Wan Sheng?"


"Ya, dia yang bilang." Balas Risa Na, menyebabkan tawa kecil muncul dari mulut Yuyu.


"Ada-ada saja! Pria payah itu hanya mengada-ngada."


"Eh, jadi nama kepulauan ini bukan kepulauan Yuyu?" Risa Na memegang dagunya.


"Tentu saja bukan! Mana ada nama seperti itu."


Kini tinggal seratus meter dari garis pantai. Ye Xiao memimpin dengan gaya renang bebasnya. Wajahnya yang tampan serta tubuhnya yang berotot terlihat menawan di bawah sinar matahari pagi.


"Ye Xiao! Ye Xiao!" Risa Na juga berhenti mengobrol, ia menyemangati Ye Xiao dari kapal sementara Yuyu hanya tertawa kecil melihat Wan Sheng yang berusaha sangat keras.


Splash! Tangan Ye Xiao menepuk air dengan keras, wajahnya menampilkan senyum senang saat ia berdiri di pasir dengan bangga. Ia memenangkan perlombaan ini!


Bahkan urutan kedua, yang berasal dari tentara terlatih itu baru bisa menyusulnya setelah lima detik. Jarak yang sangat jauh.


Para tentara itu melihat Ye Xiao dengan kagum, mereka tidak menyangka Presdir yang mereka lindungi ternyata juga memiliki banyak keahlian.


Sementara itu, lima puluh detik kemudian, barulah Wan Sheng dengan wajah lesunya menaiki kapal. Hatinya yang kesal menjadi semakin kesal saat Yuyu menertawakannya.


"Omong besar." Yuyu tersenyum mengejek.


Mendengarnya, Wan Sheng tanpa aba-aba segera menciumnya dengan keras, yang menyebabkan Yuyu berpura-pura memasang tampang kesal, walaupun rona merah terlihat menyebar dari wajahnya.


"Wan Sheng, kau curang!"


"Hmm? Aku tidak pernah berbuat curang." Wan Sheng membalasnya dengan berpura-pura bingung.


"Bukankah kesepakatannya adalah satu ciuman untuk setiap orang yang kukalahkan? Nah, aku mengalahkan satu orang bukan?" Wan Sheng tertawa kecil.


"Hmph! Itu curang!" Yuyu menggembungkan pipinya.


"Hei-hei, bagaimana itu bisa disebut curang?" Tanya Wan Sheng. "Baiklah, baiklah, lagipula itu hanya satu, coba kau bayangkan jika aku menjadi juara satu, aku bisa merasakan bibirmu sebanyak dua belas kali." Wan Sheng menyentuh bibirnya sendiri, yang dibalas Yuyu dengan tinjuan kecil di pundaknya.

__ADS_1


Setelah beberapa pertengkaran kecil, Wan Sheng tidak lupa mengirim pesan pada Ye Xiao tentang hadiah yang akan dia dapatkan, dan itu membuat Ye Xiao sangat senang.


Di luar, matahari telah beranjak naik dan suhu air menjadi semakin tinggi. Tidak akan ada orang yang ingin keluar di jam-jam seperti ini, termasuk Wan Sheng dan Yuyu.


Mereka memutuskan menikmati makanan lezat yang dimasak oleh kapten kapal, Lian.


Makanan disini tentu saja memiliki lebih banyak rasa dibanding makanan di Kerajaan Biora, itu sebabnya Yuyu meminta Lian membuatkannya beberapa kali.


Namun, saat makan itulah Wan Sheng kembali merasakan sakit tadi. Ia merasa kepalanya seperti disetrum oleh jutaan volt listrik dari dalam.


"Argghh!" Wan Sheng mengerang keras sambil memegangi kepalanya.


Rasa sakit ini terasa familiar, tetapi Wan Sheng lupa kapan ia terakhir kali merasakannya, dan Wan Sheng yakin rasanya lebih sakit dibanding yang terakhir kali.


"Wan Sheng! Ada apa?" Yuyu menjadi khawatir. "Ah! Aku lupa, ini sudah lewat dua hari sejak terakhir kali kamu meminum obat."


Tubuh Wan Sheng yang berada dalam masa pemulihan wajib diberi asupan obat terus menerus agar sel-sel yang telah dijinakkan tidak kembali memberontak. Sakit yang dirasakan Wan Sheng hanya berarti sel-sel itu mulai memberontak.


Tangan lentiknya mencari-cari sesuatu di saku bajunya, namun sepertinya gadis itu tidak menemukannya.


Yuyu menghela nafas pelan, dengan tampang sedih, ia berkata.


"Sepertinya kita harus pulang Wan Sheng." Sejak Wan Sheng menceritakan kejadian yang menimpanya, gadis itu tau bahwa telepon genggamnya lah yang menjadi penghubung antara dunia ini dan dunianya.


Walaupun mereka bisa kembali ke sini lagi hanya dengan menekan tombol di telepon genggam Wan Sheng, entah mengapa Yuyu merasa kembali ke dunianya adalah keputusan yang salah.


Dan itu benar-benar keputusan yang sangat salah, yang membuat Wan Sheng menyesalinya hingga tahun-tahun kedepan.


Jika Wan Sheng dari masa depan bisa kembali ke masa ini, mungkin dia akan mencegah keputusan gadis itu dengan sekuat tenaga.


Namun sudah terlambat, tombol telah ditekan.


Layar putih memenuhi halaman telepon genggam itu, satu-satunya warna hitam hanyalah lima kata itu. Walaupun tidak mengetahui artinya, entah mengapa Yuyu merasa bisa membacanya kali ini.


'sgares jien ruwin opruliasena derissel'

__ADS_1


Kata-kata itu terus menggema bersama rasa kantuk yang datang menyerang.


__ADS_2