
"Ngh…" Erangan Yuyu membuat Wan Sheng semakin menyerangnya dengan ganas. Wan Sheng yang tidak pernah dekat dengan wanita selama hidupnya untuk pertama kali merasakan kehangatan sebuah cinta.
Di dunia ini aku memiliki Yuyu, di dunia ini aku memiliki seorang pacar, di dunia ini aku memiliki sebuah rumah yang hangat.
Bukankah semua ini lebih baik dari kehidupan membosankannya di asrama?
Wan Sheng berharap tetap tinggal disini selamanya dengan Yuyu disisinya.Tapi sebuah alur cerita novel pasti memiliki konflik di tengahnya.
Jadi harapan Wan Sheng hanyalah omong kosong. Wan Sheng hanya berharap konflik yang terjadi tidak akan sampai ke kota kecil phenomenon tempat dia tinggal.
Tapi harapan hanyalah harapan sampai itu benar-benar terjadi. Wan Sheng tidaklah naif, ini adalah cerita novel, walaupun kota phenomenon hanya disebut satu kali. Kota ini pasti memiliki sesuatu yang bisa menyebabkan konflik dengan tokoh utama.
Walaupun di novel ini sendiri Wan Sheng tidak mengetahui siapa yang menjadi tokoh utamanya karena jumlah chapternya yang hanya satu.
Semuanya hampir terjadi jika Yuyu tidak menghentikan Wan Sheng. Ia mendorong dada Wan Sheng ke belakang dengan tegas.
"Kalau kamu mau melakukannya, tunggu sampai tubuhmu membaik." Yuyu mengucapkannya dengan muka yang sepenuhnya merah. Tangannya masih bergetar, namun jantungnya lah yang paling berdebar keras.
Wan Sheng tidak pernah berbuat seperti ini padanya. Apakah Wan Sheng benar-benar telah berubah? Jika iya, itu sangat bagus!
"Hiks! Hiks!" Yuyu mengusap matanya dengan keras.
"Hiks! Hiks!"
"Y-yuyu, maafkan aku! Aku kehilangan diri aku tadi." Wan Sheng memegang pundak Yuyu dengan lembut. Ia menganggap Yuyu menangis karena tindakannya yang berlebihan.
"Hiks! Tidak, aku sangat senang! Hiks! Aku senang kamu telah berubah. Wuuu…" Yuyu kembali memeluk Wan Sheng yang dibalas pria tersebut dengan sepenuh hati.
"Iya, karena aku memiliki Yuyu." Wan Sheng menggenggam tangan Yuyu dengan erat. Dari matanya tersorot sebuah tekad yang kuat. Menyebabkan Yuyu yakin akan perubahan Wan Sheng.
Keduanya tetap seperti itu selama beberapa menit. Tangan Wan Sheng menyentuh punggung Yuyu dan menepuknya pelan.
Nit! Nit!
Bunyi kecil namun nyaring memisahkan keduanya. Suara itu sebenarnya berasal dari ponsel Wan Sheng!
Kenapa ponselnya bisa berada disini!? Wan Sheng pun tidak bisa menjawabnya. Menyentuh kantong celananya, Wan Sheng menemukan benda keras dingin berbentuk persegi panjang.
Deg!
Wan Sheng mengeluarkannya dan terkejut saat melihat ponselnya ada disana.
Apa karena aku memegang ponsel saat jatuh ke dunia ini?
“Apa itu Wan Sheng?” Yuyu menatap ponsel ditangan Wan Sheng.
Gadis itu sudah terbiasa dengan penemuan-penemuan aneh Wan Sheng, namun yang satu ini agak menarik minatnya.
__ADS_1
“Aku ingin melihatnya!” Tangannya dengan cepat menyambar ponsel Wan Sheng.
Gadis itu menatap bingung sambil mengotak-atik ponsel itu. Jari-jarinya yang lentik menekan setiap tombol yang ada di ponsel tersebut.
“Kenapa tidak bekerja!? Apa ini rusak?” Yuyu menyodorkan kembali ponsel ke tangan Wan Sheng.
Namun jarinya tanpa sadar menekan tombol daya selama tiga detik, yang merupakan syarat untuk membuka ponsel yang dimatikan total.
Klik! ponsel kembali terbuka. Warna putih kosong memenuhi layar ponsel tersebut.
Yuyu terdiam sesaat sebelum menyentuhkan jarinya pada layar. Jarinya digerakkan ke atas, ke kanan, ke kiri.
“Kosong?”
“itu… sebenarnya koleksi benda lama yang aku punya.” Wan Sheng menggaruk kepalanya.
“Oh!” Jari Yuyu men-scroll ke atas. Mendadak muncul lima kata terakhir dari novel biora.
Lima kata itu bahkan tidak Yuyu ketahui artinya. “Apa artinya Wan Sheng?”
Sebelum Wan Sheng menjawab, tiba-tiba rasa kantuk yang sangat kuat menyerang Yuyu dan Wan Sheng.
Keduanya menjadi kelelahan secara berlebihan. Yuyu yang pertama memejamkan mata, ia tidur di samping Wan Sheng.
“Wan Sheng, aku sangat mengantuk.”
Wan Sheng tidak tahu kenapa rasa kantuk ini tiba-tiba datang padanya, namun pikirannya saat ini menjadi sangat lelah untuk memikirkan apapun.
“Hoam…” Keduanya tertidur pada saat yang sama, layar ponsel masih menampilkan lima kata aneh tersebut, kemudian mati.
{}___{}___{}___{}___{}___{}___{}___{}
“HA!” Wan Sheng bangun dengan kaget, keringat mengucur deras dari seluruh tubuhnya. Ia terduduk di kasur. Saat matanya melihat ke depan, itu adalah kasur bertingkat lainnya.
Tunggu! Dimana aku!?
Yuyu? YUYU?
Dengan panik Wan Sheng bangun dari kasurnya. Di jendela kamar, cahaya bulan bersinar terang. Itu bulan purnama.
“Wan Sheng, ada apa?” Seseorang memanggil Wan Sheng dari belakang. Itu adalah Ren Jian, wajahnya tampak bingung.
“R-ren Jian?”
“Ya? Ada apa?” Ren Jian melepas headphonenya. Layar komputer besar miliknya bercahaya terang. Di samping Ren Jian, Zhao Yi tidur dengan posisi tengkurap di kasurnya sementara Yu Qian tertidur di lantai kamar.
“T-tidak, aku hanya sedikit pusing.” Wan Sheng memegang kepalanya. Wajahnya sedikit pucat.
__ADS_1
“Oh, baiklah.” Ren Jian mengatakan sepatah kata dan berbalik ke komputer besarnya. Jarinya mengetuk huruf demi huruf di keyboard dengan cepat. Menyisakan suara ketukan yang memenuhi seisi kamar.
Ini, Kamarku!?
Apa itu semua hanya mimpi!?
Mata Wan Sheng menjadi sembap. Apa itu semua hanya mimpi? Kalimat itu sangat menyesakkan baginya.
Walaupun ia hanya berada di sana tidak lebih dari beberapa jam singkat, namun bayangan Yuyu masih melekat kuat di pikirannya.
Wan Sheng ingin marah sekarang. Ia ingin berteriak, menangis sekeras yang ia bisa. Tapi pada siapa dia ingin marah? Apa kepada dewa yang memberinya mimpi? Apa kepada penulis itu?
“Yuyu…
Apa semua hanya imajinasi otaknya yang membuat dunia tersebut. Tapi semua sentuhan tersebut terasa nyata. Semua kata-kata Yuyu ia mendengarnya dengan jelas. Pelukannya, air matanya, bibirnya…
Bayangan Yuyu memenuhi setiap sel otaknya. Wan Sheng hampir menjadi gila jika dirinya tidak merasakan rasa manis obat di mulutnya.
Itu nyata! Obat itu, aku merasakannya!
Saat Wan Sheng mengingat sesuatu Wan Sheng menemukan bahwa ingatan tentang Wan Sheng yang lama masih terukir jelas di ingatannya.
Ingatan tentang robot, baju tempur, komputer. Semua masih ada di otak Wan Sheng. Melalui pikirannya, Wan Sheng mencoba melihat tentang pemrograman komputer.
Semua pengetahuan itu ada di otaknya seperti Wan Sheng yang mempelajarinya sendiri. Bahkan saat ia melihat ke layar komputer Ren Jian, angka-angka dan huruf acak itu tidak lagi rumit di mata Wan Sheng.
Bahkan ia bisa melihat celah-celah tipis pada program Ren Jian. Wan Sheng berpikir, dengan pengetahuannya saat ini ia yakin dirinya setidaknya bisa menjadi orang kaya dan menguasai sebagian dari dunia.
Tapi yang paling dia inginkan saat ini hanyalah kembali ke dunia tersebut dan bertemu Yuyu. Sosok Yuyu telah tertanam kokoh dalam hatinya.
Sambil melihat Ren Jian, Wan Sheng mengambil minuman ringan yang kemarin ia beli. Dia sendiri tidak tahu bagaimana dirinya bisa kembali ke kamarnya.
Tapi, kenapa Wan Sheng bisa merasakan manis obat tersebut? Bukankah tubuh di dunia itu bukan miliknya? Wan Sheng meyakini bahwa tubuhnya tidak pindah ke dunia tersebut, melainkan hanya jiwanya karena tubuh disana jelas bukan miliknya.
Disisi lain, Ren Jian yang sedang berkutat di depan komputer mengernyitkan dahi. Hacker profesional itu sedikit bingung. Sejak kapan rambut Wan Sheng menjadi panjang? Apa dia membeli obat pemanjang rambut? Tapi Wan Sheng yang dia kenal pasti tidak akan melakukan itu kecuali…
“Dia memiliki pacar!?” Ren Jian berteriak tidak percaya. Wan Sheng tidak mungkin punya pacar!
“Ren Jian?”
Ren Jian baru sadar bahwa teriakannya terdengar oleh Wan Sheng. Dengan cepat ia berbalik pada Wan Sheng, rasa penasarannya memuncak.
Walaupun mereka berdua tidak sangat dekat, Wan Sheng dan Ren Jian memiliki satu kesamaan yang sedikit mempererat hubungan mereka. Yaitu penjaga malam!
Ren Jian tidak tidur untuk pekerjaannya sementara Wan Sheng dengan novelnya. Keduanya sering tidak tidur di malam hari yang menjadikan Wan Sheng dan Ren Jian lebih dekat saat malam.
“Wan Sheng, jujur padaku!” Ren Jian menatap Wan Sheng dalam-dalam seperti seorang petugas menginterogasi tersangka, “Apa kau punya pacar?”
__ADS_1