Story With 100 Genres

Story With 100 Genres
Eps 30


__ADS_3

Prang!


Cangkir itu pecah, tepatnya Wan Sheng membantingnya ke bawah dengan keras. Firasatnya benar, teh itu beracun, entah bagaimana Hiora telah mengetahui rencananya.


Tangannya dengan cepat menyentuh pinggang. Mengambil dagger bintang lalu maju dengan cepat.


Slash! Slash!


Hiora menghindari serangan itu dengan mudah. Tangannya ikut menyentuh pinggang, ikut mengeluarkan senjatanya, yaitu pistol dengan peluru redam berledakan kecil.


Walaupun ledakan peluru itu tidak besar. Peluru itu memiliki seratus kandungan bahan kimia aktif yang akan menggerogoti tubuh musuhnya dalam hitungan detik. Dan itu bisa meluncur secepat kilat.


Dor! Dor!


Hiora melepaskan dua peluru, yang ditangkis Wan Sheng dengan daggernya. Suara peluru yang berbenturan dengan besi terdengar sangat memekakkan telinga.


"Sudah kubilang, jangan terlalu memaksakan diri." Hiora tersenyum lebar. Menjentikkan tangannya. Mendadak ruangan di sekitarnya merekah. Senjata-senjata yang ditakuti Wan Sheng akhirnya muncul!


Wan Sheng menjatuhkan dirinya saat sinar laser melesat cepat. Namun itu tetap mengenai bahu kirinya dengan keras yang saat ini terasa seperti dipanggang oleh api jutaan derajat.


Laser lainnya berdatangan, kali ini puluhan jumlahnya, dan Wan Sheng menghindarinya sebisanya.


Ia mulai memakai gerakan pembunuhnya, yang jika ia gunakan di waktu lalu akan menghancurkan tubuhnya.


Ia merendahkan sedikit titik tumpu di kakinya, kemudian menghentakkannya dengan cepat disertai jet kakinya yang menyala.


Wush!


Pria itu meluncur secepat peluru, melewati berbagai celah laser menuju tempat Hiora berdiri.


Daggernya bersentuhan dengan baju besi yang dipakai Hiora. Menghasilkan percikan-percikan api yang meluncur ke segala arah.


Keduanya bertukar serangan selama beberapa menit. Kadang-kadang Wan Sheng yang tersudutkan karena harus membagi perhatiannya pada tembakan radiasi dan laser. Namun lebih seringnya Hiora yang tersudutkan oleh serangan-serangan berbobot Wan Sheng.


Sejak tadi, Wan Sheng tidak berhasil menembus Hiora dikarenakan baju tempurnya yang terbuat dari bahan super keras, bahkan dagger seharga bintangnya hanya menorehkan goresan kecil saat Wan Sheng mengayunkannya sekuat tenaga.


Bang!


Akhirnya Wan Sheng mengeluarkan bom rakitannya. Ia mulai tidak sabar menghadapi Hiora. Siapa yang akan menyangka Presiden suatu perusahaan besar akan pandai bertarung, bahkan jika Wan Sheng tidak salah tebak, kemampuan bertarungnya setara dengan pembunuh Rank C di organisasi.


Ruangan itu hancur lebur. Alat-alat dari mineral keras Nintaligen segera meleleh di bawah ledakan besar itu.


Ruangan yang tadinya terlihat sangat mewah dengan berbagai perabotan mahal kini berubah menjadi neraka yang mengerikan. Bau gosong tercium dimana-mana, mineral panas segera menaikkan suhu ruangan itu beratus kali lipat dari semula.


Hiora terkapar tak berdaya di lantai ruangan. Setengah baju besinya telah meleleh, senjata-senjata di sampingnya mungkin masih aktif, namun Hiora tidak lagi mampu mengendalikannya.


"Akh…

__ADS_1


"Wasiatmu?" Wan Sheng bertanya, ini adalah kebiasaannya sejak dulu. Sebelum ia membunuh seseorang ia akan menanyakan dulu keinginan terakhirnya.


Seratus meter dari tempatnya berada, Jasmine turun dari pesawat tempur dan berdiri di belakang Wan Sheng.


Matanya yang seperti kaleidoskop, berganti-ganti warna setiap cahaya melewatinya menatap sebentar ruangan itu sebelum kembali fokus pada Wan Sheng.


"Aku… aku hanya ingin melihat putriku sebelum aku mati." Hiora mendesah dengan suara seraknya. Matanya dipenuhi keputusasaan.


"Putrimu? Siapa dia?" Kali ini Jasmine yang bertanya.


Tiba-tiba mata Hiora membulat. Mulutnya berteriak keras.


"Kamu! Kamulah putriku!" Teriaknya.


Jasmine menjadi sedikit canggung, ia mundur sedikit ke belakang. "Aku bukan putrimu."


"Tidak! Kamu adalah putriku, maafkan ayah nak, telah menelantarkanmu selama belasan tahun ini, sungguh, maafkan ayah nak." Tangan Hiora menyentuh liontinnya dengan lemah, mengangkatnya dengan segala tenaga terakhir yang ia punya, seperti ingin menunjukkannya pada Jasmine.


"Terimakasih tuhan. Walaupun aku mati, aku tidak akan menyesalinya. Pertemuan ini layak." Hiora menghembuskan nafas terakhirnya. Tangannya yang mengangkat liontin tergeletak lemah, terjatuh.


Klang!


Wan Sheng mengambil liontin itu dan membukanya. Sebuah foto yang terdiri dari tiga orang tersangka disitu. Seorang lelaki, disebelahnya adalah wanita yang menggendong anak perempuannya.


Dan wanita itu…


"Wanita ini mirip denganmu Jasmine." Wan Sheng berkata lemah.


Tanpa aba-aba, ia berlutut di samping pria yang telah Wan Sheng bunuh. Tangannya mengepal, satu air matanya menetes ke bawah. Wajahnya semakin menunduk saat ia melihat pria itu.


Setelah beberapa menit, Jasmine berdiri dengan tegap. Wajahnya menjadi seperti biasa lagi. Walaupun ia berusaha menyembunyikannya, Wan Sheng tahu berapa kesedihannya saat ini.


"Aku minta ma..


"Tidak ada yang perlu dimaafkan, ini memang misi kita." Jasmine memotongnya cepat.


"Apa kau tetap akan melaksanakan misi ini walaupun tahu itu ayahmu?" Perkataan Wan Sheng membuat gadis itu berhenti sebentar.


"Ya." Jawabnya tegas.


"Sayang kau tidak pandai berbohong. Naiklah." Wan Sheng kali ini yang mengemudikan pesawatnya. Ia juga membawa mayat Hiora bersamanya.


"Kita akan menguburkannya."


Barulah setelah duduk di kursi pesawat. Tangis gadis itu pecah. Tidak ada teriakan, hanya isakan-isakan kecil yang penuh kesedihan. Gadis itu menundukkan wajahnya dalam-dalam, membuat air matanya jatuh ke pakaian gelapnya.


"Ku-kuburkan dia di Planet Haujans, itu adalah tempat aku pertama kali hilang." Jasmine menyeka sedikit air matanya. Yang dijawab Wan Sheng dengan anggukan singkat.

__ADS_1


"Ya."


Keduanya sampai di planet itu tidak lebih dari satu menit. Entah mengapa tidak ada pesawat yang mengejar mereka, padahal keduanya baru saja membunuh Presiden mereka.


Gadget di tangan Wan Sheng menghasilkan getaran. Menampilkan hologram tiga dimensi berbentuk tulisan yang melayang.


Agen B014


Misi Anda


Bunuh Presiden Nintaligen Group, Hiora


Telah berhasil.


Gadget di tangan Jasmine juga menampilkan hal yang sama, bedanya Rank-nya di organisasi adalah C003. Mungkin tidak lama sebelum dia naik ke Rank B, tempat Wan Sheng berada.


Jasmine menutup gadgetnya. Matanya menatap kosong ke depan. Tanpa sedikitpun semangat hidup.


Gadis itu sama seperti Wan Sheng, berusaha menemukan orang tuanya selama bertahun-tahun. Ia menjelajahi ketiga kerajaan, mencari informasi di setiap sudut, tanpa tahu bahwa jawabannya ada di kerajaannya sendiri, Biora.


Dan kini sudah terlambat, orang tuanya telah mati. Jadi untuk apa dirinya hidup? Ia hidup hanya untuk mencari orang tuanya dan kini mereka dibunuh olehnya.


"Kau masih punya ibumu… dan adikmu tentunya." Wan Sheng melihatnya menjadi iba, ia teringat dirinya dulu, yang setiap hari memikirkan balas dendam, hidup hanya untuk menuntaskan dendamnya.


Orang-orang seperti itu harus diberi semangat hidup baru.


"Ya." Jasmine mengangguk.


Di foto itu masih ada satu wanita yang perutnya membesar. Jadi tujuan hidupnya sebenarnya masih ada. Kepalan tangan gadis itu kembali menguat, ia mulai membentuk tekad baru.


Saat Wan Sheng melihatnya kembali, semangat hidup gadis itu kembali muncul. Tatapannya tidak lagi kosong. Wan Sheng hanya bisa tersenyum tipis melihatnya.


Lagipula setiap lelaki menyukai perempuan yang lemah. Tidak terkecuali Wan Sheng. Itu bisa dilihat dari Yuyu yang selalu bertingkah lemah di hadapan Wan sheng.


Gadis itu tidak pernah menampilkan sosok kuatnya di depan Wan Sheng. Namun saat ini entah di belahan semesta bagian mana ia berada…


Pesawat tempur itu sampai dengan cepat. Planet Haujans merupakan salah satu planet di Kerajaan Biora yang memiliki tanah subur.


Tumbuh-tumbuhan dan pepohonan mengisi sebagian besar daratan disana. Hewan-hewan berkeliaran dengan riang, memakan buah-buahan yang tumbuh lebat di setiap jengkal tanah planet ini.


Proses pemakaman itu dilakukan dengan cepat. Jasmine memakamkannya di bawah pohon rindang. Nyanyian burung menemani proses pemakaman itu hingga akhir.


Setelah berdiam selama satu jam di depan makam, Jasmine berbalik, menatap Wan Sheng dan mengucapkan terimakasih sebesar-besarnya.


Walaupun pria ini terlihat dingin, setiap tindakannya selalu membuatnya merasa di perhatikan. Bahkan, gadis itu sebenarnya berniat bunuh diri setelah memakamkan Hiora jika Wan Sheng tidak mengingatkannya di pesawat tadi.


"Terimakasih Senior Sheng."

__ADS_1


"Tidak, kita adalah partner saat ini. Tidak ada yang perlu diucapkan."


Wan Sheng mengucapkan kata partner membuat Jasmine sedikit kecewa. Namun pria seperti ini pasti memiliki seorang pasangan, jadi dia tidak berani lebih.


__ADS_2