Story With 100 Genres

Story With 100 Genres
Eps 34


__ADS_3

Jaring itu belum sepenuhnya terbuka saat Wan Sheng dan Jasmine dibanting keras ke lantai kapal. Semua peralatan mereka tidak berguna saat ini, bahkan dagger bintang Wan Sheng tidak bisa memotongnya.


Padahal itu seharga bintang…


Wan Sheng tidak bisa mendengus kesal. Lebih baik ia menggunakannya untuk hal lain, walau ia tidak tahu untuk apa.


Mata Wan Sheng kembali fokus. Pria itu melihat seluruh sudut kapal. Pendengarannya juga menahan, berusaha menangkap suara sekecil apapun.


Dua orang dari jauh bercakap-cakap. Suaranya sangat kecil namun Wan Sheng masih dapat mendengarnya. Mendadak sebuah langkah kaki terdengar semakin mendekat menuju arah Wan Sheng.


Persis saat itu pula jaring yang membungkus Wan Sheng lepas. Diganti dengan sesuatu yang sangat keras.


"Dimana liontin itu!" Seorang pria berumur tiga puluhan membentak Wan Sheng yang terduduk di lantai kapal. Kaki tangannya diikat erat oleh rantai besi yang tebalnya lebih dari tubuh Wan Sheng sendiri.


"Liontin?" Wan Sheng tersenyum dingin. "Kau menginginkannya?" Wan Sheng memalingkan wajah ke arah lain.


"Baiklah, mungkin ini sedikit sulit. Aku akan memberimu lima milyar Biora coin untuk liontin itu, bagaimana?" Hyoshi, menurut nama yang Wan Sheng dengar dari percakapannya mendengus kasar.


Wan Sheng mengerutkan dahinya, lima milyar bukanlah jumlah yang kecil namun orang ini mengatakannya seolah bukan apa-apa dibanding liontin itu.


Itu hanya berarti liontin itu lebih berharga dari sepuluh milyar Biora coin. Mengira harga liontin yang Wan Sheng temukan sangat fantastis, bahkan menyamai dua kali pengerjaan misinya.


Melihat Wan Sheng tak menjawab, Hyoshi terdiam lalu tertawa terbahak-bahak. "Kau berbeda, baiklah, sembilan milyar!" Hyoshi menunjukkan satu jarinya. "Itu lebih rendah satu milyar dari tawaranmu bukan?"


Wan Sheng tersenyum tipis, tawaran tersebut sangat menggiurkan. Namun tidak sampai membuatnya buta mata karena penghasilannya dari berbagai misi saja saat ini telah mencapai lima puluh milyar.


"Kamu menanyakan liontin itu, tapi barang itu sendiri bukan di tanganku." Balas Wan Sheng.


Hyoshi kembali terdiam. Terlihat pria itu berusaha menangkap kebohongan sekecil apapun di mata Wan Sheng, namun tidak ada yang bisa ia dapatkan.


Matanya menyapu sekitar sebelum melihat seorang gadis yang terikat disamping Wan Sheng. Wajahnya yang tadi tampak kesal menjadi berbinar saat melihat Jasmine.


"Itu hanya berarti kamu yang mengambilnya!" Teriak Hyoshi senang.

__ADS_1


"Bagaimana? Sembilan milyar, tawaranku tidak berubah." Bujuk Hyoshi.


Dari awal sejak Hyoshi menyebut liontin, Jasmine telah memberikan permusuhan yang besar padanya. Tatapannya sedingin es, lebih dingin dari apapun, bahkan tatapan Wan Sheng.


"Kamu yang memberikan misi ini?" Alis hitam Jasmine menurun beberapa senti, memberikan tatapan tajam.


"Hmph! Orang tua bau itu telah menguasai perusahaan ini dalam waktu yang lama, sudah saatnya dia berganti pemilik, dan yah… aku yang memberi misi pada kalian." Hyoshi tersenyum lebar, tangannya terentang.


Mata Jasmine yang tadi menyipit kini sepenuhnya membulat sempurna. Badannya bergetar sesaat sebelum senyum kosong muncul dari mulutnya.


"Kau yang membunuhnya…


Jasmine mengucapkannya dengan getaran hebat.


"Kau yang membunuhnya…"


"KAU YANG MEMBUNUHNYA!"gadis itu memberontak sekuat tenaga, namun apa yang bisa ia lakukan? Rantai tetap mengekangnya dengan erat tanpa sedikitpun terbuka.


"Jasmine, tenanglah!" Wan Sheng sedikit berteriak.


"DIAM!" Gadis itu menjadi gila. Amukannya hanya menghabiskan tenaga, dia sama sekali tidak bisa membuka rantai itu.


"Jasmine!"


"KUBILANG DIAM! Kubilang diam… kubilang di… am…" Air mata sejernih kristal turun dari pelupuk matanya yang putih. Gadis itu menangis tanpa isakan, hanya kekosongan dan kebencian yang besar dihatinya saat ini.


"Ironis sekali!" Hyoshi menepukkan tangannya.


"Kukira aku memang salah menimbang penglihatanku telah menurun sejak tahun ke tahun, tapi wajahmu memang mirip sekali dengan foto di liontin itu. Itu hanya berarti kau adalah putrinya!" Hyoshi tertawa terbahak-bahak.


"Kau yang membunuhnya…" Jasmine berkata kosong.


"Aku yang membunuhnya? Kamu sendiri pembunuhnya! Kamulah yang membunuh ayahmu!" Hyoshi menyeringai lebar. Senyumnya mengejek Jasmine dengan telak.

__ADS_1


Itu benar, gadis itu sendiri ikut dalam misi pembunuhan ini, dan hanya berarti dia juga ikut ambil bagian untuk membunuhnya. Memang sangat ironis…


"Karena kamu putrinya, aku yakin liontin itu ada padamu. Baiklah, sebelum kamu mati, aku akan memberikanmu satu kebenaran." Wajah Hyoshi menjadi masam.


"Aku dan Hiora adalah kakak beradik, tapi dia. Kau tahu, sangat licik! Padahal akulah yang membangkitkan perusahaan ini dari awal. Dari sebuah bengkel butut di suatu planet kerdil, hingga menjadi perusahaan pertambangan, lalu seperti saat ini perusahaan kami telah menjadi perusahaan pertambangan ketiga terbesar di Kerajaan Biora…


"Dari awal akulah yang membangkitkannya! Tapi ayah, bajingan itu malah memilih Hiora yang jelas-jelas seorang pecundang! Kau tahu seberapa besar dendamku?!" Hyoshi menunjuk dadanya. Lalu tertawa kecil.


"Tidak mungkin… tidak mungkin!" Jasmine mulai terisak pelan.


"Tidak mungkin? Tapi ini kenyatannya. Aku telah merencanakannya sejak lama. Sayangnya perlindungannya sangat ketat, aku hanya bisa meminta bantuan kalian untuk membunuhnya.


"Aku sedikit menyesal tidak membunuhnya dengan tanganku sendiri, tapi tak apa, yang penting kakak bau itu telah mati saat ini. Sekarang…" Mata Hyoshi kini menjadi dingin, namun dari mulutnya, sebuah senyum terlihat jelas.


"Melihatmu tumbuh sehat dan cantik seperti ini… yah… walaupun liontin itu penting, aku tak peduli lagi. Melihatmu saja sekarang membuatku ingin memp*rkosamu, hehe." Hyoshi mendekat dengan senyum diwajahnya. Tangannya terulur, mengangkat dagu putih gadis itu.


"Tidak mungkin! Ayah tidak mungkin melakukannya!" Sementara Jasmine hanya bisa menceracau membalasnya.


Disisi lain, Wan Sheng menatap permainan drama itu dengan tatapan bingung. Kebetulan seperti ini benar-benar ada?


"Ku akui, semakin kamu kehilangan akal, aku akan semakin puas" Pria itu semakin menatap Jasmine bagai serigala buas yang lapar. Tangannya menuju baju hitam, menariknya pelan.


"Baiklah, baiklah, cukup! Seorang tua Bangka sepertimu ingin menikmati seekor angsa kecil. Kau tidak sadar diri." Wan Sheng memutar bola matanya.


"Dan lagi. Cukup untuk semua drama sialan ini. Aku ingin pergi!" Wan Sheng berdiri. Rantai yang mengikat tangan kakinya telah terbuka. Entah dengan apa.


"Bagaimana bisa?" Hyoshi terkejut sebelum sebuah pukulan mengenai wajahnya.


Bang!


Memegangi wajahnya yang segera menjadi masam, Hyoshi menjadi sangat murka. Pria itu mentransfer pikiran ke gadgetnya saat ruangan disekitarnya merekah.


"Senjata radiasi! Kau sudah gila! Tidak, kau memang sangat gila." Kali ini Wan Sheng tidak berani gegabah. Terkahir kali, dirinya mati dengan senjata yang sama dan dia tidak ingin mengulanginya.

__ADS_1


__ADS_2