Suami ku Sayang Suami ku Terbang

Suami ku Sayang Suami ku Terbang
Mediasi


__ADS_3

Hari ini adalah sidang Pengadilan Pertama untuk kasus perceraian ku, dari pagi perasaan ku sudah campur aduk, entah apa rasanya tidak dapat kulukiskan dengan kata kata.


Sedari pagi kami sudah bersiap siap ke Pengadilan Agama, aku, Mamah Titi, Tante Iyan juga Key.


Jam 8.30 kami sudah tiba di Pengadilan Agama,


" ternyata begini suasana didalam ruang tunggu" pikir ku dalam hati, mata ku tak henti henti menjelajahi isi ruang tunggu Pengadilan Agama,,,


" apa sebanyak ini orang orang yang akan bercerai dan di cerai seperti aku, sebanyak itukah setiap hari nya, dan semudah itukah memutuskan pernikahan " pikir ku dalam hati tidak percaya

__ADS_1


Karena begitu banyaknya orang di dalam ruang tunggu, kami sampai tidak dapat tempat untuk duduk, kami hanya berjajar di sepanjang tembok sambil mata ku terus mencari sosok yang akan menceraikan ku, suami ku.


Tidak berapa lama, suami ku datang, sendirian. Melihat aku datang dengan Mamah n Tante ku, buru buru suami ku menghampiri kami untuk bersalaman, setelahnya tidak ada sepatah katapun yang bicara, semua diam karena suasana menjadi tegang.


Mamah dan Tante ku merasakan kecewa yang amat sangat karena suami ku telah mengembalikan aku kerumah orang tua ku dan hendak menceraikan aku, jadi rasa kecewa mereka tunjukan lewat cara mereka memperlakukan suami ku, itulah bentuk kekecewaan mereka.


Dan kulihat setelahnya, suami ku ada di pojok ruangan sambil ngobrol sama key, sesekali ku lihat mereka saling tertawa dan berpelukan, andainya pemandangan itu ku lihat dirumah, bukan di ruang tunggu Pengadilan, pasti aku sedang tersenyum dan tertawa lepas sekarang.


Kami masuk keruang mediasi sudah tengah hari, ada rasa gugup yang tak biasa menjalar diseluruh tubuh ku ketika nama ku disebut. Aku hanya dapat menelan ludah dan bangun dengan perasaan gugup, aku merasakan semua mata memandang kepada ku, memandang kepada seorang istri yang sudah tidak di inginkan oleh suami nya dan hendak diceraikan. Begitulah perasaan ku saat itu menilai diri ku sendiri.

__ADS_1


Kami ( aku n suami ku ) duduk saling berhadapan, dan disana ada mediator yang memediasi kami. Tetapi apapun yang mediator itu katakan tidak merubah keputusan suami ku untuk menceraikan aku.


Diakhir sesi, aku meminta ijin agar di izinkan bertanya kepada suami ku, dan mediator memberikan aku waktu.


" Yah, apa betul hanya gara gara yang ayah sebutkan di materi gugatan hingga ayah mau menceraikan aku?? kalau cuma karena itu, aku janji akan memperbaikinya yah, aku akan lebih baik, aku gak akan mengulang semua kesalahan aku, semua sifat yang ayah ga suka dari aku, aku akan tinggalkan " tutur ku sambil terisak


Lalu mediator memberi kesempatan untuk suami ku menjawab,,,


" Maaf sebelumnya Pak, apa saya boleh tidak menjawab pertanyaan istri saya??? saya keberatan ditanya seperti itu,," katanya menjawab,,,

__ADS_1


" Owh silakan pak kalau memang bapak keberatan untuk menjawab, tidak perlu di jawab,, " Mediator menjelaskan,,


" Apa apaan ini, aku hanya ingin tau, benarkah??? itu saja,,,!!! tapi sepertinya aku semakin yakin dengan alasan suami ku hendak menceraikan aku, bukan hanya alasan yang dia tulis di materi gugatan, tapi ada alasan tersembunyi lainnya yang tidak ingin dia katakan kepada siapapun, terutama aku,,,. "


__ADS_2