
" Aku ganti baju dulu ya, yah,, "
Suami ku mengangguk sambil memainkan ponselnya.
Hari ini aku bahagia, kami ngobrol sepanjang jalan, kami tertawa lepas seperti tidak ada beban, dan jika orang lain melihat kami, kami seperti sepasang suami istri yang bahagia dengan pernikahannya.
Tangan ku, aku selipkan di pinggangnya, begitupun badan ku masih aku rapatkan ke badannya,,
Aku seperti tidak ingin melewatkan hari ini, aku ingin selalu seperti ini, hari dimana selalu kumiliki saat suami ku belum memulangkan aku kerumah orang tua ku.
Menjelang siang kami kembali kerumah, key belum pulang dari rumah teman rupanya. Aku dan suami ku melakukan hal hal seperti keluarga pada umumnya, kerja bakti membersihkan rumah, aku masak untuk kami makan siang.
Sudah lewat maghrib tapi sepertinya tanda tanda suami ku akan pulang kerumah orang tuanya belum juga tampak,,
sepertinya dia akan tidur disini, pikirku,,,
Dan ternyata benar,,, malam ini suami ku menginap drumh kami.
Aku tidak bisa menolak, karena memang kami masih suami istri, lagipula ini memang rumah dia jd kubiarkan saja suami ku tidur dirumah kami malam ini.
***
__ADS_1
Sehari sebelum ikrar Talaq,,
Minggu sore kami bersiap untuk jalan jalan, memang ini adalah kebiasaan keluarga kecil kami saat weekend, selalu menghabiskan waktu bersama sama saat libur akhir pekan.
Dan kami masih melakukannya di sehari sebelum ikrar talaq.
Sepanjang jalan kami mengobrol tentang apa saja sampai di satu titik aku merasa harus mengungkapkan apa yang ada dihati ku kepada suami ku.
"Yah, apa ga bisa dibatalin ikrar talaqnya?? " tanya ku
"Kenapa??? mamah keberatan???" tanya suami ku pada ku
" Kalau memang ayah pengen punya anak, aku gak apa apa ko kalau ayah mau nikah lagi, aku siap di poligami, aku ikhlas, aku rela asal ayah jangan ceraikan aku, aku ga mau jadi janda yah,, " dada ku sesak, tangis ku seketika tumpah. kubenamkan wajahku semakin dalam di pundaknya
Suami ku menarik lengan ku agar aku merapatkan pelukan ku kembali, mungkin agar aku tidak jatuh dari atas motor yang melaju
" Mamah yakin ayah boleh poligami?? " tanya nya padaku
Aku mengangguk di pundaknya, aku rasa walaupun suami ku tidak dapat melihat anggukan kepala mu, tapi dia dapat merasakannya,,,
" Kalau memang ayah boleh poligami, ayah janji akan bekerja lebih keras dan lebih giat dari ini, demi mamah dan istri ayah yang baru juga anak anak ayah kelak " tuturnya bersemangat
__ADS_1
Aku hanya diam, hanya air mata yang meleleh dipipi ku.
Setibanya dirumah,,,
Aku masuk ke kamar, mata ku masih terasa panas, tapi aku mencoba untuk membuat hatiku lebih tenang, tiba tiba suami ku menghampiriku dan tiduran disebelah ku sambil menggenggam jemari tangan ku,,,
" Mamah yakin dengan omongan mamah tadi bahwa ayah boleh poligami??? " tanya nya padaku
Aku memandangnya dalam, dan mengangguk
Kulihat suami ku menarik nafas panjang dan senyumnya mengembang,,,
" Ayah janji, ayah ga akan mengecewakan mamah, ayah akan mencukupkan kalian " tuturnyaa
" Yah,,, !!! " panggilku pelan nyaris tidak terdengar
" Ya mah,,, kenapa??? " tanya nya padaku
" Maaf ya yah, tapi aku rasa, aku ga yakin bisa berbagi kamu dengan perempuan lain, aku yakin hati ku gak akan sanggup,,, " aku menggenggam tangan suami ku, seketika bulir bening menetes dipipi ku,,,
Entahlah apa yang saat itu ku pikirkan, hati ku begitu dilema, hendak ku biarkan suami ku menikah lagi dengan resiko berbagi suami ataukah aku yang mundur dan siap di ceraikan. Pilihan yang sungguh menyakitkan, hidup ku seperti makan buah simalakama,,,
__ADS_1