
Fajar kembali hadir, kini Darius sudah terjaga dari tidur nya. Namun Darius tidak mendapati istrinya, Amira di dalam kamarnya. Darius meraba-raba kasur di sampingnya.
"Oh, aku lupa kalau Amira saat ini tidur di kamar tamu," gumam Darius.
Darius segera turun dari tempat tidur nya dan mulai masuk ke dalam kamar mandi untuk membasuh wajahnya, lalu menggosok giginya. Darius mulai menjalankan tugasnya mengerjakan pekerjaan rumah. Diawali dengan menyapu lantai, lalu mengepelnya. Darius mulai mengambil keranjang cucian kotor lalu mulai mengisi mesin cucunya dan mulai menggiling baju kotor milik Amira beserta dirinya. Darius soal mencuci baju sudah sangat mahir. Dia pisahkan pakaian berwarna putih, hitam dan juga bermotif. Antara baju berwarna putih dengan hitam akan dipisahkan cara pencucian nya. Setelah dibilas baru baju-baju itu direndam dengan pewangi pakaian.
Sambil menunggu pakaian itu direndam dalam pewangi baju, kini Darius mulai membuat sarapan pagi. Darius membuka freezer di lemari es nya. Hari ini Darius ingin praktis-praktis saja memasaknya. Hanya menggoreng ayam dengan membuat capcay dengan sayuran yang lengkap.
"Amira pasti menyukai ini! Oh iya, aku akan membuatkan sambal kecap kesukaannya," gumam Darius. Darius dengan hati yang senang melakukan pekerjaan rumah itu tanpa beban.
Hampir dua jam dari selepas subuh, Darius melakukan pekerjaan rumah dan beres semuanya. Kini Darius mulai mendatangi Amira yang berada di kamar tamu.
"Sayang, bangun yuk! Sudah siang, kamu berangkat ke kantor tidak?" ucap Darius dengan penuh kelembutan. Amira membuka matanya melihat Darius, suaminya. Darius mengusap puncak kepala Amira dengan penuh kelembutan. Namun Amira semakin merasa bersalah ketika mengingat tadi malam dirinya menolak Darius untuk mengajaknya bermain odong-odong di atas peraduan.
Amira tersenyum lalu memeluk Darius hingga Darius kini menjadi tidur di samping Amira. Darius mengusap kepala Amira dengan kasih sayang.
"Ayo bangun! Aku sudah buatin sarapan buat kamu, Amira sayang! Pokoknya pekerjaan rumah semuanya sudah beres," ucap Darius penuh kebanggaan dirinya. Amira tersenyum menatap wajah suaminya yang kini sangat penurut terhadap dirinya.
__ADS_1
"Kamu melakukan semua pekerjaan rumah, mas?" ucap Amira kini menjadi merasa bersalah.
"Oya, kan kamu yang menyuruh aku melakukan semua nya sebelum aku mendapatkan pekerjaan yang menghasilkan uang yang banyak," sahut Darius.
Amira kini merangkum kedua pipi Darius dan menatap kedua bola mata Darius yang penuh kelembutan. Ada ketulusan di sorot mata Darius. Bahkan Darius rela melakukan pekerjaan rumah tanpa ada keluhan dan protes.
"Mulai besok, aku akan carikan asisten rumah tangga lagi untuk mengurus semua pekerjaan rumah. Dan kamu tidak boleh melakukan pekerjaan rumah lagi, yah sayang! Maafkan aku, aku bersikap kurang baik dengan suami aku sendiri," kata Amira.
"Oh, no! Tidak sayang! Akulah yang sudah bersalah terhadap kamu, sayang! Aku bahkan tidak becus menjadi suami yang baik dan aku tidak bisa membahagiakanmu saat ini. Maaf, aku belum bisa mendapatkan pekerjaan yang pas dan cocok," ucap Darius. Amira menutup bibir Darius dengan jari telunjuk nya. Kini. Amira mulai membungkam bibir itu dengan bibirnya. Sehingga terjadilah ciuman yang panas pagi itu. Darius sedikit merenggangkan jarak lalu mengatur nafasnya.
"Sayang, kamu tidak pergi ke kantor? Tidak kerja pagi ini? Katanya ada meeting pagi hari ini," ucap Darius. Amira tersenyum menatap Darius dengan mata menuntut lebih.
"Bilang saja kalau kamu saat ini sedang menginginkan aku, Amira! Sekaya-kaya nya kamu saat ini dan banyak duit, kamu pasti akan butuh seorang laki-laki untuk mencari kebahagiaan dan surga dunia seperti ini, Hem," batin Darius sambil menikmati setiap pergerakan yang dilakukan oleh Amira, istrinya.
@@@@@@@
Amira sudah bersiap pergi ke kantor. Darius pun menghantar kepergian Amira sampai di depan pintu utama rumah mereka. Saat yang bersamaan ada satu mobil mewah berhenti di depan gerbang rumah mereka. Karena gerbang sudah terbuka lebar dan Amira sudah masuk ke dalam mobil, mobil yang baru tiba itu segera masuk ke pekarangan rumah Darius. Amira menghentikan sejenak laju mobilnya yang tadi sudah sampai di depan gerbang. Amira turun dari mobilnya dan mendatangi tamu yang baru datang.
__ADS_1
Darius segera menghampiri penghuni mobil mewah yang saat ini sudah terparkir di pekarangan rumahnya. Tentu saja Darius sangat mengenalinya. Mobil mewah itu milik papa nya, Pak Djarot. Pak Djarot tiba bersama istrinya, mama Darius yang bernama Bu Maya.
"Papa, mama!" sapa Darius lalu mencium tangan kedua orang tuanya.
"Darius, kamu kenapa kurus sekali dan hitam sekarang," sahut Bu Maya sambil memeluk anak laki-laki nya yang ganteng. Amira masih berdiri mematung menunggu Bu Maya melepaskan pelukannya ke anak laki-laki nya. Amira menjabat tangan papa mertuanya terlebih dahulu.
"Papa," ucap Amira. Pak Djarot tanpa ekspresi senang hanya menyambut uluran tangan Amira. Amira beralih bersalaman ke Bu Maya. Bu Maya tidak kalah judes nya dengan Amira. Amira tahu kalau mama papa Darius dari dulu tidak menyukai dirinya.
"Ayo masuk ma, pa!" ajak Darius.
"Oh, iya, Amira! Lebih baik kamu pergi ke kantor saja, sayang! Mama papa tidak apa-apa kok, kamu tinggal. Bukankah ada aku di rumah," kata Darius. Amira lalu mengangguk tanpa kata. Kembali Amira salaman dengan kedua mertuanya.
"Saya, pamit pergi ke kantor dulu ma, pa!" ucap Amira.
"Baiklah, Hati-hati di jalan!" sahut Bu Maya akhirnya sedikit melunak dengan sikap sopan Amira saat ini.
Papa mama Darius kini melenggang masuk ke dalam rumah mewah bak istana itu. Darius sedikit khawatir karena saat ini keadaan rumahnya masih sepi tanpa pembantu rumah tangga. Mama papa Darius saling pandang lalu duduk di ruangan tengah.
__ADS_1
"Mama, papa! Aku akan membuatkan minuman buat papa mama yah!" kata Darius. Bu Maya dan Pak Djarot saling pandang. Sedangkan Darius dengan cuek berjalan menuju ke belakang rumah tepatnya di bagian dapur untuk membuatkan minuman untuk papa mama nya.