SUAMI TAK DI ANGGAP

SUAMI TAK DI ANGGAP
RESTU


__ADS_3

Pagi hari sebelum berangkat ke kantor, Krisna duduk bersama keluarga besar nya di ruang makan. Kali ini Krisna ingin menyampaikan dan membicarakan niatnya untuk melamar dan menikahi Desti, si janda baru yang baru saja bercerai dengan suami nya.


Papa mama dan juga kedua adiknya saat ini sudah duduk di ruang makan. Krisna mulai berbicara serius dengan kedua orang tuanya tersebut.


"Papa, mama, aku ingin menikah dengan Desti!" ucap Krisna. Papa mama dan juga kedua adik nya spontan menatap ke arah Krisna. Krisna saat ini seperti pembicara yang diperhatikan oleh audiennya.


"Sama si janda itu?" sahut papa Krisna yang sebut saja Pak Jaki. Krisna mengerutkan dahinya.


"Iya papa, memangnya selain Desti aku punya pacar lain?" sahut Krisna sewot.


"Mama pikir kamu berhubungan dengan si janda itu tidak serius dan hanya happy fun saja, tidak terpikir ke arah pernikahan," sahut mama Krisna yang bernama Bu Diah.


"Ya Tuhan, mama! Mana mungkin aku seperti itu, ma! Aku berpacaran dengan Desti pasti berkeinginan ke jenjang yang lebih serius. Aku mencintai Desti dan akan menikah dengan Desti," kata Krisna. Mama papa dan juga kedua adiknya Krisna saat ini saling pandang.


"Aku juga kurang setuju jika kakak Krisna menikah dengan tante Desti." sahut adik Krisna yang bernama Titis.


"Aku juga kurang senang dengan tante Desti! Aku lebih setuju jika kakak Krisna menikah dengan mbak Fera yang gadis itu. Bukan tante Desti yang seorang janda," ucap adik Krisna yang satu lagi bernama Mia.

__ADS_1


"Diam kalian! Anak kecil tahu apa?" bentak Krisna kepada kedua adiknya. Mama papa Krisna saling pandang.


"Krisna! Adik-adik kamu benar! Seharusnya kamu bisa mencari dan memilih wanita yang belum pernah menikah. Kamu ini milih kok janda! Memangnya kamu sudah kehabisan stok gadis-gadis di dunia ini, hah? Gadis perawan masih banyak kok malah milih perempuan yang sudah second. Janda itu sudah pernah gagal dalam berumah tangga. Itu artinya wanita itu tidak bisa menjadi istri yang baik bagi suaminya. Ini janda lantaran bercerai dengan suaminya yah. Bukan karena ditinggal meninggal suaminya. Mereka bercerai itu lantaran tidak bisa mempertahankan rumah tangga nya. Itu artinya tidak bisa menjalani dan menyelesaikan masalah keluarga kecilnya terutama suaminya. Bagaimana ketika wanita yang kamu pilih itu suatu hari kecewa dengan kamu lantaran kamu memiliki kekurangan dalam hal lain. Dan wanita itu tidak bisa Terima. Pada akhirnya minta cerai seperti yang sudah ia lakukan dulu," terang Pak Jaki panjang lebar. Bu Diah, mama nya Krisna membenarkan kata-kata suaminya.


"Sekali pernah bercerai, suatu hari nanti jika sudah menikah kembali akan mudah menyerah ketika menghadapi masalah dalam rumah tangga nya. Dikit-dikit minta cerai, dikit-dikit minta pisah. Kamu harus tahu itu, Krisna. Wanita itu bisa latah minta cerai melulu dengan suaminya ketika apa yang dia inginkan tidak terpenuhi. Itu artinya wanita itu egois," tambah pak Jaki.


"Papa mama! Ini berbeda dengan Desti, papa mama! Aku yakin Desti wanita yang baik dan bagiku dia wanita yang sempurna. Dia menyukai aku, pa ma!" bela Krisna.


"Kakak Krisna ini dibilangin orang tua tidak mau mendengarkan! Di nasihati yang bagus malah enggak mau. Ini seperti di kasih handphone baru dan bersegel malah milih handphone yang buruk dan second," sahut Mia. Kembali Krisna melotot mendengar ucapan adiknya.


"Pokok nya disetujui atau tidak, besok lusa aku akan menikah dengan Desti. Walaupun aku menikah dengan Desti di rumah Desti. Yang terpenting orang tua Desti merestui pernikahan aku dengan Desti serta ayah Desti mau menjadi wali nikah kami," ucap Krisna. Bu Diah melebar matanya dengan sempurna. Apalagi Pak Jaki sangat terkejut dengan sikap Krisna yang kasar terhadap semua anggota ke keluarga nya di sana, baik mama papa maupun dengan kedua adiknya.


"Yah sudahlah, kalau itu sudah keputusan kamu! Mama papa sudah memperingati kamu yah, Krisna. Kamu yang menjalani pernikahan itu. Kamu yang harus bisa menanggung resiko dan masalah yang akan kamu hadapi kemudian," sahut Pak Jaki akhirnya mengalah. Krisna menarik nafasnya dalam-dalam dan kini dibuangnya dengan kasar. Pak Jaki dan Bu Diah akhirnya mengalah mengikuti kemauan dan pilihan Krisna untuk menikah dengan Desti.


"Baiklah! Nanti malam ajak calon istri kamu ke rumah dan kenalkan pada kami semuanya. Adik-adik kamu harus kenal lebih dekat dengan Desti. Namun kamu harus ingat! Jangan paksa kami. untuk sayang Desti dengan cepat, Krisna. Karena kami sebenarnya tidak setuju jika kamu menikah dengan Desti si janda itu," ucap Pak Jaki.


"Jangan Khawatir pa ma! Aku tahu itu. Papa mama dan kedua adikku berhak tidak menyukai Desti. Yang terpenting disini aku dengan Desti saling mencintai. Itu lebih dari cukup," ucap Krisna. Pak Jaki dan Bu Diah hanya bisa saling pandang dan kembali menarik nafasnya dalam-dalam.

__ADS_1


"Ya sudahlah, kamu berangkat lah ke kantor! Sudah semakin siang kamu belum berangkat ke kantor," perintah Pak Jaki. Krisna tersenyum senang karena diskusi alot itu bisa cair dan dimenangkan oleh Krisna. Ditambah di kantor akan bertemu dengan Desti. Benar! Desti memang bekerja di kantor menjadi sekretaris di perusahaan keluarga Krisna. Tentu saja Pak Jaki sudah mengetahui Desti walaupun tidak dekat. Hanya sebatas pimpinan dan karyawan saja.


Krisna menghambur keluar dari ruangan makan itu dan meninggalkan rumah itu setelah bersalaman dengan papa mama nya. Pak Jaki dengan Bu Diah saling pandang akhirnya hanya menghela nafasnya dengan kasar.


"Ternyata keras kepala kamu sudah menurun pada diri Krisna. Dulu ketika kamu memilih aku, kedua orang tua kamu juga tidak setuju kan, mas? Apada akhirnya kedua orang tua kamu pasrah dan akhirnya menyukai menantunya yang cantik ini," ucap Bu Diah sambil tersenyum saat mengingat perjuangan Pak Jaki ketika hendak menikahi dirinya melalui proses minta restu pada kedua orang tuanya yang melewati diskusi yang alot.


"Ah sayang! Kamu kan sangat pantas untuk diperjuangkan! Terlebih aku dan kamu saling mencintai," sahut Pak Jaki dengan tersenyum lebar. Kini Pak Jaki berdiri dan mengajak Bu Diah masuk ke dalam kamar.


"Hai mau ke kamar? Ngapain masih pagi kok ngajak ke kamar sih, mas?" protes Bu Diah.


"Diah, aku kan ingin merasakan kembali muda seperti dahulu. Dan walaupun usia kita sudah paruh berkepala lima, namun aku masih laki-laki tulen dan tangguh. Di wajah kamu pun masih ada sisa-sisa kecantikan diwaktu muda dulu, Diah," ucap Pak Jaki mulai genit.


"Jadi, hanya tinggal sisa-sisa cantiknya?" protes Bu Diah.


"Iya, cantiknya sekarang turun ke putri kita Mia dan Titis," sahut Pak Jaki. Bu Diah tersenyum lebar.


"Iya, mas! Tidak aku sangka! Kita bisa melewati segala masalah rumah tangga kita dan bertahan menjadi suami istri kurang lebih dua puluh lima tahun," kata Bu Diah. Pak Jaki merengkuh tubuh istrinya yang kini tidak lagi muda.

__ADS_1


__ADS_2