
"Mama, papa!" ucap Amira seraya menyalami kedua mertuanya walaupun masih terlihat jelas kalau kedua mertuanya tersebut tidak menyukai dirinya. Pak Djarot dan Bu Maya mendengus kesal. Pak Djarot dan Bu Maya tentu sudah mengetahui kalau putra nya pernah diperlakukan yang tidak baik oleh Amira, istrinya lantaran lama menganggur. Hal itu tentu saja didengar oleh pembantu lamanya yang dulu bekerja di rumah Darius lalu diberhentikan karena Darius dengan Amira saat itu ribut-ribut masalah ekonomi.
Bu Maya dengan pak Djarot duduk di kursi sofa ruangan kerja itu. Amira pun ikut duduk bergabung di sana. Walaupun kecanggungan dan kebekuan terjadi di antara mereka, Amira tetap bertahan duduk di sana. Sebenarnya Amira ingin segera pergi meninggalkan tempat duduknya. Bagi Amira, kursinya sangat panas ketika berada di situasi kedua mertua nya melihat dirinya seperti jijik atau membenci nya.
"Papa, mama mau kopi cappucino dan kue kekinian di toko ini, kan? Biar aku turun ke bawah dan meminta karyawan ku untuk membuatkan kopi itu dan kue itu supaya diantar ke atas," kata Darius. Bu Maya melirik ke arah Amira.
"Kamu duduk saja, anakku yang ganteng sendiri. Biarkan Amira saja yang turun ke bawah untuk meminta karyawan menyiapkan minuman dan kue terenak di toko ini. Masak jadi wanita kok tidak ada peka sama sekali," ucap Bu Maya. Maya yang mendengar mama mertua nya berkata demikian hanya bisa menundukkan kepalanya saja.
"Amira kan baru sekali datang di toko kue ini, jadi belum mengenal karyawan di sini, ma!" bela Darius. Maya segera berdiri hendak turun ke anak tangga.
__ADS_1
"Tidak apa-apa mas! Biar aku saja yang memesankan kopi dan juga kue itu ke bawah. Nanti kalau aku tidak tahu kan bisa bertanya pada karyawan di toko ini kan, mas," kata Amira. Pak Djarot dan juga Bu Maya saling pandang.
"Oh, begitu yah! Baiklah, kamu bisa mencari karyawan yang bernama Sita, Amira. Nanti kamu bilang saja kalau mama papa dan juga kalau kamu mau minta kopi cappucino serta kue terlezat di toko kue ini," terang Darius dengan pelan. Amira mengangguk paham.
"Baik, mas Darius! Kalau begitu aku turun dulu ke bawah," ucap Amira segera berjalan dan turun anak tangga menuju ke lantai satu. Bu Maya menarik nafasnya lalu membuangnya dengan kasar.
"Makanya kamu itu jangan terlalu memanjakan istri kamu, Darius! Akhirnya begini ini. Lihat saja, dia hanya bisa berdandan saja. Melayani mertuanya saja tidak bisa apalagi melayani kamu, nak! Apakah kamu tidak pernah dibikinkan teh atau kopi dari istri kamu sendiri? Yah walaupun di rumah kalian ada pembantu rumah tangga. Tetapi istri tetaplah istri yang harus melayani suami nya. Mama tahu, Amira juga bekerja mencari uang. Namun tetap tugas istri harus dikerjakan," ucap Bu Maya terlihat jengkel dengan Amira.
"Mama kamu juga lahir dari keluarga terhormat dan konglomerat. Namun mama kamu masih mau membuatkan kopi atau membuatkan makanan buat papa, nak!" sahut Pak Djarot membela istrinya. Darius kini disudutkan.
__ADS_1
"Baiklah, nanti pelan-pelan aku akan mendidik istri aku, Amira, ma, pa!" kata Darius akhirnya mengalah dan tidak ingin berdebat kembali.
"Oh, iya, satu lagi! Kapan kamu akan memberikan kami cucu? Kamu sudah hampir satu tahun menikah. Sekarang kamu harus fokus untuk mendapatkan keturunan. Antar istri kamu, Amira ke dokter spesialis kandungan untuk mengikuti program ibu hamil. Jika perlu suruh istri kamu tinggal di rumah saja dan tidak perlu bekerja lagi di perusahaan keluarganya. Ini sungguh-sungguh memalukan. Dikira kamu tidak bisa mencukupi kehidupan dan kebutuhan Amira," ucap Bu Maya. Kata-kata Bu Maya dibenarkan oleh Pak Djarot.
"Benar! Mertua kamu itu pasti akan meremehkan kamu, Darius! Papa sangat yakin akan hal itu!" sahut Pak Djarot. Darius kembali menarik nafasnya dalam-dalam dan membuangnya dengan kasar.
Memang benar apa yang menjadi ucapan mama nya kalau mertuanya Darius sangat tidak menyukai dirinya. Dan mungkin menganggap sebelah mata saja dengan Darius. Apalagi mertuanya itu seolah-olah dengan sengaja masih saja mendekatkan Amira dengan laki-laki lain yang lebih mentereng dan kaya raya.
"Setelah ini aku akan membuktikan, ma pa! Kalau aku adalah laki-laki dan suami yang pantas untuk Amira! Aku pun akan membuktikan pada mama, papa kalau Amira bisa menjadi istri dan wanita yang baik di mata mama papa. Walaupun bagi aku Amira tetaplah Amira, wanita yang aku sayangi dan cintai dari dulu. Dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Aku tidak mau menuntut Amira menjadi lebih sempurna. Karena bagiku Amira sudah sangat sempurna di mata ku," ucap Darius. Saat mengatakan itu Amira masih berdiri mematung di ujung anak tangga. Kedua ujung mata Amira meneteskan kristal bening itu. Tentu saja, Amira sangat terharu dengan ucapan suaminya.
__ADS_1
"Terimakasih, mas Darius! Aku akan menjadi istri kamu yang lebih baik lagi dari sebelumnya," gumam Amira sambil menghapus butiran air matanya.
"