
Di toko kue, pagi itu Yaman merasa dalam kegelisahan. Mondar-mandir berjalan ke sana ke mari seperti setrikaan. Darius yang melihat Yaman yang gelisah sontak melemparkan sesuatu benda kecil ke arah Yaman.
"Aduh!" teriak Yaman lalu menatap tajam ke arah Darius.
"Ada apa dengan kamu, Darius! Kenapa melempar aku?" protes Yaman. Darius hanya tersenyum lebar.
"Kamu ini kenapa, Yaman? Dari tadi berjalan ke sana ke mari seperti setrikaan. Apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Darius.
"Entahlah! Aku sendiri juga tidak tahu, Darius! Sejak semalam aku kepikiran dengan Desti. Bagaimana keadaan nya yah? Apakah dia sakit atau ada sesuatu yang menimpanya? Dan pagi ini aku tiba-tiba juga menjadi khawatir sekali dengan Desti," ucap Yaman berkata jujur dengan Darius.
"Kenapa kamu memikirkan Desti, Yaman? Dia sudah mantan istri kamu. Lagipula Desti sudah memiliki kekasih dan mungkin saja mereka akan segera menikah. Desti adalah wanita dewasa yang bisa memilih kebahagiaan nya sendiri," kata Darius panjang lebar. Yaman kini duduk dan bersandar di kursi ruangan Darius.
__ADS_1
"Walaupun Desti sudah mantan istriku, tetapi aku masih perduli dengan dirinya. Jika terjadi sesuatu dengan Desti, aku pasti tidak akan memaafkan aku," sahut Yaman. Darius mengernyitkan dahinya.
"Oke, baiklah! Sekarang lupakan Desti saat ini. Aku ingin mengajak kamu ngopi sejenak," ajak Darius.
"Ngopi? Mau di mana Darius?" tanya Yaman.
"Di bawah! Kita duduk di kafe kita ini sambil minum kopi dengan kue yang manis-manis supaya hidup kita menjadi manis," kata Darius.
"Awas loh! Kebanyakan yang manis bisa terkena diabetes kamu," sahut Yaman sambil terkekeh.
Yaman dan Darius kini turun ke lantai satu dan di sana mereka mencari tempat duduk di ujung dan memilih di dekat kaca. Kini Darius dan Yaman sudah duduk saling berhadap-hadapan.
__ADS_1
"Jika kamu teringat mengenai Desti mantan istri kamu. Aku malah teringat dengan Aina. Bagaimana kabar Aina adiknya Desti itu?" ucap Darius.
"Aina? Apalagi dia. Aku saja terakhir ketemu Desti saat peresmian toko kue ini. Apalagi Aina, semakin tidak pernah ketemu dengan dia. Aina itu masih tinggal dengan kedua orang tuanya. Sedangkan Desti memilih hidup sendiri di apartemen nya. Kamu tahu sendiri bukan? Jika wanita sudah dewasa seperti Desti perlu penyaluran. Apalagi dia sudah memiliki pacar dan calon suami," terang Yaman.
"Jadi, sebenarnya laki-laki itu kah selingkuhan nya Desti?" tanya Darius memastikan.
"Iya, benar! Desti sudah pernah mengakuinya. Namun sebenarnya kejadiannya itu setelah kami sudah merencanakan untuk bercerai. Dan laki-laki itu semakin dekat dan membuat Desti tidak ragu-ragu untuk berpisah dengan aku. Perceraian itu akhirnya terjadi karena ada harapan baru dan indah setelah kami bercerai, Desti sudah mendapatkan pengganti nya," terang Yaman.
"Oh, begitu! Jadi sebenarnya perceraian kamu dipicu apa, awal mulanya?" tanya Darius memastikan.
"Awal nya mungkin aku tidak kasih nafkah batin kepada Desti sesuai keinginan Desti," jawab Yaman penuh praduga.
__ADS_1
"Masih mungkin? Memangnya waktu sidang perceraian kalian Desti tidak menjelaskan alasan menggugat perceraian antara kalian?" sahut Darius.
"Alasan utama adalah Desti sudah tidak puas dalam menerima nafkah batin dan nafkah lahir dari aku. Itu sudah secara umum alasannya itu. Secara detailnya karena aku nganggur dan bangkrut. Lalu stress terjadi padaku. Aku suka minum setiap malam. Haduh aku lah yang jahat, Darius," terang Yaman akhirnya. Darius menarik nafasnya panjang lalu membuangnya perlahan.