
Di taman belakang rumah Yaman, kini telah duduk bersama teman dekatnya yaitu Darius. Keduanya sedang menikmati kopi hitam di cangkir nya. Batang rokok dengan merk setianya itu telah menyala dan terselip di antara jari telunjuk dengan jari tengah.
"Bagaimana kabar istri kamu, Amira?" tanya Yaman.
Yaman menyeruput kembali kopinya.
Setiap tarikannya seperti tersimpan kesedihan yang mendalam. Namun Yaman belum berani mengungkapkan kepada Darius. Menceritakan segala kesedihan dan kekecewaan dalam kehidupan rumah tangganya sama artinya menceritakan aibnya sendiri. Sedangkan saat ini Yaman masih terlihat kuat dan bertaring di rumah nya.
"Amira sehat! Saat ini dia masih bekerja di perusahaan orang tuanya. Hal inilah yang membuat aku seperti laki-laki dan suami yang tidak berguna. Apalagi saat ini aku masih menjadi pengangguran. Papa ku tidak kasih aku kerjaan lagi di perusahaan setelah aku memilih menikah dengan Amira. Saat itu papa tetap kasih ijin aku nikah dengan Amira. Namun konsekuensi yang aku terima aku tidak akan bekerja kembali di perusahaan papa. Posisi aku di perusahaan kini sudah diambil alih okeh abang aku, bang Joseph. Ah sudahlah, ini sudah konsekuensi yang harus aku ambil ketika aku harus memilih istri," cerita Darius. Yaman masih menikmati setiap tarikan rokoknya yang masih menyala sambil memandang wajah lusuh Darius.
"Aku sudah memasukkan lamaran di beberapa perusahaan, namun belum juga ada panggilan. Aku harus usaha apa untuk mendapatkan uang yang banyak. Kamu tahu, baru tadi malam aku mendapatkan uang beberapa juta dari Amira untuk belanja bulanan. Aku seperti suami yang tidak berguna," jelas Darius. Yaman terkekeh mendengar cerita dari Darius.
"Apakah perlakuan istri kamu masih tetap sama? Maksudku, Amira masih menghargai dan menghormati kamu sebagai seorang suami? Setelah dirinya merasa bisa mendapatkan uang sendiri dan bahkan memberikan kamu uang?" sahut Yaman.
__ADS_1
"Amira masih tidak berubah. Namun terkadang emosi kepada aku ketika melihat aku nganggur di rumah dan bermalas-malasan. Aku memahami jika Amira marah dengan aku dan tidak puas melihat aku seperti itu. Sedangkan dia bekerja keras mencari uang dan menurut ku itu sangat capek dan lelah. Ketika kembali pulang, melihat aku hanya bermalas-malasan saja. Ini tidak adil bukan? Akhirnya aku dengan rela dan ikhlas melakukan semua pekerjaan rumah," cerita Darius. Kini Yaman tertawa terpingkal-pingkal.
"Haha, astaga! Seorang Darius, salah satu putra pewaris kerajaan bisnis melakukan pekerjaan rumah? Apakah kalian benar-benar sudah tidak bisa membayar satu asisten rumah tangga saja untuk mengurus rumah, hah? Hahaha, Amira benar-benar kelewatan!" ucap Yaman.
"Kamu jangan menyalahkan Amira dong, Yaman! Dia masih mau melayani aku kok. Dia masih manis ketika di atas peraduan. Aku sangat yakin, kalau soal ini Amira tidak akan berselingkuh dan mengkhianati aku," ujar Darius. Yaman kembali terbahak-bahak.
"Oke! Oke! Maaf, aku hanya asal bicara. Namun nasib kamu juga tidak kalah berbeda dengan aku, Darius. Namun bedanya, beberapa bulan ini aku mengalami masa kebangkrutan di usaha aku. Sekarang aku lagi menjadi orang gembel. Namun begitu, istri aku Desti tidak sampai menyuruh aku mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Walaupun saat ini Desti sedang di atas posisi nya. Menjadi orang kedua di suatu perusahaan swasta itu. Namun semoga ini tidak akan lama. Aku akan memulai lagi bisnis aku walaupun dari nol," cerita Yaman.
"Benar! Makannya aku tinggal di rumah ini. Rumah yang lama telah disita oleh bank. Semua untuk menutupi hutang-hutang perusahaan dan juga membayar gaji karyawan," cerita Yaman.
"Walaupun begitu kamu masih terlihat mentereng, Yaman. Kamu masih memiliki rumah dan simpanan," sahut Darius.
"Itu lantaran Desti dari dulu mandiri. Dia pandai menyimpan uang dari semua yang aku berikan untuk nya. Ditambah Desti sendiri juga dari dulu pekerja keras," cerita Yaman.
__ADS_1
"Benar! Istri-istri kita memang wanita-wanita karir yang hebat," sahut Darius.
"Bagaimana kalau setelah ini, kamu bergabung dengan aku untuk memulai bisnis," ajak Darius.
"Aku tidak memiliki modal sama sekali, Yaman!" sahut Darius.
"Desti, istri aku akan membantu dalam hal ini. Desti diam-diam sudah memiliki banyak aset-aset yang berharga seperti villa, dan juga penginapan kecil di puncak," cerita Yaman.
"Apa rencana kamu untuk memulai bisnis baru nanti, Yaman?" tanya Darius mulai tertarik dengan ajakan Yaman.
"Rencananya aku akan mendirikan hotel dan resort," jawab Yaman. Darius kini berbinar matanya mendengar jawaban dari Yaman.
"Prospek yang bagus! Namun modalnya juga sangat bagus!" sahut Darius.
__ADS_1