SUAMI TAK DI ANGGAP

SUAMI TAK DI ANGGAP
BUKAN JOMBLO


__ADS_3

Masih duduk santai di belakang rumah di tempat tinggal Yaman, teman dekat nya. Keduanya kini kembali membicarakan rencana apa untuk memulai bisnisnya. Di luar sana sudah gelap, kini Darius sudah bersiap-siap untuk kembali ke rumahnya.


"Aku balik dulu yah, Yaman! Jam setengah delapan Amira akan tiba ke rumah. Aku takut saat Amira kembali tidak mendapati aku sedang di rumah. Sedangkan aku belum menyiapkan makan malam untuk Amira," ucap Darius sambil menyambar tas kecilnya. Yaman terkekeh mendengar ucapan Darius yang terdengar sangat takut dengan Amira.


"Apakah kamu takut dengan kemarahan Amira atau memang kamu sangat perhatian dengan Amira? Bahkan kamu mau menyiapkan makan malam untuk istri kamu, Darius!" kata Yaman yang sejatinya sangat prihatin jika melihat kondisi Darius saat ini. Sebagai seorang laki-laki kenapa seperti menjadi budak istrinya.


"Ini karena aku memahami jika seharian ini istri aku, Amira sudah bekerja dan itu sangat lelah sekali. Dia mencari uang sedangkan aku saat ini menjadi suami yang pengangguran. Lagi pula kamu kan tahu sendiri, jika di rumahku saat ini sudah tidak ada lagi asisten rumah tangga. Ini bukan masalah takut dengan istri atau tidak. Ini lebih saling berbagi tugas. Kasihan dong istriku sudah mencari uang seharian masih harus memperhatikan aku. Aku sudah merasa bersyukur saja jika Amira masih mau melayani aku di atas peraduan," ucap Darius vulgar. Yaman terkekeh mendengar nya.


"Ya sudah! Kamu hati-hati di jalan yah! Sampaikan salam ku untuk Amira," kata Yaman. Desti mulai keluar dari kamarnya dan mengiringi langkah suaminya yang mengantarkan Darius sampai di depan. Namun tiba-tiba ada seorang gadis belia sudah berdiri di depan pintu utama rumah Yaman dan Desti.


"Halo kakak! Aku datang!" teriak gadis itu dengan suara cempreng nya. Darius melebarkan matanya gadis yang baru tiba adalah gadis yang menabrak nya saat berbelanja di mall tadi pagi.


"Aina! Kamu kok tidak kasih kabar kakak kalau mau datang ke rumah?" sahut Desti lalu mencium pipi kanan dan kiri adiknya. Aina tersenyum lebar.


"Maaf kak! Tiba-tiba aku kangen kakak dan tanpa rencana mau main ke rumah ini. Boleh dong, malam ini aku menginap di sini?" ujar Aina. Desti tersenyum lebar. Sedangkan Darius dan Yaman masih berdiri mematung.


"Tentu saja boleh!" sahut Desti.


"Eh, aku balik dulu bro!" potong Darius lalu bergegas menuju ke arah mobilnya yang sedari tadi berada di luar pagar.


"Oke, Hati-hati yah! Sering mainlah ke sini, Darius!" kata Yaman yang masih berdiri melepaskan kepergian Darius dengan mengendarai mobil nya. Setelah mobil Darius tidak lagi terlihat, Yaman dan Desti masuk ke dalam rumah. Aina pun ikut masuk ke dalam rumahnya.

__ADS_1


"Laki-laki itu teman mas Yaman yah?" tanya Aina yang kini mereka semua sudah duduk di ruang makan untuk makan malam bersama.


"Iya, teman mas Yaman. Ada apa?" jawab Desti.


"Tidak ada! Hanya saja aku seperti pernah bertemu dengannya tapi dimana yah?" ucap Aina lalu mengingat kembali dimana dirinya bertemu dengan Darius.


"Oh walah iya, aku ingat! Tadi pagi aku menabrak pria itu saat berbelanja di supermarket," imbuh Aina. Yaman dan Desti nyengir kuda.


"Lalu? Apakah dia masih jomblo?" tanya Aina lagi. Memang kalau sudah bersama dengan kakaknya Aina ini menjadi sangat cerewet seperti burung beo.


"Maaf, kali ini anda kurang beruntung! Dia sudah menikah dan memiliki istri," sahut Desti. Yaman terkekeh melihat ekspresi kecewa dari raut wajah Aina.


@@@@@@@


"Oh, Teman-teman Amira rupanya!" gumam Darius. Darius kini menghitung jumlah tamu yang saat ini berada di ruangan tengah beserta Amira. Ada lima orang termasuk Amira. Darius mulai membuatkan minuman manis dan menyiapkan snack yang tadi dibelinya saat belanja bulanan.


"Air teh manis panas saja deh, belum tentu teman-teman Amira menyukai kopi," gumam Darius.


Setelah teh manis panas yang dibuat Darius sudah siap beserta cemilan yang ia letakkan di toples. Darius segera melangkah menuju ruangan tengah dimana Amira dan juga teman-teman kerjanya masih mengobrol di sana. Sejenak mereka terdiam melihat kedatangan Darius yang membawa minuman dan snack nya.


"Maaf, baru keluar minuman dan makanan kecilnya. Ini silahkan diminum dan dicicipi cemilan nya!" kata Darius sambil meletakkan nampan yang dibawanya. Satu teman Amira yang bernama Cantika membantu Menghidangkan nya di atas meja.

__ADS_1


"Wah, pembantu Amira tampan yah, makanya Cantika langsung gerak cepat membantu!" canda salah satu teman Amira yang bernama Ciko. Darius menatap Amira. Amira hanya tersenyum saja tanpa berusaha meralat ucapan dari temannya yang bernama Ciko itu.


"Mas, masih jomblo atau sudah menikah?" tanya Cantika kini mulai bercanda dengan keadaan itu.


"Eh, maaf! Sudah menikah nona!" sahut Darius yang setelah itu menatap ke arah Amira.


"Dia suami aku, Cantika!" ucap Amira akhirnya. Cantika, Ciko dan yang lainnya melongo mendengar ucapan dari Amira.


"Memangnya kenapa kalau suami membuatkan minuman kepada teman-teman istrinya? Kalian langsung mengira pembantu gitu?" hardik Amira. Darius menatap teduh Amira.


Amira mendatangi Darius dan menariknya duduk di dekatnya.


"Maaf, Amira! Kami tidak tahu kalau itu suami kamu," ucap Cantika takut-takut.


"Tidak apa, lain kali jangan diulangi lagi," sahut Amira akhirnya.


"Aku ke belakang dulu, Amira! Kalian sudah pada makan belum?" tanya Darius.


"Tidak perlu mas, kami akan memesan makanan saja!" sahut Ciko cepat.


"Benar! Kami akan memesan makanan saja, mas! Bukannya begitu, Amira?" ucap Cantika dan yang lainnya ikut membenarkan.

__ADS_1


"Kalian saja yang memesannya yah, kalau aku sudah biasa makan masakan suami aku," sahut Amira. Teman-teman Amira yang lain saling pandang dan melemparkan senyuman nya. Darius segera melipir ke belakang rumah ke arah dapur untuk mempersiapkan makan malam bersama dengan isterinya, Amira.


"Setelah ini aku harus menjadi suami yang sukses! Aku tidak mau diinjak-injak harga diriku!" gumam Darius sambil memotong kentang dengan penuh emosi.


__ADS_2