SUAMI TAK DI ANGGAP

SUAMI TAK DI ANGGAP
ADA PENGGODA


__ADS_3

Darius kini mulai bersiap-siap hendak pergi. Namun Amira seperti nya enggan untuk melepaskan Darius pergi. Di tatapnya Amira dengan penuh kelembutan.


"Ada apa sayang? Aku hanya pergi sebentar kok, memastikan besok lusa peresmian toko kue kita siap dilaksanakan dan segala sesuatunya sudah matang. Atau kamu mau ikut dengan aku, melihat toko kue kita?" ujar Darius. Amira tiba-tiba berbinar matanya.


"Boleh? Aku boleh ikut?" tanya Amira. Darius melebarkan senyuman nya lalu mengangguk pelan.


"Boleh dong sayang!" sahut Darius.


"Tapi aku belum mandi, mas!" kata Amira dengan manja. Darius kembali duduk di kursinya lalu menyalakan tayangan televisi.


"Ya sudah mandi sana! Aku akan menunggu kamu di sini," sahut Darius. Amira berjingkrak senang. Lalu dengan cepat menaiki anak tangga menuju kamar utama mereka yang berada di lantai atas. Darius kini melihat tayangan di televisi.

__ADS_1


Kembali pelayan di rumah nya mendekati Darius dengan gayanya yang menggoda. Dia adalah Sofa yang memiliki dua buah yang menggantung padat dan menggoda. Sofa, wajahnya hitam manis dengan tubuh yang gempal berisi namun berbadan pendek.


"Tuan muda, mau dibuatkan kopi atau susu?" tawar Sofa yang terlihat membusungkan dada nya saat di dekat Darius. Mata Darius membulat saat pembantu baru nya itu datang mendekat ke arahnya. Bahkan serta merta sangat menantang maut di dekat harimau yang ganas.


"Eh susu! Susu! Tidak tidak! Lebih baik buatkan aku jus jeruk saja, Sofa! Dan tolong setelah ini kamu pergilah ke pasar untuk membeli pakaian yang sedikit longgar," ucap Darius. Sofa mengerutkan dahinya.


"Pakaian longgar? Untuk siapa tuan muda?" tanya Sofa sambil membasahi bibir nya yang merah karena gincu.


"Buat kamu, Sofa!" sahut Darius yang enggan melihat ke area bagian dada milik Sofa yang menantang sombongnya.


"Ya sudah, buatkan aku minuman itu. Lupakan saja kalau kamu tidak mau baju longgar itu," sahut Darius akhirnya.

__ADS_1


Dengan bibir yang maju lima sentimeter Sofa akhirnya berlalu meninggalkan Darius di tempat itu. Sofa membuatkan minuman segar untuk tuan mudanya. Tidak berselang lama, Sofa kembali dengan minuman segar untuk Darius.


"Nah ini tuan muda, minuman segarnya! Walaupun masih pagi, ini sangat menyegarkan dan membuat bersemangat menjalankan aktivitas," ujar Sofa. Darius segera duduk dengan benar.


"Sayang! Maaf, menunggu lama yah?" teriak Amira yang berlari kecil sambil menuruni anak tangga. Sofa menarik nafasnya ketika melihat istri Darius. Sofa segera berlalu dari sana dan menuju ke dapur.


"Tidak! Ayo kita berangkat!" sahut Darius. Amira menggandeng tangan Darius menuju garasi mobil. Keduanya masuk ke dalam mobil. Penjaga rumah itu sudah kembali bekerja lagi. Gerbang rumah yang tinggi kini sudah dibuka dengan lebar. Darius menjalankan mobilnya meninggalkan rumah itu.


"Amira, bagaimana kalau aku mengundang papa kamu di acara pembukaan toko kue besok lusa. Pemotongan pita itu, bagaimana? Papa Amirul dan mama Kamu juga harus menyaksikan kalau mantunya juga bisa membuka usaha sendiri," ucap Darius sambil menyetir mobilnya.


"Hem, sebaiknya mama papa tidak perlu diundang saja, mas! Papa mama kamu saja, mas Darius. Kamu tahu sendiri kan, kalau mama papa aku masih belum menyukai kamu," sahut Amira. Darius seketika berubah wajahnya.

__ADS_1


"Maaf, mas Darius! Memang keadaan nya mama papa kita belum akur. Mereka masing saling diam. Apalagi jika papa mama ku ketemu dengan papa mama kamu. Aku tidak ingin acara pembukaan toko kue itu menjadi kacau gara-gara sikap papa mam ku yang kurang sopan atau kurang bersahabat dengan keluarga kamu," tambah Amira menjelaskan apa yang dia nilai saat ini.


Perkawinan antara Amira dengan Darius dari dulu memang tidak di setujui oleh kedua orang tua mereka masing-masing. Walaupun pada akhirnya keduanya memberi restu antara Darius dengan Amira menikah namun sejatinya mereka tidak menginginkan pernikahan itu terjadi. Pada akhirnya segala permasalahan ataupun kehidupan rumah tangga Darius dengan Amira sudah tidak lagi dicampuri dengan kedua orang tua mereka. Justru inilah yang diharapkan oleh Darius dengan Amira. Keputusan mereka menikah baik senang sedih, dan dalam kekurangan ekonomi akan ditanggung dan dihadapi oleh mereka berdua. Walaupun pada akhirnya orang tua mereka tetap tidak tega melihat mereka dalam kesusahan dan akhirnya mereka membantu juga untuk kesuksesan mereka.


__ADS_2