
Setelah mengurus usaha toko kue yang akan di buka nya, Darius kini menemui Yaman di rumahnya. Rumah yang di datangi kemarin adalah rumah Yaman. Istrinya Yaman, Desti memilih untuk meninggalkan rumah itu. Perceraian Yaman dan Desti benar-benar membuat Darius tidak menduganya nya.
Darius kini sudah duduk bersama Yaman di belakang rumahnya. Kopi hitam buatan Yaman beserta kue brownies kukus yang di bawakan oleh Darius kini sudah ada di atas meja. Dua bungkus rokok dengan merk dan selera yang sama sudah ada di atas meja itu juga. Korek gas dengan beda motif dan warna pun tersedia di sana. Yaman sudah menikmati setiap tarikan rokok yang telah dihisap nya. Dengan sangat kasar membuangnya seolah-olah beban pikiran nya kini benar-benar ingin dibuang dan dilepaskannya.
Berbeda dengan Darius. Darius kini memperhatikan betapa wajah kacau dari sahabatnya itu. Hari ini dia habis lepas dari ikatan pernikahan nya dengan istrinya. Ketuk palu dari hakim telah memutuskan keduanya sah bercerai dan bukan lagi menjadi pasangan suami istri lagi. Ini benar-benar tidak disangka oleh Darius. Bahkan permasalahan keluarga Yaman tidak pernah diungkapkan dan diceritakan kepada Darius. Apalagi kemarin saat berjumpa dengan Yaman dan juga istrinya Desti. Mereka seperti tidak ada masalah dan Rupa-rupanya mereka pandai sekali menutupi permasalahan mereka di depan Darius.
"Desti berselingkuh di belakang ku, Darius! Dia memiliki pria idaman lain. Dan akhirnya dia memilih pria itu daripada aku yang hanyalah laki-laki pengangguran saat ini. Aku sekarang bangkrut dan tidak berjaya seperti dulu. Desti pergi ketika aku membutuhkannya. Membutuhkan semangat dan motivasi dari Desti. Supaya aku bisa bangkit dari keterpurukan ini. Menjadi laki-laki yang tidak berduit itu ternyata tidak ada harga dirinya, Darius. Walaupun tampan, dengan bodi yang gagah. Namun jika tidak memiliki segala materi, semua dinilai nol oleh mata seorang wanita," cerita Yaman. Tarikan rokoknya semakin dalam. Asap yang keluar dari mulut dan hidungnya semakin tebal. Beberapa kali Yaman menghabiskan barang rokok nya. Hingga beberapa cangkir kopi itu sudah habis diminum Yaman.
__ADS_1
Darius sementara berjalan menuju dapur dan membuka lemari es di sana. Darius sangat haus. Udara saat itu tiba-tiba semakin panas. Cuaca nya benar-benar membuat kerongkongan kering kerontang. Air es dan sedikit sirup rasa leci kini mulai dibuatkannya. Darius membuat dia gelas minuman dingin itu karena sedari tadi hanya minum kopi saja.
Darius kembali ke tempat duduknya. Kembali ingin mendengar semua cerita dan curhatan dari sahabatnya, Yaman. Yaman kini meminum minuman buatan Darius.
"Lalu? Lanjutkan ceritamu!" kata Darius. Darius kembali menyalakan batang rokoknya. Kedua bola matanya kini menatap wajah Yaman yang masih terlihat sangat kacau.
"Selama ini, kami. sudah lama pisah ranjang. Walaupun begitu kami masih dalam satu atap. Satu tahun hampir sudah aku tidak melakukannya dengan Desti. Sebenarnya aku tidak menginginkan perceraian ini. Namun Desti sudah tidak mau lagi dengan aku. Aku pria yang sudah tidak berduit dan memberikan kebahagiaan secara materi. Desti meminta cerai dengan aku. Dan dia tidak mau aku sentuh sama sekali," cerita Yaman.
__ADS_1
"Ya sudah lah! Semoga Desti bisa bahagia dengan laki-laki pilihan nya itu. Kini aku harus bangkit lagi menjadi laki-laki yang kuat," kata Yaman menyemangati dirinya sendiri.
"Benar! Nah, begitu dong! Ini adalah Yaman yang aku kenal!" sahut Darius.
"Oh iya, setelah ini aku akan mencari gadis perawan saja untuk aku pacari," kata Yaman dengan candaan nya. Darius menepuk jidatnya sendiri.
"Kenapa tidak cari janda saja, Yaman! Janda akan lebih berpengalaman dari pada seorang gadis perawan,"sahut Darius.
__ADS_1
" Ah tidak! Aku lebih suka beli handphone yang baru dan masih bersegel daripada yang sudah second. Demikian juga janda atau perawan," ucap Yaman. Darius kembali menepuk jidatnya sendiri mendengar ucapan koplak sahabat nya itu.
"Baiklah! Aku akan mendukung kamu," sahut Darius akhirnya.