SUAMI TAK DI ANGGAP

SUAMI TAK DI ANGGAP
NUNGGU KAMU


__ADS_3

"Aku akan mencuci mata terlebih dahulu! Tunggu aku di sini saja bos!" ucap Yaman kepala Darius. Darius terlihat menyipitkan matanya mendengar Yaman memanggilnya dengan bos. Yaman hanya nyengir kuda.


"Baiklah! Ini Dompetku bawa saja! Tolong belikan aku rokok satu slop. Kamu tentu tahu kan rokok apa yang sering aku hisap?" kata Darius sembari menarik dompetnya lalu menyerahkan nya pada Yaman. Yaman tersenyum lebar Darius masih saja mempercayakan itu pada Yaman.


Dulu saat duduk di bangku sekolah pun, Darius selalu menyuruhnya membeli makanan di kantin. Bukan uang lembaran saja yang diberikan ke Yaman. Namun selalu dengan dompetnya. Walaupun di dompetnya hanya dua lembaran kertas lima puluh ribuan. Tapi isi dompet Darius saat ini pasti tidak lagi berisi dua lembar lima puluhan ribuan saja. Melainkan lembaran merah seratus ribuan yang tebal di dalamnya.


Yaman melangkahkan kakinya keluar dari kafe tempat nongkrong mereka sedari tadi. Yaman masuk ke supermarket dan mencari barang titipan Darius. Tentu saja Yaman juga akan membeli barang yang sama dengan merk berbeda. Ini kesempatan Yaman juga karena telah membawa dompet Darius.



Yaman mengambil keranjang kecil di supermarket itu. Yaman akan membeli cemilan juga di tempat itu. Saat Yaman memasukkan beberapa barang, Yaman tidak memperhatikan seseorang juga memilih barang di rak yang sama. Tiba-tiba.

__ADS_1


Bruk!


"Aina! Kamu!" ucap Yaman spontan. Aina dan Yaman saling beradu pandang.


"Kak Yaman! Maaf, sampai menabrak kak Yaman." sahut Aina sambil duduk berjongkok memasukkan keranjangnya yang jatuh. Yaman selayaknya pahlawan di film-film ikut serta berjongkok membantu Aina memasukkan barang belanjanya di dalam keranjang.


"Kamu kok sendiri belanja di tempat ini? Kakak kamu, kak Desti mana?" Yaman mulai ada kesempatan untuk menanyakan soal mantan istrinya itu.


"Dua hari ini kamu menginap di rumah Desti? Lalu Desti kemana?" tanya Yaman.


"Kak Desti sedang berlibur dengan kak Krisna. Kak Desti sebentar lagi akan menikah dengan kak Krisna. Jadi mereka sambal berlibur juga akan mencari pemandangan yang bagus dengan tujuan buat background foto pra wedding mereka," terang Aina. Yaman menyimak cerita Aina dengan serius.

__ADS_1


"Desti akan menikah dengan Krisna? Secepat itu Desti melupakan aku!" gumam Yaman.


"Ini bukan masalah cepat atau tidak, kak Yaman! Kak Desti dan kak Krisna dari dahulu memang saling mencintai. Apalagi kak Krisna, benar-benar tulus mencinta kak Desti," jelas Aina.


"Hem, oke! Aku paham!" sahut Yaman yang tidak suka jika Aina membahas soal cinta itu sendiri. Apalagi menyangkut nama Krisna pacar Desti, mantan istrinya.


"Kak Yaman masih cemburu?" tuduh Aina.


"Tidak lah!" sahut Yaman dengan cepat.


"Kalau begitu kapan kak Yaman menyusul kak Desti menikah kembali?" tanya Aina sambil berjalan menuju ke kasir setelah merasa cukup mengambil barang yang akan Aina beli. Yaman pun sudah selesai juga mengambil cemilan yang dia inginkan.

__ADS_1


"Kapan saja aku siap! Aku kan nunggu kamu saja. Kapan kamu siap untuk aku nikahi," sahut Yaman asal. Aina yang mendengar ucapan Yaman hanya menjulurkan lidahnya ke arah mantan kakak iparnya itu.


__ADS_2