
Darius dan Yaman masih berada di taman belakang rumah Yaman. Mereka masih mengobrol merencanakan usaha atau bisnis yang akan dijalankan oleh kedua nya. Namun semua rancangan dan rencana bisnis mereka harus ada modalnya. Dan itu tidak sedikit. Apalagi Yaman merencanakan untuk mendirikan hotel dan resort yang akan didirikan di pusat kota. Ini tentu saja akan memakan biaya yang tidak sedikit lantaran harga sewa gedung atau bahkan tanah di pusat kota sangat mahal. Dan untuk memulai dan menjalankan bisnisnya perlu menunggu sampai beberapa tahun untuk mengembalikan modal awal untuk barang tetap yang berupa bangunan, alat-alat hotel dan resort. Belum biaya operasional awal. Ini perlu jangka waktu yang cukup lama untuk bisa menikmati hasilnya.
Darius dan Yaman akhirnya menarik nafasnya dalam-dalam dan membuangnya dengan kasar. Kini Yaman bertambah stress dengan rencananya sendiri.
"Jadi panjang lebar kita berencana, modalnya masih belum jelas yah?" ucap Darius tersenyum. Kini keduanya saling pandang dan akhirnya pecah juga tawa mereka. Keduanya terpingkal-pingkal sampai memegang perutnya masing-masing karena sampai sakit perut nya karena tertawa sampai terpingkal-pingkal. Tiba-tiba Langkah kaki terdengar mendekati mereka berdua. Istri dari Yaman, Desti baru tiba sore itu. Iya, mereka mengobrol dari siang sampai sore tidak lupa waktu.
"Desti! Kamu sudah pulang sayang?" ucap Yaman yang kini menghambur memeluk istrinya. Mereka saling cium pipi kanan dan kiri. Darius sejenak mengalihkan pandangannya ke tempat lain.
"Itu siapa mas?" bisik Desti. Yaman memeluk pinggang Desti, istrinya untuk mendekat ke arah Darius.
__ADS_1
"Darius! Kenalkan ini istri aku, Desti. Desti ini Yaman, sahabat aku dulu ketika kuliah," ucap Darius memperkenalkan. Darius dan Desti saling mengerutkan dahinya.
"Yaman, aku masih ingat kalau itu Desti istri kamu. Bukannya dulu kamu pernah mengajak Desti ke rumah aku? Dan lagipula aku juga datang ke acara pernikahan kalian," ucap Darius. Yaman menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Kini dia tersenyum karena dirinya tiba-tiba menjadi amnesia.
"Tapi Desti tadi lupa dengan kamu, Darius! Makanya aku memperkenalkan lagi," sahut Yaman.
"Lagi galau, mbak Desti! Kalau ada kawannya yang masih sendiri, boleh dong kenalkan ke aku. Aku lagi mau mencari selingkuhan," ucap Darius asal. Yaman dengan cepat memukul lengan Darius dengan keras. Darius meringis kesakitan.
"Jangan didengar omongan Darius, sayang! Dia suka bercanda kok!" ucap Yaman.
__ADS_1
"Tapi ada kok rekan bisnis di perusahaan ku, sedang mencari pacar. Tapi dia sudah tidak lagi muda sih, sekitar berumur empat puluh satu tahun. Dia perawan tua. Karena kesibukannya menjadi wanita karir akhirnya tidak berpikir untuk menikah. Aku akan memperkenalkan kamu kepada nya, deh! Kalau buat selingkuhan, mana tahu dia mau," ucap Desti menanggapi candaan Darius dengan serius.
"Eh, no! Tidak! Aku bisa digorok oleh istri aku, Amira kalau aku ketahuan selingkuh," sahut Darius. Yaman dan Desti terkekeh mendengar ucapan dari Darius yang terdengar seperti suami-suami takut dengan istri.
"Aku tidak mengira kalau mas Darius ini termasuk golongan suami-suami takut istri juga yah, sayang!" ucap Desti. Yaman terkekeh melihat raut wajah Darius yang memerah di bilang kalau dirinya termasuk suami takut dengan istrinya.
"Bukan begitu! Ini namanya menjaga kesetiaan dengan istri. Memangnya mbak Desti mau kalau Yaman punya wanita idaman lain?" ujar Darius membela diri. Desti melebar matanya menatap ke arah Yaman.
"Sayang! Aku tidak berani juga kalau berselingkuh dibelakang kamu. Aku juga akan kena gorok dengan kamu kalau ketahuan selingkuh," kata Yaman. Kini ketiganya sama-sama tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1